MUTIARA PAGI : Ketika Shalat Menjadi Tempat Kita Pulang. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Natar – Dalam perjalanan hidup, tidak jarang badai datang tanpa diundang. Ada getir di hati, ada sempit di dada, ada kekalutan yang menyelimuti langkah. Baik dalam urusan pribadi maupun saat umat menghadapi tekanan bersama, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menunjukkan kepada kita satu pintu ketenangan yang tidak pernah tertutup: shalat.

Ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak memerintahkan untuk mengeluh, tidak pula melarikan diri dari keadaan. Beliau justru berkata kepada Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu:

«يَا بِلاَلُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ»

“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.”
(HR. Abu Dawud)

Ungkapan ini bukan sekadar permintaan untuk memulai ibadah, tetapi jeritan rindu jiwa kepada ketenangan tertinggi, ketenangan yang hanya ditemukan ketika berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin.

1. Shalat adalah Qurratul ‘Ain Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Ketika Kebaikan Menjadi Lautan yang Menenggelamkan Luka. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Dan dijadikan penyejuk mataku dalam shalat.”
(HR. An-Nasa’i)

Bagi manusia biasa, istirahat adalah tidur.
Bagi para pecinta dunia, ketenangan adalah harta.
Tetapi bagi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, ketenangan sejati adalah ketika dahi menyentuh bumi dalam sujud, ketika hati bergetar menyebut nama Allah, ketika jiwa kembali pulang pada Sang Pencipta.

Shalat bukan sekadar ritual, tetapi tempat di mana hati Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menemukan kejernihan, tempat seluruh beban dunia larut tanpa sisa.

2. Ketika Berhadapan dengan Allah, Semua Masalah Menjadi Kecil

Betapa sering kita merasa dunia terlalu berat, namun lihatlah shalat: setiap gerakannya diiringi kalimat yang terus diulang:

“اللَّهُ أَكْبَرُ”

“Allah Maha Besar.”

Allah lebih besar dari kesedihanmu.
Allah lebih besar dari ketakutanmu.
Allah lebih besar dari masalah yang menyesakkan dada.

Kalimat “Allahu Akbar” adalah deklarasi tegas bahwa dunia dengan segala hiruk-pikuknya terlalu kecil dibanding keagungan Allah.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Tadabbur Al-Qur’an: Kekuatan untuk Menunaikan Amal dan Menanggung Ujian. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Karena itu, siapa yang berdiri tegak dalam shalat dengan hati yang hadir, niscaya beban hidupnya menjadi ringkas, masalahnya mengecil, dan jiwanya kembali kuat.

Allah berfirman:

{وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ}

“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi pertolongan. Bukan hanya perintah, tetapi pelipur lara.

3. Shalat adalah Mi’rajul Mukmin — Tangganya Ruh ke Langit

Para ulama mengatakan:

“الصَّلَاةُ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ”

“Shalat adalah mi’rajnya orang beriman.”

Mi’raj berarti naik, mengangkat jiwa dari hiruk dunia menuju ketenangan langit.

Orang yang benar-benar melakukan mi’raj lewat shalat akan melihat dunia dengan pandangan yang lain: kecil, sementara, dan tidak layak membuatnya putus asa.

Ketika seseorang naik (mi’raj) kepada Allah, maka apa pun yang ada di bawah menjadi kecil.

Demikianlah orang beriman: semakin tinggi hatinya dekat kepada Allah, semakin rendah dunia terlihat di matanya.

Allah berfirman:

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Dzikir - Sumber Keteguhan di Tengah Badai. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

{وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي}

“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
(QS. Thaha: 14)

Dan ketika hati sudah penuh dengan ingatan kepada Allah, tidak ada ruang tersisa bagi gelisah, takut, atau kecewa.

Maka, kembalilah Pada Pintu yang Selalu Terbuka

Ketika hidup menyesakkan, ketika hati bergetar oleh ujian, ingatlah pesan manusia terbaik kepada sahabatnya:

“Arihna bish shalati ya Bilal.”
“Istirahatkanlah kami dengan shalat.”

Shalat bukan beban. Shalat adalah rumah tempat jiwa pulang. Shalat adalah tangga menuju ketenangan. Shalat adalah pelukan Allah yang membesarkan jiwa dan memperkecil dunia.

Maka, wahai jiwa yang letih, istirahatlah dalam shalat, sebab di sana Allah menunggu untuk menenangkanmu. (KIS/119).WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini