nataragung.id – Natar – Dalam derasnya arus dunia, di antara gelombang ambisi dan jurang keputusasaan,
terdapat jalan sunyi nan mulia yang sering terlupakan yaitu
jalan tengah, tempat hikmah bersemayam, dan hati menemukan kedamaian.
خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا
Khoirul umuuri ausathuha.
“Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan.”
Bukan yang memuncak dalam kesombongan,
dan bukan pula yang terpuruk dalam kehinaan,
melainkan yang berpijak pada keseimbangan dan keadilan.
Hidup bukan tentang melaju secepat angin,
bukan pula menyerah pada pelan yang menenggelamkan.
Namun hidup adalah seni menata langkah
agar tak terlampau tergesa, dan tak pula terlalu lamban.
Jadilah insan yang tahu kapan memberi dan kapan menahan,
yang tahu kapan bicara dan kapan diam, yang tahu kapan marah, dan kapan bersabar.
Karena pada pertengahan,
ada kebijaksanaan yang memeluk,
ada rahmat yang memancar,
ada kemuliaan yang tumbuh dari kerendahan hati.
Maka jika dunia mengajakmu ke tepi jurang keserakahan atau ke lubuk keterasingan,
ingatlah kemuliaan bukan pada banyaknya, tapi pada cukupnya. Kebahagiaan bukan pada tingginya, tapi pada syukurnya. Dan keselamatan bukan pada ekstremnya, tapi pada pertengahannya.
Hiduplah dengan seimbang, berpikirlah dengan adil, dan bertindaklah dengan sederhana.
Di sanalah engkau akan menemukan ketenangan,
yang tak bisa dibeli dunia dan tak bisa dicuri waktu. (24).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

