MUTIARA PAGI : Taubat dan Syaratnya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Taubat dalam Islam bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, tetapi sebuah proses kembali kepada Allah dengan kesadaran penuh dan tekad yang sungguh-sungguh.

Salah satu syarat utama taubat adalah al-‘azmu ‘ala tarkil ma‘shiyah, yaitu kemauan yang kuat untuk meninggalkan dosa dan tidak terus-menerus mengulanginya.

Allah Subḥanahu wata’ala menggambarkan ciri orang-orang bertakwa yang apabila terjatuh dalam dosa, mereka segera kembali kepada-Nya dan tidak larut dalam kesalahan:

﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾

“Dan (juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus dalam dosa yang mereka lakukan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Sesederhana Itu Dunia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ayat ini menegaskan bahwa taubat sejati ditandai dengan penyesalan, istighfar, dan tidak adanya sikap mengulang dosa dengan sengaja. Adapun seseorang yang beristighfar namun tetap berkeras mengulang maksiat tanpa niat berhenti, maka ia belum memenuhi hakikat taubat yang sesungguhnya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa taubat harus berangkat dari hati yang menyesal, karena penyesalan adalah inti dari taubat:

«النَّدَمُ تَوْبَةٌ

“Penyesalan itu adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah)

Penyesalan yang benar akan melahirkan tekad untuk berubah. Sebab tidak mungkin seseorang benar-benar menyesal atas dosa, sementara ia tetap nyaman berada di dalamnya.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Rahasia Umur Panjang dan Rezeki Berkah: Taubat, Istighfar, dan Amal Shalih. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwa syarat taubat ada tiga:
Meninggalkan dosa tersebut,
Menyesali perbuatan yang telah dilakukan,
Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa depan.

Bila dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ditambah satu syarat lagi, yaitu mengembalikan hak atau meminta maaf.

Allah Subḥanahu wata’ala Maha Pengampun dan membuka pintu taubat selebar-lebarnya, sebagaimana firman-Nya:

﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ﴾

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Menjaga Rahasia adalah Amanah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Namun rahmat Allah itu harus disambut dengan kesungguhan, bukan dengan sikap meremehkan dosa.

Taubat adalah janji setia seorang hamba untuk kembali berjalan di jalan Allah, dengan jatuh bangun yang disertai kesungguhan, bukan dengan persistensi dalam maksiat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang apabila tergelincir segera kembali, dan apabila bertaubat, bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Aamiin. (KIS/145).
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini