Buku Seri Makna dan Filosofi Yang Terkandung Dalam Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Way Beliuk : Mak Segangguan Mak Secadangan, Yang Tetap di Pegang Teguh oleh Generasi Penerus Saat Ini Pendahuluan Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Setiap bangsa besar dibentuk oleh warisan sejarah dan nilai-nilai luhur yang dijaga dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Lampung, terutama yang berada dalam lingkup adat Pepadun, warisan itu tidak hanya berupa tanah, nama keluarga, atau rumah adat semata, melainkan juga ikrar yang diucapkan dengan sepenuh jiwa, sumpah adat.

Di antara sekian banyak sumpah adat yang hidup di bumi Lampung, sumpah Uppu-Tuyuk antara Marga Pubian BukukJadi dan Way Beliuk menjadi salah satu pilar budaya yang tidak hanya sakral secara adat, tetapi juga mengandung kekuatan moral dan spiritual yang membimbing kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Sumpah Uppu-Tuyuk bukanlah sekadar pernyataan formal atau ucapan seremoni dalam satu momen adat. Ia adalah ikatan leluhur, sebuah kontrak sosial dan spiritual yang berakar dari sejarah panjang, perjuangan bersama, serta hubungan saling percaya antara dua komunitas besar adat Lampung.

Makna terdalam dari sumpah ini terletak dalam kalimat yang terus diingat dan diulang oleh generasi-generasi berikutnya: “Mak segangguan, mak secadangan” , yang berarti tidak terputus dan tidak tergantikan. Kalimat ini mencerminkan komitmen yang kokoh antara dua pihak untuk menjaga persaudaraan, tidak saling menyakiti, dan selalu menempatkan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, serta kesetiaan di atas segalanya.

Marga Pubian BukukJadi, yang berasal dari wilayah tengah Provinsi Lampung, merupakan bagian dari Pubian Telu Suku, salah satu subkultur utama dalam adat Pepadun.
Nama “BukukJadi” sendiri mengandung filosofi tentang keteguhan dan kematangan nilai. Sedangkan Way Beliuk, yang berasal dari wilayah aliran sungai dan perbukitan, dikenal sebagai komunitas yang kuat dalam menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan sebagai Cermin Kehidupan Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Kedua marga ini dipertemukan dalam sejarah oleh peristiwa yang mengikat mereka melalui sumpah Uppu-Tuyuk, menjadi saudara adat yang saling menjaga, saling melindungi, dan saling menghormati tanpa batas waktu.

Kini, seiring berkembangnya zaman dan bergesernya pola hidup masyarakat ke arah modernitas dan globalisasi, nilai-nilai adat seperti Uppu-Tuyuk menghadapi tantangan besar. Generasi muda dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan adat yang mereka warisi atau menyesuaikan diri sepenuhnya dengan dunia luar yang bergerak cepat.
Dalam situasi seperti inilah, warisan sumpah adat menjadi penting untuk dikaji ulang, dipahami kembali, dan diwariskan dengan cara yang relevan bagi zaman ini.
Buku serial ini disusun sebagai dokumentasi naratif dan sekaligus refleksi budaya tentang bagaimana sumpah adat Uppu-Tuyuk tidak hanya membentuk sejarah lokal, tetapi juga menciptakan nilai-nilai luhur yang membimbing perilaku, etika, dan cara hidup masyarakat Pubian BukukJadi dan Way Beliuk. Setiap seri dalam buku ini akan mengulas secara bertahap:
1. Sejarah dan asal-usul Marga Pubian BukukJadi, termasuk filosofi di balik nama dan peran mereka dalam struktur adat Lampung.
2. Asal-usul Way Beliuk, sebagai wilayah bersejarah yang memiliki pengaruh kuat terhadap identitas budaya masyarakatnya.
3. Latar belakang lahirnya sumpah Uppu-Tuyuk, isi lengkap sumpah, serta nilai-nilai moral dan adat yang terkandung di dalamnya.
4. Kisah-kisah nyata dan lisan, termasuk cerita turun-temurun yang tetap hidup di tengah masyarakat hingga kini.
5. Peran generasi muda dalam menjaga sumpah ini, serta bagaimana nilai adat tersebut diadaptasi dalam konteks kehidupan sehari-hari di era modern.

Baca Juga :  Serial Buku - Dapur dan Warisan: Cerita Makanan Adat Lampung. Buku 4 - Umbu, Pahit yang Mendidik. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Penulisan ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pelestarian, tetapi juga sebagai buku pembelajaran lintas generasi, referensi budaya daerah, serta bahan renungan bahwa adat bukanlah beban sejarah, melainkan penunjuk arah kehidupan yang lebih manusiawi, beretika, dan penuh makna.

Di tengah derasnya arus globalisasi, adat dan nilai lokal seperti Uppu-Tuyuk menjadi jangkar agar masyarakat tetap berpijak pada kearifan lokal, tanpa menutup diri dari kemajuan. Karena hanya bangsa yang mengenal dan menghormati sejarahnya yang mampu berdiri kokoh menghadapi masa depan.

Sebagai bagian dari masyarakat yang mencintai adat dan tanah kelahiran, penulis menyusun buku ini dengan penuh hormat, cinta, dan rasa tanggung jawab terhadap warisan budaya yang agung.

Sumpah Uppu-Tuyuk, yang telah menjadi ikatan sakral antara Pubian BukukJadi dan Way Beliuk, bukanlah sekadar simbol sejarah, tetapi merupakan jiwa dari kehidupan bermasyarakat, yang menjunjung tinggi kejujuran, kesetiaan, persaudaraan, dan kemanusiaan.
Penulis berharap, melalui buku ini:
1. Kepada Masyarakat BukukJadi dan Way Beliuk:
a. Agar nilai-nilai yang terkandung dalam Mak Segang-guan, Mak Secadangan terus dijaga dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dalam upacara adat atau momen seremonial, tapi juga dalam tindakan, sikap, dan keputusan di rumah, kampung, maupun dunia kerja.
b. Semoga generasi muda Pubian BukukJadi dan Way Beliuk tidak hanya mengenal nama leluhurnya, tetapi juga memahami warisan batin yang diwariskan lewat sumpah ini.
c. Agar setiap warga BukukJadi tetap menjadi penyimbang yang arif, yang menjembatani masa lalu dan masa depan dengan cara berpikir terbuka namun tetap berakar kuat pada adat.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 8 – Belajar Bahasa Lampung Itu Menyenangkan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

2. Kepada Pembaca Umum:
a. Buku ini diharapkan menjadi jendela untuk memahami kearifan lokal masyarakat Lampung, terutama dalam hal bagaimana sebuah sumpah adat bisa bertahan sebagai nilai hidup hingga ratusan tahun.
b. Sebagai inspirasi lintas budaya, bahwa di berbagai daerah Indonesia, adat istiadat bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tapi adalah filsafat hidup yang membentuk manusia menjadi pribadi yang luhur.

3. Untuk Masa Depan:
a. Penulis berharap akan ada lebih banyak anak-anak muda Lampung yang terdorong untuk meneliti, mendokumentasikan, dan menulis kembali cerita adat, sejarah marga, dan warisan budaya mereka sendiri.
b. Bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang atau membebani, tetapi sumber kekuatan moral dan identitas yang membimbing kita untuk tetap berpijak di tengah guncangan zaman.

Akhir kata, semoga buku ini dapat menguatkan ikatan batin antargenerasi di masyarakat BukukJadi dan Way Beliuk, serta menjadi sumbangsih kecil bagi pelestarian adat Lampung yang kaya dan bermartabat.
“Mak segang-guan, mak secadangan. Sumpah ini tidak akan putus, tidak akan tergantikan. Ia adalah warisan, ia adalah pegangan.” (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini