Pancasila Sebagai Nafas Khidmah. Oleh: Edi Sriyanto. Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, Tinggal di Kecamatan Sidomulyo

0

nataragung.id – Sidomulyo – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni sering kali menempatkan ideologi negara ini dalam formalisme upacara yang berjarak dari realitas kehidupan masyarakat bawah. Padahal, bagi bangsa yang majemuk ini, kekuatan sejati Pancasila tidak diuji dari seberapa megah ia disuarakan di panggung kekuasaan, melainkan dari seberapa kokoh ia dirawat di akar rumput.

Di sinilah Nahdlatul Ulama (NU) mengambil peran peradaban yang sangat vital. Bagi NU, Pancasila tidak pernah diletakkan sebagai doktrin politik musiman, melainkan diterjemahkan secara konsisten menjadi sebuah “Komitmen kebangsaan” yang diajarkan, dirawat, dan diwariskan tanpa terputus dari generasi ke generasi.

Jika publik hari ini melihat keteguhan warga nahdliyin yang tanpa ragu menggemakan semboyan “NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya”, hal itu bukanlah sebuah kebetulan sejarah atau sikap karbitan yang lahir tanpa akar. Komitmen kebangsaan tersebut adalah hasil dari sebuah ekosistem pendidikan karakter yang sangat masif, sistematis, dan terstruktur di dalam tubuh organisasi.

Baca Juga :  Tips Hadapi Serangan Buzzer di Ruang Publik Digital, Nomor 3 Paling Sulit

Sejak usia belia, ketika seorang anak manusia mulai mengenal organisasi, hingga mereka matang dalam kedewasaan struktural, kurikulum pengaderan NU selalu mengarah pada satu orientasi: bahwa menjaga agama dan membela tanah air adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Nilai-nilai Pancasila disuntikkan bukan sebagai hafalan teks hukum yang kaku, melainkan sebagai bagian dari “akidah bernegara” yang wajib diamalkan dalam laku hidup sehari-hari.

Internalisasi ideologi yang berjalan dari hulu ke hilir ini mendapat legitimasi terkuatnya melalui mimbar-mimbar pengajian para kiai. Dari mushala kecil di sudut dusun yang sunyi hingga panggung akbar muktamar, kiai-kiai NU menggunakan kearifan kultural yang khas untuk membumikan Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Lewat bahasa yang renyah dan penuh sanad keteladanan, jamaah diajari bahwa keshalehan ritual seorang Muslim harus mewujud dalam keshalehan sosial di tengah kemajemukan.

Dari sanalah prinsip tawassuth (moderat) dan tasamuh (toleran) lahir sebagai jembatan yang menghidupkan Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab serta Persatuan Indonesia. Melalui penegasan konsep ukhuwwah wathoniyyah (persaudaraan sebangsa) dan ukhuwwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia), NU membuktikan kepada publik bahwa Pancasila adalah ijtihad fikih kebangsaan yang paling maslahat bagi tegaknya republik.

Baca Juga :  Curahan Hati Fulanah, "Syukur Ditengah Rindu"

Watak Pancasila yang inklusif ini tidak berhenti di ruang kelas pengaderan atau mimbar pengajian, melainkan mewujud secara fisik menjadi laku gotong royong di setiap helatan organisasi. Aktualisasi Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dipraktikkan secara nyata melalui kepatuhan kolektif pada sistem kepemimpinan berbasis ulama dan musyawarah.

Di atas landasan itu pula, semua elemen jamaah bergerak memikul beban organisasi dengan keikhlasan yang utuh. Ketika para kiai mengorbankan waktu untuk membimbing umat, pengurus merapikan administrasi kepengurusan dari periode ke periode demi menjaga kejernihan sejarah, dan barisan warga di dapur umum sukarela menyumbangkan tenaga serta logistik, di situlah jiwa gotong royong Pancasila sedang berdenyut secara kongkret.

Baca Juga :  Jajaran Redaksi Majalah Natar Agung Mengucapkan Selamat Hari Sumpah Pemuda. MAJALAH NATAR AGUNG

Pada akhirnya, semesta pendidikan kebangsaan yang dirajut oleh NU ini bermuara pada satu cita-cita besar di Sila Kelima, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Doktrin kebangsaan yang kokoh ditanamkan sejak usia muda dipersiapkan agar para kader mampu menghidupkan kembali spirit Nahdlatul Tujjar (Kebangkitan Para Pedagang) yang diwariskan para muassis sejak tahun 1918. Kedaulatan ekonomi jamaah di pelosok-pelosok dusun adalah hilir dari seluruh proses pengaderan ini, karena bela negara yang sejati membutuhkan fondasi kemandirian umat yang riil.

Melalui momentum 1 Juni ini, publik disadarkan bahwa bagi Nahdlatul Ulama, menjaga Pancasila adalah khidmah sejarah tanpa akhir. Ideologi ini akan tetap kokoh berdiri sebagai jangkar keselamatan bangsa selama ia terus dirawat dalam struktur kaderisasi yang solid, disirami keikhlasan para kiai, dan dihidupkan dalam denyut nadi kemandirian seluruh jamaah di seantero Nusantara. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini