nataragung.id – Bandar Lampung – Gedung pertunjukan modern itu gemerlap. Lampu sorot menyinari panggung dimana para penari Cangget, dengan busana Tapis dan Siger yang sempurna, bergerak kompak mengikuti irama gendang. Penonton bertepuk tangan riuh. Di antara mereka, duduk seorang kakek, Pak Ratu, bersama cucunya yang masih remaja, Dira.
โCantik sekali, Yah!โ bisik Dira, matanya berbinar. โGerakan mereka serasi sekali! Kayak latihan ballet yang aku lihat di internet.โ
Pak Ratu mengangguk pelan, tapi ada sepilis rona khawatir di wajahnya. โIya, Dira. Cantik. Tapi, coba Yah tanya, kamu tahu tidak arti dari gerakan nyembah yang mereka lakukan di awal tadi?โ
Dira mengernyitkan dahi. โMenghormat penonton?โ
โBukan,โ jawab Pak Ratu lembut. โItu adalah penghormatan kepada Penyimbang dan tetua adat yang hadir, simbol dari nemui nyimah. Dan gerakan lamban oleh penari perempuan? Itu bukan sekadar gerakan tangan yang indah, Nak. Itu adalah simbol ketelitian dan kesabaran para wanita Lampung yang menenun kain Tapis, helai demi helai.โ
Dira terdiam. Ia baru menyadari bahwa yang ditontonnya bukan sekadar tarian, tetapi sebuah cerita yang tak terbaca olehnya.
Pak Ratu memegang pundak cucunya. โDulu, Yah tidak pernah โnontonโ Cangget. Yah โhidupโ di dalamnya. Yah tahu betapa berat tanggung jawab menjadi penari karena Yah mewakili martabat marga. Sekarang, Cangget sering โdipertontonkanโ. Ia seperti api yang masih menyala, tetapi kita mungkin lupa bahan bakarnya apa. Tugas kitalah sekarang, untuk tidak hanya menjaga nyala apinya, tetapi juga mewariskan pengetahuan tentang bagaimana cara menyalakannya.โ
Warisan Abadi: Antara Panggung Festival dan Ruang Ritual.
Perjalanan Cangget dari kedalaman hutan belantara Lampung ke panggung-panggung festival nasional dan internasional adalah sebuah kisah sukses sekaligus sebuah tantangan eksistensial. Dalam era modern, fungsi Cangget telah mengalami pergeseran yang signifikan. Jika dahulu ia adalah ritual sosio-politik yang sakral, kini ia lebih sering berperan sebagai seni pertunjukan dan simbol identitas budaya Lampung.
Pergeseran ini, meski tak terelakkan, menyisakan sebuah pertanyaan mendasar: akankah esensi filosofisnya yang kaya mampu bertahan dari reduksi makna yang terjadi?
Peralihan Fungsi: Dari Ritual ke Pertunjukan.
Pergeseran fungsi ini bukanlah sebuah pengkhianatan, melainkan sebuah strategi adaptasi untuk mempertahankan eksistensi. Dalam konteks negara-bangsa (nation-state) modern, dimana struktur kemargaan tidak lagi menjadi kekuatan politik utama, Cangget menemukan ruang barunya:
1. Simbol Identitas Daerah: Cangget menjadi wajah budaya Lampung. Ia ditampilkan dalam penyambutan tamu negara, pembukaan event-event resmi, dan festival budaya. Ini adalah kebanggaan dan membuatnya dikenal luas.
2. Atraksi Pariwisata: Daya tarik visual Cangget yang memukau menjadikannya komoditas budaya yang penting untuk pariwisata. Ini memberikan nilai ekonomi baru dan menarik minat generasi muda untuk mempelajarinya.
3. Media Pendidikan Karakter: Di sekolah-sekolah, ekstrakurikuler Tari Cangget diajarkan untuk menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, kerja sama, dan cinta budaya.
Namun, dalam proses ini, terjadi apa yang oleh para antropolog disebut desakralisasi. Cangget sering kali dipentaskan tidak dalam konteks adatnya yang utuh. Ia dipotong durasinya, dipilih gerakan-gerakannya yang paling photogenic, dan dipisahkan dari rangkaian ritual besar yang dahulu melingkupinya (seperti musyawarah adat, pertukaran ekonomi, dan pemberian gelar). Akibatnya, yang tersaji sering kali adalah wujud-nya tanpa jiwa-nya.
Tantangan Modern: Ketika Generasi Muda Hanya Melihat Pola, Bukan Makna
Tantangan terbesar pelestarian Cangget bukanlah pada punahnya gerak tari itu sendiri, melainkan pada berkurangnya pemahaman filosofis mendalam di kalangan generasi muda. Banyak anak muda Lampung yang masih bisa menari Cangget dengan lincah, tetapi hanya segelintir yang dapat menjabarkan makna di balik setiap gerakan, syair (hahiwang), atau simbol dalam busananya.
Mereka melihat Cangget sebagai seni tari, bukan lagi sebagai bahasa adat. Mereka hafal pola lantai, tetapi lupa akan peta kosmologis yang direpresentasikannya.
Mereka menguasai gerak, tetapi kehilangan koneksi dengan nilai-nilai piil pesenggiri, nemui nyimah, nengah nyappur, dan sakai sambayan yang seharusnya hidup dalam setiap hela napas penarinya.
Revitalisasi oleh Lembaga Adat: Menjembatani Masa Lalu dan Kini.
Menyadari tantangan ini, lembaga-lembaga adat dan para Penyimbang dari berbagai marga mengambil peran aktif. Mereka tidak hanya menjadi penjaga tradisi yang kaku, tetapi menjadi kurator budaya yang melakukan revitalisasi.
Upaya-upaya yang dilakukan antara lain:
1. Pendokumentasian: Melakukan riset dan dokumentasi secara akademis terhadap setiap gerakan, syair, dan makna filosofis Cangget. Ini adalah upaya menyelamatkan pengetahuan dari lisan yang rentan terlupakan.
2. Pendidikan Adat untuk Generasi Muda: Mengadakan workshop atau pekhanakan (sekolah adat) bukan hanya untuk mengajarkan gerak tari, tetapi juga untuk menyampaikan historyo (sejarah), silsilah, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Sebuah pesan dari tetua adat sering dikutip: “Adat lou lembaga sai tiupuk, Warisan nenek moyang sai junjungan. Bekhano diajarkan, bekhanai dilupakan.” (Adat dan lembaga harus ditegakkan, Warisan nenek moyang harus dijunjung tinggi. Diajarkan agar tidak dilupakan.)
Analisis Kutipan: Kutipan ini adalah seruan yang sangat jelas. โBekhano diajarkanโ (harus diajarkan) menekankan pada proses transmisi pengetahuan yang aktif dan terencana. Ini mengakui bahwa warisan tidak akan lestari dengan sendirinya; ia harus secara sengaja dan berulang kali diajarkan kepada setiap generasi. Tanpa proses pengajaran ini, warisan akan โdilupakanโ, sebuah ancaman yang sangat nyata.
3. Kontektualisasi: Memasukkan unsur Cangget dalam konteks kekinian, misalnya dengan menciptakan syair hahiwang baru yang berisi pesan-pesan tentang persatuan nasional, lingkungan, atau anti-korupsi, tanpa meninggalkan pakem dasarnya.
Seruan untuk Setiap Marga: Menjadi Arsip Hidup.
Pelestarian tidak bisa hanya mengandalkan lembaga adat pusat. Tanggung jawab utama justru berada pada setiap marga. Setiap marga harus menjadi arsip hidup bagi warisannya sendiri.
Ini berarti:
* Mendokumentasikan Sejarah Marga: Setiap marga memiliki historyo-nya sendiri, peran dalam sejarah, dan mungkin varian-varian kecil dalam pelaksanaan Cangget. Ini harus dicatat, baik dalam bentuk tulisan maupun video.
* Meneruskan Tata Cara: Para orang tua dan tetua dalam marga memiliki kewajiban untuk bercerita dan menjelaskan makna di balik setiap ritual dan tarian kepada anak-cucunya, tidak hanya sebatas โini adalah tarian nenek moyang kitaโ.
* Memaknai Kembali Setiap Helai Tapis: Memahami bahwa mengenakan Tapis dalam sebuah pertunjukan Cangget bukanlah sekadar memakai kostum, tetapi adalah mengemban misi untuk menjunjung tinggi martabat marga yang motifnya melekat pada kain tersebut.
Kesimpulan: Menjaga Api, Bukan Memumikan Abu
Cangget di zaman modern tidak perlu dikembalikan sepenuhnya ke masa lalu, karena zaman telah berubah. Yang harus dilakukan adalah menjaga apinya, bukan memumikan abunya. โApiโ itu adalah pemahaman filosofis, nilai-nilai luhur, dan kesadaran sejarah yang menjadi jiwa dari setiap gerakan Cangget.
Cangget harus terus hidup di dua dunia: sebagai pertunjukan yang memukau di panggung global, dan sebagai ritual yang bermakna dalam hati setiap orang Lampung. Setiap kali seorang penari melangkah, ia bukan hanya sedang menari; ia sedang bercerita. Setiap kali gendang ditabuh, ia bukan hanya menghasilkan irama; ia sedang memanggil ingatan kolektif. Setiap kali Siger dikenakan, ia bukan hanya untuk keindahan; ia sedang menjunjung sembilan sungai dan alam kosmos Lampung.
Warisan nenek moyang adalah sebuah obor. Tugas kita bukan hanya untuk menikmati cahayanya, tetapi untuk menjaganya agar tetap menyala dan meneruskannya kepada generasi berikutnya, agar mereka tidak hanya melihat bayangan, tetapi dapat membaca seluruh tulisan indah yang diterangi oleh obor tersebut. Mari jadikan setiap marga sebagai penjaga obor itu. Agar api Cangget tetap menjadi penyatu marga, dari masa lalu, untuk sekarang, dan seterusnya.
Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hilman, Hadikusuma. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung. (Sebagai sumber dasar tentang struktur adat).
2. Geertz, Clifford. (1973). The Interpretation of Cultures. Basic Books. (Konsep tentang ‘desakralisasi’ dan perubahan fungsi ritual dalam masyarakat modern).
3. Sartono, Kartodirdjo. (1992). Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta. (Tentang pentingnya dokumentasi dan kontekstualisasi sejarah).
4. Wijaya, H. (2019). “Transformasi Fungsi Tari Cangget dalam Masyarakat Lampung Modern”. Jurnal Kajian Seni, 5(2), 89-104.
5. Saptono, dkk. (2021). “Revitalisasi Kearifan Lokal Tari Cangget sebagai Penguatan Pendidikan Karakter Generasi Muda”. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 11(1), 55-70.
6. Fahrudin, D. (2020). “Strategi Kerapatan Adat Lampung dalam Melestarikan Nilai-Nilai Filosofis Tari Cangget”. Jurnal Socius, 9(2), 211-225.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

