Bulan: Januari 2026

  • Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 8: Titi Pangka – Musyawarah dan Kebijaksanaan Kolektif. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 8: Titi Pangka – Musyawarah dan Kebijaksanaan Kolektif. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Seri Petuah Tua disusun sebagai jembatan antara kisah rakyat, adat istiadat, dan pemaknaan filosofis masyarakat adat Lampung.

    Dalam jilid kedelapan ini, pembahasan difokuskan pada Titi Pangka, sebuah tradisi musyawarah adat yang menjadi landasan pengambilan keputusan kolektif dalam dua sistem adat utama Lampung, yakni Saibatin dan Pepadun. Tulisan ini hanya berputar pada tema tersebut agar pembaca dapat menyelami kedalamannya tanpa terpecah oleh topik lain.

    Pada masa ketika hutan-hutan Lampung masih rapat dan sungai menjadi jalan utama, hiduplah sebuah marga tua di pesisir Teluk Semangka. Marga ini dipimpin oleh seorang penyimbang sepuh bernama Puyang Ratu Way Tulangbawang. Ketika perselisihan besar terjadi antara dua jurai tentang batas ladang dan hak air sungai, bara amarah mulai menyala.
    Alih-alih menghunus keris, para tetua adat sepakat menyalakan api di balai adat. Api itu bukan tanda perang, melainkan panggilan Titi Pangka. Semua pihak, tua dan muda, kaya dan miskin, duduk melingkar. Tidak ada suara yang lebih tinggi dari yang lain. Setiap kata ditimbang seperti emas, setiap diam dihormati sebagai kebijaksanaan.

    Konon, setelah tiga hari tiga malam bermusyawarah, keputusan dicapai tanpa satu pun darah tertumpah. Sungai dibagi menurut alirannya, ladang ditata ulang, dan marga itu kembali utuh. Sejak itulah, api musyawarah disebut sebagai api yang tidak membakar, melainkan menerangi.

    Cerita ini hidup turun-temurun, bukan sebagai dongeng kosong, tetapi sebagai pengingat bahwa kekuatan sejati adat Lampung terletak pada kebijaksanaan kolektif.

    Titi Pangka secara harfiah dapat dimaknai sebagai “titian permulaan”. Dalam konteks adat, ia merujuk pada tahapan awal musyawarah adat sebelum keputusan besar diambil. Tradisi ini telah dikenal sejak masa marga-marga Lampung kuno, jauh sebelum pengaruh kolonial masuk.

    Dalam naskah adat tua yang disimpan oleh beberapa keluarga penyimbang, dikenal petuah: “Adat sai betik, mufakat sai tepik.” Ungkapan ini, yang ditemukan dalam salinan manuskrip kulit kayu abad ke-18, menegaskan bahwa adat harus ditegakkan melalui kesepakatan bersama. Analisis terhadap kutipan ini menunjukkan bahwa legitimasi keputusan adat tidak bersumber pada kekuasaan individu, melainkan pada penerimaan kolektif.

    Baik dalam Saibatin yang bercorak aristokratis maupun Pepadun yang lebih egaliter, Titi Pangka menjadi ruang penyeimbang. Dalam Saibatin, ia mencegah kekuasaan penyimbang menjadi absolut. Dalam Pepadun, ia mengarahkan kebebasan bicara agar tidak menjelma kekacauan.

    Proses Titi Pangka diawali dengan pembukaan adat, biasanya berupa pembacaan silsilah marga. Penyebutan leluhur bukan sekadar formalitas, melainkan pengingat bahwa keputusan hari ini akan diwariskan ke generasi berikutnya.
    Dalam dokumen silsilah marga Abung Siwo Migo, tertulis kalimat: “Sai tuha ngingat sai dija, sai nguda ngingat sai tuha.” Artinya, yang tua mengingatkan yang muda, dan yang muda menghormati yang tua. Secara filosofis, kutipan ini menegaskan dialog antargenerasi sebagai inti musyawarah.

    Setiap pihak diberi ruang bicara. Tidak diperkenankan memotong pembicaraan, karena dalam adat Lampung, mendengar adalah bentuk tertinggi dari hormat. Keputusan baru boleh dirumuskan setelah semua suara terdengar, termasuk suara minoritas.

    Titi Pangka bukan hanya mekanisme sosial, tetapi juga ritual spiritual. Musyawarah diyakini diawasi oleh roh leluhur. Oleh karena itu, kejujuran menjadi syarat mutlak. Kebohongan dianggap mencederai bukan hanya manusia, tetapi juga tatanan kosmis.

    Dalam kitab adat lisan yang sering dikutip para penyimbang, terdapat ungkapan Lampung kuno: “Mufakat sai di atas, restu sai di bawah.” Ungkapan ini mengandung makna bahwa kesepakatan manusia harus selaras dengan restu alam dan leluhur. Analisisnya menunjukkan kesadaran ekologis dan spiritual yang menyatu dengan sistem sosial.

    Di tengah dunia modern yang serba cepat, nilai Titi Pangka terasa semakin relevan. Musyawarah yang menuntut kesabaran dan empati menjadi penawar konflik sosial. Prinsip mendengar semua pihak dan mencari kemaslahatan bersama dapat diterapkan dalam keluarga, komunitas, hingga pemerintahan.
    Tradisi ini mengajarkan bahwa keputusan terbaik bukan yang paling cepat, melainkan yang paling adil dan diterima bersama.

    Dengan demikian, Titi Pangka bukan peninggalan masa lalu, melainkan warisan hidup.
    Titi Pangka adalah cermin kebijaksanaan kolektif masyarakat adat Lampung. Melalui musyawarah mufakat, adat Saibatin dan Pepadun menunjukkan bahwa perbedaan dapat dirajut menjadi kekuatan. Api musyawarah yang tidak membakar itu masih menyala, menunggu untuk terus dijaga dan dihidupkan.

    Referensi Terverifikasi
    * Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Alumni, Bandung.
    * Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta.
    * Wawancara dan salinan manuskrip adat keluarga penyimbang Abung dan Pesisir (arsip fisik dan digital lokal).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Rezeki dalam Genggaman Allah: Ketika Tawakal Membuka Pintu yang Tak Terduga. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Rezeki dalam Genggaman Allah: Ketika Tawakal Membuka Pintu yang Tak Terduga. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Rezeki kita sejatinya tidak bergantung pada kecerdasan yang kita banggakan,
    bukan pula pada kekuatan yang kita andalkan, dan tidak juga semata pada gelar serta ijazah yang kita miliki.

    Semua itu hanyalah sebab, sementara Pemberi rezeki yang hakiki hanyalah Allah.
    Allah Subḥanahu wata’ala mengingatkan kita bahwa rezeki adalah urusan-Nya sepenuhnya:

    إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

    “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 58)

    Betapa sering kita menyangka pintu telah tertutup rapat, padahal Allah mampu membukanya tanpa kunci yang kita punya, bahkan tanpa kita duga sebelumnya.

    Allah memberi dari arah yang tidak pernah terlintas dalam perhitungan manusia.

    وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

    “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar,
    dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. (QS. Ath-Thalāq: 2–3)

    Di balik penundaan, penolakan, bahkan kehilangan, seringkali Allah sedang menggiring kebaikan dengan cara yang paling lembut. Bukan dengan kegaduhan, melainkan dengan kasih sayang yang halus dan penuh hikmah.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pun menanamkan keyakinan ini kepada umatnya melalui tawakal sejati:

    لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

    “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi)

    Burung tidak membawa bekal,
    namun ia bergerak dengan yakin, dan Allah yang mencukupkannya.

    Maka tugas kita bukan mengendalikan rezeki, melainkan meluruskan iman, memperindah tawakal, dan menjaga ketaatan. Karena ketika hati bersandar penuh kepada-Nya,
    Allah akan membuka pintu-pintu rahmat
    dari arah yang paling lembut dan tak terduga.

    Maa althofaka binaa yaa Allah…

    Betapa Maha Lembut Engkau kepada kami ya Allah. (KIS/144).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Jaga Nama Baik SFC, Bidadari Penyelamat Siap Kawal Personel Slank di Lampung

    Jaga Nama Baik SFC, Bidadari Penyelamat Siap Kawal Personel Slank di Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Menjelang gelaran konser “Hey Slank” yang dijadwalkan mengguncang PKOR Way Halim pada 17 Januari 2026, arus bawah Slankers Fans Club (SFC) se-Provinsi Lampung menunjukkan kesiapan organisatoris yang matang. Melalui rapat koordinasi gabungan yang digelar secara hybrid pada Minggu (4/1/2026), para penggerak komunitas kembali mengaktifkan satuan tugas khusus “Bidadari Penyelamat” (BP) untuk mengawal jalannya acara.

    Pertemuan tersebut dilaksanakan di, Jalan Hayam Wuruk, Gang Biru No. 124, Tanjung Agung, Bandar Lampung. Iron, yang bertindak sebagai tuan rumah sekaligus moderator rapat, memimpin jalannya musyawarah yang dihadiri perwakilan SFC Kabupaten/Kota se-Lampung baik secara fisik maupun virtual.

    Pengaktifan BP ini bukanlah hal baru dalam tradisi Slankers Lampung. Mekanisme ini merupakan instruksi rutin yang sudah baku sejak tahun 2007. Berbeda dengan tim pengamanan massa, BP memiliki tugas spesifik yang sangat krusial: melakukan proteksi melekat kepada personel Slank mulai dari kedatangan di Bandara, Hotel, Venue, hingga kembali lagi ke Bandara.

    Fokus pada pengawalan personel ini menjadi standar operasional guna memastikan keamanan Bimbim, Kaka, Ridho, Ivanka, dan Abdee selama berada di Bumi Ruwa Jurai. Dalam musyawarah tersebut, forum menyepakati Dana Poel (Lamteng) sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) dan Ari Gokilz (Balam) sebagai Wakil Korlap. Mereka membawahi 20 personel pilihan dari berbagai wilayah seperti Way Kanan, Pesawaran, hingga Lampung Barat yang diwajibkan menggunakan seragam resmi BP.

    Kegiatan ini membuktikan bahwa manajemen SFC di Lampung tetap berjalan secara otomatis dan solid. Kemandirian ini menjadi kunci utama kesuksesan setiap gelaran akbar Slank di Lampung.

    Hasil rapat di Gang Biru ini akan segera ditindaklanjuti dalam pertemuan teknis berikutnya yang dijadwalkan pada:

    * Hari/Tanggal: Minggu, 11 Januari 2026

    * Waktu: Pukul 13.00 WIB

    * Lokasi: Pasar Tugu (Eks Basecamp Slanker Lampung)

    * Agenda: Pembahasan detail persiapan akhir menjelang konser

    Seluruh anggota BP yang sudah terdata diwajibkan hadir dalam pertemuan tersebut guna sinkronisasi data dan pembagian plot pengamanan di lapangan. Dengan semangat PISS (Peace, Love), Slankers Lampung berkomitmen menjadi tuan rumah yang ramah sekaligus profesional bagi idola mereka.
    Editor : Edi Sriyanto

  • Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 7: Khaja Pati Kesetiaan dan Komitmen Yang Teguh. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 7: Khaja Pati Kesetiaan dan Komitmen Yang Teguh. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pada masa ketika batas kampung masih ditandai sungai dan hutan, hiduplah seorang lelaki bernama Minak Khaja Wira di wilayah Sekala Brak. Ia dipercaya menjaga kesepakatan damai antarmarga. Suatu ketika, kesepakatan itu diuji oleh godaan kekuasaan dan janji keuntungan. Namun Minak Khaja tetap teguh. Ia berkata, “Janji yang diucap adalah nyawa yang dititipkan.” Meski harus kehilangan harta dan pengaruh, ia tidak mengingkari sumpahnya. Sikap itulah yang kemudian dikenang sebagai cerminan nilai Khaja Pati, kesetiaan yang tidak goyah oleh keadaan.

    Hakikat Khaja Pati
    Dalam adat Lampung, Khaja Pati dimaknai sebagai kesetiaan dan keteguhan hati dalam memegang janji, sumpah, serta amanah. Khaja merujuk pada sikap tegak dan lurus, sedangkan pati bermakna mati atau tuntas. Gabungan keduanya melahirkan makna simbolik: kesetiaan sampai akhir, meski harus dibayar dengan pengorbanan.
    Nilai ini menjadi ukuran utama kredibilitas seseorang dalam masyarakat adat. Orang yang Khaja Pati dipandang dapat dipercaya, sementara mereka yang ingkar janji akan kehilangan kehormatan sosial.
    Baik dalam sistem Saibatin maupun Pepadun, prinsip ini menjadi penyangga kepercayaan kolektif.

    Jejak Khaja Pati dalam Naskah Adat.

    Dalam manuskrip adat Lampung seperti Kuntara Raja Niti, terdapat penekanan kuat pada janji dan sumpah. Salah satu petuah adat menyebut:
    “Janji sai diucap, wajib ditepati.” (Janji yang diucapkan wajib dipenuhi.)
    Kutipan ini sederhana, tetapi sarat makna.

    Analisisnya menunjukkan bahwa adat Lampung menempatkan kata sebagai ikatan moral. Ucapan bukan sekadar bunyi, melainkan komitmen yang mengikat diri seseorang dengan masyarakat dan nilai adat. Pelanggaran terhadap janji dipandang sebagai keretakan batin dan sosial.

    Dokumen adat marga-marga tua mencatat bahwa pelanggaran sumpah adat dapat berujung pada sanksi sosial, bahkan pengucilan. Ini menegaskan bahwa Khaja Pati bukan nilai simbolik, melainkan hukum hidup.

    Sejarah Marga dan Sumpah Leluhur.

    Sejarah marga Lampung, seperti Abung Siwo Mego, Tulang Bawang, dan Pesisir Saibatin, sarat dengan kisah sumpah leluhur. Dalam silsilah tua, pembentukan marga sering diawali dengan ikrar bersama untuk menjaga wilayah, adat, dan keturunan.
    Sumpah-sumpah ini diwariskan secara lisan dan dijaga dengan sungguh-sungguh. Analisis sejarah ini menunjukkan bahwa Khaja Pati lahir dari kebutuhan menjaga kepercayaan dalam komunitas yang hidup berdampingan tanpa sistem hukum tertulis modern. Kesetiaan menjadi fondasi stabilitas sosial.

    Legenda tentang Janji yang Diuji.

    Legenda rakyat Lampung mengisahkan seorang pemimpin yang berjanji melindungi rakyatnya. Ketika musuh datang, ia tidak melarikan diri, meski tahu risikonya besar. Ia gugur, tetapi kampungnya selamat. Sejak itu, namanya disebut sebagai simbol Khaja Pati.
    Legenda ini mengajarkan bahwa kesetiaan bukan selalu tentang keberhasilan lahiriah, melainkan keteguhan batin. Analisis legenda menunjukkan bahwa masyarakat Lampung menghormati konsistensi moral lebih tinggi daripada kemenangan sesaat.

    Khaja Pati dalam Ritual Adat.

    Dalam ritual adat Lampung, Khaja Pati tampak jelas pada prosesi sumpah dan ikrar. Dalam pengangkatan pemangku adat atau pemberian gelar, janji diucapkan di hadapan tetua dan masyarakat. Janji tersebut tidak dianggap ringan.
    Setiap kata dalam ikrar memiliki makna simbolik. Pelanggaran terhadapnya bukan hanya mencederai individu, tetapi juga mencoreng kehormatan keluarga dan marga. Analisis ritual ini menunjukkan bahwa Khaja Pati berfungsi sebagai pengikat moral antara individu dan komunitas.

    Dimensi Filosofis dan Spiritual.

    Khaja Pati memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Salah satu petuah adat menyebut: “Pati ni janji, nyawa ni kejujuran.” (Kesetiaan adalah janji, kejujuran adalah nyawa.)
    Makna kutipan ini menempatkan kejujuran sebagai inti kehidupan.
    Analisisnya menunjukkan bahwa adat Lampung memandang keteguhan janji sebagai latihan spiritual untuk menundukkan hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Dengan setia pada komitmen, seseorang menjaga keseimbangan batin.

    Dalam kepercayaan adat, orang yang mengingkari janji diyakini akan kehilangan ketenteraman hidup. Ini bukan ancaman mistis semata, melainkan konsekuensi psikologis dan sosial dari rusaknya kepercayaan.

    Khaja Pati dalam Kehidupan Sehari-hari.

    Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung, Khaja Pati tampak pada kesungguhan menepati kata, baik dalam urusan kecil maupun besar. Janji hadir dalam hajatan, kerja bersama, atau tanggung jawab keluarga dipandang serius.

    Nilai ini mendidik masyarakat agar berhati-hati dalam berbicara. Lebih baik sedikit berjanji tetapi ditepati, daripada banyak berucap tanpa komitmen. Analisis ini menunjukkan bahwa Khaja Pati membentuk karakter yang konsisten dan dapat diandalkan.

    Tantangan Zaman Modern.

    Di era modern, janji sering dianggap fleksibel dan mudah ditawar. Namun dalam konflik sosial dan krisis kepercayaan, nilai Khaja Pati kembali dirindukan.
    Masyarakat adat Lampung masih menjadikan konsistensi sebagai tolok ukur kehormatan.
    Hal ini membuktikan bahwa Khaja Pati tetap relevan sebagai penyeimbang budaya instan. Analisis ini menegaskan bahwa kepercayaan sosial hanya dapat dibangun di atas komitmen yang dijaga.

    Kesetiaan sebagai Tiang Kehidupan.

    Khaja Pati adalah tiang yang menyangga kepercayaan dalam adat Lampung. Tanpanya, kata kehilangan makna dan hubungan kehilangan arah. Nilai ini mengajarkan bahwa kesetiaan bukan beban, melainkan kehormatan. Selama Khaja Pati dijaga, masyarakat Lampung akan tetap berdiri di atas kejujuran, konsistensi, dan komitmen yang teguh.

    Referensi Terverifikasi
    * Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
    * Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung.
    * Manuskrip adat Kuntara Raja Niti, koleksi Museum Lampung.
    * Fachruddin, Irfan. Pi’il Pesenggiri dan Falsafah Hidup Orang Lampung.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Ketika Kejahatan Dinormalisasi oleh Promosi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Ketika Kejahatan Dinormalisasi oleh Promosi. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Bukan hanya kebaikan yang bisa diterima oleh manusia melalui pembiasaan. Kejahatan pun, bila dipromosikan dengan rapi, terus-menerus, dan masif, lambat laun akan terasa wajar.

    Bukan karena ia berubah menjadi benar, tetapi karena hati dan pikiran dipaksa untuk terbiasa.

    Siapa yang sejak awal mengira asap racun bisa diberi rasa apel, mangga, atau mentol, lalu disebut sebagai kenikmatan?

    Namun ketika iklan diputar tanpa henti, kemasan dibuat ramah mata, dan narasi dibungkus dengan gaya hidup, maka otak manusia mulai menerima yang semula ditolak.

    Yang berbahaya tak lagi tampak berbahaya, yang merusak tak lagi terasa mengancam.

    Inilah kekuatan propaganda: ia tidak meyakinkan dengan kebenaran, tetapi dengan pengulangan.

    Sesuatu yang sering dilihat, sering didengar, dan sering dibicarakan akan dianggap normal, meski sejatinya menyimpang.

    Sedikit demi sedikit, standar benar dan salah pun bergeser, bukan karena dalil atau akal sehat, tetapi karena kebiasaan visual dan narasi yang dibentuk.

    Karena itu, menjaga kesadaran menjadi jihad zaman ini. Menolak terbiasa dengan keburukan adalah bentuk keberanian. Tidak semua yang populer layak diterima, dan tidak semua yang masif berarti benar.

    Hati yang hidup akan tetap peka, meski dunia berusaha mematikan rasa dengan kemasan manis dan iklan yang memabukkan. (KIS/143).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Berkat Ijazah Jokowi, Mungkinkah SBY-Megawati Rekonsiliasi? Oleh : Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

    Berkat Ijazah Jokowi, Mungkinkah SBY-Megawati Rekonsiliasi? Oleh : Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

    nataragung.id – Jakarta – Isu yang tak kunjung padam itu adalah dugaan ijazah palsu Jokowi yang mencuat dan menguat sejak Maret 2025. Jokowi adalah panggilan populer Presiden ke-7 Joko Widodo. Isu ijazah palsu sudah memasuki babak penetapan delapan tersangka, termasuk mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo, serta gelombang tuntutan hukum dari berbagai pihak.

    Yang menarik, isu ini tak hanya menyentuh Jokowi dan keluarganya, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, tetapi juga menyeret dua tokoh senior Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri. Keduanya dengan tegas menolak keterlibatan sebagai “dalang” di balik isu yang dianggap bertujuan merusak nama baik Jokowi, sambil mengancam jalur hukum terhadap penyebar fitnah.

    Pertanyaan besarnya, apakah penolakan bersama ini bisa menjadi katalisator rekonsiliasi antara SBY dan Megawati, yang telah bermusuhan sejak Pilpres 2004? Dan bagaimana implikasinya terhadap dinamika oposisi di era pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran?

    Permusuhan dan Isu Ijazah sebagai Titik Balik

    Hubungan SBY-Megawati retak sejak 2004, ketika SBY yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan di kabinet Megawati maju sebagai calon presiden dan mengalahkan mantan atasannya. Megawati menganggapnya sebagai pengkhianatan, sebuah narasi yang bertahan hingga kini. SBY sendiri mengakui kerenggangan ini belum pulih sepenuhnya, meski ia optimis “time will tell.”

    Di sisi lain, Megawati juga merasa dikhianati oleh Jokowi, yang diusung PDIP namun kemudian “berpaling” dengan mendukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024, berujung pada pemecatan Jokowi dari partai.

    SBY sering digambarkan “cemburu” terhadap pencapaian monumental Jokowi selama dua periode, sebuah kontras dengan citra SBY yang dianggap gagal dalam beberapa aspek pembangunan, meski SBY sejatinya punya prioritas program tersendiri yang tidak “apple to apple” jika hanya dilihat dari faktor pembangunan infrastruktur semata.

    Isu ijazah Jokowi, yang kini melibatkan sidang di Pengadilan Negeri Solo dan gelar perkara khusus oleh polisi, menjadi arena baru di mana SBY dan Megawati “dipaksa” bersikap serupa. Keduanya menolak tegas sebagai aktor di balik isu ini, dengan PDIP “pasang badan” untuk Megawati dan Partai Demokrat menyomasi akun TikTok yang menuduh SBY. Pengacara Roy Suryo bahkan menyebut tudingan ini sebagai upaya “playing victim” oleh kubu Jokowi.

    Dari perspektif teori ilmu politik, ini mirip dengan konsep “enemy of my enemy is my friend” dalam realisme politik Hans Morgenthau, di mana aktor politik yang bermusuhan bisa bersatu sementara melawan ancaman bersama, dalam hal ini narasi fitnah yang merusak kredibilitas mereka sebagai tokoh senior.

    Namun, kemungkinan rekonsiliasi sejati tetap rendah. Tidak ada indikasi pertemuan atau dialog baru antara keduanya sejak 2025. Penolakan bersama ini lebih tampak sebagai respons defensif individu daripada langkah strategis.

    Jikapun ada “rujuk”, itu mungkin hanya taktis, yakni SBY dan Megawati sama-sama tidak ingin citra mereka tercoreng oleh isu yang dianggap “gorong-gorong” politik, seperti yang disinggung dalam diskusi publik. Anehnya, SBY justru enggan membahasnya, sementara Megawati fokus pada warisan seperti MK dan KPK.

    Kemungkinan Koalisi Oposisi, Demokrat-PDIP dan Potensi Bergabungnya PKS

    Pertanyaan krusial, apakah kedekatan ini bisa berujung pada koalisi oposisi antara Demokrat dan PDIP melawan koalisi pemerintah (PKB, Golkar, PAN, Gerindra)?

    Di 2026 ini pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan dengan koalisi gemuk, menguasai hampir 80% kursi DPR, sementara oposisi nyaris mati suri. PDIP, di bawah Megawati, memposisikan diri sebagai “penyeimbang” bukan oposisi murni, sebuah sikap ambigu yang disebut “80% koalisi, 20% oposisi.” Partai ini menolak koalisi permanen, tetapi juga tidak sepenuhnya menyerang pemerintah, mungkin karena harapan masuk kabinet atau menghindari konflik dengan Prabowo.

    Demokrat, yang dipimpin anak SBY, Agus Harimurti Yudhoyono, sejak awal mendukung Prabowo dan masuk koalisi pemerintah. Koalisi oposisi Demokrat-PDIP tampak mustahil dalam jangka pendek, karena bertentangan dengan kepentingan Demokrat yang sudah nyaman di pemerintahan.

    Namun, dari teori koalisi (minimal “winning coalition” ), jika PDIP merasa terancam oleh pengaruh Jokowi di balik Prabowo seperti narasi “geng Solo” yang mengendalikan pemerintahan, mereka bisa mencari sekutu seperti Demokrat untuk membentuk blok oposisi minimal yang cukup kuat.

    Ada spekulasi di media sosial bahwa PDIP merapat ke Prabowo justru untuk “menyingkirkan” pengaruh Jokowi, tetapi ini hanya spekulasi belaka, jauh dari fakta.

    Potensi bergabungnya PKS, yang sejak awal mendeklarasikan diri sebagai oposisi, bisa memperkuat blok ini. PKS punya basis ideologis kuat dan pengalaman oposisi di era Jokowi.

    Koalisi PDIP-Demokrat-PKS bisa menjadi “counterweight” terhadap koalisi pemerintah, tetapi tantangannya besarnya adalah perbedaan ideologi (PDIP nasionalis-sekuler vs PKS Islamis) dan ketidakjelasan sikap PDIP yang “bingung” antara oposisi atau koalisi. Tanpa oposisi kuat, demokrasi Indonesia berisiko jadi “demokrasi tanpa oposisi,” yang menurut analis bisa mengerikan bagi tata kelola.

    Nasib Gibran: Tanpa Partai, Bergantung Jokowi, dan Potensi PSI

    Gibran, sebagai wapres tanpa partai, sepenuhnya mengandalkan popularitas dan pengaruh ayahnya, Jokowi. Di 2026, posisinya rentan di tengah isu ijazah yang menyentuh keluarganya. Tanpa fraksi di DPR, ia bergantung pada Prabowo yang juga harus mempertimbangkan suara purnawirawan TNI. Kemungkinan diusung PSI untuk Pilpres 2029 sangat tinggi, karena PSI telah mendeklarasikan dukungan sejak 2023 dan Gibran menghadiri kongres mereka.

    PSI, dengan basis pemuda dan dukungan Jokowi, bisa jadi kendaraan Gibran, tetapi kekuatannya lemah jika tidak berkoalisi: suara PSI di Pemilu 2024 hanya sekitar 3%, jauh dari ambang batas presidensial. Tanpa koalisi dengan partai besar seperti Gerindra atau Golkar, PSI-Gibran berisiko jadi “partai kecil” yang bergantung pada narasi kelanjutan Jokowi, tetapi dihantui isu dinasti dan konflik kepentingan.

    Rekonsiliasi Taktis, Oposisi Lemah, dan Risiko Demokrasi

    Kemungkinan SBY-Megawati bersatu secara substansial rendah, sebab penolakan bersama terhadap isu ijazah lebih merupakan reaksi defensif daripada fondasi rekonsiliasi.

    Koalisi oposisi Demokrat-PDIP-PKS potensial juga tetapi rapuh, dihadapkan pada koalisi gemuk pemerintah yang mendominasi. Gibran, meski didukung PSI, tetap “vulnerable” (rentan) tanpa basis partai kuat.

    Dari kacamata ilmu politik, ini mencerminkan “anomali oposisi” di mana oposisi justru internal (melawan pengaruh Jokowi) daripada eksternal. Tanpa oposisi tajam, Indonesia berisiko ke arah otoritarianisme lunak (soft otoritarianism), sebuah peringatan bagi demokrasi pasca-reformasi.

    Sejujurnya, isu ijazah yang semestinya “trivial”, justru mengungkap kerapuhan elit politik kita.

    Bagaimana menurut Anda?
    (**)

  • Somasi Demokrat: Budhius Piliang Kena, Faizal Assegaf Luput. Oleh: Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

    Somasi Demokrat: Budhius Piliang Kena, Faizal Assegaf Luput. Oleh: Pepih Nugraha // Owner and Founder di Pepnews

    nataragung.id – Jakarta – Kita dipahamkan oleh “kasunyatan” atau realitas bahwa isu ijazah palsu Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meledak sejak 2025 telah menyeret nama-nama besar seperti Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri ke dalam pusaran tuduhan. Ketiganya adalah mantan Presiden RI.

    Puncaknya, Partai Demokrat melalui Badan Hukum dan Pengamanan Partai (BHPP) melayangkan surat somasi kepada Sudiro Wi Budhius M. Piliang, pemilik akun TikTok SWBP, pada akhir Desember 2025.

    Opini yang saya tulis ini berdasarkan fakta media sosial, ketika media massa “meneng bae” terhadap persoalan yang dianggap “ecek-ecek” tetapi sejatinya itulah yang menjadi pusat perhatian publik. Sebelum lanjut membaca, katakanlah ni semacam “disclaimer” bahwa tulisan ini tidak mendelegitimasi siapapun atau persona-persona yang tersebut dalam tulisan ringan ini.

    Lanjut….

    Tuduhan Budhius yang menyebut SBY sebagai “dalang” di balik isu ini dianggap fitnah tanpa dasar, dan somasi ini menuntut penghapusan konten serta permintaan maaf dalam waktu singkat. Kalau tidak salah dalam waktu 3×24 jam, lebih lama dari kewajiban tamu melapor ke Ketua RT yang hanya 1×24 jam.

    Langkah somasi ini menunjukkan keseriusan Demokrat untuk membersihkan nama SBY, yang merasa “terganggu” dan bahkan mempertimbangkan jalur hukum lebih lanjut jika somasi diabaikan. Suatu langkah edukasi yang baik.

    Namun, pertanyaan mendasar muncul; mengapa somasi hanya ditujukan ke Budhius, sementara Faizal Assegaf yang pernyataannya jauh lebih garang, eksplisit dan viral dibiarkan begitu saja? Apakah ini strategi cerdas Demokrat atau justru indikasi kekuatiran, sebutlah “ketakutan” politik?

    Selektivitas yang Dipertanyakan

    Budhius Piliang memang menuduh SBY “tidak bisa bermain bersih” dan menggunakan isu ijazah sebagai strategi politik, melalui unggahan video di TikTok yang menyebar ke platform lain. Namun, tuduhan ini bukan yang paling keras atau viral.

    Faizal Assegaf, pengamat politik yang sering kontroversial, telah berulang kali menyeret SBY dan Megawati ke dalam isu ini sejak November 2025. Dalam acara televisi dan wawancara YouTube, Faizal menyebut keduanya sebagai “aktor besar” di balik kegaduhan ijazah palsu Jokowi, dengan Megawati sebagai “pengguna” dokumen untuk kontestasi politik dan SBY sebagai bagian dari “pusaran” tersebut.

    Pernyataan Faizal ini menyebar luas di media sosial, termasuk Instagram dan TikTok, dengan jutaan views dan repost, jauh melebihi unggahan Budhius yang lebih “niche” dan bahkan terlalu lunak untuk ukuran sebuah siniar (podcast). Bahkan, di X (sebelumnya Twitter), diskusi tentang tuduhan Faizal terhadap SBY sering dikaitkan langsung dengan isu ini, dengan akun tertentu yang menyarankan Faizal juga disomasi agar Budhius bisa “ngeles” bahwa sumbernya dari sana. Maksudnya dari Faizal juga.

    Selektivitas ini menimbulkan pertanyaan, mengapa Demokrat memilih Budhius, yang relatif kurang berpengaruh, sebagai target pertama?

    Satu kemungkinan adalah strategi hukum di mana Budhius dianggap lebih mudah ditangani karena unggahannya berbasis asumsi pribadi tanpa bukti kuat, sementara Faizal sering mengklaim berdasarkan “arsip” dan konteks politik yang lebih kompleks. Sangat mengerikan jika sampai buka-bukaan di ruang pengadilan, bukan?

    Namun, ini bisa juga menandakan soal kekuatiran, bahkan ketakutan. Faizal dikenal sebagai kritikus tajam dengan jaringan luas, dan menyeretnya ke pengadilan berisiko membuka kotak Pandora, apalagi jika Faizal punya bukti atau kontra-tuduhan yang bisa memperburuk citra SBY. Kemungkinan inilah yang dihindari Demokrat.

    Latar belakang politik juga berperan. SBY dan Demokrat bisa jadi menghindari konfrontasi langsung dengan Faizal karena ia sering dikaitkan dengan kelompok oposisi Jokowi, dan isu ini bisa memicu “backlash” dari pendukung Megawati (PDIP) yang juga dituduh.

    Apakah Demokrat menghindari Faizal? Bisa jadi, karena memilih target kecil seperti Budhius terlihat seperti “memukul tikus, tetapi takut mencolek singa”, sebuah taktik yang justru melemahkan kredibilitas klaim bahwa SBY “tidak terlibat sama sekali”.

    Bukan Sekadar Membersihkan Nama

    Latar belakang somasi ini tak lepas dari dinamika politik pasca-Jokowi. Isu ijazah palsu muncul sejak 2025, diduga sebagai serangan balik terhadap Jokowi yang dianggap “mengkhianati” sekutu lama seperti Megawati. SBY, sebagai mantan presiden, sering dikaitkan karena riwayat rivalitasnya dengan Jokowi dan Megawati.

    Demokrat mungkin melihat somasi ini sebagai cara untuk menunjukkan “keseriusan” dan membersihkan nama partai menjelang pemilu mendatang, terutama setelah SBY secara pribadi menyatakan ketergangguannya dalam pertemuan internal. Namun, fakta bahwa Faizal tetap aman menimbulkan spekulasi, apakah ada kesepakatan diam-diam, atau Demokrat khawatir Faizal bisa membongkar rahasia lama?

    Ingat, Faizal pernah menyerukan agar Megawati “diseret ke penjara” jika ijazah terbukti palsu, yang menyiratkan ia punya narasi kuat dan keberanian pol. Ini bukan sekadar hukum, tetapi permainan politik di mana SBY tampak hati-hati agar tak membuka front baru.

    Somasi vs Laporan Polisi

    Apakah langkah Demokrat sudah tepat? Secara hukum, ya karena somasi adalah langkah awal yang sah untuk menghentikan fitnah sebelum ke pengadilan, sesuai UU ITE tentang pencemaran nama baik. Ini menunjukkan SBY “tidak bersalah” dan tidak mau dikaitkan, serta bisa jadi contoh bagi publik untuk tidak sembarang menuduh.

    Namun, langkah ini terasa setengah hati karena selektif, berpotensi dianggap “pilih kasih” dan malah memperkuat tuduhan bahwa SBY punya sesuatu untuk disembunyikan.

    Jokowi, misalnya, saat isu ijazah meledak pada April 2025, langsung melaporkan ke Polda Metro Jaya, menyatakan tuduhan “tidak benar” dan siap membuktikannya di pengadilan. Ia tidak menggunakan somasi, tetapi langsung jalur pidana, yang lebih agresif dan efektif dalam membungkam hoaks. Bahkan, Bareskrim kemudian Polri turun tangan memverifikasi dokumen.

    Jokowi juga blak-blakan mengatakan bahwa pengadilan adalah “forum terbaik” untuk menunjukkan bukti, menghindari spekulasi. Sementara SBY memulainya dengan somasi, yang tentu saja bisa diabaikan oleh pihak yang disomasi, yang justru memancing pensomasi menempuh jalur hukum.

    Jokowi memilih serangan langsung dan menempuh jalan terjal. Hasilnya, isu terhadap Jokowi meredup lebih cepat, sementara bagi SBY, somasi ini justru bisa memicu diskusi baru tentang pertanyaan besar mengapa Faizal lolos dan tak tersentuh.

    Saya pribadi menyebut somasi Demokrat ke Budhius adalah langkah defensif yang tajam, tetapi harus saya katakan “pincang”. Mengapa? Sebab somasi memang mampu membersihkan nama SBY secara parsial, tetapi mengundang pertanyaan lebih besar tentang “kengerian” menghadapi Faizal.

    Dibanding Jokowi yang proaktif, SBY terlihat lebih konservatif. Mungkin lebih bijak, tetapi berisiko membuatnya tampak lunak di mata publik. Jika ingin benar-benar “bersih”, Demokrat harusnya mensomasi Faizal juga. Jika tidak, ini hanyalah teater politik yang memperpanjang drama ijazah palsu.

    Tetapi apapun, somasi sering dianggap sebagai langkah terbaik sebelum masuk ke ranah pidana, semacam edukasi politik yang tepat agar orang tidak asal menuduh. Semua ada konsekuensinya jika tuduhan itu tidak berdasar.

    Tetapi, mungkin Jokowi menganggap isu ijazah palsu yang menghantam dirinya sebagai fitnah (bukan sekadar tuduhan), maka jalur pidanalah yang ditempuhnya. Sementara SBY menganggap Budhius sebagai asumsi, sehingga jalan yang dipilihnya somasi.

    Beda SBY, beda Jokowi. Kita hormati saja langkah permainan mereka berdua yang berbeda di atas papan catur politik Indonesia.

    Hey penonton… kalian jangan ikut-ikutan, ya, nikmati saja!

    NB: Foto Budhius Ma’ruff, diambil dari Google.

  • Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 6: Juluk Adek – Penuntun Perilaku Berdasarkan Status Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 6: Juluk Adek – Penuntun Perilaku Berdasarkan Status Adat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pada suatu pagi di sebuah tiyuh tua di wilayah Pubian, seorang pemuda bernama Radin Surya hampir terlibat perselisihan dengan kerabat jauhnya. Amarah sempat naik, tetapi sebelum kata keras terucap, ia teringat pesan kakeknya: “Ingat julukmu, ingat adekmu.” Ia pun menahan diri dan memilih bertutur lembut sesuai kedudukan lawan bicaranya. Perselisihan pun reda. Sejak itu, kisah Radin Surya sering diceritakan sebagai contoh bagaimana Juluk Adek menjaga keseimbangan hubungan manusia dalam adat Lampung.

    Pengertian Dasar Juluk Adek.

    Dalam tatanan adat Lampung, Juluk Adek adalah pedoman etika yang mengatur cara bersikap, bertutur kata, dan berinteraksi berdasarkan status adat serta hubungan kekerabatan. Juluk merujuk pada sebutan atau panggilan kehormatan, sedangkan adek berkaitan dengan adab atau tata laku yang menyertainya.

    Juluk Adek mengajarkan bahwa setiap hubungan memiliki batas dan kewajaran. Tidak semua orang diperlakukan dengan cara yang sama, bukan karena perbedaan nilai kemanusiaan, melainkan demi menjaga harmoni sosial. Prinsip ini hidup kuat dalam masyarakat Saibatin maupun Pepadun, meski penerapannya menyesuaikan struktur adat masing-masing.

    Jejak Juluk Adek dalam Naskah Adat.

    Dalam manuskrip adat Lampung kuno, seperti Kuntara Raja Niti, terdapat penekanan kuat pada tata tutur dan tata sikap. Salah satu petuah adat menyebut:
    “Juluk sai salah, adek sai patah.” (Sapaan yang keliru memutus adab.)
    Kutipan ini menunjukkan bahwa kesalahan dalam menyebut atau bersikap dapat merusak tatanan hubungan.

    Analisisnya mengungkap bahwa adat Lampung memandang bahasa dan sikap sebagai cermin batin. Juluk Adek berfungsi sebagai pengaman sosial agar interaksi tidak melukai perasaan dan kehormatan pihak lain.

    Dokumen adat dari marga-marga tua menegaskan bahwa pelanggaran Juluk Adek sering kali menjadi sumber konflik kecil yang dapat membesar jika tidak dikendalikan.

    Sejarah Marga dan Tata Kekerabatan.

    Sejarah marga Lampung, seperti Abung Siwo Mego, Tulang Bawang, dan Sekala Brak, menunjukkan bahwa masyarakat dibangun atas jaringan kekerabatan yang luas. Dalam jaringan ini, Juluk Adek berperan sebagai penanda posisi seseorang: apakah ia tua, muda, ipar, atau kerabat jauh.

    Dalam silsilah adat, setiap posisi memiliki cara perlakuan tersendiri. Seorang anak diajarkan sejak dini untuk mengenali juluk kerabatnya.

    Analisis ini menunjukkan bahwa Juluk Adek bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan sistem pendidikan sosial yang diwariskan lintas generasi.

    Legenda tentang Kata yang Dijaga.

    Legenda rakyat Lampung menceritakan seorang tokoh adat yang kehilangan kepercayaan karena tutur katanya kasar kepada orang tua. Sejak itu, ia dijauhi dalam musyawarah. Legenda ini diakhiri dengan pesan bahwa kata-kata yang tidak dijaga dapat meruntuhkan kehormatan lebih cepat daripada perbuatan buruk.

    Legenda ini mengandung makna filosofis bahwa Juluk Adek lahir dari kesadaran kolektif akan kekuatan bahasa. Analisis legenda menunjukkan bahwa masyarakat Lampung sejak lama memahami bahwa keharmonisan sosial bertumpu pada cara berbicara dan bersikap.

    Juluk Adek dalam Ritual Adat.

    Dalam upacara adat, Juluk Adek menjadi pedoman utama. Saat musyawarah, orang muda menunggu giliran bicara dan menggunakan bahasa halus kepada yang lebih tua. Dalam hajatan, sapaan yang tepat menandai penghormatan terhadap tamu dan kerabat.
    Setiap kesalahan sapaan segera dikoreksi dengan halus, bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menjaga keseimbangan. Analisis ritual ini menunjukkan bahwa Juluk Adek berfungsi sebagai mekanisme pengendalian sosial yang lembut, tanpa paksaan atau hukuman keras.

    Dimensi Filosofis dan Spiritual.

    Juluk Adek memiliki dimensi batin yang mendalam. Salah satu petuah adat menyatakan:
    “Adek ni pagar diri.” (Adab adalah pagar diri.)
    Maknanya, adab melindungi manusia dari kesalahan yang merugikan dirinya sendiri. Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa Juluk Adek adalah latihan spiritual untuk mengendalikan ego.
    Dengan mengenali posisi diri, seseorang belajar rendah hati, sabar, dan empati.

    Dalam pandangan adat Lampung, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi cara menjaga keseimbangan hidup. Ketidakseimbangan dalam hubungan diyakini membawa kegelisahan batin dan sosial.

    Juluk Adek dalam Kehidupan Sehari-hari.

    Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lampung, Juluk Adek tampak pada kebiasaan menyapa dengan sebutan yang tepat, menundukkan suara saat berbicara dengan orang tua, dan bersikap melindungi kepada yang lebih muda. Anak-anak dibimbing secara langsung melalui contoh, bukan ceramah panjang.
    Nilai ini membentuk masyarakat yang peka terhadap perasaan orang lain. Analisisnya menunjukkan bahwa Juluk Adek menciptakan ruang aman dalam pergaulan, di mana setiap orang merasa dihormati sesuai kedudukannya.

    Tantangan Zaman Modern.

    Perubahan zaman membawa gaya komunikasi yang lebih bebas dan cepat. Banyak generasi muda mulai melupakan Juluk Adek, terutama dalam interaksi sehari-hari. Namun dalam forum adat dan keluarga besar, nilai ini kembali ditegakkan.
    Hal ini menunjukkan bahwa Juluk Adek tidak usang, melainkan terdesak oleh perubahan. Analisis ini menegaskan bahwa prinsip dasar Juluk Adek tetap relevan sebagai penyeimbang kebebasan modern agar tidak berubah menjadi ketidaksantunan.

    Adab sebagai Penjaga Harmoni.

    Juluk Adek adalah benang halus yang merajut hubungan manusia dalam adat Lampung. Ia tidak tampak mencolok, tetapi tanpanya, tatanan mudah robek. Dengan memahami Juluk Adek, seseorang belajar menempatkan diri, menjaga kata, dan menghormati sesama. Nilai ini adalah warisan tua yang mengajarkan bahwa keharmonisan sosial lahir dari kesadaran akan posisi dan tanggung jawab dalam setiap hubungan.

    Referensi Terverifikasi
    * Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
    * Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat Istiadat Daerah Lampung.
    * Manuskrip adat Kuntara Raja Niti, koleksi Museum Lampung.
    * Fachruddin, Irfan. Falsafah Hidup Orang Lampung.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Perjalanan Panjang Menuju Ketenangan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Perjalanan Panjang Menuju Ketenangan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Dulu, kita tak benar-benar memahami apa arti ketenangan. Hidup berjalan seperti lomba tanpa garis akhir, berpacu dengan waktu yang tak pernah menoleh ke belakang.

    Mimpi-mimpi yang kita lukis di benak terasa begitu menyilaukan, hingga kita lupa bahwa jiwa pun butuh jeda.

    Riuh menjadi bagian dari diri kita; ia terasa indah, akrab, bahkan menenangkan dengan caranya sendiri.

    Ketika riuh itu menghilang sejenak saja, yang tersisa adalah kekosongan yang terasa menyesakkan, seakan ruang-ruang hidup kehilangan denyutnya.

    Namun waktu adalah guru yang sabar. Ia tak mengubah segalanya dalam semalam, melainkan melalui malam-malam panjang dan tahun-tahun yang diam-diam menempa.

    Perlahan, makna itu bergeser. Kita mulai memahami bahwa ketenangan bukan kekosongan, melainkan ruang bernapas. Bukan tanda kalah, tetapi pertanda dewasa.

    Kini, tanpa kita sadari, yang kita cari bukan lagi hingar-bingar yang memacu, melainkan hening yang memeluk.

    Ketenangan menjelma menjadi tujuan yang dirindukan, sebuah keadaan di mana hati bisa pulang, pikiran bisa beristirahat, dan jiwa merasa cukup.

    Kita pun berjalan, bukan lagi untuk mengejar segalanya, tetapi untuk suatu hari nanti berjumpa dengan ketenangan itu, dan menggenggamnya dengan penuh syukur. (KIS/142).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

    Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

    nagaragung.id – Lampung – Istri saya berbisik, “Pa, Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi itu keren dikulik.” Saya pun jadi penasaran. Sepuluh pemuda ala Soekarno saja bisa heboh, ini sampai sejuta pemuda. Agar tak penasaran, nikmati narasinya sambil seruput Sekoteng, kebetulan dah lama tak minumnya.

    Sukabumi itu biasanya identik dengan mochi. Kenyal, manis, dan diam-diam bikin nagih. Tapi belakangan, kota ini punya satu “mochi” lain yang jauh lebih lengket di kepala, Masjid Sejuta Pemuda. Nama resminya Masjid At-Tin, berdiri tenang di Jalan Lamping, Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi. Tenang dari luar, tapi di dalamnya seperti Curug Sawer saat musim hujan. Deras, hidup, dan bikin orang spontan ingin turun ikut basah.

    Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf sekitar 3.000 meter persegi, bangunannya kurang lebih 200 meter persegi, dengan kapasitas sekitar 200 jamaah. Datanya rapi tercatat di Sistem Informasi Masjid Kementerian Agama. Didirikan tahun 2024, tapi embrionya sudah berdenyut sejak 2021, digerakkan oleh Anggy Firmansyah Sulaiman dan barisan pemuda yang tampaknya lelah menunggu perubahan sambil rebahan. Mereka memilih membangun. Pelan, konsisten, dan tanpa banyak ceramah.

    Di kota yang punya Geopark Ciletuh, tempat lempeng bumi pamer lipatan sejarah jutaan tahun, Masjid Sejuta Pemuda seperti lempeng sosial yang bergeser halus tapi berdampak. Ia buka 24 jam. Ya, dua puluh empat jam. Ketika sebagian masjid mengunci pintu rapat-rapat seperti brankas bank, masjid ini justru menyalakan lampu dan berkata, “Masuk saja dulu, urusan taubat belakangan.” Di sini, marbot bukan cuma penjaga sajadah, tapi juga barista. Kopi diseduh gratis. Kalau kafe bisa bikin orang betah berjam-jam tanpa salat, kenapa masjid tak boleh bikin orang betah sambil mendekat kepada Tuhan?

    Masjid ini punya ruang belajar, aula indoor dan outdoor, taman, area kreatif, studio live streaming, dapur umum, hingga ruang istirahat untuk musafir. Ribuan porsi makanan dibagikan setiap bulan. Programnya bukan kaleng-kaleng, Masjid Academy yang mendatangkan pemuda dari berbagai daerah, kampus imam, stadium general, diskusi, kajian, hingga Ramadan yang rasanya seperti all you can eat pahala, iftar bersama, iktikaf nyaman, dan suasana yang bikin orang lupa pulang. Masjid ini tidak sekadar mengundang jamaah, tapi merawat mereka.

    Lucunya, di saat banyak pihak sibuk bertanya, “Kenapa pemuda jauh dari masjid?”, Masjid Sejuta Pemuda justru bertanya balik, “Apa masjid sudah cukup dekat dengan pemuda?” Pertanyaan ini lebih tajam dari ombak Pelabuhan Ratu saat cuaca sedang jujur-jujurnya. Di sini, religius tidak berarti tegang, dan santai tidak berarti sembrono. Salat jalan, adab dijaga, tapi tawa tetap boleh hidup. Karena iman yang sehat bukan iman yang selalu cemberut.

    Nama “Sejuta Pemuda” memang agak gimana ya, tapi Sukabumi juga terbiasa dengan hal-hal besar. Ciletuh saja disebut geopark kelas dunia. Kenapa masjid tak boleh bermimpi sejuta pemuda? Sejuta di sini bukan angka statistik, tapi doa kolektif. Seperti kebun teh Sukabumi yang hijau tak habis dipandang, masjid ini ingin menumbuhkan generasi yang terus berlapis, satu datang, mengajak yang lain.

    Masjid Sejuta Pemuda akhirnya jadi semacam cermin. Ia memantulkan satu pesan yang sederhana tapi menohok, masjid tidak pernah kekurangan pemuda, yang sering kurang hanyalah keberanian pengelolanya untuk berubah. Sukabumi, dengan mochi, curug, laut selatan, dan lempeng purbanya, kini menambah satu ikon baru, masjid yang hidup, lucu, serius, religius, dan bikin kagum. Bukan karena megahnya bangunan, tapi karena beraninya gagasan. Di zaman penuh wacana ini, keberanian semacam itu rasanya lebih langka daripada mochi asli Sukabumi di hari libur.

    Langit pagi menyimpan cerita
    Sedada waktu makna terasa
    Masjid muda cahaya kota
    Pemuda tumbuh makna percaya

    Jalan sunyi lampu bergetar
    Langkah kecil arah tertata
    Kopi pekat malam sabar
    Iman tegak dalam dada

    Foto Ai hanya ilustrasi

    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM