Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 5 – Makan, Berkumpul, dan Berbagi. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di sebuah lamban (rumah panggung) di daerah Pubian, hiduplah seorang nenek tua bernama Nyai Gelang. Setiap senja, ia selalu menyisihkan sepiring nasi dan lauk dari dapurnya yang sederhana. Dengan terbungkuk-bungkuk, ia berjalan menyusuri lorong kampung mengirimkan piring itu ke rumah seorang janda miskin di ujung sana.
Cucu-cucunya kerap bertanya, “Nyai, kenapa kita harus mengirimkan makanan padahal kita sendiri hanya makan secukupnya?”
Sambil tersenyum, Nyai Gelang menjawab, “Nak, rezeki yang berlebih bukan untuk disimpan sampai basi. Ia adalah jembatan kasih. Dengan memberi, kita tidak pernah menjadi miskin. Justru dengan itulah pesenggiri (harga diri) kita terangkat.”
Dalam budaya Lampung, kebiasaan mengirimkan makanan ke tetangga ini disebut peghasik, berasal dari kata dasar ghasik yang berarti “mengirim” atau “mengantarkan”. Tradisi ini bukan sekadar berbagi makanan, melainkan filosofi hidup komunal yang dalam.

Saya pribadi masih ingat ketika kecil, ibu selalu menyiapkan piring peghasik, piring khusus dari anyaman atau kayu yang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk berbagi. Ia akan berkata, “Antarkan ke rumah Mak Cik, ia sedang sakit. Jangan lupa bilang, ‘Ini dari emak, mau dibagi.’”
Kalimat itu pendek, tetapi mengandung kerendahan hati. Si pengirim tidak ingin dianggap pamer atau mengasihani. Ia hanya ingin berbagi.
Nilai ini termaktub dalam Kitab Pusaka Buay Pubian, salah satu naskah kuno masyarakat Lampung, yang berbunyi:
“Hambak ngaku saibatin, wat piil pesenggiri. Tappai nyak wawai mengan, peghasik nyak hampok nengah.”
Artinya: “Jangan hanya mengaku bersaudara, di atas harga diri. Tetapi jika ada rezeki berlebih, peghasik-lah pemersatu tengah.”
Analisis terhadap kutipan ini mengungkap hal yang menarik. Pertama, peghasik ditempatkan sebagai tindakan nyata yang mengonfirmasi ikatan persaudaraan, melampaui sekadar pengakuan lisan. Kedua, frasa “di atas harga diri” mengajarkan bahwa dalam berbagi, ego dan gengsi harus disingkirkan. Mengirimkan makanan mungkin dianggap remeh, tetapi justru itulah pesenggiri sejati, harga diri yang terpancar dari kedermawanan, bukan dari kesombongan.

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 2: Gotong Royong yang Mulai Pudar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Malam itu, keluarga Nyai Gelang kedatangan tamu tak terduga. Seorang musafir yang kelelahan mengetuk pintu. Tanpa banyak tanya, Nyai Gelang mempersilakannya masuk dan menyuguhkan makanan yang tersisa. “Maafkan, Nuw. Kami hanya punya ini,” katanya dengan sangat hormat.
Dalam adat Lampung, menjamu tamu adalah ritual sakral. Tamu, siapapun dia, dianggap membawa berkah. Inilah inti dari Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Bagi kami, harga diri seseorang tidak diukur dari apa yang ia kumpulkan, tetapi dari apa yang ia berikan.
Menariknya, setelah musafir itu pergi keesokan harinya, ia kembali dengan membawa sekarung beras. “Ini dari saudara di hulu,” katanya. “Ia mendengar kabar tentang kebaikan keluarga ini.”
Nyai Gelang tersenyum. Piring yang kemarin ia kirimkan ke rumah janda itu, kini kembali berisi kue tradisional dari keluarga lain. Begitulah peghasik bekerja, seperti piring yang berkeliling dari satu rumah ke rumah lain, membawa rasa, kemudian kembali dengan rasa yang berbeda. Ia menciptakan siklus berbagi yang terus berputar. Kebersamaan dimulai dari meja makan, dan kasih sayang sering kali diantarkan dalam bentuk paling sederhana: sepiring makanan hangat, yang diberikan dengan tulus, dari hati ke hati.

Di lain waktu, saat bulan Syawal tiba, seluruh kampung bergerak menuju kompleks pemakaman pusaka. Di sana mereka menggelar tikar, duduk berjajar rapi, dan menyantap hidangan dari pahakh (wadah logam berkaki) yang sama.
Ini bukan sekadar piknik di kuburan. Ini adalah tradisi Ngejalang Kubokh, secara etimologis berarti “menjaring harapan” yang diwujudkan melalui doa-doa untuk keluarga yang telah meninggal.
Ahmad Zaki, seorang tokoh adat setempat, menjelaskan, “Ngejalang Kubokh adalah cara kami para ahli waris menyapa dan mendoakan keluarga yang telah mendahului. Sekaligus pengingat bahwa setiap dari kita hanya menunggu giliran untuk dimakamkan di sini.”
Yang paling istimewa dari tradisi ini adalah nilai kebersamaannya. Mereka duduk bersama di atas tikar, melantunkan doa, kemudian makan dari wadah yang sama tanpa pembeda. Kaya dan miskin, tua dan muda, semuanya sama. Tidak ada stratifikasi sosial saat itu. Hanya ada satu rasa: persaudaraan.

Baca Juga :  Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 5: Piring Peghasik, Filosofi Berbagi dalam Makanan Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam konteks ini, peghasik dan Ngejalang Kubokh adalah wujud konkret dari Sakai Sambayan, gotong royong yang menjadi pilar penting falsafah hidup masyarakat Lampung.
Setelah musafir itu pergi, cucu Nyai Gelang bertanya lagi, “Nyai, bukankah persediaan kita hampir habis? Kenapa Ibu tetap memberi?”
Nyai Gelang menggenggam tangan cucunya. “Nak, rezeki itu seperti air sungai. Jika kita membendungnya, air akan membusuk. Jika kita biarkan mengalir, ia akan selalu datang dari sumber yang baru.”
Falsafah ini persis sama dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surat Saba’ ayat 39:
قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗۗ وَمَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهٗۚ وَهُوَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ
qul inna rabbî yabsuthur-rizqa limay yasyâ’u min ‘ibâdihî wa yaqdiru lah, wa mâ anfaqtum min syai’in fa huwa yukhlifuh, wa huwa khairur-râziqîn
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’: 39)

Ayat ini mengajarkan bahwa memberi tidak akan membuat kita miskin. Allah akan mengganti apa yang kita infakkan dengan yang lebih baik. Inilah jaminan Ilahi bagi mereka yang dermawan, yang menjadi landasan spiritual dari tradisi peghasik.
Tradisi berbagi makanan ini juga sejalan dengan Sila ke-2 dan ke-5 Pancasila. Sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab” mengajarkan kita untuk peduli pada sesama yang sedang kesusahan. Sila “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” menghendaki tidak ada seorang pun yang kelaparan di tengah masyarakat yang berkelimpahan.
Begitulah cara orang Lampung mengajarkan nilai kebersamaan. Kami tidak mendidik dengan ceramah panjang, tetapi dengan sepiring nasi yang diantarkan ke tetangga. Kami tidak mengajarkan syukur dengan kata-kata, tetapi dengan menyantap hidangan bersama di atas tikar yang sama.

Baca Juga :  Makanan Khas Lampung Seruit dan Pi’il Pesenggiri, Harga Diri dalam Sepiring Hidangan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Malam itu, sebelum tidur, Nyai Gelang berbisik kepada cucunya, “Ingatlah, Nak. Meja makan yang ramai lebih berharga daripada piring yang penuh tetapi dimakan sendirian. Karena di situlah letak pesenggiri sejati: bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita bagikan.”
Tradisi peghasik, Ngejalang Kubokh, dan kebiasaan makan bersama lainnya adalah warisan yang terus bernapas. Ia bukan peninggalan usang, melainkan kearifan lokal yang tetap cemerlang, menunggu untuk dipraktikkan kembali, agar senja-senja di setiap kampung tetap dihangatkan oleh aroma makanan yang dibagi, dan oleh rasa bahwa kita tak pernah benar-benar sendirian.
Dalam setiap suapan yang disantap bersama, dalam setiap piring yang dihantarkan ke tetangga, dan dalam setiap doa yang dipanjatkan di atas makanan yang sama, adat itu hidup. Mari kita jaga. Bukan dengan membekukannya dalam museum, tetapi dengan menghidupkannya di setiap dapur dan setiap meja makan di bumi Lampung yang tercinta.

Daftar Pustaka
1. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
2. Kitab Pusaka Buay Pubian (Naskah Kulit Kayu, Tuan Uluan Ketibung, 1878).
3. Bahagianda, M.M. (2025). Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Seri 5: Piring Peghasik, Filosofi Berbagi dalam Makanan Sehari-hari. Portal Berita Natar Agung.
4. Kompas Lampung (2026). Ngejalang Kubokh di Pesisir Lampung, Tradisi Ziarah dan Makan Bersama di Pemakaman.
5. Napsiah, D. (2021). Pergeseran Tradisi Lokal Menyambut Bulan Ramadan di Lampung. UIN Sunan Kalijaga.
6. Kesuma, T.A.R.P., & Cicilia, D. (2017). Piil Pesenggiri: Strategi Resolusi Konflik Menggunakan Nilai-nilai Agama dan Pancasila. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 19(2), 237-251.
7. Wikipedia. Begawi.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini