Ramadan, Antara Ibadah Pribadi dan Sosial. Oleh : Gunawan Handoko *)

0

nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Hanya dalam hitungan hari bulan Ramadan 1446 Hijjriah yang dinantikan umat muslim segera tiba. Bahkan kehadiran bulan mulia ini sudah menggema sejak memasuki bulan Rajab dan Syaban.

Media sosial disemarakkan dengan ajakan dan ungggahan doa ringkas penuh makna yang diajarkan Rasulullah SAW, yakni Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan bulan Syaban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.

Hari-hari ini pengurus masjid dan mushola mulai sibuk dan bersiap diri bersolek mempercantik wajah bangunan agar nampak elok dipandang, selain memberikan rasa nyaman bagi para jamaah dalam melaksanakan ibadah Ramadan.

Para ketua RT tidak ketinggalan mengajak masyarakat untuk melakukan gotongroyong bersih-bersih lingkungan untuk menghilangkan kesan kotor dan kumuh. Pendek kata, sambutan umat muslim terhadap hadirnya bulan Ramadan memang luar biasa.

Inilah bulan pembelajaran yang penuh hikmah dan berkah serta ampunan dari Allah Swt. Maka selain persiapan lahiriah, penting juga untuk melakukan persiapan batiniah serta paham terhadap hikmah puasa yang sesungguhnya. Salah satu di antara sekian hikmah dan rahasia ibadah puasa adalah memupuk semangat solidaritas, persamaan derajat, kasih sayang, kepedulian sesama dan kesetiakawanan sosial.

Disinilah sesungguhnya tantangan bagi umat muslim untuk tidak sekedar melaksanakan ibadah pribadi, tapi juga ibadah sosial. Bulan Ramadan melatih umat muslim agar dapat meminimalisasi sikap bakhil dan individualis dalam dirinya, untuk selanjutnya menjadi insan yang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Selain kewajiban melaksanakan puasa, umat muslim yang berkecukupan harta juga diperintahkan untuk membayar zakat fitrah, infak dan sedekah serta amal kebajikan lainnya.

Baca Juga :  Tanah Perdikan Tegal Sari - Ponorogo. Oleh : M. Habib Purnomo *)

Maka ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah Ramadan dapat di ukur sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa dengan membuang jauh-jauh sifat bakhil tadi.

Tidaklah mungkin seorang fakir akan menderita kelaparan atau kekurangan sandang, kecuali disebabkan kebakhilan pada diri umat muslim yang berharta. Kemiskinan yang terjadi di masyarakat kita bukan semata-mata disebabkan oleh kemalasan untuk bekerja, tetapi lebih diakibatkan dari pola kehidupan yang tidak adil (kemiskinan struktural). Semua terjadi karena rasa kesetiakawanan sosial diantara umat muslim sudah memudar sehingga terjadi jarak antara kelompok si kaya dengan si miskin.

Maka apabila dana yang dihimpun dari zakat, infak dan sedekah dapat dikelola secara baik dan didistribusikan dengan tepat, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan dan kefakiran yang ada ditengah masyarakat kita akan dapat sedikit ditanggulangi atau paling tidak diperkecil. Kebahagiaan hati pun dapat dirasakan para dermawan, selain dapat membantu kaum fakir miskin, juga telah berhasil menambal berbagai kesalahan individu yang terjadi selama menjalani puasa. Selain zakat fitrah, umat muslim juga diperintahkan untuk menyegerakan zakat harta atau maal.

Baca Juga :  Menjadi Warga Kota Harus Kaya. Catatan lepas : Gunawan Handoko *)

Maka banyak umat muslim yang memilih menunaikan zakat hartanya pada bulan Ramadhan, dengan harapan selain untuk memenuhi kewajiban sekaligus untuk meraih kemuliaan di bulan yang penuh maqhfirah ini. Karena itu, ibadah puasa jangan hanya dimaknai sebagai sarana untuk meningkatkan kesalehan individu seperti melaksanaan shaum dan shalat tarawih, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial, khususnya dalam membantu sesama.

Firman Allah Swt sudah sangat jelas bahwa harta yang ada pada diri kita sesungguhnya hanya titipan Allah. Maka kita harus berani menghilangkan jauh-jauh anggapan bahwa harta yang kita peroleh merupakan hasil jerih payah diri pribadi, tanpa adanya campur tangan-Nya. Pada kenyataannya perintah Allah Swt tersebut belum mampu mengalahkan sikap kikir dan bathil serta ego yang melekat pada sebagian umat Islam. Padahal dengan memberanikan diri menafkahkan sebagian harta yang dititipkan Allah tersebut, pada akhirnya kita mampu merasakan tarikan magnet dan gravitasi nikmatnya bersedekah.

Karena sesungguhnya ketaatan dan kepatuhan seorang muslim dalam menjalankan ibadah Ramadan bukan hanya di ukur berapa hari melaksanakan kewajiban puasa dan shalat tarawih berikut rangkaiannya, namun sejauh mana dirinya menunjukkan kepedulian terhadap kaum duafa tersebut.

Jangan sampai niat untuk berinfaq dan bersedekah terkalahkan dengan pemenuhan kebutuhan untuk perayaan lebaran Idul Fitri. Memang, bukan hal yang mudah untuk menyadarkan kaum muslim yang berharta agar tergerak hatinya terhadap penderitaan yang dialami saudaranya sesama muslim. Nyatanya, di penghujung Ramadan masih banyak kaum muslimin yang tidak ikhlas menyisihkan sedikit saja hartanya untuk diberikan kepada kaum duafa melalui badan Amil yang ada di masjid-masjid.

Baca Juga :  Tragedi Gas Melon dan Sebotol Minyak Goreng Gunawan Handoko *)

Selain itu masih banyak pengurus masjid yang memilih untuk menyimpan dananya ketimbang disalurkan kepada masyarakat sekitar membutuhkan. Padahal selain berfungsi sebagai ubuddiyah atau pusat peribadatan seperti shalat lima waktu, masjid juga berfungsi sebagai ijtimaiyyah atau kegiatan sosial kemasyarakatan, termasuk pemecahan dan penanganan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat sekitarnya.

Maka sudah seharusnya uang yang diberikan dan dititipkan oleh masyarakat melalui kotak amal dan lainnya bisa dirasakan manfaat dan fungsinya bagi masyarakat sekitar masjid.

Semoga Ramadan tahun ini mampu mempertebal keyakinan kita untuk kembali pada tuntunan Allah, bahwa menjadi satu kewajiban bagi setiap muslim yang diberi kelebihan harta untuk dapat berbagi kepada kaum duafa. Dengan berinfaq dan bersedekah semoga akan menyempurnakan ibadah puasa dan menghantarkan kita untuk menggapai maqam tertinggi dihadapan-Nya sebagai hamba yang menyandang derajat mutaqin.
Wallahu alam bis showab.
Marhaban Ya Ramadhan.

*) Penulis adalah Jamaah Masjid Al-Muawwanah Gedong Meneng Kec. Rajabasa Bandar Lampung

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini