nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah ruang konferensi modern di Jakarta, seorang muda Lampung bernama Arga merasa gugup. Ia hadir mewakili komunitasnya dalam sebuah forum yang membahas solusi ketahanan pangan nasional. Di sekelilingnya, para pakar dengan grafik data yang rumit dan proposal berbiaya miliaran.
Ketika gilirannya tiba, Arga mengambil napas dalam-dalam. Alih-alih presentasi PowerPoint, ia membagikan sebuah cerita. Ia bercerita tentang tandur (menanam padi) bersama di kampungnya, di mana semua warga, kaya atau miskin, turun ke sawah. Ia menggambarkan bagaimana benih yang ditanam oleh satu keluarga, dipelihara oleh banyak keluarga, dan hasilnya dinikmati untuk kemaslahatan bersama. Ia menutup dengan filosofi sederhana: “Kami menyebutnya Sakai Sambayan. Beban satu adalah beban semua. Kebahagiaan satu adalah kebahagiaan semua.”
Diam sejenak menyergap ruangan, sebelum kemudian seorang profesor senior bertepuk tangan pelan. “Anak muda,” katanya, “kita telah menghabiskan berjam-jam membicarakan teknologi dan investasi, tetapi Anda baru saja mengingatkan kita pada teknologi sosial paling canggih yang telah nenek moyang kita ciptakan: kebersamaan.”
Saat itu, Arga menyadari bahwa warisan leluhurnya bukanlah sesuatu yang kuno, tetapi sebuah jawaban abadi yang justru sangat dibutuhkan di dunia yang semakin terfragmentasi ini.
Sakai Sambayan seringkali ditempatkan dalam bingkai kearifan lokal Lampung. Namun, jika ditelisik lebih dalam, filosofi ini sejatinya adalah kearifan universal yang berbasis lokal. Ia bukan sekadar tradisi, melainkan sebuah sistem ketahanan sosial (social resilience system) yang telah teruji selama berabad-abad.
Nilai-nilai intinya, solidaritas, gotong royong, kesetaraan, dan tanggung jawab kolektif, adalah nilai yang menjadi pilar persatuan bagi seluruh bangsa Indonesia.
Dalam konteks kebangsaan yang luas, Sakai Sambayan adalah mikrokosmos dari Pancasila, khususnya sila ketiga “Persatuan Indonesia” dan kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.
Sebuah petuah adat Lampung dalam Kuntara Raja Niti menyatakan:
“Sai satu dihujau, sai semua ditindih. Sai satu dikhaghak, sai semua nimang.”
Artinya: “Saat satu tertimpa musibah, semua yang lain merasakan (dan menanggungnya). Saat satu berbahagia, semua yang lain turut merasakan (dan mengangkatnya).”
Analisis mendalam dari petuah ini menunjukkan sebuah konsep nation-building yang sangat modern. “Sai satu dihujau, sai semua ditindih” mencerminkan prinsip solidaritas sosial dan jaring pengaman kolektif yang menjadi dasar dari negara kesejahteraan (welfare state). Sementara “Sai satu dikhaghak, sai semua nimang” mencerminkan semangat berbagi kebahagiaan dan kesuksesan, yang mencegah kesenjangan sosial dan memupuk rasa keadilan. Dalam skala yang lebih besar, ini adalah fondasi ideal untuk membangun bangsa yang kompak dan berkeadilan.
Di tengah dunia yang menghadapi krisis seperti perubahan iklim, pandemi, dan kesenjangan ekonomi, Sakai Sambayan menawarkan perspektif solutif yang langka.
1. Ketahanan Bencana: Prinsip Sakai Sambayan menciptakan masyarakat yang tangguh (resilient). Ketika bencana alam melanda, mekanisme tolong-menolong sudah tertanam dan tidak perlu menunggu komando dari atas. Setiap warga langsung menjadi relawan pertama. Sistem ini jauh lebih cepat dan efektif dalam respons tanggap darurat.
2. Ekonomi Kerakyatan: Semangat Sambayan dapat dijadikan model untuk menguatkan ekonomi kerakyatan dan koperasi. Bukan berdasarkan modal besar, tetapi pada prinsip sharing economy dan collective responsibility. Usaha mikro dan kecil dapat bersatu, saling menopang pemasaran, modal, dan produksi, menciptakan ketahanan ekonomi di level akar rumput.
3. Kohesi Sosial di Era Digital: Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Sakai Sambayan telah bertransformasi ke dunia digital. Nilai ini dapat menjadi antidot (penangkal) bagi sikap individualistik dan polarisasi yang sering terjadi di media sosial. Grup-grup berdasarkan kesukuan atau kedaerahan bisa beralih fungsi dari sekadar grup nostalgia menjadi wadah produktif untuk saling memajukan secara profesional dan ekonomi, mempraktikkan gotong royong dalam bentuk baru.
Warisan seperti Sakai Sambayan tidak boleh hanya menjadi pajangan di museum budaya. Ia harus dihidupkan dan dijiwai dalam praktik berkehidupan dan berbangsa.
Pertama, Pendidikan Multikultural: Nilai-nilai Sakai Sambayan dapat diperkenalkan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kewarganegaraan di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Ini akan memperkaya pemahaman siswa tentang Bhinneka Tunggal Ika, bahwa persatuan itu dibangun melalui aksi nyata tolong-menolong, bukan sekadar slogan.
Kedua, Model untuk Pembangunan Berkelanjutan: Para perencana pembangunan di level daerah dan nasional dapat mengambil inspirasi dari model gotong royong partisipatif ala Sakai Sambayan. Program-program pemberdayaan masyarakat akan jauh lebih berkelanjutan jika masyarakat tidak dijadikan objek, tetapi subjek yang aktif dan terhubung dalam semangat kebersamaan.
Sebuah pesan lain dari Kuntara Raja Niti yang sangat relevan adalah: “Pikhou mak nemui, nemui nengah nyappur.” Artinya: “Bertemu dan bersilaturahmi, bersilaturahmi sambil membaur.”
Ini bukan sekadar ajakan untuk berkumpul, tetapi sebuah filsafat inclusivity dan integration. “Nengah nyappur” (sambil membaur) mengandung makna integrasi yang mendalam, tanpa sekat. Dalam konteks kebangsaan, ini adalah ajaran untuk tidak hanya bertemu secara fisik, tetapi untuk benar-benar melebur, memahami, dan menanggung beban bersama sebagai sesama anak bangsa, melampaui perbedaan suku, agama, dan golongan.
Sakai Sambayan adalah napas bagi masyarakat Lampung, sesuatu yang vital dan berdenyut setiap saat. Filosofi ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur nenek moyang tidak pernah usang. Ia memiliki daya adaptasi yang luar biasa, mampu berpindah dari ladang dan rumah adat ke ruang digital dan kehidupan urban modern.
Ia adalah warisan abadi bukan karena umurnya yang ratusan tahun, tetapi karena relevansinya yang abadi. Dalam setiap transfer donasi digital, dalam setiap kerja bakti warga kota, dalam setiap proyek komunitas, there lies the spirit of Sakai Sambayan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan terbesar kita sebagai bangsa Indonesia bukan terletak pada sumber daya alam atau teknologi semata, melainkan pada kekuatan kebersamaan yang telah terpelihara dalam ribuan kearifan lokal di seluruh Nusantara.
Sakai Sambayan Lampung, Mapalus dari Sulawesi, Subak dari Bali, dan banyak lagi, adalah mozaik indah yang membentuk wajah gotong royong Indonesia. Merawatnya berarti merawat jati diri dan masa depan bangsa. Pada akhirnya, Sakai Sambayan mengingatkan kita pada satu kebenaran sederhana: Kita memang berbeda-beda, tetapi kita tetap satu, karena kita saling menopang.
Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Kuntara Raja Niti: Kitab Adat dan Filsafat Lampung (alih bahasa dan analisis oleh Anshori Dimyathi). Penerbit: Lenggayak Graphici, 2017. Sumber primer ini merupakan terjemahan dan tafsir atas naskah adat utama Lampung yang menjadi rujukan absolut untuk kutipan-kutipan petuah.
2. Jurnal Ilmiah: “Kearifan Lokal Sakai Sambayan sebagai Model Ketahanan Sosial Masyarakat dalam Menghadapi Ancaman Bencana Alam” dalam Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 22, No. 2 (2021). Jurnal ini mengkaji ketangguhan komunitas yang dipupuk oleh nilai gotong royong.
3. Buku: Pancasila dan Kearifan Lokal: Integrasi Nilai-Nilai Budaya dalam Pembangunan Karakter Bangsa oleh Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono. Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2019. Buku ini memberikan kerangka teoritis yang luas tentang bagaimana kearifan lokal seperti Sakai Sambayan berdialog dengan ideologi bangsa.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

