nataragung.id – Natar – Hari-hari ini Indonesia kembali berkabung.
Sumatra menangis. Tiga provinsi luluh-lantak oleh banjir bandang. Air bah datang bukan dengan pelan, tetapi menggulung bagai naga yang bangkit dari perut bumi, menghantam, menyeret, dan menenggelamkan.
Gelondongan kayu raksasa, yang selama ini berdiri kokoh sebagai penjaga gunung, kini hanyut, menjadi saksi bisu bahwa ada tangan-tangan manusia yang telah mengkhianati bumi. Pada kesempatan khutbah Jum’at yang mulia ini, khatib akan membawakan khutbah yang berjudul : Musibah Besar, Cermin Dosa, Seruan Taubat.
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.
Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdhu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā mudlilla lah, wa man yudhlilhu fa lā hādiya lah.
Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.
Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).
Ma‘āsyiral Muslimīn jama’ah Jum’at rahimakumullāh,
Segala puji bagi Allah, Raja yang tidak pernah tertandingi, Pemilik bumi yang tidak pernah tidur dari penjagaan-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang hatinya paling lembut dan paling peduli terhadap umatnya.
Jama’ah yang dimuliakan Allah,
Hari-hari ini Indonesia kembali berkabung.
Sumatra menangis. Tiga provinsi luluh-lantak oleh banjir bandang. Air bah datang bukan dengan pelan, tetapi menggulung bagai naga yang bangkit dari perut bumi, menghantam, menyeret, dan menenggelamkan.
Gelondongan kayu raksasa, yang selama ini berdiri kokoh sebagai penjaga gunung, kini hanyut, menjadi saksi bisu bahwa ada tangan-tangan manusia yang telah mengkhianati bumi.
Rumah-rumah rubuh. Masjid-masjid terendam. Ibu kehilangan anak, anak kehilangan ayah. Nama-nama yang dulu dipanggil penuh tawa kini hanya menjadi daftar orang yang “belum ditemukan”.
Bumi bergetar. Langit berduka.
Sesungguhnya, ini bukan sekadar air. Ini adalah pesan. Ini adalah peringatan.
Kerusakan Ini Bukan Tanpa Sebab
Allah berfirman:
﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ ﴾
(Zhaharal-fasādu fil barri wal-bahri bimā kasabat aydin-nās)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia.” (QS. Ar-Rūm: 41)
Betapa dalam ayat ini. Betapa tegas teguran Allah, namun betapa lembut kasih-Nya.
Allah tidak menuduh, tapi mengingatkan.
Allah tidak langsung menghukum, tapi menyingkap apa yang selama ini manusia tutupi.
Hutan digunduli
Sungai dicemari
Gunung ditambang
Amanah bumi dikhianati
Dan ketika bumi tidak mampu lagi menahan beban derita itu, ia menghembuskannya dalam bentuk musibah.
Musibah Adalah Surat Cinta dari Langit
Musibah bukan hanya derita. Musibah adalah pesan langit yang turun dari Arsy Allah agar hamba-hamba-Nya tersadar.
Allah berfirman:
﴿ وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴾
(Walanudzīqannahum minal ‘adzābil adnā dūnal ‘adzābil akbar la‘allahum yarji‘ūn)
“Kami timpakan kepada mereka azab yang dekat sebelum azab besar, agar mereka kembali.”
(QS. As-Sajdah: 21)
Allah turunkan sebagian kecil guncangan, agar manusia kembali. Agar manusia berhenti berlari dari Rabb-nya.
TUJUH SEBAB Allah Menurunkan Musibah :
1.Agar manusia kembali dari lalai kepada ingat
Kadang Allah menutup jalan-jalan dunia agar manusia kembali mencari jalan menuju-Nya.
2.Agar manusia merasakan lemahnya diri
Musibah menggugurkan kesombongan.
Gunung yang tinggi saja roboh, apalagi hati manusia yang rapuh?
3.Mengangkat derajat orang beriman
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
« مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ… إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ »
(Mā yuṣībul mu’mina min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hamm… illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāh)
“Tidaklah seorang mukmin ditimpa sakit, letih, sedih, atau derita, melainkan Allah hapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Derita sementara, pahala abadi.
4.Agar hati yang keras menjadi lunak
Ada hati yang tidak luluh oleh nasihat manusia.
Maka Allah kirimkan nasihat dalam bentuk air mata.
5.Mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan
Saat rumah hilang dalam satu malam, manusia pun sadar:
Tidak ada rumah yang abadi kecuali rumah di surga.
6.Menguji siapa yang benar-benar beriman
Seperti emas diuji dalam api, demikian iman diuji dalam musibah.
7.Menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan
Kadang Allah membuka pintu surga melalui pintu musibah.
Jama’ah yang dimuliakan Allah,
Musibah banjir bandang yang menimpa Sumatra bukan sekadar peristiwa alam. Itu adalah ayat, tanda, seruan agar kita kembali memperbaiki:
hubungan dengan Allah,
hubungan dengan sesama,
dan hubungan dengan bumi.
Karena bumi hanya mengikuti manusia. Jika manusia baik, bumi pun akan lembut. Jika manusia rusak, bumi pun akan mengamuk.
Mari Kita Renungkan. Di antara gemuruh air, ada suara yang tidak terdengar telinga, tetapi ditangkap hati.
“Wahai hamba-Ku, kembalilah…”
“Jangan ulangi kelalaianmu…”
“Jangan rusak bumi yang bukan milikmu…”
Allah bukan ingin menghancurkan kita. Allah ingin menyelamatkan kita sebelum terlambat.
Wahai kaum Muslimin,
Ketika saudara-saudara kita kehilangan rumah dan keluarga, ada empat kewajiban kita:
1.Mendoakan mereka sepenuh jiwa
Doa orang beriman menembus langit.
2.Menolong dengan harta dan tenaga
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
« وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ »
(Wallāhu fī ‘aunil ‘abdi mā kānal ‘abdu fī ‘auni akhīh)
“Allah akan selalu menolong hamba selama ia menolong saudaranya.”
(HR. Muslim)
3.Bertaubat atas kelalaian yang kita lakukan bersama
Jika dosa adalah api, maka taubat adalah air penyejuknya.
4. Menjaga bumi dengan amanah
Khalifah bukan hanya gelar. Ia adalah tanggung jawab.
Ma’asyirol Muslimin Jamaah Jumat rahimakumullah
Demikianlah khutbah singkat pada hari Jumat yang mulia dan penuh berkah ini. Semoga apa yang telah Khotib sampaikan bisa dijadikan pegangan bagi kita dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia yang fana’ ini. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.
Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.
أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.
Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.
I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn
اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.
اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

