nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu, di sebuah dusun yang tersembunyi di balik bukit dan sungai, hiduplah seorang pemuda bernama Umbu, anak dari Penyimbang tua keturunan Telu Suku. Umbu dikenal tidak hanya gagah, tetapi juga bijak dan penuh rasa ingin tahu.
Setiap malam, Umbu memandangi langit dan bertanya kepada ibunya, “Mengapa bintang-bintang tidak pernah berbicara?”
Ibunya menjawab, “Mereka hanya bicara kepada anak adat yang menjaga janji.”
Suatu malam, ia bermimpi didatangi oleh seorang perempuan tua berjubah dari kabut putih. Perempuan itu berkata, “Jika kau ingin mendengar cerita langit, pergilah ke hulu Way Beliuk dan temukan Waway, roh tua penjaga ingatan.”
Umbu pun pergi, menembus rimba dan menyebrangi sungai, hingga akhirnya bertemu Waway, seorang kakek tua dengan tongkat dari kayu surian. Di balik rambutnya yang seputih kapas, matanya menyimpan sejarah.
Waway membisikkan kisah-kisah lama: tentang pembagian kampung berdasarkan hulu-hilir, tentang sumpah Uppu-Tuyuk, tentang asal mula tarian Bedana, dan tentang janji adat yang tidak boleh dilanggar. Sejak itu, Umbu menjadi pewaris cerita, menjelajah kampung, membawa kisah, menjaga nilai. Waway berkata saat berpamitan, “Cerita adalah pusaka. Tak terlihat, tapi menuntun.”
Cerita rakyat dan lisan dalam masyarakat Lampung bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana:
* Pendidikan moral dan adat
* Penjaga memori kolektif leluhur
* Media pengikat solidaritas antar generasi
Masyarakat adat Lampung mengenal beberapa jenis cerita:
* Tambo: kisah sejarah asal-usul marga
* Pepacan: kisah mitos atau legenda, biasanya dibacakan oleh penyimbang
* Ngagung: cerita pengalaman nyata tokoh adat atau kakek buyut
* Wawancan: petuah adat berupa narasi
Diceritakan bahwa pada masa awal kedatangan leluhur di tanah Lampung, tiga pangeran bersaudara membagi wilayah menjadi:
* Pubian (dataran tinggi)
* Abung (wilayah tengah)
* Tulangbawang (wilayah hilir)
Mereka bersumpah tidak akan saling berebut tanah atau mencampuri hukum adat masing-masing.
Kisah ini masih hidup di setiap upacara adat “Ngejalang” dan penobatan penyimbang baru.
Di kampung BukukJadi, terdapat batu lempung di bawah pohon tua yang diyakini sebagai tempat seseorang “menguji” kebenaran.
Siapa yang menuduh tanpa bukti akan mengalami mimpi buruk dan ditinggalkan ruh leluhur. Kisah ini masih dipercayai dan dijadikan pengingat agar tidak sembarangan menuduh atau menyebar fitnah.
Konon, jika dua keluarga adat berselisih, mereka akan diuji melalui “Embun Tujuh Malam”, yaitu tidur di pelataran balai tanpa api dan menunggu embun pertama jatuh. Siapa yang hatinya tidak bersih, akan jatuh sakit atau melihat hal-hal gaib.
Nilai ini mengajarkan kejujuran dan niat yang tulus dalam menyelesaikan konflik.
Cerita lisan menjaga struktur budaya:
* Bahasa dan istilah adat
* Tata cara bermusyawarah (pepung adat)
* Simbol dan peran seperti penyimbang, batin, dan tua-tua
Cerita rakyat menjadi:
* Sarana memperkuat jati diri marga
* Penghubung lintas generasi
* Alat pendidikan sosial informal sejak dini
Kisah-kisah ini mengajarkan bahwa:
* Alam adalah saksi adat
* Leluhur hadir dalam setiap prosesi
* Pelanggaran adat berdampak spiritual (bencana, kesialan, mimpi buruk)
Cerita-cerita adat dapat digunakan sebagai:
* Modul literasi daerah
* Media mendongeng di sekolah dasar
* Bahan pelatihan karakter adat
Cerita lisan perlu:
* Direkam dalam video, podcast, dan buku elektronik
* Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan Inggris untuk generasi muda dan diaspora
Cerita rakyat dapat diangkat dalam:
* Pertunjukan tari dramatik (drama adat)
* Pemandu wisata kampung adat
* Festival budaya tahunan
Strategi Pelestarian Cerita Lisan dan Adat
* Membangun rumah cerita adat di kampung-kampung
* Melatih juru dongeng adat dari kalangan pemuda
* Mengintegrasikan cerita dalam prosesi ritual (pernikahan, sunat, musyawarah marga)
* Melibatkan tokoh adat dalam pengembangan budaya sekolah
Cerita lisan bukan sekadar kisah lama, tetapi roh yang menjaga jiwa adat Lampung. Ia mengandung kearifan, memelihara solidaritas, dan menjadi pedoman moral yang tidak lekang oleh waktu. Di era digital ini, tugas kita adalah menghidupkan cerita itu kembali, bukan hanya dengan mulut, tetapi dengan tindakan, pengajaran, dan pemaknaan ulang dalam kehidupan modern.
Sebagaimana Waway berkata kepada Umbu, “Cerita adalah pusaka. Tak terlihat, tapi menuntun.” Maka jadilah kita generasi penutur, bukan pelupa. (*)
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

