nataragung.id Natar – Bayangkan sebuah negeri yang dulunya makmur, penuh taman dan air yang mengalir, tiba-tiba menjadi tanah kering yang retak-retak.
Pohon-pohon mati berdiri seperti saksi bisu, dan angin membawa debu dari kota yang dahulu ramai.
Bukan karena Allah lupa, bukan pula karena bumi enggan memberi hasil, tapi karena dosa-dosa yang menghitamkan hati, menghapus berkah, dan memanggil datangnya murka.
Sejarah mengajarkan, betapa banyak kaum yang kuat, tegak, dan berkuasa, namun runtuh hanya karena mereka berpaling dari kebenaran.
{ وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ }
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan,disebabkan apa yang mereka perbuat.” [Surat An-Nahl: 112]
Janganlah kita tertipu oleh nikmat yang masih mengelilingi kita rumah yang tegak, meja makan yang penuh, tubuh yang sehat seolah itu tanda aman.
Karena dosa adalah racun yang bekerja diam-diam, dan ketika ukurannya penuh, ia akan menumbangkan segalanya.
Maka sebelum itu terjadi, basuhlah jiwa dengan istighfar, siramilah hati dengan taubat, dan sambutlah rahmat Allah sebelum azab mengetuk pintu.
Sebab, satu sujud yang tulus, satu air mata penyesalan, dapat menjadi dinding penghalang antara kita dan kebinasaan. (41)

