nataragung.id – Natar – Nikmat Allah itu tidak pernah sirna, kecuali bila manusia sendiri yang mengubah hatinya, yang menukar taat dengan maksiat, yang mengganti syukur dengan lalai.
Allah Ta‘ala berfirman:
> {إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ}
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’du ayat 11)
Maka janganlah kita seperti perempuan yang memintal benang dengan sabar, lalu merusaknya sendiri dengan tangannya,
hingga semua tenunan menjadi sia-sia.
Allah Subḥanahu wata’ala memperingatkan:
> {وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا}
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali. (QS An Nahl ayat 91)
Jangan engkau rusak janji yang telah kau ikat dengan Rabbmu,
jangan engkau patahkan amal yang telah engkau bangun, jangan engkau gugurkan pahala yang telah engkau kumpulkan.
Allah berfirman
> {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ}
Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusak segala amalmu. (QS Muhammad:33)
Namun, sejarah telah memberi kita pelajaran, ada umat yang terlalu lama berpaling, hingga hati mereka mengeras dan cahaya iman meredup.
Allah Ta‘ala berfirman:
> {أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ }
Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka menjadi orang-orang fasik.[Surat Al-Hadid: 16]
Ibnu Abbas berkata: “Mereka condong pada dunia dan berpaling dari nasihat Allah.” Maka hati mereka menjadi keras, tak lagi tersentuh oleh Kalam-Nya.
Jangan sampai kita mengikuti jejak itu. Kita ini ibarat pohon,
jika siraman iman terus dijaga, maka hijau ia meneduhkan,
namun bila lalai dari air ketaatan, ia akan layu, kering, lalu tumbang.
Dengarkanlah pesan Nabi shalallahu alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr,
sebuah nasihat yang menusuk ke sanubari:
> ((يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ، فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ))
“Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si Fulan.
Dahulu ia terbiasa shalat malam, lalu ia meninggalkannya.” (Muttafaq alaihi)
Maka jangan pernah tinggalkan kebiasaan baikmu, walau hanya satu rakaat di malam yang sepi, walau hanya satu ayat yang terlantun dari lisanmu, walau hanya satu doa yang kau bisikkan dengan hatimu.
Karena Allah mencintai amal yang kecil, namun terus-menerus dikerjakan. <=>
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

