nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami mewariskan sebuah pesan yang terus bergema di setiap aliran darah masyarakat adat Lampung: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Pesan inilah yang terbayang dalam benak Rangga saat kakinya kembali menginjak tanah kampung halaman, Tiyuh Mahoga, dua hari sebelum Lebaran Idul Adha.
Tiyuh Mahoga adalah sebuah pekon (desa adat) kecil di pesisir Krui, kabupaten Pesisir Barat, yang termasuk dalam wilayah adat Saibatin Enom Belas Marga. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu kantong terkuat masyarakat Saibatin, masyarakat pesisir yang menganut sistem kepemimpinan turun-temurun yang hierarkis. Di sinilah Rangga dilahirkan, dibesarkan, dan kemudian merantau ke kota metropolitan untuk mengadu nasib.
Rangga bukanlah anak sembarangan. Ia adalah keturunan dari Punyimbang (pemimpin adat) yang memiliki Juluk-Adok, gelar kehormatan yang disandangnya sebagai bentuk pengakuan masyarakat terhadap kualitas pribadi dan keturunannya. Dalam falsafah hidup orang Lampung, Juluk-Adok menempati posisi yang sangat penting, sebagaimana tertuang dalam naskah kuno Kitab Kuntara Raja Niti: “Piil-Pusanggiri: merupakan rasa malu untuk melakukan pekerjaan hina menurut agama serta self-esteem.
Juluk-Adok: kepribadian yang layak dengan gelar adat yang disandang”.
Gelar itu bukan sekadar nama. Ia adalah beban moral yang harus dijaga. Dan Rangga, dengan gelar Suttan Terang Bulan yang disandangnya, tahu persis bahwa ia pulang bukan hanya untuk melepas rindu.
Sehari setelah kepulangannya, suasana kampung mulai berdenyut dengan tradisi ngelappah, gotong royong menyambut hari besar yang sudah berlangsung turun-temurun. Laki-laki bergotong royong membersihkan lamban adat (balai adat) dan masjid, sementara kaum ibu mempersiapkan bahan makanan untuk menyambut tamu yang akan datang dari luar daerah.
Namun, Rangga menangkap keganjilan. Lamban adat yang biasanya ramai dengan gelak tawa warga saat ngelappah kini hanya diisi oleh beberapa tetua dengan gerak lambat. Para pemuda, tulang punggung gotong royong, justru terlihat asyik dengan ponsel mereka di warung kopi.
“Tak ada bedanya, Wan,” keluh seorang tetua kepada Rangga. “Dulu, ngelappah itu seperti tarian. Kaki bergerak, tangan bekerja, mulut bercerita. Sekarang, anak-anak muda lebih tertarik ke kota. Mereka bilang malam takbiran di kampung itu ‘ndak kekinian’.”
Kata-kata itu menusuk kalbu Rangga. Ia ingat betul bagaimana dulu, semalam sebelum Idul Adha, lamban adat akan berubah menjadi panggung kebudayaan yang megah. Tarian Bedana yang lembut mengalun, diiringi suara cetik (gitar khas Lampung) dan kulintang yang merdu. Para penari wanita mengenakan Siger, mahkota kebesaran dengan hiasan bunga dan kait yang jumlahnya melambangkan strata sosial. Bagi masyarakat Saibatin, Siger bukan aksesoris biasa. Ia adalah simbol Pesenggiri, harga diri dan kehormatan yang tak boleh ditawar.
Jika malam takbiran hanya diisi dengan dentuman musik dari pengeras suara dan kembang api, lalu di mana letak bebijian (kebijaksanaan) yang diwariskan leluhur? Di mana makna spiritual dari sebuah perayaan yang seharusnya menjadi jembatan antara manusia dengan Khaliknya, dan antara manusia dengan sesamanya?
Rangga tidak langsung menjawab. Ia memilih menyendiri ke rumah Punyimbang, tempat tersimpannya naskah-naskah kuno adat Saibatin Marga Pugung Malaya, salah satu dari enam belas marga di Krui. Di sanalah ia membuka kembali Kitab Kuntara Raja Niti, naskah yang menjadi rujukan utama ulun Lampung (masyarakat Lampung) dalam mengatur tata cara hidup bermasyarakat.
Dalam kitab tersebut, ia menemukan sebuah bagian yang mengajarkan tentang “senang negeri” , kebahagiaan sebuah kampung: “Cawa sepuluh sudi cukup… Muli meranai lamon sai ranta sapun… Raji ni sabar… Anak buwoh maka kakira”.
Rangga merenungi maknanya. “Berbicara sepuluh kata sudah cukup” mengajarkan bahwa dalam bermusyawarah, yang penting bukan kuantitas, melainkan kualitas dan ketulusan. “Bujang gadisnya sopan santun” adalah cerminan pendidikan karakter yang diwariskan secara turun-temurun. “Rajanya sabar” menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus mengedepankan keteladanan. “Anak buah dalam menggunakan barang dengan hati-hati” adalah pesan tentang tanggung jawab dan kehati-hatian.
Rangga tersadar. Persoalan kampungnya bukanlah tentang ketinggian Siger atau kemegahan tarian. Persoalannya adalah generasi muda mulai kehilangan tafsir atas simbol-simbol itu. Mereka melihat adat sebagai beban, bukan sebagai “tuntutan moral yang menjadi pedoman”.
Keesokan paginya, Rangga menginisiasi pertemuan di lamban adat. Ia mengundang para tetua dan pemuda. Suasana tegang, karena ketua pemuda desa, yang juga keponakannya sendiri, sempat menyatakan bahwa “zaman sudah berubah”.
Rangga lalu berbicara dengan nada yang tenang namun penuh wibawa, seperti yang diajarkan dalam Kitab Kuntara Raja Niti tentang di “ganjaran bator” , ajaran tentang toleransi dan semangat kebersamaan: “Ganjaran bator: ngangas ngudat punyimbang ni mak kurang… Punyimbang ni mak peros hati dilom tiyuh hon…”.
Ia menjelaskan bahwa seorang pemimpin (Punyimbang) sejatinya adalah pelayan masyarakat. “Sirih dan rokok penyimbang tidak kurang”, ini adalah kiasan bahwa seorang pemimpin harus selalu sedia memenuhi kebutuhan masyarakatnya, bukan sebaliknya. “Penyimbang tidak asem hati saat ada hajatan” mengajarkan bahwa pemimpin harus selalu hadir dan berpartisipasi dalam suka duka warganya.
“Maka,” kata Rangga, “apa bedanya kita dengan pemuda di kota jika kita hanya ikut-ikutan tanpa pernah mempertahankan jati diri? Nemui Nyimah mengajarkan kita untuk ramah dan saling memberi. Apakah dengan membiarkan lamban adat kosong, kita sudah disebut ramah terhadap tamu yang datang? Nengah Nyappur mengajarkan keterbukaan dan bersosialisasi. Apakah dengan menyendiri di kamar sambil bermain ponsel, kita sudah disebut terbuka?”
Ia melanjutkan, “Dan yang paling penting, Sakai Sambayan, gotong royong, adalah napas kita sebagai masyarakat adat. Jika itu mati, maka matilah kita sebagai Saibatin. Bukan karena gelar kita dicabut, tapi karena kita kehilangan ruh kebersamaan yang membuat leluhur kita kuat melawan arus sejarah.”
Pemuda yang tadinya bersikeras mulai menunduk. Mereka mulai teringat bahwa Sakai Sambayan bukan sekadar membersihkan kampung. Ia adalah fondasi dari semua nilai kebersamaan. Bahkan dalam konteks kebangsaan, nilai ini persis sama dengan sila ketiga Pancasila: “Persatuan Indonesia”. Gotong royong adalah bentuk nyata dari cinta tanah air dalam skala paling kecil, kampung halaman.
Hari pun berganti. Malam takbiran tiba. Lamban adat Mahoga kembali menyala, bukan dengan lampu neon terang, tetapi dengan obor dan lampu minyak tradisional yang memberi nuansa hangat. Para pemuda yang kemarin beralasan “tidak kekinian” kini justru menjadi ujung tombak dekorasi dan persiapan.
Tarian Bedana ditampilkan oleh para gadis desa dengan Siger yang berkilau di atas kepala. Gerakan lembut mereka mengisahkan tentang ketulusan hati dalam menyambut hari kemenangan. Iringan musik cetik dan kulintang membuat suasana terasa sakral, namun tetap meriah.
Rangga tersenyum dari sudut ruangan. Bukan karena ia bangga pada dirinya, tetapi karena ia melihat bagaimana Pesenggiri (harga diri) para pemuda bangkit kembali. Mereka tidak lagi malu mengenakan pakaian adat. Mereka tidak lagi menganggap bejalan adok (prosesi adat) sebagai sesuatu yang usang.
Dalam hati, Rangga berdoa: semoga malam ini bukanlah ngelappah terakhir di Tiyuh Mahoga. Semoga ini adalah awal dari kebangkitan.
Esok harinya, setelah salat Idul Adha dilaksanakan dengan khusyuk di masjid desa , Rangga melakukan sesuatu yang tidak terduga. Saat Punyimbang sedang memimpin pembagian hewan kurban, Rangga menghampirinya sambil menuntun seekor sapi gemuk.
“Saya persembahkan hewan ini, Wan. Bukan sebagai pamer, tetapi sebagai bentuk ngelangkah (tanda bakti) saya kepada kampung halaman,” ujar Rangga.
Dalam tradisi adat Lampung, pemberian hewan kurban dari perantau bukan sekadar amal ibadah. Ia adalah simbol bahwa meskipun Nengah Nyappur (bergaul dan hidup di mana saja) telah ia lakukan di perantauan, namun hatinya tetap tertambat pada kampung halaman. Ia adalah bukti bahwa Sakai Sambayan tidak mengenal jarak.
Punyimbang mengusap air matanya yang mengalir deras. “Anakku, gelarmu Suttan Terang Bulan benar-benar bersinar malam ini.”
Tentu kita bertanya: apakah tradisi ngelappah, tarian Bedana, dan penggunaan Siger ini tidak bertentangan dengan ajaran Islam?
Jawabannya: sama sekali tidak.
Para ulama dan tokoh adat Lampung telah berabad-abad menjalankan tradisi ini tanpa pernah meninggalkan kewajiban syariat. Justru, tradisi menjadi pembungkus yang memperindah ibadah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: QS. Al-Hujurat (49): 13
“Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja’alnākum syu’ūbaw wa qabā`ila lita’ārafū, inna akramakum ‘indallāhi atqākum, innallāha ‘alīmun khabīr”
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Ayat ini diturunkan di Madinah (Madaniyyah), sebagai respons atas persaingan antar suku Aus dan Khazraj yang membanggakan nasab masing-masing. Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa perbedaan suku dan bangsa, termasuk perbedaan adat Saibatin dan Pepadun, bukanlah untuk dibanggakan secara sempit, tetapi untuk saling mengenal dan menghormati.
Tradisi ngelappah dan malam takbiran di lamban adat justru merealisasikan pesan ayat ini. Dengan bergotong royong, masyarakat dari berbagai latar belakang (Saibatin, Pepadun, bahkan pendatang) saling bekerja sama. Dengan tarian dan pakaian adat, mereka memperkenalkan identitasnya kepada yang lain. Dan dengan kurban, mereka meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan apa yang paling dicintainya demi Allah SWT.
Bahkan lebih dalam lagi, ibadah kurban yang menjadi inti Idul Adha mengandung pesan yang selaras dengan Pesenggiri. Dalam kisah Nabi Ibrahim yang bersedia menyembelih putranya Ismail, terkandung nilai “harga diri” yang sejati: harga diri di hadapan Allah bukanlah dengan mempertahankan nyawa atau harta, tetapi dengan kepasrahan total. Inilah puncak Pesenggiri seorang hamba.
Dua hari setelah Idul Adha, tradisi Ngelappah berganti menjadi Nyambangi, saling mengunjungi keluarga jauh. Dalam tradisi masyarakat Saibatin, Nyambangi tidak sekadar silaturahmi. Ia adalah bentuk Nemui Nyimah (keramahan dan saling memberi) yang diperluas hingga ke kerabat se-marga yang tinggal di kampung berbeda.
Rangga berdiri di perahu kecil menyusuri aliran Way Krui, menuju pekon tetangga. Di tangannya, ia membawa ketupat dan daging kurban yang dibungkus daun pisang. Ia tersenyum, merasakan hangatnya sinar matahari pagi di wajahnya.
Masyarakat adat Lampung, baik Saibatin maupun Pepadun, memiliki kekayaan budaya yang selaras dengan nilai-nilai keislaman dan Pancasila. Pesenggiri (harga diri), Juluk-Adok (gelar kehormatan), Nemui Nyimah (keramahan), Nengah Nyappur (keterbukaan), dan Sakai Sambayan (gotong royong), semua ini adalah cerminan dari sila-sila Pancasila: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.
Jadi, mari kita jaga tradisi ini. Bukan karena takut kehilangan identitas, tetapi karena dengan menjaganya, kita sedang merawat benih-benih kebijaksanaan yang ditanam oleh para leluhur. Dan benih itu, jika dirawat dengan baik, akan terus tumbuh menjadi pohon rindang yang memberikan naungan bagi anak cucu kita kelak.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, M.M. (2025). Tradisi Menyambut Idul Adha di Masyarakat Adat Lampung. Portal Berita Natar Agung.
2. Bahagianda, M.M. (2025). Falsafah Hidup Orang Lampung. Seri 3: Bejuluk Beadok – Identitas yang Bermakna. Portal Berita Natar Agung.
3. Oktarina. (2023). Pengembangan Modul Pembelajaran Etnofisika Berbasis Piil Pesenggiri dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Skripsi (S1) Universitas Muhammadiyah Metro.
4. Kitab Kuntara Raja Niti dalam Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia (JPSI), Vol. 1, No. 1, 2018.
5. Mutia, A.N. (2022). Islam dan Kearifan Lokal Lampung (Studi Atas Nilai-Nilai Islam pada Tradisi Ngejalang Masyarakat Lampung Saibatin). Diploma thesis, UIN Raden Intan Lampung.
6. Redaksi Lampung.co (2021). Enom Belas Marga Krui, Masyarakat Adat Lampung Saibatin di Pesisir Barat. Lampung.co.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

