MIMBAR JUM’AT : Berpegang Teguh pada Wahyu, Bukan pada Fanatisme Golongan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Dalam perjalanan hidup, seseorang sering kali diuji bukan hanya dengan syahwat dan dunia, tetapi juga dengan fanatisme terhadap kelompok, partai, atau golongan.

Tanpa disadari, hati bisa terbelenggu: mencintai karena kelompoknya mencintai, membenci karena kelompoknya membenci, ridha karena golongannya ridha, dan murka karena golongannya murka.

Inilah bentuk perbudakan baru, bukan kepada Allah, tetapi kepada manusia.
Padahal seorang mukmin diperintahkan untuk menjaga kemuliaan dirinya dan membebaskan hati dari ikatan selain wahyu.

Allah Subḥanahu wata’ala berwasiat kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam dan umatnya agar tetap teguh di atas kebenaran, bukan mengikuti arus manusia:

﴿ فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴾

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Keteguhan Hati adalah Anugerah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Maka berpegangteguhlah engkau kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43)

Ayat ini menegaskan bahwa tolak ukur kebenaran bukanlah banyaknya pengikut, kuatnya kelompok, atau besarnya pengaruh, melainkan sejauh mana seseorang berpegang pada wahyu Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga telah memperingatkan umatnya dari fanatisme golongan yang membutakan hati. Beliau bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ، وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ»

“Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada fanatisme golongan, bukan dari golongan kami orang yang berperang karena fanatisme golongan, dan bukan dari golongan kami orang yang mati di atas fanatisme golongan.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Ketenangan yang Tak Dicuri Waktu. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Fanatisme membuat seseorang membela kebatilan demi kelompoknya dan menolak kebenaran karena datang dari luar golongannya. Padahal seorang mukmin sejati adalah yang mengikuti kebenaran di mana pun ia berada, meskipun bertentangan dengan kepentingan dirinya atau kelompoknya.

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, sekalipun terhadap diri kalian sendiri.” (QS. An-Nisā’: 135)

Karena itu, kemuliaan seorang hamba terletak pada kesetiaannya kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada simbol, tokoh, atau organisasi. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT : Bahagia dengan Syukur. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

«إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ»

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma‘ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, siapa pun yang ingin selamat hendaknya menggigit kuat-kuat dengan gerahamnya ajaran wahyu, menjaga kejernihan iman, dan menimbang segala sikap dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Dengan itulah seseorang akan tetap merdeka, lurus di jalan Allah, dan tidak terseret oleh fanatisme yang menyesatkan.
(KIS)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini