MUTIARA PAGI : Menyeru Kebaikan, Menanggung Luka, dan Menjaga Kesabaran. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran bukanlah jalan yang selalu dipenuhi tepuk tangan dan pujian. Ia adalah jalan para nabi, para pewaris risalah, yang hampir selalu dibarengi dengan penolakan, cemoohan, bahkan luka.

Karena kebenaran tidak selalu disukai, dan nasihat sering terasa pahit bagi jiwa yang belum siap menerimanya.
Allah Subḥanahu wata’ala telah mengingatkan sejak awal bahwa tugas mulia ini pasti mengandung konsekuensi.

Maka bersamaan dengan perintah amar makruf nahi mungkar, Allah langsung menggandengkannya dengan perintah sabar:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Baca Juga :  RAMADHAN MUBARAK (18) : I’tikaf: Diam yang Menghidupkan Hati. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

“Dan perintahkanlah (manusia) kepada yang makruf, cegahlah dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang memerlukan keteguhan hati.” (QS. Luqman: 17)

Ayat ini seakan menegaskan bahwa gangguan, penolakan, dan rasa sakit adalah bagian yang tak terpisahkan dari dakwah kebaikan. Siapa yang ingin menegakkan nilai, harus siap menanggung risikonya. Dan kesabaran bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri adalah teladan terbesar dalam hal ini. Beliau dihina, disakiti, dilempari, bahkan diusir, namun tidak pernah berhenti menyeru kepada kebenaran. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Hidup Jangan Dijadikan Beban. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hadis ini menunjukkan bahwa mengatakan yang benar, meski berisiko, adalah amal besar di sisi Allah. Namun amal besar itu menuntut jiwa yang sabar, hati yang ikhlas, dan niat yang lurus, bukan untuk menang, bukan untuk dipuji, melainkan untuk mencari ridha-Nya.

Karena itu, ketika seseorang memilih jalan amar makruf nahi mungkar, hendaknya ia menyiapkan hatinya: siap disalahpahami, siap dicibir, bahkan siap disakiti. Tetapi yakinlah, setiap luka yang ditanggung dengan sabar akan bernilai pahala, dan setiap kebenaran yang disampaikan dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah Subḥanahu wata’ala. (KIS/140).
WaAllahu A’lam

Baca Juga :  Mutiara Pagi: Kelembutan - Kunci Sukses Dakwah dan Meraih Hati Manusia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini