nataragung.id – Bandar Lampung – Pada masa ketika negeri di antara Bukit Barisan dan Selat Sunda masih dipenuhi misteri, hiduplah seorang pemimpin muda dari Marga Benawang di Pepadun, bernama Ratu Indra. Ia terkenal gagah berani, namun suatu masa, hatinya mulai diliputi keangkuhan. Ia merasa semua pencapaian adalah hasil usahanya semata, melupakan jasa leluhur dan bantuan sesama.
Suatu hari, ia memaksa berburu ke hutan larangan Gunung Pesagi demi membuktikan kehebatannya. Di tengah kabut tebal, ia tersesat. Semakin ia berusaha keluar, semakin dalam ia terperosok. Hingga tujuh hari tujuh malam ia mengembara, lemah dan putus asa. Dalam mimpinya, datanglah seorang perempuan tua berpakaian adat lengkap, sang Punyimbang Tuha. Perempuan itu berkata, “Kau mencari jalan keluar, tetapi meninggalkan jalan yang lurus. Lihatlah pusarmu.”
Ratu Indra terbangun dan melihat tali pusar (tali ari-ari) yang sejak lahir ia simpan dalam peti pusaka ternyata ikut terbawa. Secara naluri, ia mengikatkan satu ujung tali itu di pohon besar, dan membiarkan ujung lainnya membentang mengikuti nalurinya. Tali itu, seolah hidup, membentang lurus menembus semak.
Ia mengikutinya dan tiba-tiba menemukan sebuah batu datar berukiran huruf-huruf kuno. Di atasnya tertulis: “Jalan itu ada tiga: yang naik ke angkasa sombong, yang turun ke lumpur hina, dan yang lurus di tanah datar. Pilihlah yang tengah, yaitu adat yang lurus, penuh timbang rasa.”
Ratu Indra pun tersungkur menangis. Ia pulang dengan membawa batu itu sebagai piagam (kuntara), dan sejak saat itu menjadi pemimpin yang bijaksana, selalu mengingatkan anak cucunya untuk “berjalan lurus” di atas jalan leluhur.
Filosofi “Piil Pesenggiri” sebagai Jalan Lurus yang Utama.
Konsep “Adat Berjalan Lurus” berakar pada inti filosofi hidup Lampung: Piil Pesenggiri. Ini bukan harga diri yang kaku dan sombong, melainkan prinsip hidup untuk menjaga martabat dengan tetap berada di jalur kebenaran adat.
Piil Pesenggiri terdiri dari empat pilar utama yang saling mengikat:
1. Bejuluk Beadek: Menyandang gelar adat dengan penuh tanggung jawab.
2. Nemui Nyimah: Mampu menerima tamu dengan tangan terbuka dan hati tulus.
3. Nengah Nyappur: Aktif bersosialisasi dan berbaur dalam masyarakat dengan sikap tengah.
4. Sakai Sambayan: Bergotong royong dalam suka dan duka.
Dalam naskah Kuntara Raja Niti, prinsip ini dirumuskan: “Sai batin tiada memaling muka, jalannya lurus bagai tusuk sate. Bukan karena takut, tetapi karena tahu ujungnya adalah kehancuran bila bengkok.”
Analisis: Metafora “tusuk sate” yang lurus menunjukkan ketegasan prinsip. “Tidak memalingkan muka” berarti berani menghadapi tanggung jawab dan konsekuensi. Jalan lurus adalah pilihan sadar untuk menghindari “kehancuran” yang berupa kehilangan wibawa, dikucilkan masyarakat, atau terputusnya hubungan dengan leluhur. Ini adalah pedoman untuk “tetap teguh” tanpa menjadi “kaku”.
Ritual dan Praktik Menjaga “Kelurusan” dalam Kehidupan Sehari-hari.
Adat yang lurus bukan sekadar wacana, tetapi dipraktikkan dalam ritual dan tata krama yang ketat.
1. Upacara Cangget/Menyambut: Dalam upacara adat besar, setiap gerakan tari, setiap langkah prosesi, memiliki pola yang tetap dan lurus. Tari Cangget bagi pemuda, misalnya, melambangkan pencarian jati diri yang tetap dalam koridor.
Gerakan kaki yang dihentakkan lurus ke tanah melambangkan kesatuan dengan tanah leluhur. Seorang Penyimbang akan berpesan sebelum acara: “Jit laju bak langkah, ucap bak patut. Biar ribut suasana, hati tetap di tengah, seperti gong yang dipukul tepat pusatnya, bunyinya nyaring dan jernih.”
Analisis: Pesan ini mengajarkan konsistensi antara tindakan (langkah) dan perkataan (ucap). “Hati tetap di tengah” adalah kunci untuk tidak sombong di saat sukses dan tidak hina di saat susah.
Gong adalah metafora untuk diri yang stabil; bila dipukul di tepi (simbol emosi atau tindakan ekstrem), bunyinya akan sumbang.
2. Tata Cara Sebutan (Berbicara) dan Duduk: Adat berbicara kepada yang lebih tua, sesama, dan lebih muda sangat dijaga. Bahasa yang digunakan berbeda, menunjukkan penghormatan (bejuluk beadek).
Posisi duduk dalam musyawarah juga menunjukkan “jalan lurus”. Yang lebih muda atau yang sedang berselisih akan duduk sejajar, menghadap para tetua, menunjukkan kesediaan untuk dibimbing dan didengar semua pihak. Aturan ini untuk mencegah “kesombongan” dengan mengambil posisi yang tidak pantas.
3. Ritual Nyeruit (Makan Bersama): Dalam acara Nyeruit, semua orang duduk melingkar, makan dari satu talam besar. Tidak ada yang boleh makan lebih dahulu sebelum semua siap, dan makanan dibagi rata. Ritual ini adalah sekolah nyata untuk nemui nyimah dan sakai sambayan.
Sebuah petuah mengatakan: “Dalam nyeruit, tangan yang mengambil nasi di depan hidung sendiri, adalah tangan yang sombong. Ambillah yang di depan saudaramu, maka rezekimu akan panjang.”
Analisis: Ini adalah ajaran untuk mengutamakan orang lain, melatih kepekaan sosial, dan mematikan sifat egois. “Rezeki panjang” di sini bermakna berkah sosial dan spiritual karena dijauhi dari keserakahan.
Menjaga Warisan Nenek Moyang: Silsilah, Pusaka, dan Tanah Ulayat
“Berjalan lurus” juga berarti setia pada garis keturunan dan amanah leluhur. Bagi masyarakat Lampung, terutama yang menganut sistem Pepadun, menjaga silsilah (jurai) adalah kewajiban suci.
Setiap marga (seperti Marga Kuniyang, Marga Nuban, atau Marga Benawang) memiliki dokumen silsilah baik lisan (warahan) maupun tulisan pada daluang (kertas kulit kayu) yang disebut Titimangsa.
Sebuah Titimangsa Kuno Marga Nuban menuliskan: “Ini tapak tilas kami, dari Si Orang Kaya di Ranau, turun ke Si Pemuka di Gedung, lalu ke Anakku Si Pengawal di Way Mengakau. Siapa yang lupa tapak ini, ibarat rumah tanpa tiang, akan rubuh diterjang angin.”
Analisis: Silsilah adalah “tiang” identitas. Menjaganya berarti mengenal asal-usul, sehingga tidak sombong karena tahu ada yang mendahului, dan tidak rendah diri karena tahu ada yang akan meneruskan. Lupa silsilah berarti kehilangan orientasi dalam “berjalan”.
Tanah ulayat (tanah pusako) adalah manifestasi fisik warisan ini. Mengelola tanah bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi amanah leluhur. Menjual tanah ulayat seenaknya dianggap sebagai pengkhianatan terhadap “jalan lurus” leluhur yang telah membuka dan memelihara tanah tersebut. Upacara Menyakhi (menetapkan batas tanah) dilakukan dengan saksi banyak orang dan doa, agar batas itu tetap “lurus” dan tidak diganggu gugat.
Jalan Lurus di Persimpangan Zaman.
Di tengah arus modernitas yang seringkali mendorong pada pragmatisme dan individualitas ekstrem, “Adat Berjalan Lurus” justru menjadi kompas yang lebih dibutuhkan. Ia mengajarkan keteguhan prinsip tanpa kekerasan, penghormatan tanpa rendah diri, dan pelestarian warisan tanpa menutup diri.
Bagi generasi muda Lampung saat ini, “berjalan lurus” bisa berarti bangga menggunakan bahasa Lampung di media sosial, memahami filosofi di balik simbol adat, atau sekadar berlaku sopan dan gotong royong dalam komunitas. Seperti Ratu Indra yang terselamatkan oleh “tali pusaka”-nya, tali pusaka kita di masa kini adalah nilai-nilai inti Piil Pesenggiri itu sendiri.
Petuah tua dari seorang Penyimbang di Abung tetap relevan: “Hidup ini seperti mengayuh perahu di Way Rarem. Arus boleh deras, angin boleh kencang, tetapi pandanganmu harus tetap ke hulu, ke asalmu, dan dayungmu harus kamu kayuh lurus. Barulah perahumu akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan namamu akan tetap harum di tebing sungai yang kau lalui.” Berjalan lurus adalah cara kita menjaga diri dan kehormatan, agar selamat di dunia dan dikenang baik oleh tanah leluhur.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Naskah Kuno & Transliterasi: Kuntara Raja Niti dan beberapa Titimangsa (Silsilah) marga-marga Pepadun Abung. Koleksi digital terverifikasi dari Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung (PDKL).
2. Buku: Piil Pesenggiri: Etika Moral Masyarakat Lampung oleh Dr. Novita Tresiana, M.Si. (Penerbit LKiS, 2018) – Format Fisik & Digital (ISBN tercatat).
3. Buku: Adat Istiadat Lampung: Penyuntingan dan Terjemahan oleh M.Y. Nun dkk. (Penerbit Latifah Press, 1994) – Format Fisik.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

