Buku Seri : Sakai Sambayan Filosofi Tolong Menolong yang Tak Pernah Pudar. Seri – 1: Akar Filosofi yang Tertanam Dalam. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Malam itu, langit di atas Desa Gedung Tamba terasa sempit. Asap tebal membumbung tinggi, disertai jilatan api yang menerangi kegelapan, melahap satu persatu rumah dari ilalang dan kayu. Teriakan histeris para ibu yang menyelamatkan anak dan harta benda mereka bercampur dengan suara gemuruh api. Itu adalah malam terburuk dalam ingatan warga.
Namun, di tengah kepanikan kolektif itu, seorang tetua adat, Pak Juhari, justru berdiri tenang di pelataran rumahnya. Matanya tidak menatap rumahnya sendiri yang mulai dilalap si jago merah, melainkan memandang ke arah rumah sang tetangga, tempat seorang janda tua dan cucunya tinggal. Dengan suara lantang yang menembus deru api, ia berteriak, “Jangan padamkan rumahku! Sakai Sambayan! Keroyok rumah Nenek Rasima dulu! Selamatkan dia dan cucunya!”

Seperti mendengar komando dari panglima perang, para pemuda yang awalnya kalang-kabut seketika mengalihkan perhatian. Ember-ember berair diedarkan secara bergantian dari sumur terdekat menuju rumah Nenek Rasima. Para wanita segera mengangkut barang-barang berharga dari dalam rumah tersebut. Dalam hitungan jam, rumah Nenek Rasima berhasil diselamatkan, meski beberapa rumah lain, termasuk rumah Pak Juhari, hangus menjadi abu.

Esok harinya, tanpa diperintah, semua warga berkumpul. Mereka tidak sibuk meratapi kehilangan, melainkan membagi tugas. Ada yang mengukur lahan, ada yang mengumpulkan bahan bangunan, dan ada yang menyiapkan logistik. Rumah Pak Juhari adalah yang pertama dibangun kembali. Setiap orang bekerja tanpa pamrih, karena mereka tahu, suatu saat nanti, giliran mereka yang akan ditolong. Itulah Sakai Sambayan bukan sekadar kata; ia adalah nafas yang menghidupi, sebuah tindakan nyata yang telah menyelamatkan jiwa dan peradaban mereka berabad-abad lamanya. Filosofi besar seringkali lahir dari kata-kata yang sederhana namun sarat makna.

“Sakai Sambayan” dalam Bahasa Lampung merupakan perpaduan dua konsep yang tak terpisahkan.
“Sakai” (dibaca: Sakai) secara harfiah dapat dimaknai sebagai “gotong royong” atau “bekerja bersama-sama untuk suatu tujuan tertentu”. Namun, maknanya jauh lebih dalam dari sekadar kerja bakti. Sakai mengandung unsur kebersamaan yang egaliter, di mana setiap individu menyumbangkan tenaga, pikiran, atau materi yang dimilikinya sesuai kemampuan. Ia adalah seruan untuk meringankan beban sesama dengan cara memikulnya bersama-sama. Beban satu orang menjadi beban semua, dan kekuatan semua menjadi kekuatan satu orang.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Lamban Adat dan Kehangatan Ramadhan Keluarga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

“Sambayan” (dibaca: Sambayan) berasal dari kata dasar sambay yang berarti “beban” atau “tanggung jawab”. Sambayan kemudian berarti “sesuatu yang menjadi beban atau tanggung jawab bersama”. Kata kuncinya adalah bersama. Sebuah masalah, sebuah proyek, sebuah hajatan, atau bahkan sebuah musibah, tidak boleh dipikul sendirian. Ia harus dijadikan sambayan, beban kolektif yang dipikul secara gotong royong.

Ketika dua kata ini disatukan, “Sakai Sambayan” menjelma menjadi sebuah prinsip hidup yang lengkap: bekerja bersama-sama (Sakai) untuk memikul beban sebagai tanggung jawab kolektif (Sambayan). Ini bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan sebuah kewajiban moral dan sosial yang terpatri dalam jiwa setiap individu masyarakat adat Lampung.

Filosofi ini mengajarkan bahwa eksistensi seseorang ditentukan oleh kontribusinya terhadap komunitas, dan sebaliknya, komunitas memiliki kewajiban mutlak untuk menjamin kesejahteraan setiap anggotanya.

Lampung dikenal dengan dua sistem masyarakat adat utamanya: Pepadun (yang biasanya tinggal di pedalaman) dan Peminggir (yang bermukim di pesisir). Perbedaan geografis dan struktur sosial ini tidak memudarkan semangat Sakai Sambayan; justru mewarnainya dengan kekhasan masing-masing.

Dalam masyarakat Pepadun yang agraris, Sakai Sambayan adalah penggerak utama ekonomi dan sosial. Kegiatan seperti membuka ladang baru (belas), menanam padi (tandur), memanen (ani-ani), hingga membangun rumah baru (dudok houseu), semua dilakukan dengan sistem Sakai. Setiap keluarga yang membutuhkan tenaga kerja akan mengadakan acara adat kecil dengan menjamu para tetangga yang datang membantu. Bantuan yang diberikan ini bukanlah utang tenaga yang harus dikembalikan secara hitungan matematis, melainkan sebuah investasi sosial. Mereka yang hari ini membantu, esok atau lusa akan dibantu ketika membutuhkan. Sistem ini menciptakan jejaring pengaman sosial yang kuat dan menjamin tidak ada seorang pun yang kelaparan atau terlantar.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dalam Ingatan Orang Tua Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sementara di masyarakat Peminggir yang hidup dari hasil laut dan perdagangan, Sakai Sambayan mengambil bentuk yang lain. Ketika seorang nelayan memperoleh hasil tangkapan yang melimpah, ia akan membagikannya kepada tetangga yang mungkin hari itu tidak beruntung. Dalam membangun perahu (belambangan), seluruh komunitas terlibat, mulai dari mencari kayu, merakit, hingga meluncurkannya ke laut. Semangat kebersamaan ini juga tercermin dalam menghadapi ancaman dari luar, seperti bencana alam atau gangguan keamanan, di mana seluruh warga bersatu padu (sai batin) untuk menjaga kampung halaman.
Baik di darat maupun laut, di gunung maupun pesisir, Sakai Sambayan berfungsi sebagai perekat sosial yang melampaui strata. Ia mengajarkan bahwa di atas gelar kebangsawanan dan status ekonomi, semua manusia adalah sama di hadapan pekerjaan dan kewajiban tolong-menolong.

Kekuatan sebuah filosofi diuji oleh kemampuannya untuk diwariskan. Masyarakat adat Lampung memiliki cara yang sangat bijak dalam melestarikan Sakai Sambayan, yaitu melalui petuah adat yang disampaikan dalam bentuk syair, pantun, dan nasehat bijak (pesan-pesan). Petuah ini bukan hanya indah didengar, tetapi juga mengandung analisis filosofis mendalam tentang kehidupan bermasyarakat.
Salah satu petuah adat yang sangat terkenal adalah:
“Bejuluk Adek, Pepadun Memangun, Sai Batin Sai Bulanan.”
Kalimat ini, yang sering dikutip dari kitab-kitab adat seperti Kuntara Raja Niti, memiliki makna yang dalam. “Bejuluk Adek” merujuk pada gelar adat yang disandang seseorang. “Pepadun Memangun” berarti kursi kerajaan (singgasana) yang menjadi kebanggaan. Namun, kedua simbol status yang tinggi ini harus dilandasi oleh “Sai Batin Sai Bulanan”, yang artinya “seia sekata, sepenanggungan”, atau dengan kata lain, semangat Sakai Sambayan.

Analisis dari petuah ini sangatlah tajam: Gelar dan tahta kebangsawananmu tidak ada artinya jika kamu tidak memiliki semangat kebersamaan dan kesediaan untuk menanggung beban bersama dengan masyarakatmu. Status sosial tertinggi sekalipun harus tunduk pada prinsip gotong royong. Seorang penyimbang (pemimpin adat) justru harus menjadi yang terdepan dalam mempraktikkan Sakai Sambayan, bukan hanya menikmati kehormatannya.

Baca Juga :  Buku Seri - Nengah Nyappur, Seni Merajut Silaturahmi dan Memperluas Pergaulan. Seri – 8: Kearifan Rimba dan Lelaku Sang Macan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Contoh lain dapat ditemukan dalam nasehat sederhana:
“Tandani mekighukhan, sanggikhani mekhlakokhan.”
Artinya: “Hendaklah saling mengingatkan, dan hendaklah saling menolong.” Kalimat ini dengan gamblang menempatkan “mengingatkan” (yang merupakan bentuk kepedulian intelektual dan moral) setara dengan “menolong” (yang merupakan bentuk kepedulian fisik dan material). Keduanya adalah pilar yang sama pentingnya dari Sakai Sambayan.

Menolong bukan hanya soal tenaga, tetapi juga soal keberanian untuk membimbing dan mengoreksi saudara kita yang salah, tentu dengan cara yang santun dan bijaksana.
Melalui petuah-petuah ini, leluhur Lampung tidak hanya mewariskan sebuah konsep, tetapi sebuah manual untuk hidup bermasyarakat yang harmonis. Mereka memahami bahwa peradaban tidak dibangun oleh individu-individu genius yang egois, melainkan oleh komunitas yang solid, yang anggotanya terikat oleh semangat Sakai Sambayan: bekerja sama dan memikul beban sebagai satu kesatuan. Filosofi inilah yang menjadi akar kekuatan mereka, akar yang tertanam dalam dan tak pernah pudar diterjang zaman.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Lampung dalam Lintasan Sejarah oleh Drs. Hi. Anshori Dimyathi, M.Hum. (Penerbit: Lenggayak Graphici, 2018). Buku ini membahas detail kedua sistem masyarakat adat Lampung dan mengutip berbagai petuah adat.
2. Jurnal Ilmiah: “Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Kebudayaan Masyarakat Lampung (Studi pada Masyarakat Adat Pepadun dan Peminggir)” dalam Jurnal Sociologie, Vol. 3, No. 1 (2021). Jurnal ini memberikan analisis akademis tentang nilai-nilai seperti Sakai Sambayan.
3. Naskah Adat: Kuntara Raja Niti. Sebuah naskah kuno (manuskrip) berisi petuah, aturan, dan filsafat hidup masyarakat Lampung yang sering menjadi rujukan utama para penyimbang adat. Naskah digitalnya dapat diakses melalui repositori digital Kemendikbud.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini