Mimbar Jum’at : Menjaga Agama dengan Menjauhi Perkara Syubhat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Dari An-Nu’man bin Basyir, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya ada perkara-perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa terjatuh ke dalam perkara syubhat maka ia seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan; hampir saja ia masuk ke dalamnya. Ketahuilah, setiap raja memiliki wilayah larangan. Ketahuilah, wilayah larangan Allah di bumi-Nya adalah segala yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Kelapangan Yang Melalaikan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Di tengah kehidupan yang semakin rumit, manusia sering dihadapkan pada banyak perkara yang samar. Tidak semua yang tampak menguntungkan itu baik, dan tidak semua yang terlihat indah membawa keberkahan. Ada perkara yang secara lahir tampak biasa, namun sesungguhnya dapat mengotori hati dan melemahkan iman. Karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya agar memiliki sikap hati-hati dalam menjalani kehidupan.

Hadits agung ini menjelaskan bahwa halal dan haram telah diterangkan dengan jelas oleh Allah dan Rasul-Nya. Yang halal membawa ketenangan, sedangkan yang haram membawa kegelapan dan penyesalan. Namun di antara keduanya ada perkara syubhat, yaitu perkara yang samar hukumnya bagi banyak manusia. Di sinilah letak ujian keimanan seseorang; apakah ia memilih berhati-hati demi menjaga agamanya, atau justru mengikuti hawa nafsu demi kesenangan sesaat.

Dalam syarah Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa orang yang menjauhi syubhat berarti sedang menjaga dua perkara besar: agamanya dan kehormatannya. Ia menjaga agamanya agar tidak terjatuh kepada yang haram, dan menjaga kehormatannya agar tidak menjadi bahan tuduhan atau prasangka manusia.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Hari Ketika Segalanya Dihadirkan (Renungan dari surat Ali Imron ayat 30). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Betapa banyak manusia yang awalnya hanya mendekati perkara samar, namun akhirnya terjatuh ke dalam dosa yang nyata. Sebagaimana seorang penggembala yang membawa ternaknya terlalu dekat ke wilayah larangan, sedikit demi sedikit ternaknya bisa masuk ke dalam kawasan terlarang itu.

Demikian pula hati manusia; jika terlalu sering bermain di sekitar dosa, lambat laun keberanian untuk melanggar akan tumbuh.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kemudian mengingatkan bahwa Allah memiliki batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Segala yang diharamkan-Nya adalah wilayah larangan yang harus dijauhi. Seorang mukmin yang jujur imannya tidak akan sengaja mendekati sesuatu yang dapat merusak hubungannya dengan Allah.

Puncak dari hadits ini adalah perhatian terhadap hati. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

> أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging; apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

Hati adalah pusat kehidupan ruhani manusia. Dari hati lahir keikhlasan, ketakwaan, rasa takut kepada Allah, dan kecintaan kepada kebaikan. Namun dari hati pula lahir kesombongan, riya, hasad, dan kecenderungan kepada dosa. Karena itu memperbaiki hati adalah pekerjaan seumur hidup bagi seorang mukmin.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT: Jalan Ke Surga itu Murah. Oleh : Ust : H. Komiruddin Imron, Lc

Orang yang hatinya hidup akan mudah tersentuh oleh nasihat, mudah takut kepada dosa, dan tidak nyaman berada dalam perkara syubhat. Sebaliknya hati yang mulai keras akan merasa biasa dengan pelanggaran, bahkan perlahan menikmati kemaksiatan tanpa rasa bersalah.

Hadits ini mengajarkan bahwa menjaga iman bukan hanya dengan memperbanyak ibadah, tetapi juga dengan menjaga hati dan bersikap wara’, yaitu berhati-hati dalam perkara agama. Sebab keselamatan seorang hamba sering kali bukan karena banyaknya amal, tetapi karena kemampuannya menjaga diri dari sesuatu yang dapat merusak amal tersebut.

Semoga Allah menjaga hati kita, membersihkan jiwa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu memilih jalan halal, menjauhi syubhat, serta istiqamah dalam menjaga agama hingga akhir kehidupan. (*)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
#KIS
#Shobahul_khair
#Mimbar_Jumat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini