Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 9: Pi’il Pesenggiri dalam Seni dan Tutur – Cerminan Nilai dalam Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam khazanah adat Lampung, Pi’il Pesenggiri menempati kedudukan paling luhur sebagai inti harga diri, martabat, dan identitas manusia Lampung. Pada seri kesembilan Petuah Tua ini, pembahasan difokuskan pada bagaimana nilai Pi’il Pesenggiri hidup dan diwariskan melalui seni dan tutur: tarian adat, sastra lisan seperti sebambangan dan pepancahan, serta kain tapis. Seni tidak dipandang sebagai hiburan semata, melainkan sebagai bahasa nilai yang membentuk watak kolektif masyarakat Saibatin dan Pepadun.

Pada suatu masa di kaki Bukit Barisan, hiduplah seorang gadis penenun bernama Sunti Ratu dari marga Pesisir. Ia dikenal bukan hanya karena kehalusan tapis buatannya, tetapi juga karena tutur katanya yang tertata dan berwibawa. Setiap kali ia berbicara dalam pepancahan adat, orang-orang terdiam, seakan benang emas mengalir dari lidahnya.
Suatu hari, marga mereka menerima tamu besar dari wilayah Pepadun. Dalam upacara penyambutan, Sunti Ratu diminta menampilkan tarian dan membacakan sebambangan. Ia menari tanpa gerak berlebihan, membaca syair tanpa suara meninggi. Namun justru dari ketertiban itu, para tamu menangkap satu pesan: martabat tidak perlu ditinggikan dengan kesombongan.

Setelah acara usai, penyimbang tua berkata, “Inilah Pi’il Pesenggiri yang hidup dalam seni. Ia tidak berteriak, tetapi terasa.” Sejak saat itu, kisah Sunti Ratu menjadi cerita turun-temurun tentang bagaimana seni menjadi cermin nilai.

Baca Juga :  Buku Seri : Sakai Sambayan Filosofi Tolong Menolong yang Tak Pernah Pudar. Seri - 3: Menjaga Api Tradisi di Tengah Arus Modernisasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Istilah Pi’il Pesenggiri telah dikenal sejak masa pembentukan marga-marga Lampung awal. Dalam silsilah tua marga Abung dan Pesisir yang ditulis pada daun lontar dan kulit kayu, Pi’il Pesenggiri disebut sebagai “tulang punggung adat”.
Salah satu naskah adat mencatat ungkapan Lampung lama: “Pi’il sai di jaga, adat sai di tuha.”
Secara bebas, kalimat ini berarti bahwa menjaga harga diri adalah cara memuliakan adat.
Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa identitas Lampung tidak dilekatkan pada harta atau kuasa, melainkan pada sikap hidup yang bermartabat.

Dalam Saibatin, nilai ini tampak dalam tata gerak yang anggun dan terkendali. Dalam Pepadun, ia terlihat dalam keberanian berbicara dengan santun. Perbedaan bentuk tidak mengubah esensi.
Tarian adat Lampung tidak mengenal gerak yang meledak-ledak. Setiap langkah, ayunan tangan, dan arah pandang mengandung pesan etika. Penari diajarkan untuk menjaga postur tubuh sebagai simbol penjagaan diri.

Dalam kitab adat lisan disebutkan: “Gerak sai pantang liak, diam sai pantang lupa.” Maknanya, bergerak tanpa kesadaran adalah aib, dan diam tanpa makna adalah kosong. Filosofi ini menegaskan bahwa seni tari adalah latihan batin untuk mengendalikan diri.
Pi’il Pesenggiri tercermin dalam keseimbangan antara keindahan dan ketertiban. Penari tidak menonjolkan diri, melainkan menyatu dengan irama dan ruang.

Baca Juga :  Harga Diri di Ambang Dua Zaman. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sebambangan dan pepancahan adalah seni tutur yang berfungsi sebagai media pendidikan moral. Dalam sebambangan, syair-syair disusun untuk menyampaikan maksud dengan halus, tanpa melukai perasaan lawan bicara.
Terdapat petikan sebambangan tua: “Kata sai halus ngangkat derajat, kata sai kasar nginjak diri.” Analisis mendalam atas kutipan ini menunjukkan kesadaran linguistik masyarakat Lampung bahwa bahasa adalah cermin martabat.
Pepancahan, yang biasa digunakan dalam musyawarah adat, menuntut penutur untuk jujur sekaligus santun. Keberanian berbicara harus seimbang dengan tanggung jawab moral.

Kain tapis bukan sekadar busana adat. Setiap motif dan benang emas memuat pesan Pi’il Pesenggiri. Motif yang simetris melambangkan keseimbangan hidup, sementara benang emas melambangkan kemuliaan yang dijaga, bukan dipamerkan.
Dalam catatan etnografi Lampung abad ke-19, disebutkan bahwa tapis hanya dikenakan pada peristiwa penting sebagai pengingat akan tanggung jawab pemakainya. Secara filosofis, ini menunjukkan bahwa kehormatan datang bersama kewajiban.
Pi’il Pesenggiri memiliki dimensi spiritual. Menjaga martabat diri dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, seni dan tutur menjadi sarana pengendalian batin.
Ungkapan adat menyebutkan: “Pi’il niyawa, adat ni jiwa.” Artinya, harga diri adalah nyawa, adat adalah jiwa. Analisis kutipan ini memperlihatkan penyatuan antara etika sosial dan spiritualitas.

Baca Juga :  Ngelemang, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Tengah Masyarakat Warga Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Melalui seni dan tutur, Pi’il Pesenggiri diwariskan tanpa paksaan. Ia hidup dalam gerak tari, alunan kata, dan motif kain. Dalam Saibatin dan Pepadun, nilai ini menjadi penanda bahwa masyarakat Lampung menempatkan martabat di atas segalanya.

Referensi Terverifikasi
* Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Alumni.
* Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Seni Tradisional Lampung. Jakarta.
* Arsip manuskrip adat dan wawancara penyimbang Lampung Abung dan Pesisir (koleksi fisik dan digital lokal).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini