Mutiara Pagi: Ketika Semua Ikatan Dunia Terputus. Tadabbur Surat ‘Abasa Ayat 33–42. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Ada suara-suara yang membuat manusia terkejut. Ada pula suara yang membuat manusia berlari menyelamatkan diri. Namun ada satu suara yang belum pernah didengar telinga manusia sejak dunia diciptakan; suara yang akan mengakhiri seluruh kehidupan, menghentikan denyut jantung setiap makhluk, meruntuhkan gunung-gunung, membelah langit, dan membangkitkan seluruh manusia dari kuburnya. Itulah Ash-Shaakhkhah, suara dahsyat Hari Kiamat.

Dalam penutup Surat ‘Abasa, Allah tidak sekadar mengabarkan bahwa kiamat pasti datang. Allah melukiskan suasana yang begitu mencekam sehingga setiap ikatan yang selama ini dianggap paling kuat di dunia seketika hancur. Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:

“Bagaimana nasibku di hadapan Allah?”

Allah berfirman:

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (Hari Kiamat).” (QS. ‘Abasa: 33)

Suara yang membungkam seluruh dunia

Kata الصَّاخَّةُ berasal dari makna suara yang sangat keras hingga memekakkan telinga dan mengguncang hati.

Itu bukan sekadar dentuman. Bukan pula gemuruh biasa. Itulah suara yang menandai berakhirnya seluruh kehidupan dunia.

Tidak ada lagi perdagangan. Tidak ada lagi jabatan. Tidak ada lagi kekuasaan. Tidak ada lagi kerajaan.

Semua yang selama ini dibanggakan manusia lenyap dalam sekejap. Ikatan keluarga yang terputus

Allah berfirman:

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ ۝ وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ ۝ وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan ayahnya, dari istri (atau suaminya), dan dari anak-anaknya.” (QS. ‘Abasa: 34–36)

Betapa mengejutkan urutan ayat ini.

Allah menyebut orang-orang yang paling dekat dalam kehidupan manusia. Saudara. Ibu. Ayah. Pasangan hidup. Anak-anak.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Kebijakan Harus Dibangun di Atas Ilmu dan Hikmah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Mereka adalah orang-orang yang dahulu rela saling berkorban. Namun pada hari itu… Semua berlari.

Bukan karena tidak saling mencintai. Tetapi karena setiap orang sedang memikul beban yang terlalu berat untuk memikirkan orang lain.

Tidak ada lagi kalimat: “Bagaimana keadaan keluargaku?”

Yang ada hanyalah: “Bagaimana nasibku?” Kesibukan yang melumpuhkan

Allah berfirman:

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

“Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37)

Ayat ini menggambarkan kepanikan yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia.

Bayangkan seseorang yang sangat mencintai ibunya.

Pada hari itu… Ia tidak mampu menoleh. Bayangkan seorang ayah yang rela mati demi anaknya.

Pada hari itu… Ia tidak mampu menolong. Bukan karena cinta telah hilang. Tetapi karena dahsyatnya hisab membuat setiap jiwa tenggelam dalam urusannya sendiri.

Dua wajah manusia

Setelah menggambarkan kepanikan itu, Allah membagi manusia menjadi dua kelompok.

Wajah-wajah yang bercahaya

Allah berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ ۝ ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan bergembira.” (QS. ‘Abasa: 38–39)

Subhanallah…

Di tengah suasana yang sangat mencekam… Masih ada wajah yang tersenyum.
Mengapa?
Karena mereka telah melewati hisab dengan selamat.

Mereka melihat rahmat Allah. Mereka mendengar kabar gembira dari para malaikat.

Seluruh ketakutan dunia telah berubah menjadi kegembiraan yang kekal.

Cahaya wajah mereka bukan berasal dari matahari.

Tetapi dari cahaya iman yang dahulu mereka pelihara ketika hidup di dunia.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Teguran adalah Tanda Cinta. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Wajah-wajah yang gelap

Kemudian Allah berfirman:

وَوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ ۝ تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

“Dan pada hari itu ada pula wajah-wajah yang tertutup debu, diselimuti kegelapan. Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.” (QS. ‘Abasa: 40–42)

Lihatlah betapa kuatnya gambaran Al-Qur’an.

Tidak disebutkan terlebih dahulu api. Tidak disebutkan rantai. Tidak disebutkan cambuk.

Yang digambarkan adalah wajah. Karena wajah adalah cermin isi hati. Debu melambangkan kehinaan. Kegelapan melambangkan keputusasaan.

Wajah-wajah itu kehilangan cahaya karena dahulu mereka menolak cahaya petunjuk Allah.

Gambaran suasana yang mencekam

Ayat-ayat ini melukiskan Hari Kiamat dengan sangat hidup.

Suara yang memekakkan telinga mengguncang seluruh alam.

Manusia berlarian tanpa arah.

Ikatan keluarga yang selama ini menjadi sandaran hidup terputus.

Setiap jiwa tenggelam dalam kecemasan tentang nasibnya sendiri.

Lalu manusia terbelah menjadi dua.

Satu kelompok dipenuhi cahaya, senyum, dan harapan.

Kelompok lainnya diselimuti debu, kegelapan, dan penyesalan yang tak berujung.

Tidak ada wilayah abu-abu. Tidak ada kedudukan yang dapat dibanggakan.

Yang membedakan hanyalah iman dan amal saleh.

Renungan

Surat ‘Abasa ditutup dengan sebuah pertanyaan yang tidak diucapkan, tetapi sangat terasa:

“Pada hari itu, wajah kita termasuk yang mana?”

Apakah wajah yang bersinar karena rahmat Allah?

Ataukah wajah yang dipenuhi penyesalan karena mengabaikan petunjuk-Nya?

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا»

“Manusia akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, tanpa pakaian, dan belum dikhitan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Dzikir - Sumber Keteguhan di Tengah Badai. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Dalam riwayat lain, ketika Aisyah binti Abu Bakar bertanya apakah laki-laki dan perempuan akan saling melihat aurat, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjawab:

«الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ»

“Keadaan pada hari itu jauh lebih dahsyat daripada membuat mereka memikirkan hal tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Inilah makna firman Allah:

لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

Setiap orang benar-benar sibuk memikirkan keselamatannya sendiri.

Karena itu, selama kesempatan masih terbuka, marilah kita memperbanyak taubat, memperbaiki salat, menjaga amanah, memperbanyak sedekah, dan memperindah akhlak. Sebab pada hari ketika seluruh hubungan dunia terputus, yang tetap menyertai kita hanyalah iman, amal saleh, dan rahmat Allah.

Semoga Allah menjadikan wajah kita termasuk wajah-wajah yang berseri-seri, dipenuhi cahaya, tawa, dan kegembiraan ketika bertemu dengan-Nya. Semoga Dia melindungi kita dari kehinaan pada Hari Kiamat dan mengumpulkan kita bersama para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وُجُوهَنَا يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ، وَلَا تُسَوِّدْ وُجُوهَنَا يَوْمَ تَسْوَدُّ وُجُوهٌ، وَاجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ رَحْمَتِكَ وَرِضْوَانِكَ. آمِينَ.
(*/289)
WaAllahu A’lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini