Buku Seri: Saibatin dan Pepadun, Keberagaman Sistem Adat Lampung. Seri 7 – Nilai Kehormatan dan Kebersamaan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah senja yang hening di tanah sekala beghak, angin membawa bisikan dari pucuk-pucuk pohon tua. Seorang tetua adat sedang duduk bersila di teras rumahnya. Di hadapannya, seorang pemuda bertanya tentang makna menjadi penyimbang. Sang tetua tidak serta merta menjawab. Ia hanya mengambil segenggam tanah dan menggenggamnya erat. “Coba buka tanganmu,” kata si tua.
Pemuda itu membuka genggamannya, butiran tanah mulai berjatuhan. “Tanah ini adalah kehormatanmu. Jika kau genggam terlalu erat karena sombong, ia akan hancur. Jika kau biarkan lepas, kau kehilangan pijakan. Begitulah hidup orang Lampung,” ujarnya lirih.

Bumi Lampung sejak lama dikenal sebagai tempat bertemunya dua arus besar adat: Saibatin dan Pepadun. Banyak orang mengira mereka berbeda. Namun, sesungguhnya mereka bagai dua sisi mata uang yang sama. Saibatin, yang banyak mendiami wilayah pesisir, memegang teguh prinsip keturunan (kepunyimbangan). Gelar adalah darah yang mengalir turun-temurun. Sementara Pepadun, yang tersebar di daerah pedalaman, menganut sistem meritokrasi atau musyawarah. Gelar diraih melalui kontribusi, keberanian, dan kebijaksanaan yang disepakati bersama.
Perbedaan ini bukanlah tembok pemisah, melainkan sebuah tarian harmoni yang sudah berlangsung berabad-abad. Dalam setiap pesta pernikahan atau upacara Cangget, kedua kelompok ini saling menghormati. Mereka memegang teguh satu ikrar luhur: “Sai Bumi Ruwa Jurai”, satu tanah, dua jurai (keturunan), tetapi tetap satu jua.

Jika ditelisik lebih dalam, denyut nadi utama masyarakat Lampung terletak pada falsafah Piil Pesenggiri. Kata ini lahir dari dua jiwa besar: Piil (perilaku) dan Pesenggiri (harga diri/kehormatan). Bagi kami, orang Lampung, kehormatan bukanlah sekadar gengsi kosong. Kehormatan adalah nafas.
Dalam naskah-naskah kuno yang disimpan rapi di balai adat, sering disebutkan: “Ilatin piil pesenggiri, kikilangko ghik mugha limak.” Artinya, jagalah perilaku dan harga dirimu, karena ia adalah perisai dari malu dan celaka.

Piil Pesenggiri ini terbagi menjadi empat tiang penyangga rumah besar budaya Lampung, yaitu Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Bejuluk Beadek, dan Sakai Sambayan.
Sekilas, Nemui Nyimah berarti ramah dan murah hati. Tetapi lebih dari itu, ini adalah filosofi tentang ketulusan. Orang Lampung diajarkan untuk menerima tamu seperti menerima rezeki. Jika ada saudara dari Sai Batin berkunjung ke kampung Pepadun, ia tetap disuguhi lemang dan gulai taboh, tidak pernah ada sekat.
Sementara Nengah Nyappur mengajarkan kita untuk “berbaur”. Di zaman yang serba digital ini, nilai ini menjadi sangat penting. Kita harus pandai bergaul, tidak kaku, dan mampu beradaptasi dengan siapa pun. Ini sangat sejalan dengan surah Al-Hujurat ayat 13

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 4 — Sakai Sambayan: Hidup Saling Membantu. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Ayat ini bukan hanya tentang toleransi, tetapi tentang verifikasi sosial. Dalam adat Lampung, Nengah Nyappur mewajibkan kita untuk pergi, melihat, dan terlibat. Dengan berbaur, kita menghilangkan prasangka. Ini adalah bentuk nyata dari sila ke-3 Pancasila, “Persatuan Indonesia.” Perbedaan adat antara Pepadun dan Saibatin bukanlah alasan untuk bercerai, melainkan undangan untuk duduk bersama dalam satu meja.
Masyarakat Lampung sangat menghormati gelar. Juluk adalah nama panggilan di masa muda, sementara Adek adalah gelar kebesaran setelah menikap atau mencapai tingkatan sosial tertentu. Namun, pernahkah kita berpikir mengapa gelar ini begitu penting?
Dalam sebuah manuskrip kuno yang dikenal dengan Kutipan Khabah, disebutkan: “Mulah mekhan juluk, aghtif gham gelar, sai lapah hancak mit pergok.” (Terjemahan bebas: Hati-hati dengan nama yang disandang, karena ia akan berjalan bersamamu hingga ke liang lahat).

Gelar dalam adat Lampung adalah “kontrak moral”. Seseorang yang menyandang gelar Suttan atau Radin tidak boleh bersikap sembarangan. Ia harus menjadi teladan. Ini mengajarkan tanggung jawab. Sejalan dengan ajaran Islam bahwa kita semua adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”

Tidak ada perbedaan prinsip antara Pepadun dan Saibatin dalam soal gelar. Di Saibatin, gelar adalah warisan (menjaga hubungan darah/silsilah); di Pepadun, gelar adalah prestasi (menjaga hubungan kerja/kontribusi). Keduanya mengajarkan bahwa seseorang tidak bisa hidup egois. Kita butuh pengakuan dari komunitas, dan dengan pengakuan itu datanglah beban moral yang besar.
Inilah inti dari Seri ini: Sakai Sambayan. Artinya gotong royong, tolong-menolong, bahu-membahu. Dalam setiap kegiatan adat, seperti Begawi atau Nayuh, kita tidak pernah melihat tuan rumah bekerja sendirian. Ibu-ibu dari tetangga sebelah datang membawa kuali dan beras. Bapak-bapak bergotong royong mendirikan tendak (tenda). Anak muda bertugas mengantar teh dan kopi.
Hal ini tercermin dalam hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Barangsiapa melepaskan kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”.

Baca Juga :  Putri Sungai Tulang Bawang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sakai Sambayan mengajarkan bahwa nilai spiritual tidak hanya diukur dari ibadah ritual semata, tetapi juga dari sejauh mana kita berguna bagi orang lain. Ini adalah tauhid sosial. Mengapa? Karena ketika kita membantu sesama, kita sedang memuliakan ciptaan Tuhan. Pepadun dan Saibatin bisa berbeda tata cara sembahyang dan doa adatnya, tetapi dalam hal membantu orang yang terkena musibah, semua perbedaan itu luntur. Tidak ada “ini adatku, itu adatmu” saat rumah tetangga terbakar. Semua lari mengambil air. Semua bersatu.
Mari kita menyelam lebih dalam ke dalam sejarah.

Konon, dalam legenda turun-temurun, nenek moyang masyarakat Lampung berasal dari empat keratuan besar, salah satunya adalah Keratuan Sekala Brak. Suatu ketika, terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak memimpin. Sebagian kelompok memilih untuk tetap memegang teguh garis keturunan murni (inilah yang kelak dikenal sebagai Saibatin). Sebagian lagi memilih sistem yang lebih terbuka berdasarkan musyawarah para tetua (yang kelak dikenal sebagai Pepadun).
Dalam dokumen kuno “Oendang-Oendang Adat Krui” disebutkan sebuah frase dalam aksara Lampung: “…tian sinuhun dilom jak batin, yak do pandai mit liun…” (artinya: tidak ada pemimpin yang lahir tanpa dukungan masyarakat, ia harus pandai memelihara orang lain).
Kutipan ini membuktikan bahwa sejak dulu, meskipun Saibatin menganut sistem keturunan, seorang Saibatin yang zalim dan tidak menjalankan Piil Pesenggiri dapat digulingkan oleh masyarakat. Begitu pula di Pepadun, gelar Penyimbang bukanlah hak mutlak untuk selamanya; ia harus membuktikan kontribusinya setiap saat.

Tidak dapat dipungkiri, falsafah hidup orang Lampung ini adalah cerminan dari Pancasila.
1. Ketuhanan Yang Maha Esa: Setiap upacara adat, baik Saibatin maupun Pepadun, selalu diawali dengan doa (berdoa kepada Allah). Tidak ada ritual yang menyekutukan Tuhan. Ini sejalan dengan ajaran tauhid dalam Al-Qur’an.
2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Nemui Nyimah dan Piil Pesenggiri menempatkan manusia pada martabat yang tinggi. Kita harus adil dalam memberi gelar, adil dalam membagi hak, dan beradab dalam bertutur kata.
3. Persatuan Indonesia: Meskipun terpecah menjadi dua sistem adat besar, masyarakat Lampung bersatu di bawah naungan Sai Bumi Ruwa Jurai. Perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai pelengkap.
4. Kerakyatan: Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan adalah inti dari musyawarah dan gotong royong. Tidak ada keputusan yang diambil secara sepihak oleh pemimpin adat tanpa melibatkan masyarakat.
5. Keadilan Sosial: Dalam Bejuluk Beadek, semua lapisan masyarakat berhak mendapatkan pengakuan. Tidak ada kasta yang menghalangi seseorang untuk berprestasi.

Baca Juga :  Menyambut Fajar Lebaran. Tata Krama dan Martabat Keluarga Saibatin di Pesisir Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Adat istiadat masyarakat Lampung, baik Saibatin maupun Pepadun, bukanlah sekadar tarian masa lalu atau ritual usang. Ia adalah living values (nilai yang hidup). Ia mengajarkan kita bahwa kehormatan (Piil Pesenggiri) harus ditegakkan dengan kebersamaan (Sakai Sambayan). Tidak mungkin kita menjaga nama baik sendirian. Kita membutuhkan tetangga, saudara, dan masyarakat.

Di akhir percakapannya, tetua adat itu berkata kepada pemuda, “Nak, jangan kau tanya apakah kami Sai Batin atau Pepadun. Tanyalah apakah hari ini kami sudah berbuat baik kepada sesama. Karena di mata Tuhan dan di mata Pancasila, itulah satu-satunya gelar yang abadi.”

Sumber Referensi:
* Balitbang Agama Jakarta (2019). Kajian terhadap Naskah Oendang-Oendang Adat Krui. (Tersedia dalam bentuk laporan riset digital di lingkungan Kemenag RI, 2019).
* Al-Qur’an Al-Karim, khususnya Surat Al-Hujurat (49): 13 dan Surat Al-Ahzab (33): 36.
* Tim Penyusun. (2013). Sai Bumi Ruwa Jurai: Lampung Pepadun dan Saibatin/Pesisir. Bandar Lampung: Penerbit Way Lima Manjau. (Tersedia dalam bentuk buku fisik di Perpustakaan Daerah Lampung dengan ISBN 9786021970102).
* Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2023). Warisan Budaya Takbenda Provinsi Lampung. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. (Tersedia dalam bentuk dokumen fisik dan digital).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini