Tradisi Menyambut Idul Adha di Masyarakat Adat Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Hari raya Idul Adha merupakan momen penting yang tidak hanya dirayakan secara religius oleh umat Islam, tetapi juga menjadi bagian dari budaya lokal masyarakat adat di berbagai daerah Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung. Masyarakat adat Lampung, khususnya suku Pepadun dan Saibatin, memiliki cara khas dalam menyambut dan merayakan hari besar keagamaan ini.

1. Persiapan Menyambut Hari Raya
Menyambut Idul Adha, masyarakat adat Lampung mulai melakukan berbagai persiapan sejak beberapa hari sebelumnya. Kegiatan ngelappah atau gotong royong membersihkan lingkungan balai adat dan masjid dilakukan secara bersama-sama. Warga laki-laki membersihkan halaman dan memperbaiki fasilitas umum, sedangkan kaum ibu mempersiapkan bahan makanan untuk menyambut tamu dan keluarga yang datang dari luar daerah.
Bagi masyarakat adat, gotong royong ini tidak sekadar membersihkan lingkungan, tetapi menjadi sarana menjaga nilai kebersamaan dan keharmonisan antarwarga, yang merupakan prinsip penting dalam falsafah hidup orang Lampung: piil-pusanggiri, nemui-nyimah, nengah-nyampur, dan sakai-sambaian.

Baca Juga :  Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 3: Nengah Nyappur – Integrasi Sosial yang Elegan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Malam Takbiran dengan Nuansa Budaya
Malam takbiran di Lampung bukan hanya gema takbir keliling sebagaimana lazim di kota-kota besar. Di desa-desa adat, malam ini diisi dengan kegiatan budaya seperti tari bedana, silat tradisional Lampung, serta pembacaan petuah-petuah adat oleh tokoh masyarakat. Anak-anak dan remaja mengenakan pakaian adat Lampung, lengkap dengan tanjak dan selendang tapis.
Balai adat menjadi pusat aktivitas budaya malam takbiran. Warga berkumpul, berbagi cerita, dan mempererat silaturahmi. Momen ini menjadi ajang melestarikan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda.

3. Penyembelihan Hewan Kurban secara Adat
Pada pagi hari Idul Adha, masyarakat mengikuti salat Ied secara berjamaah, biasanya dilakukan di lapangan desa atau halaman balai adat. Setelah itu, dilakukan prosesi penyembelihan hewan kurban. Di beberapa desa adat, prosesi ini diawali dengan doa dan seruan adat oleh para tokoh atau penyimbang (pemimpin adat).
Daging kurban dibagikan dengan cara yang unik, yakni nampah, di mana potongan daging diantar langsung ke rumah-rumah warga oleh anak-anak muda, disertai pantun adat atau ucapan hormat. Hal ini mencerminkan nilai nemui-nyimah, tradisi menyambut dan menghormati tamu dengan keramahtamahan khas Lampung.

Baca Juga :  Piil Pesenggiri, Marak di Mata, Ikhsan di Hati. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

4. Makanan Tradisional dan Kebersamaan
Tak lengkap rasanya Idul Adha tanpa hidangan khas. Masyarakat Lampung menyiapkan berbagai makanan tradisional, seperti:
• Seruit (makanan khas berupa ikan bakar dicampur sambal dan tempoyak),
• Gulai kambing Lampung,
• Lapis legit dan kue-kue basah lokal.
Warga makan bersama di balai adat atau di rumah masing-masing dengan konsep besan, makan bareng sambil berdiskusi ringan. Ini menjadi wujud nyata dari filosofi nengah-nyampur, yaitu prinsip keterlibatan dan kehadiran dalam kehidupan sosial.

5. Doa dan Ruwahan
Pada sore harinya, masyarakat berkumpul kembali untuk menggelar ruwahan atau doa bersama mengenang leluhur dan memanjatkan doa syukur. Tradisi ini menjadi refleksi spiritual sekaligus budaya yang menyatukan dimensi agama dan adat.
Ruwahan diisi dengan tahlilan, pembacaan doa bersama, dan pembagian makanan yang telah didoakan kepada warga sekitar. Dalam budaya Lampung, ini memperkuat nilai sakai-sambaian, yaitu saling menolong dan berbagi.

Baca Juga :  Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 7 – DIGITALISASI BUDAYA, MENGHIDUPKAN TRADISI DI ERA DIGITAL. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Kesimpulan
Tradisi menyambut Idul Adha di masyarakat adat Lampung tidak hanya sarat nilai religius, tetapi juga merupakan cermin dari keluhuran budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Dari gotong royong hingga ruwahan, dari nampah hingga pentas budaya, semua menjadi bukti bahwa adat dan agama berjalan beriringan dalam membentuk karakter masyarakat yang harmonis dan penuh makna.
Bagi generasi muda, melestarikan tradisi ini bukan hanya kewajiban, tetapi kebanggaan. Karena di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri masyarakat Lampung: menjunjung kehormatan, menghargai sesama, dan menjaga harmoni dengan alam serta leluhur.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini