BADIK, Pelindung Harkat dan Harga Diri dalam Tradisi Lampung. Buku – 5: Kisah dari Masa Lalu, Badik dalam Cerita Rakyat dan Peristiwa Bersejarah. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di antara gemercik air Way Kanan dan gemuruh hutan belantara, bilah-bilah badik tidak hanya menyaksikan sejarah, tetapi turut menorehkannya. Setiap goresan pamor pada logamnya menyimpan kenangan tentang perjanjian, peperangan, dan janji setia yang membentuk peradaban Lampung. Badik adalah saksi bisu yang kemudian bercerita melalui tutur tinular, menjadi bagian dari epik yang memperkuat jati diri suatu marga.

Esai ini akan menelusuri jejak badik dalam cerita rakyat dan peristiwa bersejarah, mengungkap bagaimana sebilah senjata menjadi simbol yang mengukir narasi kolektif dan mempertahankan harkat masyarakat adat Lampung dari generasi ke generasi.
Sebuah legenda dari Marga Buay Belunguh di daerah Krui, Pesisir Barat, menceritakan asal-usul mereka yang erat kaitannya dengan sebilah badik.

Alkisah, sekelompok pemuda dari Skala Brak hendak membuka pemukiman baru. Di tengah perjalanan, mereka diserang oleh roh jahat penunggu hutan. Pemimpin mereka, seorang pemuda bernama Rio, berdoa meminta petunjuk. Dalam mimpinya, ia diperintahkan untuk menemukan sebuah batu meteorit dan menempa menjadi badik. Setelah badik itu jadi, dengan dihunuskannya, roh-roh jahat itu pun menghilang. Daerah itu kemudian aman dan dinamakan Belunguh, yang berarti ‘tenang’. Badik meteorit itu menjadi pusaka marga dan simbol legitimasi kepemilikan tanah. Setiap pemimpin marga baru harus menyentuh badik ini dalam upacara pengukuhan, sebagai simbol penerimaan mandat untuk menjaga ketenteraman wilayahnya.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, terdapat petunjuk tentang hubungan antara senjata, wilayah, dan kepemimpinan. Salah satu pasalnya berbunyi: “Saibatin yang berdaulat, tanda negeri yang dirwat, pusako di tangannya tegawat” yang artinya “Seorang pemimpin yang berdaulat, adalah tanda negeri yang terjaga, pusaka di tangannya dikelola dengan baik”.

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 6: Adat dalam Siklus Kehidupan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan konsep integral antara pemimpin (saibatin), kedaulatan wilayah (negeri), dan pusaka (pusako) yang dalam hal ini sering kali berupa badik. Pusaka bukanlah harta pribadi, melainkan simbol otoritas yang diamanahkan oleh adat untuk memimpin dan ‘merawat’ suatu wilayah. Kehilangan atau tidak diakuinya pusaka berarti goyahnya legitimasi kepemimpinan adat.
Sejarah hubungan antar-marga di Lampung juga diikat oleh sumpah yang menggunakan badik sebagai medianya.

Cerita rakyat dari daerah Abung menuturkan tentang perseteruan lama antara dua marga yang memperebutkan sumber air. Pertumpahan darah hampir saja terjadi. Para tetua dari kedua belah pihak kemudian mengadakan musyawarah besar di sebuah bukit. Sebagai tanda perdamaian, kedua pemimpin marga mengeluarkan badik pusaka mereka. Kedua bilah badik itu disilangkan dan di atasnya diletakkan sebuah telur ayam kampung. Mereka kemudian bersumpah, “Dengan nama Sangiyang Sakti, persaudaraan kita kembali. Bila perselisihan ini kami buat lagi, biarlah kami pecah seperti telur ini, dan badik kami sendiri yang menikam jantung kami”.
Telur itu kemudian dibiarkan utuh, bukan dipecahkan.

Simbolisme ini sangat dalam. Badik yang disilangkan melambangkan kekuatan yang seimbang dan saling menghormati. Telur yang utuh di atasnya melambangkan perdamaian dan kehidupan yang rapuh, yang harus dijaga bersama. Sumpah itu bukan mengancam dengan kematian, tetapi dengan ‘kepecahan’ harga diri dan kehancuran spiritual yang jauh lebih menyakitkan bagi orang Lampung.
Peristiwa ini kemudian dikenang dalam upacara adat tahunan yang menyatukan kedua marga hingga hari ini.
Badik di sini berfungsi sebagai alat pengukir perdamaian, bukan pembawa malapetaka.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Puasa sebagai Jalan Melatih Hati Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pada masa kolonial, badik juga menjadi simbol perlawanan halus terhadap penjajah. Sebuah dokumen kuno surat menyurat antara penyimbang adat menceritakan strategi menghadapi kebijakan Belanda yang memecah-belah marga. Surat itu ditutup dengan stempel cap yang unik: cetakan ujung sarung badik yang dicelupkan ke tinta. Cap ini adalah kode rahasia yang hanya dipahami oleh kalangan internal, menandakan bahwa surat itu disetujui oleh pemangku adat dan isinya adalah seruan untuk bersatu.
Lebih dari itu, cerita-cerita heroik tentang jagoan silat Lampung yang menggunakan badik untuk membela warga dari penindasan mandor kolonial juga hidup dalam folklor.

Kisah tentang Si Jempol dari Pesisir, misalnya, yang dengan badiknya yang kecil (badik duwe) berhasil melucuti senjata seorang mandor yang sedang bertindak sewenang-wenang, bukan dengan menikam, tetapi dengan mencukur kumis sang mandor di tengah keramaian sebagai bentuk penghinaan tertinggi terhadap harga dirinya. Tindakan ini mencerminkan kecerdikan dan filosofi badik: bukan membunuh fisik, tetapi meluluhkan harga diri lawan sehingga ia tidak lagi memiliki wibawa untuk menindas.

Kisah-kisah dan peristiwa bersejarah ini bukan sekadar dongengan pengantar tidur. Ia adalah memori kolektif yang dipatrikan pada bilah badik, menjadi pengingat akan identitas, keberanian, kebijaksanaan, dan komitmen untuk menjaga persatuan. Setiap kali seorang anak mendengar legenda badik pusaka marganya, atau setiap kali seorang penyimbang menceritakan sumpah perdamaian nenek moyang, nilai-nilai pi’il pesenggiri dan muakhi kembali dihidupkan.

Baca Juga :  Saibatin-Pepadun, Peluang Integrasi, Bukan Perpecahan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Badik dalam konteks ini adalah medium penceritaan. Ia adalah buku sejarah yang dipegang, bukan dibaca. Ia mengajarkan bahwa harkat dan harga diri tidak hanya dijaga dengan kekuatan fisik, tetapi lebih-lebih dengan kecerdikan, diplomasi, dan kesetiaan pada janji serta perjanjian.

Dengan memahami kisah-kisah masa lalu yang melekat padanya, sebuah badik tidak lagi dilihat sebagai senjata, melainkan sebagai piagam, alat perjanjian, dan lambang ketahanan budaya yang telah membentuk Lampung hingga menjadi seperti sekarang. Ia adalah pelindung harkat dan harga diri yang telah teruji oleh waktu.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Buku: Kitab Kuntara Raja Niti (Naskah dan Terjemahan). (2010). Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung Press. (Buku fisik tersedia di perpustakaan).
2. Buku: Suwondo, B. (2015). Cerita Rakyat dari Lampung. Jakarta: Grasindo. (Buku fisik tersedia di toko buku online terverifikasi).
3. Jurnal Ilmiah: Suryani, E. (2020). “Nilai-Nilai Kepahlawanan dalam Folklor Lampung: Kajian Struktural dan Semiotik”. Jurnal Litera, 19(2), 245-260. (Tersedia secara digital di portal jurnal terakreditasi SINTA).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini