“Aku Memilih Bertahan, Bukan Karena Lemah — Tapi Karena Kuat”

0

nataragung.id, Artikel — Namaku Fulanah, seorang ibu rumah tangga — gelar yang sering dianggap “pengangguran” oleh banyak orang, padahal kenyataannya… jauh dari itu.

Setiap hari aku bangun lebih awal dari semua orang di rumah ini.
Menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal, mengantar anak ke sekolah yang letaknya berbeda-beda.
Aku bukan hanya ibu, tapi juga koki, tukang ojek, guru les, bahkan kadang menjadi pendakwah di tengah keluarga.

Tentang suami?
Aku bersyukur memilikinya, meski aku tahu, jika bukan aku istrinya… mungkin rumah tangga ini sudah lama karam.
Sifatnya yang keras, patriarkis, menuntut aku menjadi “serba bisa” — bahkan untuk urusan batin yang tak selalu memuaskan, aku tetap mencoba ikhlas.

Baca Juga :  Penyelamat PILKADA (Pahlawan Demokrasi itu Bernama Gelora dan Buruh)

Kadang aku lelah.
Kadang aku jenuh dengan hari-hari yang seperti salinan.
Pernah pula terlintas untuk “lari” — tapi kemudian aku sadar, anak-anakku terlalu berharga untuk kutinggalkan demi ego sesaat.

Rasanya ingin sekali bertukar peran dengan perempuan di luar sana.
Yang bisa berdandan rapi, berangkat pagi dengan wangi parfum, duduk di kantor ber-AC, dan pulang sore dengan segenggam gaji yang dihargai.
Sementara aku? Harus rela memakai daster yang itu-itu saja, menyeka peluh sambil menggendong anak, dan tak digaji, apalagi dipuji.

Baca Juga :  Tips Hadapi Serangan Buzzer di Ruang Publik Digital, Nomor 3 Paling Sulit

Tapi apalah daya…
Inilah hidupku. Dan aku memilih menjalaninya dengan ikhlas.

Di mata orang, aku terlihat kuat dan selalu bahagia.
Mereka tak tahu, aku hanya pandai menyembunyikan luka di balik senyum.
Mereka tak paham, ini bukan munafik, ini perjuangan demi keutuhan.

Aku memilih bertahan bukan karena aku tak punya pilihan.
Aku bertahan karena cinta, karena iman, karena tanggung jawab.

Baca Juga :  Rahasia di Balik Puasa Senin Kamis, Simak Lafadz Niatnya - MAJALAH NATAR AGUNG

Untuk kalian yang sedang merasa sendirian dalam peran kalian — ibu, istri, wanita — ingatlah:
Kadang kekuatan bukan berarti tak pernah menangis. Tapi berani berdiri kembali meski hati tak utuh lagi.

Kita mungkin tidak diakui dunia, tapi kita dicatat langit sebagai pejuang yang tak pernah menyerah.

Bersambung…..

Editor  : Muhammad Arya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini