nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Seruit adalah kuliner tradisional khas Lampung yang berbahan dasar ikan air tawar, sambal terasi, dan tempoyak. Namun seruit bukan sekadar menu makanan; ia adalah ruang temu yang menggambarkan identitas kolektif masyarakat Lampung, mencerminkan relasi sosial, nilai-nilai kebersamaan, serta ekspresi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Masyarakat Lampung, terutama kelompok adat Pepadun dan Saibatin, menjadikan seruit sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks seremoni adat.
Dalam konteks kehidupan sosial, seruit menjadi medium pertemuan dan penyatu antara individu dan komunitas. Tradisi “nyeruit”, makan bersama seruit dalam satu tampah atau nampan besar, merupakan praktik umum dalam keluarga besar, acara adat, atau pertemuan informal warga kampung.
Aktivitas ini tidak sekadar makan, melainkan mengukuhkan relasi kekeluargaan dan memperkuat solidaritas. Semua kalangan, tanpa memandang usia dan status sosial, duduk dalam satu lingkaran makan yang egaliter. Di sinilah terlihat bahwa seruit berfungsi sebagai perekat sosial yang menurunkan sekat-sekat sosial.
Dalam struktur budaya, seruit berperan penting dalam berbagai ritual dan perayaan. Pada acara pernikahan adat Lampung, terutama dalam upacara “begawi” atau pesta adat, seruit adalah bagian wajib dalam sajian kepada tamu dan kerabat. Keberadaannya menunjukkan kesanggupan keluarga menyelenggarakan hajatan secara adat dan menjadi simbol kehormatan. Demikian pula dalam acara syukuran panen, pindah rumah, hingga penyambutan tamu agung, seruit menandai bahwa acara tersebut dilakukan dalam bingkai adat Lampung.
Lebih dari sekadar makanan, seruit juga mengandung dimensi simbolik. Ikan sungai, sebagai bahan utama, melambangkan keterikatan masyarakat Lampung dengan alam dan sumber daya lokal. Sungai tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga ruang spiritual.
Dalam mitos lokal, sungai sering dianggap sebagai tempat yang sakral. Oleh karena itu, ikan yang berasal dari sungai memiliki nilai khusus dan membawa berkah jika disantap bersama. Sementara itu, sambal dan tempoyak melambangkan keragaman rasa dan pengaruh budaya, mengingat sambal terasi merupakan pengaruh dari percampuran budaya pesisir dan pedalaman.
Proses pembuatan seruit juga menunjukkan praktik budaya yang kaya makna. Ikan yang dibakar atau digoreng kemudian ditumbuk dan dicampur dengan sambal dan tempoyak, mengisyaratkan proses menyatukan perbedaan menjadi satu kesatuan rasa.
Dalam filosofi lokal, proses ini menggambarkan prinsip “sai betik”, hidup yang baik, yang hanya bisa dicapai jika masyarakat hidup dalam kerukunan, saling melengkapi, dan gotong royong.
Di lingkungan pedesaan Lampung Tengah, Tulang Bawang, maupun Lampung Barat, seruit bukan hanya menu sehari-hari, melainkan juga mekanisme sosial untuk menyelesaikan konflik atau mempererat hubungan.
Misalnya, dalam penyelesaian perselisihan antar keluarga, nyeruit bisa menjadi ajang rekonsiliasi informal, di mana pihak-pihak yang berselisih duduk bersama dan makan dalam satu tampah sebagai simbol berakhirnya sengketa. Momen ini tidak membutuhkan kata-kata formal, karena kehangatan dan kebersamaan dalam nyeruit sudah cukup menyampaikan pesan damai.
Seruit juga memainkan peran penting dalam pelestarian identitas budaya Lampung di tengah arus globalisasi. Dalam berbagai festival budaya seperti Festival Krakatau, seruit selalu ditampilkan sebagai ikon kuliner lokal.
Pemerintah daerah bersama komunitas budaya aktif mempromosikan seruit sebagai bagian dari warisan tak benda yang harus dilestarikan. Melalui lomba masak seruit, pelatihan kuliner, hingga promosi di media digital, masyarakat Lampung memperkuat kembali akar budaya mereka yang tercermin dalam makanan.
Dalam institusi pendidikan lokal, seruit telah menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal yang memperkenalkan kearifan budaya Lampung kepada generasi muda. Anak-anak diajarkan bagaimana membuat seruit, mengenal sejarahnya, serta nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya. Pendekatan ini menjadi bagian dari strategi pendidikan karakter yang berakar pada tradisi dan memperkuat identitas kebangsaan.
Dengan demikian, seruit bukan hanya tentang rasa, melainkan juga tentang makna. Ia menjadi ruang bersama untuk menyulam kisah, mempererat hubungan, dan memperkuat nilai-nilai budaya. Dalam setiap suapan seruit, masyarakat Lampung menyimpan sejarah, menjalin masa kini, dan menyiapkan masa depan dengan identitas yang utuh dan berakar kuat.
Dalam kebudayaan masyarakat Lampung, spiritualitas dan adat istiadat bukanlah entitas yang terpisah. Ia menyatu dalam praktik sehari-hari, termasuk dalam kebiasaan makan. Seruit, sebagai makanan khas yang paling sering dikaitkan dengan kebersamaan, memiliki makna spiritual yang mendalam.
Dalam struktur adat Lampung yang dibangun atas prinsip “piil pesenggiri” (harga diri), “nemui nyimah” (keramahan), dan “nengah nyampur” (partisipasi aktif), seruit hadir sebagai representasi nilai-nilai tersebut dalam bentuk paling konkrit.
Dalam setiap acara adat, terutama yang melibatkan doa, penghormatan kepada leluhur, dan permohonan restu, makanan menjadi medium komunikasi simbolik. Seruit, yang diracik dengan waktu dan hati, diyakini mampu membawa energi positif karena berasal dari hasil bumi yang diolah secara tradisional dan dikonsumsi dalam suasana kekeluargaan. Makanan ini menjadi semacam sesaji kontemporer yang tidak hanya menyenangkan tubuh, tetapi juga menyentuh dimensi spiritual.
Dalam filosofi hidup masyarakat Lampung, makanan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terhubung dengan konsep keselarasan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Oleh sebab itu, proses membuat dan menyajikan seruit sering dilakukan dengan niat baik, hati yang bersih, dan penuh rasa syukur. Aktivitas memasak dan makan bersama ini menjadi semacam ritual non-formal yang memperkuat spiritualitas keseharian.
Spiritualitas dalam seruit juga tercermin dari cara penyajiannya. Dalam banyak komunitas adat, seruit disajikan di atas tampah besar, dan semua orang makan bersama menggunakan tangan tanpa peralatan makan modern. Ritual ini memiliki pesan kesederhanaan, kesetaraan, dan penerimaan.
Tidak ada hierarki dalam lingkaran seruit, semua duduk sejajar dan makan dari sumber yang sama. Ini sejalan dengan nilai spiritual Lampung tentang keikhlasan, kerendahan hati, dan berbagi.
Tradisi “nyeruit” pada Jumat malam juga memiliki dimensi spiritual tersendiri. Banyak keluarga Lampung menjadikan malam Jumat sebagai waktu untuk berkumpul dan makan bersama, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan momen reflektif terhadap kehidupan keluarga.
Dalam konteks ini, seruit menjadi simbol kesinambungan antara generasi dan hubungan spiritual antara yang hidup dan yang telah tiada. Doa-doa pendek sering dibacakan sebelum makan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan berkah.
Nilai spiritualitas ini juga diinternalisasi dalam etika sosial masyarakat Lampung. Seseorang yang tidak menghargai tradisi nyeruit bisa dianggap belum dewasa secara sosial dan spiritual. Oleh karena itu, nyeruit juga menjadi sarana pendidikan moral. Anak-anak sejak dini diajak terlibat dalam proses pembuatan seruit, mengenal bumbu, memahami nilai kebersamaan, dan diajarkan bahwa makanan bukan sekadar konsumsi, tetapi juga wujud syukur kepada Tuhan.
Dalam upacara pengangkatan pemimpin adat, penyajian makanan seperti seruit tidak hanya dimaksudkan sebagai jamuan, tetapi sebagai simbol kesiapan seorang pemimpin untuk merawat nilai adat dan menjaga keseimbangan sosial. Seruit yang dihidangkan harus memenuhi kriteria tertentu, melibatkan semua elemen masyarakat, dan disajikan dalam suasana penuh penghormatan. Ini menjadi bagian dari prosesi spiritual yang menghubungkan seorang pemimpin dengan nilai leluhur.
Kepercayaan lokal masyarakat Lampung juga menekankan pentingnya menjaga “ruh makanan”. Artinya, makanan yang dibuat tanpa niat baik atau dengan hati yang marah dipercaya tidak akan membawa kebaikan, bahkan bisa menyebabkan disharmoni.
Oleh karena itu, dalam pembuatan seruit, niat, kondisi batin, dan lingkungan sekitar harus bersih dan positif. Hal ini sejalan dengan ajaran agama dan kepercayaan lokal yang melihat makanan sebagai cerminan kondisi jiwa pembuatnya.
Dalam konteks modern, spiritualitas dalam seruit tetap relevan. Ia menjadi antitesis dari gaya hidup individualistik dan konsumtif. Seruit mengajarkan tentang proses, tentang berhenti sejenak dari kesibukan untuk berbagi rasa, cerita, dan doa.
Di tengah gempuran budaya cepat saji, seruit menjadi pengingat akan nilai-nilai lama yang tetap bernas: bahwa makan adalah ibadah, berbagi adalah pahala, dan rasa adalah jalan temu.
Dengan semua makna dan praktik yang menyertainya, seruit tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga jembatan spiritual antara manusia, komunitas, dan semesta.
Ia menyatukan rasa dan makna, mempertemukan adat dan kehidupan modern, dan menumbuhkan kesadaran bahwa dalam hal paling sederhana pun, seperti makan bersama, tersimpan kekuatan besar untuk membangun peradaban yang berakar.
Seruit adalah ekspresi kuliner masyarakat Lampung yang mengandung nilai sosial, budaya, dan spiritual yang dalam. Ia tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga menyatukan. Dalam setiap proses membuat dan menyantap seruit, terselip nilai-nilai tentang kesabaran, kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta semangat gotong royong. Seruit mengajarkan bahwa makanan bisa menjadi jalan untuk menyembuhkan relasi, menumbuhkan kasih sayang, dan memperkuat identitas kolektif. Di tengah tantangan zaman, seruit hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan komunitas dan spiritualitas dapat tumbuh dari hal-hal yang paling sederhana. ***
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

