nataragung.id – Pemanggilan – Tauhid adalah nikmat terbesar, cahaya kehidupan, sebab keselamatan di dunia dan akhirat, serta kunci surga yang dengannya dosa-dosa diampuni. Tidak ada amal yang lebih agung daripada mentauhidkan Allah, dan tidak ada dosa yang lebih besar daripada menyekutukan-Nya.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ ﴾
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah yang mendapatkan rasa aman dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Ayat ini menjelaskan bahwa keamanan, ketenangan, dan petunjuk hanya diberikan kepada orang-orang yang menjaga kemurnian tauhidnya. Yang dimaksud “kezhaliman” dalam ayat ini adalah syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun. Semakin bersih tauhid seseorang, semakin besar keamanan dan petunjuk yang Allah berikan kepadanya.
Tauhid bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi keyakinan yang tertanam dalam hati, dibuktikan dengan amal, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kesyirikan. Karena itulah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan betapa besarnya keutamaan kalimat tauhid.
Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga itu benar adanya serta neraka itu benar adanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sesuai amal yang ia miliki.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa tauhid adalah jalan menuju surga. Siapa yang mengikrarkan tauhid dengan jujur dan benar, meyakini seluruh konsekuensinya, maka ia berada di atas jalan keselamatan. Meskipun manusia memiliki kekurangan dan dosa, selama ia tidak membawa kesyirikan kepada Allah, maka ia masih memiliki harapan besar untuk mendapatkan ampunan-Nya.
Dalam hadits lain Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’ dengan mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Perhatikanlah syarat besar dalam hadits ini, yaitu mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas mengharap wajah Allah. Bukan sekadar ucapan tanpa makna, tetapi tauhid yang hidup dalam hati dan tercermin dalam amal kehidupan.
Kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah kalimat paling agung di sisi Allah. Ia lebih berat daripada langit dan bumi. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menceritakan dialog antara Nabi Musa ‘alaihis salam dengan Allah:
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Musa berkata: ‘Wahai Rabbku, ajarkan kepadaku sesuatu untuk aku berdzikir dan berdoa kepada-Mu dengannya.’
Allah berfirman: ‘Katakanlah wahai Musa: Laa ilaaha illallah.’
Musa berkata: ‘Wahai Rabbku, semua hamba-Mu mengucapkan ini.’ Allah berfirman: ‘Wahai Musa, seandainya tujuh langit dan seluruh penghuninya selain Aku, serta tujuh bumi diletakkan pada satu timbangan, dan Laa ilaaha illallah diletakkan pada timbangan yang lain, niscaya Laa ilaaha illallah lebih berat.’” (HR. Ibn Hibban dan Al-Hakim )
Betapa banyak manusia meremehkan kalimat tauhid, padahal ia adalah kalimat yang paling berat di timbangan amal. Dengannya langit dan bumi ditegakkan, para rasul diutus, kitab-kitab diturunkan, dan manusia dibedakan antara penghuni surga dan penghuni neraka.
Tauhid juga menjadi sebab terbesar diampuninya dosa-dosa. Selama seorang hamba tidak berbuat syirik, pintu ampunan Allah tetap terbuka luas.
Dalam hadits qudsi, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apa pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi)
Inilah luasnya rahmat Allah. Sebesar apa pun dosa manusia, selama ia bertauhid dan tidak menyekutukan Allah, maka ampunan Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosanya. Karena itu, seorang mukmin tidak boleh putus asa dari rahmat Allah, namun juga tidak boleh merasa aman dari azab-Nya.
Tauhid adalah harta paling berharga yang dimiliki seorang hamba. Ia adalah cahaya dalam kubur, keselamatan di hari kiamat, dan sebab masuk surga. Maka jagalah tauhid kita, pelajarilah maknanya, amalkan konsekuensinya, dan jauhilah segala bentuk syirik, baik besar maupun kecil.
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala mematikan kita di atas kalimat tauhid, mengampuni dosa-dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa hisab dan tanpa azab. Aamiin. []
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
#KIS
#Shobahul_khair
#Mimbar_Jumat

