Seri Buku: Kearifan Lokal Lampung dalam Kehidupan sehari-hari. SERI 6: MERAWAT ADAT DI ERA GLOBAL. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Beberapa tahun telah berlalu sejak Cakra pertama kali belajar tentang falsafah hidup orang Lampung. Kini, ia telah menikah dan memiliki seorang putra bernama Bima. Sebagai seorang ayah, Cakra ingin menanamkan nilai-nilai adat kepada anaknya sejak dini. Namun, ia menghadapi tantangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Suatu sore, Cakra mengajak Bima yang berusia tujuh tahun ke sesat (balai adat) untuk menyaksikan upacara Cakak Pepadun. Namun, Bima justru merengek ingin bermain gawai (gadget) di rumah. “Ayah, acara itu membosankan. Teman-temanku lebih asyik main game,” ujar Bima dengan wajah cemberut.
Cakra terhenyak. Ia teringat masa kecilnya, ketika ia begitu antusias menyaksikan setiap upacara adat dan mendengarkan cerita dari sang ayah. Kini, generasi muda seperti Bima mulai menganggap adat sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan zaman mereka.

Malam itu, Cakra bertemu dengan Punyimbang Sutan di beranda rumah. Keduanya berbincang tentang keprihatinan yang sama. “Cakra,” ujar Punyimbang Sutan, “ini adalah tantangan besar bagi kita semua. Arus globalisasi memang membawa kemajuan, tetapi juga mengancam kelestarian adat dan budaya kita.”

Punyimbang Sutan lalu menceritakan sebuah penelitian yang pernah ia baca. Menurut sebuah jurnal, pewarisan nilai budaya pada masyarakat Lampung menghadapi tantangan besar di era globalisasi, karena tradisi-tradisi lokal terancam mengalami pergeseran nilai dan identitas. Budaya populer global sering kali mendominasi, sehingga nilai-nilai tradisional seperti yang terkandung dalam falsafah Pi’il Pesenggiri bisa saja tergerus.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan, Punyimbang?” tanya Cakra.

Punyimbang Sutan tersenyum bijak. “Kita harus mulai dari keluarga, Cakra. Peran orang tua sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai adat sejak dini. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Lampung, penanaman nilai Pi’il Pesenggiri oleh orang tua kepada anak merupakan salah satu bentuk upaya mempertahankan nilai-nilai adat dan kebudayaan Lampung. Proses penanaman ini dilakukan melalui tahapan sosialisasi, internalisasi, dan enkulturasi. Nilai-nilai budaya harus ditanamkan melalui tiga tahapan: masa anak-anak, masa remaja, dan menjelang dewasa.”
Cakra mengangguk. “Jadi, saya harus mulai membiasakan Bima dengan adat sejak sekarang?”
“Tepat sekali,” jawab Punyimbang Sutan. “Tidak perlu dengan cara yang kaku atau memaksa. Mulailah dengan hal-hal sederhana, seperti mengajarkan bahasa Lampung, bercerita tentang asal-usul marga, atau mengajaknya menghadiri acara adat dengan cara yang menyenangkan. Peran orang tua sebagai ‘ujung tombak’ pembinaan budaya sangatlah penting.”

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 9 , Adat dalam Kehidupan Sehari-hari. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejak malam itu, Cakra bertekad untuk lebih aktif dalam menanamkan nilai-nilai adat kepada Bima. Ia mulai bercerita tentang sejarah leluhur, mengajak Bima ke sesat dengan cara yang menyenangkan, dan memberikan contoh langsung dalam keseharian. Perlahan, Bima mulai tertarik dan bertanya-tanya tentang adat dan budayanya sendiri.
Setahun kemudian, Cakra dan Bima kembali duduk di beranda bersama Punyimbang Sutan. Kini, Bima sudah mulai fasih menggunakan bahasa Lampung dan hafal dengan falsafah Pi’il Pesenggiri. Punyimbang Sutan tersenyum bangga melihat perkembangan Bima.
“Nak Bima,” ujar Punyimbang Sutan, “apakah kau tahu apa saja yang termasuk dalam falsafah Pi’il Pesenggiri?”
Bima menjawab dengan percaya diri, “Bejuluk Beadek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan.”
“Bagus sekali,” puji Punyimbang Sutan. “Sekarang, coba kau jelaskan satu per satu.”
Bima mulai menjelaskan dengan polos namun penuh semangat. “Bejuluk Beadek artinya kita harus menjaga nama baik dan gelar yang kita sandang. Nemui Nyimah artinya kita harus ramah kepada tamu dan menjadi tamu yang baik. Nengah Nyappur artinya kita harus pandai bergaul dan memiliki tenggang rasa. Dan Sakai Sambayan artinya kita harus suka gotong royong.”

Punyimbang Sutan mengangguk puas. “Kau sudah paham, Nak. Sekarang, tahukah kau bahwa semua nilai ini bersumber dari Kitab Kuntara Raja Niti? Kitab ini adalah warisan budaya kita yang secara nyata memberikan catatan tentang kebudayaan masa lalu dan masih dapat digunakan hingga sekarang. Di dalamnya tertulis tuntunan moral yang menjadi pedoman masyarakat Lampung.”
Menurut adat, falsafah Pi’il Pesenggiri ini adalah kristalisasi pandangan hidup yang diyakini sebagai landasan berpikir, bertindak, dan berperilaku masyarakat Lampung. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat Lampung dan menunjukkan kepribadian serta jati diri mereka.
Punyimbang Sutan melanjutkan, “Namun perlu diingat, Nak Bima, falsafah ini bukan hanya untuk orang Lampung. Nilai-nilainya bersifat universal. Sakai Sambayan, misalnya, selaras dengan ajaran Islam tentang tolong-menolong.
Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 2: ‘Wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, wa la ta’awanu ‘alal itsmi wal ‘udwan’ yang artinya: ‘Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran’. Dan Nengah Nyappur selaras dengan sila ke-3 Pancasila, ‘Persatuan Indonesia’. Karena dengan pandai bergaul dan tenggang rasa, kita bisa menjaga persatuan di tengah keberagaman.”

Baca Juga :  BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN. Seri 5: BEGAWI DALAM KEHIDUPAN KONTEMPORER DAN UPAYA PELESTARIAN. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Cakra dan Bima mendengarkan dengan seksama. Mereka mulai memahami bahwa Pi’il Pesenggiri bukan sekadar falsafah kuno, tetapi pedoman hidup yang relevan hingga kini. Falsafah ini dapat membentuk karakter yang tangguh, santun, dan religius.
Saat senja tiba, Punyimbang Sutan berdiri dan menggenggam tangan Cakra dan Bima. Ia berkata dengan suara lirih namun penuh wibawa, “Anak-anakku, inilah warisan dari puyang (leluhur) kita. Marwah Lampung bukan hanya di pakaian adat, tetapi pada budi pekerti yang kita junjung setiap hari. Jagalah Pi’il Pesenggiri, karena di situlah letak harga diri kita. Sebagaimana tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti, ‘Anak lelaki piilnya berhati-hati dalam bicara’. Maka, jagalah tutur kata, jagalah perilaku, dan jagalah nama baik keluarga dan marga. Dengan begitu, kita tidak hanya melestarikan adat, tetapi juga menjaga kehormatan diri sebagai Ulun Lampung sejati.”
Malam itu, langit Lampung dihiasi bintang-bintang yang bersinar terang. Di beranda rumah, Cakra memeluk Bima erat. Ia bersyukur bahwa anaknya mulai mengenal dan mencintai adatnya sendiri. Dan ia berjanji untuk terus menanamkan nilai-nilai luhur ini, agar warisan dari para leluhur tidak pernah pudar ditelan zaman.

Baca Juga :  Buku Seri Petuah Tua, Nilai Hidup dari Saibatin dan Pepadun. Seri - 1. “Ajaran Turun Lembing: Jalan Hidup Orang Lampung” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2018). Warisan Budaya Tak Benda. Jakarta: Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.
2. Hadikusuma, Hilman. (1986). Kuntara Raja Niti Pubiyan Telu Suku. Bandar Lampung.
3. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
4. Insani, M., Gustira, Y. D., & Prasetyo, H. (2025). Inheritance of Cultural Values in The Sekura Tradition as an Identity Lampung Society Culture. Jurnal IKADBUDI, 14. https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v14i2.90558
5. Irianto, S. (2011). Kearifan Lokal dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya.
6. Minandar, C. A. (2018). Aktualisasi Piil Pesenggiri sebagai Falsafah Hidup Mahasiswa Lampung di Tanah Rantau. Sosietas: Jurnal Pendidikan Sosiologi, 8(2). https://doi.org/10.17509/sosietas.v8i2.14594
7. Muzakki, A. (2018). Introducing Local Genius-Based Harmony Education (Piil Pesenggiri) Among the Indigenous People of Lampung. Penamas, 30(3). https://doi.org/10.31330/penamas.v30i3.188
8. Putra, D. A. (2025). Sekura: Topeng Lampung Anti Sekuler. NU Online Lampung. https://lampung.nu.or.id/seni-budaya/sekura-topeng-lampung-anti-sekuler-UtCmb
9. Syahrul, M. (2011). Naskah Kuno Lampung: Kitab Kuntara Raja Niti. Bandar Lampung: Pustaka Adat Lampung.
10. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri. https://id.wikipedia.org/wiki/Piil_Pesenggiri

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini