Buku Seri: Piil Pesenggiri, Falsafah Kehormatan Orang Lampung dalam Cahaya Islam Seri 1: Asal Muasal Piil Pesenggiri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dari mana kata Piil Pesenggiri lahir? Dahulu kala, di tanah Ulun Lampung yang membentang dari pesisir gemerlap hingga ke Ulu yang rimbun, para leluhur duduk bersila di bawah naungan Asam Simpur. Angin membawa bisikan dari Sekala Brak, tempat para Punyimbang (pemegang adat) bermusyawarah. Mereka bukan hanya bercerita tentang padi dan sungai, tetapi tentang jiwa. Dari situlah falsafah itu mulai terbentuk, dibisikkan dari mulut buyut ke telinga cicit, melewati zaman.

Konon, kata Piil lahir dari getaran rasa malu yang terpuji. Bukan malu karena kemiskinan, melainkan malu jika berbuat curang. Sementara Pesenggiri adalah api keberanian yang menyala-nyala, harga diri yang pantang diinjak.
Para tetua di tanah Ulu (pedalaman) yang menganut sistem Pepadun bercerita tentang pahlawan Pasunggiri dari tanah Jawa. Mereka adalah prajurit yang pantang menyerah melawan Majapahit hingga titik darah penghabisan. Melihat kegigihan itu, leluhur Lampung mengadopsi semangat “Pasunggiri” menjadi Pesenggiri. Sementara di pesisir, pengaruh Sunda dan Banten membawa kata Pasanggiri (lomba) yang kemudian dimaknai sebagai ajang Fastabiqul Khairat atau berlomba dalam kebaikan. Dari dua sumber itulah, kata Piil Pesenggiri mengalir menjadi satu: kehormatan yang diperjuangkan.
Piil sebagai panduan hidup, bukan pantun biasa.

Mungkin di kuping kita sekarang, Piil terdengar seperti syair atau pantun tua yang dilantunkan saat Cangget (acara adat). Namun, jika kau menyelam lebih dalam, Piil adalah nafas itu sendiri. Ia adalah way of life, sebuah sistem nilai yang mengatur bagaimana seorang Ulun Lampung berpijak di bumi dan memandang bintang.
Dalam falsafah ini, ada napas bernama Keberanian. Orang Lampung diajarkan untuk teguh pendirian. Dalam kitab adat Kuntara Raja Niti, disebutkan bahwa hukum adat mengatur dendam dan hukuman, namun seiring waktu, nilai ini diislamkan menjadi “berani karena benar”. Prinsip pantang menyerah dimaknai bukan sebagai keras kepala, melainkan sebagai kegigihan membela hak dan kebenaran.

Lalu, ada getar bernama Malu yang Terpuji. Malu bukan untuk bersembunyi, tapi untuk menahan diri. Piil mengajarkan rasa malu jika kita tidak ramah kepada tamu (Nemui Nyimah), malu jika kita tidak bisa bergaul (Nengah Nyappur), dan malu jika kita tidak berkontribusi untuk masyarakat (Sakai Sambayan). Jadi, Piil jauh lebih dalam dari sekadar nyanyian; ia adalah radar moral yang membimbing langkah.
Adat istiadat yang sudah tua, lalu dielus cahaya Islam.
Sebelum Islam hadir, tanah Sekala Brakh (Lampung) sudah memiliki struktur peradaban yang maju. Prasasti Hujung Langit peninggalan Kerajaan Tulangbawang telah mencatat nama raja-raja, sementara Kuntara Raja Niti menjadi kitab undang-undang yang mengatur tatanan sosial. Namun, pada masa itu, falsafah Piil masih berupa semangat kewiraan dan kebangsawanan yang sempit.

Baca Juga :  Jejak Leluhur dalam Adat Pesawaran Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Memasuki abad ke-15 hingga ke-16, pedagang dan penyebar Islam dari Cirebon, Banten, dan Kesultanan Pagaruyung datang. Mereka disambut dengan Nemui Nyimah. Akan tetapi, Islam tidak datang untuk meruntuhkan adat; ia datang layaknya air yang meresap ke dalam karang. Ratu Ngegalang Paksi dan para penyebar Islam lainnya secara cerdas mengawinkan syariat dengan kebiasaan.
Salah satu bukti akulturasi paling kuat terlihat pada naskah kuno Kuntara Raja Niti (pasal 46) yang dengan berani menyatakan: “Pokok manusia ada tiga perkara: Islam, Sarani, dan Kapir.”
Dalam naskah itu pula, hukum adat mulai diberi “baju” syariat. Para Punyimbang tidak lagi hanya merujuk pada Cempala Ruabelos (hukum pidana adat), tetapi juga mulai memasukkan nilai-nilai Figh. Islam meluruskan Piil: kehormatan bukanlah gengsi buta, melainkan ketakwaan. Sehingga lahirlah pemahaman bahwa Piil Pesenggiri yang sesungguhnya adalah menjaga harga diri dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Alhasil, Piil tidak pernah runtuh. Ia bertransformasi. Dari gengsi duniawi menjadi kemuliaan ukhrawi. Itulah mengapa hingga kini, masyarakat Lampung teguh pada adatnya, namun shalatnya tidak pernah ditinggalkan, sebagaimana termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti yang di bagian awalnya sudah mencantumkan kewajiban shalat lima waktu.

Analisis Nilai & Penguatan Syariat (Pilar Piil Pesenggiri)

Dalam keseharian masyarakat Ulun Lampung, Piil Pesenggiri berdiri di atas lima pilar utama. Kelima pilar ini bukan hanya adat, tapi adalah cerminan akhlak mulia sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dan relevan dengan Pancasila. Berikut kelima pilar tersebut yang akan kita temukan dalam bab-bab selanjutnya:
1. Pesenggiri (Harga Diri & Kehormatan). Seseorang memiliki Pesenggiri jika ia menjaga martabat. Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Hujurat (49): 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.
Asbāb al-nuzūl: Ayat ini turun untuk mengajarkan bahwa kemuliaan bukan karena keturunan atau harta, tetapi karena iman dan takwa, selaras dengan Pesenggiri yang menolak kesombongan.

Baca Juga :  Buku Seri Denda Adat Pepadun Menurut Perspektif Islam. Seri 6 : “Hukum di Balai Adat” – kisah musyawarah dan perdebatan moral para perwatin. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Juluk-Adok (Gelar Kehormatan). Gelar bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai beban moral. Semakin tinggi Adok (gelar) yang disandang, semakin besar tanggung jawab sosialnya. Ini adalah wujud nyata dari perintah menunaikan amanah (Q.S. An-Nisa (4): 58).
۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا
innallâha ya’murukum an tu’addul-amânâti ilâ ahlihâ wa idzâ ḫakamtum bainan-nâsi an taḫkumû bil-‘adl, innallâha ni‘immâ ya‘idhukum bih, innallâha kâna samî‘am bashîrâ
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

3. Nemui Nyimah (Keramahan). Budaya memuliakan tamu. Dalam Islam, memuliakan tamu adalah bagian dari iman. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari & Muslim). Namun, Nemui Nyimah juga mengajarkan untuk tidak mengada-ngada (berlebih-lebihan) yang memberatkan tuan rumah, agar tidak keluar dari syariat.

4. Nengah Nyappur (Sosialisasi & Keterbukaan). Masyarakat Lampung diajarkan untuk tidak menyendiri, mampu bergaul dengan siapa pun tanpa membedakan suku dan agama. Ini adalah implementasi dari ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan) yang merupakan bagian dari semangat Pancasila sila ke-3 (Persatuan Indonesia).

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 5: Nama sebagai Identitas dan Tanggung Jawab. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

5. Sakai Sambayan (Gotong Royong). Prinsip tolong-menolong ini adalah nadi kehidupan bermasyarakat. Islam memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (Q.S. Al-Maidah (5): 2) dan menjauhkan diri dari sikap egois. Sakai Sambayan secara nyata mencerminkan Sila ke-5 (Keadilan Sosial), di mana kebahagiaan bersama adalah tujuan akhir.
Piil Pesenggiri bukanlah produk instan. Ia lahir dari rahim sejarah yang panjang, diasah oleh kearifan lokal, lalu diasuh dan disempurnakan oleh cahaya Islam. Jauh dari menggusur tradisi, Islam datang sebagai “penyempurna akhlak” bagi falsafah ini. Di tangan masyarakat Lampung, adat dan syariat berjabat erat, membangun peradaban yang bermartabat.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini