MUTIARA PAGI : Jangan Kufur Nikmat Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id Natar – Bayangkan sebuah negeri yang dulunya makmur, penuh taman dan air yang mengalir, tiba-tiba menjadi tanah kering yang retak-retak.

Pohon-pohon mati berdiri seperti saksi bisu, dan angin membawa debu dari kota yang dahulu ramai.

Bukan karena Allah lupa, bukan pula karena bumi enggan memberi hasil, tapi karena dosa-dosa yang menghitamkan hati, menghapus berkah, dan memanggil datangnya murka.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Kebaikan Menjadi Lautan yang Menenggelamkan Luka. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Sejarah mengajarkan, betapa banyak kaum yang kuat, tegak, dan berkuasa, namun runtuh hanya karena mereka berpaling dari kebenaran.

{ وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ }

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan,disebabkan apa yang mereka perbuat.” [Surat An-Nahl: 112]

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Organisasi Hanyalah Jalan, Bukan Tujuan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Janganlah kita tertipu oleh nikmat yang masih mengelilingi kita rumah yang tegak, meja makan yang penuh, tubuh yang sehat seolah itu tanda aman.

Karena dosa adalah racun yang bekerja diam-diam, dan ketika ukurannya penuh, ia akan menumbangkan segalanya.

Maka sebelum itu terjadi, basuhlah jiwa dengan istighfar, siramilah hati dengan taubat, dan sambutlah rahmat Allah sebelum azab mengetuk pintu.

Baca Juga :  Ramadhan Mubarak (19) : Menyucikan Harta dengan Zakat dan Sedekah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Sebab, satu sujud yang tulus, satu air mata penyesalan, dapat menjadi dinding penghalang antara kita dan kebinasaan. (41)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini