Pendidikan Kita Sedang Sakit. Oleh : Kgs. Bambang Utoyo *)

0

nataragung.id – LAMPUNG SELATAN – Dari pelosok desa hingga pusat kota, keluhan tentang kualitas pendidikan terus terdengar. Di ruang kelas yang sempit, di tengah keterbatasan guru, dan di hadapan kurikulum yang terus berganti, pendidikan Indonesia sedang menghadapi krisis yang tidak ringan. Sayangnya, perhatian yang diberikan pemerintah pusat maupun daerah kerap tidak menyentuh akar masalah.

Pendidikan di negeri ini terlalu lama menjadi proyek kebijakan, bukan agenda peradaban. Kurikulum berubah hampir setiap pergantian menteri, tanpa sempat benar-benar diterapkan dan dievaluasi. Akibatnya, guru kebingungan, siswa kehilangan arah, dan kualitas lulusan pun tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

Di daerah, situasi lebih memprihatinkan. Masih banyak sekolah kekurangan guru tetap, fasilitas belajar seadanya, dan akses pendidikan yang terhambat karena faktor geografis atau ekonomi. Banyak anak yang harus menempuh perjalanan jauh, atau bahkan meninggalkan bangku sekolah karena orang tua tak sanggup membiayai pendidikan mereka.

Keresahan juga muncul dari kalangan orang tua. Mereka gelisah melihat sistem pendidikan yang tak kunjung stabil, dengan kurikulum yang sering berubah tanpa kejelasan arah. Banyak yang merasa tidak mampu mengikuti perkembangan materi ajar yang makin kompleks, apalagi di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat. Di satu sisi, gawai dan internet membuka akses luas ke pengetahuan, tetapi di sisi lain juga membawa ancaman distraksi, kecanduan layar, dan konten yang merusak mental anak.

Baca Juga :  Kursi Jamuan yang Dibiarkan Kosong. Oleh : Pepih Nugraha *)

Muncul harapan besar agar ruang pendidikan di era digital ini menjadi ruang yang ramah bagi tumbuh kembang anak—baik secara intelektual maupun emosional. Pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan pendekatan lama di tengah realitas baru. Dibutuhkan integrasi antara teknologi dan nilai-nilai kebajikan, agar anak mampu menjadi pengguna teknologi yang cerdas, bukan korban arus informasi.

Sementara itu, pengaruh media sosial dan tontonan gaya hidup pejabat atau selebritas menciptakan ilusi kesuksesan yang palsu bagi generasi muda. Di tengah absennya keteladanan, anak-anak justru meniru glamorisme, bukan karakter mulia. Padahal, pendidikan seharusnya membentuk pribadi yang kuat secara moral dan sosial.

Baca Juga :  Dinamika Hubungan Gus Dur dan Soeharto. Oleh : M.Habib Purnomo *)

Tuntutan akan kesejahteraan guru terus disuarakan, tetapi di sisi lain kualitas pengajaran tidak meningkat secara merata. Masih banyak guru yang belum menjadi figur inspiratif di ruang kelas. Tak sedikit pula guru honorer yang dipaksa bekerja keras dengan upah minim dan tanpa kepastian status.

Yang lebih menyedihkan, sistem pendidikan kita gagal mengarahkan anak untuk menjadi pencipta teknologi, inovator, atau pemimpin pemikiran. Sebaliknya, mereka hanya disiapkan untuk pasar kerja yang sifatnya seragam dan menekan kreativitas.

Tak kalah memprihatinkan, kasus kriminalisasi terhadap anak di sekolah atau di luar sekolah masih terjadi. Anak-anak yang melakukan kesalahan sering kali dihukum secara hukum, bukan dibina dengan pendekatan edukatif. Ini memperlihatkan betapa kita belum memiliki sistem perlindungan anak yang berpihak pada masa depan mereka.

Sudah waktunya baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menyadari bahwa membenahi pendidikan bukan sekadar menaikkan anggaran, tetapi memperbaiki arah. Pendidikan harus menjadi gerakan bersama: dari rumah, sekolah, hingga negara. Kurikulum harus stabil, kontekstual, dan memberi ruang adaptasi terhadap perkembangan zaman. Guru harus disejahterakan dan diberdayakan. Orang tua harus dilibatkan sebagai mitra aktif.

Baca Juga :  Gugatan Spiritualitas Pekerja Seks. Oleh : Mukhotib MD *)

Negara tidak boleh absen. Di tengah kompleksitas problem pendidikan hari ini— dari dampak digitalisasi, krisis karakter, hingga kesenjangan kualitas— negara harus hadir dengan regulasi, sumber daya, dan kepemimpinan yang berpihak pada anak dan masa depan bangsa.

Tanpa langkah besar dan terukur, pendidikan kita hanya akan terus memproduksi generasi yang tahu banyak hal tapi kehilangan jati diri. Dan ketika itu terjadi, kita bukan hanya kehilangan kualitas SDM, tetapi juga kehilangan masa depan bangsa.

*) Penulis Adalah Pemerhati Masalah Pendidikan, Tinggal di Sidomulyo, Lampung Selatan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini