natatagung.id – BANDAR LAMPUNG – Entah ide siapa, sejak puluhan tahun silam kota Purworejo Jawa Tengah sudah menyandang gelar sebagai Kota Pensiunan. Gelar tersebut masih tetap populer sampai saat ini, bahkan lebih populer dari slogan resmi yang dimiliki Pemerintah kabupaten Purworejo, yakni ‘Berirama’ singkatan dari bersih, indah, rapih, aman dan nyaman.
Disebut kota Pensiunan, karena Purworejo memang banyak para purnawirawan – khususnya TNI – yang merupakan putera asli Purworejo. Sebut saja Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Urip Sumoharjo, Jenderal Pranoto Reksa Samudra, Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, Jenderal Endriartono Sutarto dan masih banyak yang lainnya. Belum lagi para pensiunan dari kalangan sipil. Banyak warga asli Purworejo menjadi perantau di berbagai wilayah Indonesia dengan berbagai macam profesi dan baru pulang ke kampung kelahiran setelah usia tua untuk menikmati masa pensiun.
Boleh jadi nama-nama besar inilah yang telah menenggelamkan slogan Purworejo Berirama, yang menurut saya slogan tersebut kurang bergairah atau kurang memberi semangat untuk maju, karena gregetnya memang tidak ada. Asal sudah bersih dan indah, lalu di tata yang rapih, maka semua dianggap sudah aman dan nyaman. Lalu, semua bisa tidur pulas dengan mimpinya masing-masing. Kebanyakan masyarakat bersikap skeptis dan apatis, enggan mengambil peran untuk kemajuan daerahnya. Bahkan tidak jarang yang beranggapan bahwa melakukan koreksi dan mengkritisi kebijakan pemimpin merupakan sikap yang sok-sokan. Menurutnya, maju dan mundurnya daerah menjadi tugas dan wewenang Kepala Daerah, terserah mau membangun dan melakukan apa.
Kaum muda yang biasanya bersikap kritis, lebih memilih untuk pergi merantau untuk mengadu nasib, mengikuti jejak para pendahulunya. Pergi merantau merupakan budaya masyarakat kabupaten Purworejo yang masih berlaku hingga sekarang. Suasana desa menjadi hingar bingar ketika para perantau yang pulang mudik di saat lebaran Idul Fitri, setelah itu sepi. Tujuan utama para pemudik untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak saudara, bukan melihat tingkat kemajuan yang terjadi di daerahnya. Maka sudah seharusnya ada perubahan mindset atau pola pikir, baik Pemerintah Daerah maupun masyarakat dengan membuang jauh-jauh sikap skeptis dan masa bodoh dari pandangan yang sempit, karena sikap tersebut justru menjadi penghambat kemajuan daerahnya. Ini yang harus dilakukan, edukasi terlebih dahulu agar masyarakat mau belajar dari daerah lain demi kemajuan Purworejo.
Beberapa tahun lalu saya sempat hadir dalam pertemuan diaspora atau perantau asal Purworejo di Jakarta untuk menggagas berbagai potensi yang bisa dilakukan terkait dengan dibangunnya bandara Internasional Yogyakarta New Airport di Kulon Progo. Diyakini keberadaan bandara Internasional tersebut secara otomatis akan diikuti dengan tumbuhnya sektor-sektor perdagangan dan industri, khususnya di sekitar Kulon Progo dan di sepanjang Jalan Daendels yang berada pantai Selatan.
Wilayah kabupaten Purworejo yang memiliki jarak sangat dekat dengan Kulon Progo harus tanggap dan trengginas untuk bisa menangkap peluang emas tersebut, jangan sampai hanya menjadi penonton. Purworejo harus bangkit dan bisa mengambil manfaat dari keberadaan bandara New Yogyakarta International Airport (YIA). Salah satunya adalah membangun sektor pariwisata serta pengembangan kuliner. Caranya, para investor harus diberi kemudahan agar mau menanamkan modalnya dengan memangkas birokrasi perijinan yang sering berbelit-belit serta memberi jaminan keamanan. Jangan dulu bertanya ‘aku entuk piro’ (saya dapat berapa), karena dipastikan investor akan lari dan mengurungkan niatnya untuk ikut andil dalam memajukan Purworejo.
Munculnya gagasan untuk membangun wisata di Purworejo waktu itu bukan tanpa alasan, karena banyak obyek wisata alam yang bisa dijual atau dikapitalisasi. Jujur harus diakui bahwa Purworejo memiliki potensi yang luar biasa, selain wisata kuliner tadi. Jika Pemerintah kabupaten Purworejo cerdas, potensi tersebut bisa menjadi multiplier efek dalam menumbuhkan ekonomi. Ambil saja contoh, kabupaten Gunung Kidul dan juga kabupaten Bantul yang di masa lalu dipersepsikan sebagai daerah yang tandus dan gersang serta miskin. Untuk melepaskan diri dari jeratan kemiskinan, kedua kabupaten tersebut melakukan lompatan yang luar biasa melalui berbagai inovasi. Hasilnya, kini kabupaten Gunung Kidul dan Bantul telah menjadi pengungkit bagi pertumbuhan ekonomi daerahnya.
Disinilah tantangan bagi Kepala Daerah kabupaten Purworejo, bagaimana dapat menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dan menghilangkan sikap skeptis tadi. Jangan sebaliknya, Kepala Daerah merasa alergi dan terganggu ketika mendapat koreksi dan kritik dari masyarakat. Setahap demi setahap sumbangsih pemikiran dan dedikasi yang diberikan oleh putera Purworejo harus terus dipantik demi masa depan yang lebih baik agar progresif pembangunan memiliki jatidiri sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan dari kabupaten tetangganya. Disadari memang bahwa setiap perubahan bukan tanpa resiko. Seorang politisi memang harus mempersiapkan diri untuk mengambil resiko demi untuk perubahan. Rasanya belum terlambat untuk mewujudkan Purworejo yang demokratis dan manusiawi, melalui usaha yang kuat dari pihak pemerintah sebagai pengambil kebijakan beserta masyarakat dan pelaku usaha. Agar Purworejo tidak hanya disebut sebagai kota pensiunan, maka harus bergeliat dan berlari mengejar ketertinggalan dengan memanfaatkan segala potensi yang ada, termasuk menumbuhkan industri kreatif.
Masyarakat sebagai pemilik sah daerah yang ditempati harus tergugah untuk ikut serta memajukan perekonomian di wilayahnya masing-masing. Semua paham dan yakin bahwa fitrah setiap manusia mendambakan sebuah kehidupan yang lebih baik. Bukan sekedar dapat hidup layak secara ekonomi, namun juga mendambakan kehidupan yang sehat secara psikologis, yakni manusia yang saling peduli, saling berempati, berprestasi dan saling bahu membahu dalam membangun peradaban yang lebih baik. Maka, selagi masalah program pembangunan hanya diserahkan mentah-mentah pada pemerintah daerah dan para pemilik modal atau investor, maka jangan menyesal bila kita hanya akan berjalan ditempat. Adalah hak masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, selain berkewajiban untuk peduli dan terus melibatkan diri dalam perkembangan daerahnya. Menjadi kewajiban kita semua untuk menciptakan generasi selanjutnya yang berkualitas sehingga mampu untuk bersaing dan berprestasi. Maka, mari kita penuhi kewajiban ini. **
*) Penulis adalah Pemerhati Masalah Lingkungan, Tinggal di Kota Bandar Lampung

