Jalan Khidmah Kiai Zuhri Rohmad. Oleh: Edi Sriyanto *)

0

nataragung.id – Sidomulyo – Menilai pengabdian seseorang dalam sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama seringkali terjebak pada angka-angka administratif atau kemegahan fisik. Namun, di Merbau Mataram, kita diajak untuk melihat NU dari sisi yang paling otentik: sebuah gerakan yang bermuara pada ketulusan dan konsistensi yang melampaui zaman. Di titik inilah, nama Kiai Zuhri Rohmad menjadi catatan penting bagi sejarah hijau di Lampung Selatan.

Beliau bukan sekadar Rais Syuriyah yang duduk di barisan depan saat seremoni. Beliau adalah jangkar spiritual yang telah memancangkan fondasi ideologi jauh sebelum wilayah ini mengenal hiruk-pikuk perkembangan modern.

Militansi Kiai Zuhri bukanlah sesuatu yang lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari sanad perjuangan yang terjaga secara biologis dan ideologis. Lahir di Kulon Progo, 6 Juli 1951, beliau tumbuh di bawah asuhan almarhum Kiai Ahmad Badri, seorang tokoh NU yang juga dikenal sebagai Gusdurian pada masanya.

Spirit inklusif dan keberpihakan pasi rakyat kecil itulah yang kemudian diperkuat saat beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Wates (Pesawat), di bawah asuhan Kiai Hasan Tholabi.

Baca Juga :  Giliran Gus Yahya dan Para Pendukungnya Mengaji ‘Bab Pembelaan’

Sejarah mencatat, di usia yang sangat muda, beliau sudah terjun menjadi anggota Ansor pada tahun 1965 di Kulon Progo. Menjadi bagian dari Ansor di tahun yang penuh pergolakan tersebut membentuk mental baja yang kelak beliau bawa saat merantau ke tanah Lampung. Spirit ke-NU-an itu tumbuh subur dengan sendirinya karena telah mengakar sejak lahir.

Saat menginjakkan kaki di Lampung, Kiai Zuhri menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah pemekaran struktur NU. Jejak pengabdiannya mengikuti perkembangan administratif wilayah; mulai dari menjabat Ketua Ranting Merbau Mataram saat masih di bawah Kecamatan Panjang (1992), berlanjut ke Kecamatan Katibung (1997), hingga akhirnya mandiri di bawah Kecamatan Merbau Mataram.

Tantangan saat itu tidaklah ringan. Mengingat saat itu belum ada pondok pesantren sebagai sentral dakwah di Merbau Mataram, Kiai Zuhri menjadikan dirinya sebagai “sentral” yang bergerak. Dengan sepeda jengki berwarna hijau, beliau menyisir jarak yang tak dekat demi mengetuk pintu para kiai sepuh, tokoh agama, hingga guru Madrasah Diniyah di pelosok desa.

Baca Juga :  Menanti Musim Buah di Balik Rimbunnya Daun. Oleh: Edi Sriyanto *)

Beliau hadir sebagai “kaum” yang memimpin Yasinan dan Tahlilan dari rumah ke rumah. Strategi “pintu ke pintu” ini membuktikan bahwa kekuatan NU yang sesungguhnya terletak pada kelekatan kultural. Keberhasilan beliau memastikan 60 persen Ranting tetap aktif hingga saat ini adalah akumulasi dari setiap kayuhan pedal yang beliau lakukan selama puluhan tahun.

Sebagai seorang pemimpin, Kiai Zuhri memiliki kearifan untuk melihat realitas dengan jernih. Beliau tidak menutupi bahwa tantangan dalam merangkul keragaman latar belakang sosiologis dan entitas budaya tertentu di wilayahnya masih menjadi tugas besar yang belum usai. Beliau menyadari bahwasanya meski secara amaliah keagamaan sudah memiliki banyak titik temu, menyatukan mereka ke dalam barisan struktural organisasi masih membutuhkan pendekatan yang lebih persentuhan (persuasif) dan kultural.

Kejujuran ini menunjukkan bahwa bagi beliau, NU bukan soal dominasi administratif, melainkan soal upaya terus-menerus untuk membangun jembatan persaudaraan di tengah heterogenitas masyarakat Lampung.

Baca Juga :  Tebar Keberkahan di Bulan Suci, PC Fatayat NU Lampung Selatan Bagikan Ratusan Paket Takjil Gratis

Dua dekade lebih (2002-2023) menakhodai jajaran Tanfidziyah, Kiai Zuhri menunjukkan stabilitas kepemimpinan yang luar biasa sebelum akhirnya mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah masa khidmah 2023-2028. Beliau telah tuntas dengan urusan teknis, dan kini berdiri sebagai penjaga gawang marwah yang meneduhkan.

Bahkan di usia senja, api militansinya tidak pernah padam. Keikutsertaan beliau dalam PKPNU Angkatan II pada Maret 2020 di usia 69 tahun adalah pesan simbolik yang sangat kuat: bahwa di NU, khidmah adalah proses belajar yang hanya akan berhenti saat napas pun terhenti. Kiai Zuhri Rohmad telah mengajarkan kita bahwa menjaga panji ulama bisa dilakukan dengan cara yang paling sunyi sekalipun, di atas pedal sepeda jengki kesabaran. **

*) Penulis adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Sidomulyo – Lampung Selatan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini