Bulan: Januari 2026

  • NGO (Non-Governmental Organization). Oleh : M. Habib Purnomo *)

    NGO (Non-Governmental Organization). Oleh : M. Habib Purnomo *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Akhir tahun ’80-an hingga era ’90-an adalah era puncak kepemimpinan pemerintahan orde baru dibawah pimpinan presiden Soeharto.

    Hampir sempurna, lawan-lawan dan tokoh nasional yang berseberangan dengan presiden Soeharto berhasil diredam bahkan berbalik menjadi pendukungnya, Jenderal Abdul Haris Nasution seniornya dan mantan ketua MPRS yang melantik Soeharto sebagai Pj presiden tahun 1967 dikucilkan karena mendukung petisi 50, kemudian dirangkul dan diberi hadiah Jenderal bintang lima di istana negara bersama dengan Presiden Soeharto. (Pangkat jenderal biasanya bintang empat).

    Rhoma Irama yang dilarang tampil di satu-satunya TV waktu itu yaitu TVRI kemudian sering tampil bersama mbak Tutut diberbagai daerah sebagai tim kampanye Golkar dst-nya.

    Menyisakan beberapa tokoh yang tetap vokal seperti Gus Dur, Megawati dan Amin Rais.

    Namun disaat seolah tidak ada lawan itu nampaknya ada yang membuat pemerintahan orde baru galau yaitu aktifitas NGO (Non Governmental Organization) alias LSM dan puncaknya diracunnya Munir seorang aktivis NGO.

    Faktanya kemudian Presiden Soeharto mengundurkan diri tahun 1998 atas pressure (tekanan) mahasiswa se Indonesia, setelah sebelumnya pada pemilu 1997 Golkar menang 74,51% yang memuluskan Soeharto terpilih jadi presiden untuk yang ketujuh kalinya.

    Bila kini presiden Prabowo tiba-tiba menyentil aktivitas NGO yang mengkritik pemerintah apa urgensinya, benarkah NGO sekarang ini di biayai asing untuk adu domba bangsa Indonesia, warning (peringatan) ataukah cerita masa lalu atau halu ?

    Makmurnya masyarakat Indonesia, setidaknya sama dengan makmurnya rakyat negara tetangga, itulah harapan masyarakat kepada pemerintah, supaya anak-anak muda tidak berbondong-bondong kerja keluar negeri sebagai buruh migran ( PMI) karena susahnya mencari lowongan kerja (loker) dinegeri-nya sendiri.
    Tabiik…

    *) Penulis adalah : Aktivis PWNU Lampung, tinggal di Bandar Lampung.

  • Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 9: Pi’il Pesenggiri dalam Seni dan Tutur – Cerminan Nilai dalam Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 9: Pi’il Pesenggiri dalam Seni dan Tutur – Cerminan Nilai dalam Budaya. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam khazanah adat Lampung, Pi’il Pesenggiri menempati kedudukan paling luhur sebagai inti harga diri, martabat, dan identitas manusia Lampung. Pada seri kesembilan Petuah Tua ini, pembahasan difokuskan pada bagaimana nilai Pi’il Pesenggiri hidup dan diwariskan melalui seni dan tutur: tarian adat, sastra lisan seperti sebambangan dan pepancahan, serta kain tapis. Seni tidak dipandang sebagai hiburan semata, melainkan sebagai bahasa nilai yang membentuk watak kolektif masyarakat Saibatin dan Pepadun.

    Pada suatu masa di kaki Bukit Barisan, hiduplah seorang gadis penenun bernama Sunti Ratu dari marga Pesisir. Ia dikenal bukan hanya karena kehalusan tapis buatannya, tetapi juga karena tutur katanya yang tertata dan berwibawa. Setiap kali ia berbicara dalam pepancahan adat, orang-orang terdiam, seakan benang emas mengalir dari lidahnya.
    Suatu hari, marga mereka menerima tamu besar dari wilayah Pepadun. Dalam upacara penyambutan, Sunti Ratu diminta menampilkan tarian dan membacakan sebambangan. Ia menari tanpa gerak berlebihan, membaca syair tanpa suara meninggi. Namun justru dari ketertiban itu, para tamu menangkap satu pesan: martabat tidak perlu ditinggikan dengan kesombongan.

    Setelah acara usai, penyimbang tua berkata, “Inilah Pi’il Pesenggiri yang hidup dalam seni. Ia tidak berteriak, tetapi terasa.” Sejak saat itu, kisah Sunti Ratu menjadi cerita turun-temurun tentang bagaimana seni menjadi cermin nilai.

    Istilah Pi’il Pesenggiri telah dikenal sejak masa pembentukan marga-marga Lampung awal. Dalam silsilah tua marga Abung dan Pesisir yang ditulis pada daun lontar dan kulit kayu, Pi’il Pesenggiri disebut sebagai “tulang punggung adat”.
    Salah satu naskah adat mencatat ungkapan Lampung lama: “Pi’il sai di jaga, adat sai di tuha.”
    Secara bebas, kalimat ini berarti bahwa menjaga harga diri adalah cara memuliakan adat.
    Analisis kutipan ini menunjukkan bahwa identitas Lampung tidak dilekatkan pada harta atau kuasa, melainkan pada sikap hidup yang bermartabat.

    Dalam Saibatin, nilai ini tampak dalam tata gerak yang anggun dan terkendali. Dalam Pepadun, ia terlihat dalam keberanian berbicara dengan santun. Perbedaan bentuk tidak mengubah esensi.
    Tarian adat Lampung tidak mengenal gerak yang meledak-ledak. Setiap langkah, ayunan tangan, dan arah pandang mengandung pesan etika. Penari diajarkan untuk menjaga postur tubuh sebagai simbol penjagaan diri.

    Dalam kitab adat lisan disebutkan: “Gerak sai pantang liak, diam sai pantang lupa.” Maknanya, bergerak tanpa kesadaran adalah aib, dan diam tanpa makna adalah kosong. Filosofi ini menegaskan bahwa seni tari adalah latihan batin untuk mengendalikan diri.
    Pi’il Pesenggiri tercermin dalam keseimbangan antara keindahan dan ketertiban. Penari tidak menonjolkan diri, melainkan menyatu dengan irama dan ruang.

    Sebambangan dan pepancahan adalah seni tutur yang berfungsi sebagai media pendidikan moral. Dalam sebambangan, syair-syair disusun untuk menyampaikan maksud dengan halus, tanpa melukai perasaan lawan bicara.
    Terdapat petikan sebambangan tua: “Kata sai halus ngangkat derajat, kata sai kasar nginjak diri.” Analisis mendalam atas kutipan ini menunjukkan kesadaran linguistik masyarakat Lampung bahwa bahasa adalah cermin martabat.
    Pepancahan, yang biasa digunakan dalam musyawarah adat, menuntut penutur untuk jujur sekaligus santun. Keberanian berbicara harus seimbang dengan tanggung jawab moral.

    Kain tapis bukan sekadar busana adat. Setiap motif dan benang emas memuat pesan Pi’il Pesenggiri. Motif yang simetris melambangkan keseimbangan hidup, sementara benang emas melambangkan kemuliaan yang dijaga, bukan dipamerkan.
    Dalam catatan etnografi Lampung abad ke-19, disebutkan bahwa tapis hanya dikenakan pada peristiwa penting sebagai pengingat akan tanggung jawab pemakainya. Secara filosofis, ini menunjukkan bahwa kehormatan datang bersama kewajiban.
    Pi’il Pesenggiri memiliki dimensi spiritual. Menjaga martabat diri dipahami sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan Sang Pencipta. Oleh sebab itu, seni dan tutur menjadi sarana pengendalian batin.
    Ungkapan adat menyebutkan: “Pi’il niyawa, adat ni jiwa.” Artinya, harga diri adalah nyawa, adat adalah jiwa. Analisis kutipan ini memperlihatkan penyatuan antara etika sosial dan spiritualitas.

    Melalui seni dan tutur, Pi’il Pesenggiri diwariskan tanpa paksaan. Ia hidup dalam gerak tari, alunan kata, dan motif kain. Dalam Saibatin dan Pepadun, nilai ini menjadi penanda bahwa masyarakat Lampung menempatkan martabat di atas segalanya.

    Referensi Terverifikasi
    * Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Alumni.
    * Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Seni Tradisional Lampung. Jakarta.
    * Arsip manuskrip adat dan wawancara penyimbang Lampung Abung dan Pesisir (koleksi fisik dan digital lokal).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Taubat dan Syaratnya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Taubat dan Syaratnya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Taubat dalam Islam bukan sekadar ucapan istighfar di lisan, tetapi sebuah proses kembali kepada Allah dengan kesadaran penuh dan tekad yang sungguh-sungguh.

    Salah satu syarat utama taubat adalah al-‘azmu ‘ala tarkil ma‘shiyah, yaitu kemauan yang kuat untuk meninggalkan dosa dan tidak terus-menerus mengulanginya.

    Allah Subḥanahu wata’ala menggambarkan ciri orang-orang bertakwa yang apabila terjatuh dalam dosa, mereka segera kembali kepada-Nya dan tidak larut dalam kesalahan:

    ﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾

    “Dan (juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri, mereka segera mengingat Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak terus-menerus dalam dosa yang mereka lakukan, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)

    Ayat ini menegaskan bahwa taubat sejati ditandai dengan penyesalan, istighfar, dan tidak adanya sikap mengulang dosa dengan sengaja. Adapun seseorang yang beristighfar namun tetap berkeras mengulang maksiat tanpa niat berhenti, maka ia belum memenuhi hakikat taubat yang sesungguhnya.

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa taubat harus berangkat dari hati yang menyesal, karena penyesalan adalah inti dari taubat:

    «النَّدَمُ تَوْبَةٌ

    “Penyesalan itu adalah taubat.” (HR. Ibnu Majah)

    Penyesalan yang benar akan melahirkan tekad untuk berubah. Sebab tidak mungkin seseorang benar-benar menyesal atas dosa, sementara ia tetap nyaman berada di dalamnya.

    Oleh karena itu, para ulama menyebutkan bahwa syarat taubat ada tiga:
    Meninggalkan dosa tersebut,
    Menyesali perbuatan yang telah dilakukan,
    Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa depan.

    Bila dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia, maka ditambah satu syarat lagi, yaitu mengembalikan hak atau meminta maaf.

    Allah Subḥanahu wata’ala Maha Pengampun dan membuka pintu taubat selebar-lebarnya, sebagaimana firman-Nya:

    ﴿قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ﴾

    “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

    Namun rahmat Allah itu harus disambut dengan kesungguhan, bukan dengan sikap meremehkan dosa.

    Taubat adalah janji setia seorang hamba untuk kembali berjalan di jalan Allah, dengan jatuh bangun yang disertai kesungguhan, bukan dengan persistensi dalam maksiat.

    Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang apabila tergelincir segera kembali, dan apabila bertaubat, bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Aamiin. (KIS/145).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Pemprov Lampung Tegaskan Tahun 2026 Sebagai Tahun Pembangunan dan Pelayanan Publik

    Pemprov Lampung Tegaskan Tahun 2026 Sebagai Tahun Pembangunan dan Pelayanan Publik

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya menjadikan tahun 2026 sebagai tahun percepatan pembangunan, pelayanan publik dan kehadiran negara di tengah masyarakat.

    Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan saat bertindak sebagai Inspektur Upacara pada Upacara Bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Lampung Tahun 2026 di Lapangan KORPRI, Komplek Dinas Kantor Gubernur, Bandarlampung, Senin (5/1/2026).

    Sekdaprov Marindo menyampaikan bahwa upacara tersebut memiliki makna istimewa karena merupakan upacara Forkopimda pertama di awal tahun 2026, sekaligus menjadi momentum penanda kesiapan seluruh unsur pimpinan daerah untuk melangkah lebih jauh dalam menjalankan roda pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.

    “Momentum awal tahun ini menjadi penanda kesiapan kita untuk bekerja lebih terarah, lebih solid dan melayani masyarakat dengan lebih sungguh-sungguh,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan tahun fondasi bagi Pemerintah Provinsi Lampung dalam mengemban amanah kepemimpinan.

    Pada tahun tersebut, Pemprov Lampung fokus menata arah pembangunan, memperkuat kolaborasi, serta memastikan seluruh unsur pemerintahan berjalan seiring dan saling menguatkan.

    Memasuki tahun 2026, hasil dari kerja bersama tersebut mulai dirasakan masyarakat dimana pembangunan didorong dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan warga, mulai dari penguatan desa, penggerakan pasar rakyat, peningkatan produktivitas pertanian, hingga perbaikan pelayanan publik agar semakin cepat, mudah, dan berpihak kepada rakyat.

    Salah satu perhatian utama Pemprov Lampung di tahun 2026 adalah pembangunan dan perbaikan infrastruktur jalan.

    Marindo menegaskan bahwa kebijakan pembangunan jalan dilakukan secara lebih terarah, berbasis kepadatan penduduk dan intensitas aktivitas masyarakat, agar setiap rupiah APBD benar-benar memberi dampak nyata.

    “Pendekatan ini kita lakukan agar setiap rupiah uang daerah benar-benar kembali kepada rakyat, berputar di Lampung, dan memberi dampak nyata bagi mobilitas, konektivitas, serta pertumbuhan ekonomi daerah,” tegasnya.

    Sejalan dengan itu, Pemprov Lampung menempatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada pos-pos prioritas, seperti infrastruktur jalan, pendidikan—khususnya pendidikan dan pelatihan vokasi—serta program-program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

    Marindo juga menekankan peran strategis Forkopimda dalam menjaga stabilitas daerah.

    Menurutnya, ketertiban umum, kepastian hukum, dan rasa aman masyarakat merupakan fondasi utama keberhasilan pembangunan.

    “Tanpa sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur pimpinan daerah, pembangunan tidak akan berjalan optimal,” ujarnya.

    Pada kesempatan tersebut, Marindo menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur Forkopimda Provinsi Lampung atas kebersamaan, kekompakan, dan komitmen yang telah terbangun, serta mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat sinergi di tahun 2026.

    Menutup sambutannya, Marindo mengajak seluruh jajaran untuk menjadikan tahun 2026 sebagai tahun percepatan di berbagai sektor.

    “Mari kita jadikan tahun 2026 sebagai tahun percepatan pembangunan, percepatan pelayanan, dan percepatan kehadiran negara di tengah masyarakat,” pungkasnya.(SMh)

  • Resmi 2026, 100 Penyuluh Pertanian Lampung Selatan Kini Beralih ke Kementerian Pertanian

    Resmi 2026, 100 Penyuluh Pertanian Lampung Selatan Kini Beralih ke Kementerian Pertanian

    nataragung.id – Kalianda – Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, menghadiri kegiatan Silaturahmi Penyuluh Pertanian se-Kabupaten Lampung Selatan yang digelar di Aula Rajabasa, Kantor Bupati Lampung Selatan, Senin (5/1/2026).

    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPH-Bun) Kabupaten Lampung Selatan, Mugiyono menyampaikan, terhitung sejak 1 Januari 2026, penyuluh pertanian lapangan (PPL) di Kabupaten Lampung Selatan secara resmi menjadi bagian langsung dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

    Mugiyono, menjelaskan bahwa perubahan status PPL tersebut merupakan kebijakan nasional yang berlaku secara serentak.

    “Jumlah penyuluh pertanian Lampung Selatan yang kini berada di bawah Kementerian Pertanian sebanyak 100 orang, terdiri dari 55 PNS dan 45 PPPK,” ujar Mugiyono.

    Dalam sambutannya, Wakil Bupati M. Syaiful Anwar menyampaikan apresiasi atas dedikasi para penyuluh pertanian, yang selama ini berasal dari Dinas TPH-Bun maupun Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.

    “Penyuluh merupakan pahlawan sunyi di tengah hamparan sawah dan ladang. Mereka adalah ujung tombak yang paling memahami keluh kesah petani hingga pelosok desa, sekaligus agen perubahan yang membangun pola pikir petani menjadi lebih modern, terampil, dan mandiri,” kata Syaiful.

    Ia menegaskan, meskipun status kepegawaian para penyuluh kini beralih ke pemerintah pusat, peran mereka di tengah masyarakat tetap menjadi hal utama yang harus dijaga.

    “Kebijakan ini adalah bagian dari strategi percepatan swasembada pangan. Namun saya berharap perubahan status ini tidak mengurangi kedekatan batin dengan para petani di lapangan,” pesannya.

    Menutup sambutan, Wabup Syaiful mengajak seluruh penyuluh pertanian menyambut amanah baru tersebut dengan optimisme dan semangat pengabdian.

    “Mari kita lepas tugas baru ini dengan senyuman. Semoga Bapak dan Ibu selalu diberi kesehatan, kesuksesan, dan prestasi yang semakin gemilang di bawah naungan Kementerian Pertanian,” ujar Syaiful. (SMh)

  • Buku, Hukum, dan Keteladanan Seorang Pendidik. Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama

    Buku, Hukum, dan Keteladanan Seorang Pendidik. Oleh: Junaidi Ismail, SH | Wartawan Utama

    nataragung.id – Bandar Lampung – PERNAHKAH Anda berjumpa dengan seseorang yang menginspirasi tak hanya lewat pengetahuannya, tetapi juga sikapnya yang begitu mulia dan penuh kasih? Saya merasa beruntung dapat mengenal Nilla Nargis Yohansyah, S.H., M.Hum., seorang pendidik, penulis, dan sosok ibu yang tak hanya dikagumi, tetapi juga disayangi oleh orang-orang di sekitarnya. Melalui buku-buku yang beliau tuliskan, saya semakin yakin bahwa Nilla Nargis adalah contoh nyata dari seorang pemimpin yang tak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga berperan aktif dalam mencapainya.

    Pada acara peringatan Hari Ibu yang digelar oleh Pengda Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Provinsi Lampung di akhir Desember 2025 lalu, saya berkesempatan menerima tiga buku karya beliau. Buku-buku tersebut memberikan saya pandangan yang lebih dalam tentang siapa Nilla Nargis Yohansyah, bukan hanya sebagai seorang dosen, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki kepedulian mendalam terhadap keluarga, masyarakat, dan hukum.

    Salah satu buku yang beliau berikan kepada saya adalah Merawat Hati. Buku ini tidak hanya berbicara tentang pentingnya komunikasi dalam keluarga, tetapi juga bagaimana nilai-nilai spiritual dapat menjadi pondasi untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah. Dalam buku ini, Nilla Nargis menekankan pentingnya ketenangan batin dan cara berkomunikasi yang penuh kasih sayang sebagai cara untuk merawat hubungan keluarga, serta membangun keteguhan hati dengan selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap tindakan kita.
    Sebagai seorang ibu dan istri, Nilla Nargis tidak hanya memberi contoh melalui kata-kata, tetapi juga lewat perilaku sehari-hari. Buku ini menjadi panduan bagi siapa pun yang ingin membangun keharmonisan dalam keluarga, dengan menumbuhkan nilai-nilai luhur yang akan membawa kedamaian batin.

    Buku kedua, Metamorfosis Kemiskinan, diterbitkan pada tahun 2010 dan membahas tentang kemiskinan sebagai masalah sosial yang tak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga kultural. Buku ini menyajikan kemiskinan dalam dimensi yang lebih luas, mengungkapkan penyebab-penyebab mendalam yang melatari fenomena sosial ini, serta dampaknya yang berlarut-larut terhadap struktur sosial masyarakat.

    Menurut Nilla Nargis, kemiskinan bukan hanya sekadar angka atau statistik yang bisa diabaikan, tetapi sebuah masalah yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan masyarakat. Buku ini mengajak kita untuk berpikir lebih kritis dan mencari solusi terhadap masalah kemiskinan, dengan memperkuat nilai-nilai moral dan sosial yang ada dalam masyarakat. Bagaimana pendidikan, ketenagakerjaan, serta kebijakan pemerintah dapat berkolaborasi untuk mengatasi masalah ini, menjadi fokus utama dalam pembahasan.

    Buku ketiga yang saya terima adalah Sendi-Sendi Hukum Acara Perdata, yang ditulis bersama Hj. Marindowati. Buku ini memberikan pemahaman mendalam tentang hukum acara perdata, sebuah cabang hukum yang sangat penting dalam sistem peradilan Indonesia. Dengan menguraikan konsep-konsep dasar seperti gugatan, mediasi, serta proses hukum lainnya, buku ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa hukum, praktisi, serta siapa saja yang tertarik untuk memahami cara kerja hukum perdata dalam praktik.

    Bagi Nilla Nargis, memahami hukum acara perdata bukan hanya soal teori, tetapi tentang bagaimana hukum bisa menjadi alat untuk menegakkan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Proses persidangan yang transparan dan adil adalah langkah awal untuk menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, di mana hak-hak setiap individu dihormati dan dijamin oleh negera.

    Nilla Nargis Yohansyah lahir di Tanjung Karang pada 25 Januari 1957, dan telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia pendidikan. Dengan gelar Sarjana Hukum dari Universitas Lampung dan Magister Hukum dari Universitas Gadjah Mada, beliau memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai dosen di almamaternya, Universitas Lampung.

    Namun, kepakaran beliau tidak hanya terbatas pada dunia akademik. Sebagai seorang ibu dari keluarga H. Yohansyah Zakaria dan Hj. Laila Rachma Aziz, Nilla Nargis juga memberikan teladan dalam kehidupan keluarga. Kepedulian beliau terhadap pendidikan, hukum, dan keluarga menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang seimbang antara profesi dan peran sosialnya.

    Bagi saya, Nilla Nargis Yohansyah adalah sosok yang mencerminkan integritas, kepedulian, dan dedikasi yang tinggi dalam segala bidang yang beliau tekuni. Ketiga bukunya memberikan gambaran jelas tentang bagaimana beliau tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga mengaplikasikannya utuk kebaikan masyarakat luas. Sebagai seorang pendidik, ibu, dan penulis, beliau adalah inspirasi yang patut dijadikan contoh bagi generasi muda untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

    Melalui buku-buku ini, Nilla Nargis Yohansyah membuktikan bahwa seorang pendidik bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai yang dapat membawa perubahan nyata. Sebuah penghargaan yang layak diberikan kpada beliau atas dedikasinya dalam membangun bangsa ini lewat dunia pendidikan, hukum, dan keluarga. (*)

  • TPG 13 dan TPG THR Guru ASN TA 2025 Dipastikan Cair Januari 2026, Ini Penjelasan Resmi Pemkab Lampung Selatan

    TPG 13 dan TPG THR Guru ASN TA 2025 Dipastikan Cair Januari 2026, Ini Penjelasan Resmi Pemkab Lampung Selatan

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan memastikan pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) serta Tambahan Penghasilan Gaji ke-13 dan Tunjangan Hari Raya (THR) atau TPG ke-14 Tahun Anggaran 2025 akan direalisasikan ke rekening guru ASN pada Januari 2026, sekaligus menegaskan tidak ada dana yang hilang atau tidak dibayarkan.

    Kepastian tersebut disampaikan Pemkab Lampung Selatan melalui Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Wahidin Amin, menanggapi pertanyaan dan keresahan guru ASN terkait belum cairnya TPG ke-13 dan TPG ke-14 pada awal tahun 2026.

    Isu pencairan TPG tersebut menjadi sorotan karena sejumlah daerah lain telah lebih dahulu menyalurkan tunjangan profesi guru ke rekening penerima. Kondisi ini memicu pertanyaan di kalangan pendidik mengenai kepastian waktu pembayaran di Kabupaten Lampung Selatan.

    Wahid menjelaskan, keterlambatan pencairan bukan disebabkan oleh kelalaian pemerintah daerah, melainkan karena faktor regulasi di tingkat nasional.

    Dasar hukum pembayaran TPG Gaji ke-13 dan TPG THR (TPG ke-14) Guru ASN Tahun Anggaran 2025 baru ditetapkan melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Republik Indonesia Nomor 372 Tahun 2025 pada 22 Desember 2025.

    KMK Nomor 372 Tahun 2025 mengatur perubahan rincian Dana Alokasi Umum (DAU) Tahun Anggaran 2025 dalam rangka dukungan pendanaan Tunjangan Hari Raya dan Gaji Ketiga Belas bagi Guru Aparatur Sipil Negara di daerah. Kebijakan tersebut berlaku secara nasional dan menjadi acuan seluruh pemerintah daerah di Indonesia.

    Menurut Wahid, penetapan regulasi yang relatif dekat dengan akhir tahun anggaran membuat proses administrasi dan penganggaran tidak memungkinkan untuk diselesaikan sebelum penutupan Tahun Anggaran 2025.

    Selain itu, mekanisme pencairan TPG dilakukan melalui transfer dana dari Rekening Kas Umum Negara (RKUN) ke Rekening Kas Umum Daerah (RKUD).

    “Transfer dana dari pemerintah pusat ke kas daerah baru kami terima pada 30 Desember 2025. Waktu yang tersedia sangat terbatas untuk melakukan proses penyaluran ke rekening masing-masing guru,” ujar Wahid, Senin (5/1/2026).

    Wahid menambahkan, pencairan TPG membutuhkan tahapan rekonsiliasi dan validasi data guru ASN penerima, sehingga secara administratif tidak memungkinkan direalisasikan pada Desember 2025.

    “Saat ini masih dalam tahap rekonsiliasi dan validasi data ASN guru penerima oleh Dinas Pendidikan, yang selanjutnya akan diajukan proses pencairannya,” kata Wahid.

    Pemkab Lampung Selatan menegaskan bahwa TPG ke-13 dan TPG THR merupakan hak guru ASN dan dipastikan tetap dibayarkan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tidak ada dana yang hilang, dialihkan, ataupun tidak dibayarkan.

    Pemkab Lampung Selatan juga mengimbau para guru untuk bersabar dan mengacu pada informasi resmi dari instansi berwenang, serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terkonfirmasi kebenarannya.

    “Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan berkomitmen melaksanakan pengelolaan keuangan daerah secara profesional, transparan, dan akuntabel. Kami pastikan pembayaran TPG Gaji ke-13 dan TPG THR akan direalisasikan pada Januari 2026,” tegas Wahidin. (SMh)

  • Pimpin Apel Perdana 2026, Wabup Syaiful Tegaskan ASN Harus Disiplin dan Berintegritas

    Pimpin Apel Perdana 2026, Wabup Syaiful Tegaskan ASN Harus Disiplin dan Berintegritas

    nataragung.id – Kalianda –  Wakil Bupati (Wabup) Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, memimpin apel mingguan perdana di awal Tahun 2026 yang berlangsung di Lapangan Korpri, Kalianda, Senin (5/1/2026).

    Apel tersebut menjadi momentum awal untuk memperkuat komitmen aparatur sipil negara (ASN) dalam meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat.

    Apel rutin perdana Januari 2026 itu diikuti Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Supriyanto, jajaran pejabat utama, kepala perangkat daerah, pejabat administrator, pejabat fungsional, serta seluruh ASN, baik PNS, PPPK, maupun PPPK Paruh Waktu.

    Menyampaikan amanat Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, Wabup Syaiful Anwar mengajak seluruh peserta apel untuk mensyukuri kesempatan memulai tahun baru dengan semangat pengabdian yang lebih baik.

    “Pada pagi yang cerah ini, di apel perdana awal Tahun 2026, kita masih diberi kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk berdiri di sini, siap melanjutkan pengabdian kepada masyarakat Lampung Selatan,” ujar Syaiful.

    Ia menegaskan, apel mingguan bukan sekadar rutinitas baris-berbaris, melainkan ruang konsolidasi niat dan semangat bersama sebagai pelayan publik.

    “Apel ini adalah titik kumpul niat dan pengingat bahwa kita hadir di pemerintahan bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani,” katanya.

    Menurut Syaiful, awal tahun merupakan momentum strategis untuk memulai perubahan. Ia mengibaratkan tahun 2026 sebagai lembaran baru yang isinya ditentukan oleh cara ASN bekerja sejak hari pertama.

    Ia juga mengapresiasi capaian kinerja selama tahun sebelumnya, namun mengingatkan masih adanya sejumlah hal yang perlu dibenahi.

    “Lampung Selatan tidak membutuhkan ASN yang biasa-biasa saja. Lampung Selatan membutuhkan ASN yang luar biasa. Luar biasa bukan karena jabatan, tetapi karena disiplin, integritas, dan keberanian untuk berubah,” tegasnya.

    Lebih lanjut, Wabup Syaiful menekankan tantangan pemerintahan ke depan yang menuntut pelayanan publik semakin cepat, transparan, adaptif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

    Untuk itu, ia menyampaikan empat penekanan utama yang harus menjadi komitmen bersama seluruh ASN.

    Pertama, memperkuat disiplin dan tanggung jawab dengan hadir tepat waktu, bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi, serta menyelesaikan pekerjaan secara tuntas.

    Kedua, meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan mengedepankan sikap ramah dan empati. “Senyum itu gratis, tetapi dampaknya luar biasa. Layani masyarakat sebagaimana kita ingin dilayani,” ujarnya.

    Ketiga, menjaga integritas dan profesionalisme dengan tidak memberi ruang bagi penyalahgunaan wewenang demi mewujudkan pemerintahan yang bersih dan dipercaya.

    Keempat, membangun sinergi dan kebersamaan antarperangkat daerah sebagai kunci keberhasilan pembangunan.

    Syaiful menyatakan optimisme bahwa Kabupaten Lampung Selatan memiliki sumber daya manusia yang mumpuni untuk menjawab tantangan tersebut.

    “Yang kita butuhkan hari ini adalah satu frekuensi, satu arah, dan satu tujuan. Mari kita buktikan bahwa Lampung Selatan Maju bukan sekadar slogan, tetapi gerakan bersama,” katanya.

    Menutup amanatnya, Wabup Syaiful mengajak seluruh ASN memulai tahun 2026 dengan niat kerja yang tulus dan semangat pengabdian yang konsisten.

    “Jika kita bekerja dengan niat yang benar, cara yang benar, dan semangat kebersamaan, Insyaallah visi Lampung Selatan Maju menuju Indonesia Emas 2045 dapat kita wujudkan bersama,” kata Wabup Syaiful. (SMh)

  • Mengenali Kota Yang Sakit. Catatan lepas Gunawan Handoko *)

    Mengenali Kota Yang Sakit. Catatan lepas Gunawan Handoko *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – MASALAH jalan rusak, kemacetan, transportasi umum kota, hingga mengenali kota yang sakit menjadi topik pembicaraan warga saat menunggu pergantian tahun baru 2026, beberapa hari lalu. Suasana nampak meriah, walau hanya bakar-bakar ikan yang dibeli dari hasil sum-suman warga secara sukarela. Sebagian ada yang bertugas membakar ikan, ada pula yang asyik karaoke, dan sebagian lagi ngobrol kondisi kekinian yang terjadi di kota ini.

    Berawal dari umpatan pakdhe Handoyo yang celana dan sendalnya basah akibat masuk jalan berlobang yang mirip kubangan air. Kebetulan baru saja diguyur hujan, dan jalan yang rusak langsung digenangi air. “Kita seperti warga oposisi, kota ini benar-benar sudah sakit,” gerutunya sambil membersihkan celana yang kotor. Sontak semua tertawa kecil walau nggak tahu apa yang dimaksud dengan kota sedang sakit itu “Banyak masyarakat kita yang belum paham, ciri kota yang sedang sakit itu seperti apa”, ucap Handoyo. Kota yang sedang sakit itu ditandai banyaknya mal, tugu-tugu monumen, patung dan sejenisnya, sementara infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat amburadul, jalan dimana-mana rusak.

    Celotehan pakdhe Handoyo langsung disahut Azwar dengan pertanyaan memancing, bukankah banyaknya mal, tugu-tugu itu menunjukkan bahwa kota itu maju dan modern? Sambil nyeruput kopi pahit, pakdhe Handoyo menjelaskan bahwa kota yang baik dan sehat adalah kota yang bisa menyediakan kebahagiaan bagi warganya, bukan diukur kemajuan teknologinya atau pendapatan perkapita. Pembangunan mal dipastikan telah memangkas ruang publik, sementara masyarakat butuh tempat untuk berkumpul bersama di ruang-ruang publik.

    Kota yang baik harus menghormati harga diri manusia, bahkan di kota-kota maju di luar negeri seperti New York, masyarakat masih bisa berkumpul di ruang-ruang publik seperti diatas trotoar dan taman-taman kota. Obrolan mulai hangat ketika Hermawan yang juga akademisi nimbrung bicara. Menurutnya, pembangunan mal hanya menciptakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin. “Mal telah mencegah orang miskin tidak bisa masuk kedalamnya. Maka, ruang-ruang publik seperti taman-taman kota dan ruang terbuka hijau (RTH) harusnya ditambah, bukan malah diubah fungsinya,” ucap Hermawan. Kota yang baik juga sangat membutuhkan trotoar yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki. Membangun trotoar itu simbol demokrasi, menunjukkan bahwa pemerintah menghargai pejalan kaki. Mereka itu sama pentingnya dengan orang yang mengendarai mobil seharga milyaran.

    Maka trotoar harus terbebas dari pedagang kaki lima, karena itu haknya pejalan kaki. “Lihat tuh di kota Surabaya, tidak ada pedagang kakilima maupun pedagang asongan yang berani berdagang diatas trotoar. Kalau ada yang nekat, dalam hitungan menit sudah pasti digaruk petugas,” ucapnya. Maka harus ada langkah tegas dari pemerintah, jangan ada oknum yang main kucing-kucingan.

    Apa yang diucapkan dosen Hermawan benar, pedagang kaki lima diatas trotoar bukan cuma mengambil haknya pejalan kaki, tapi juga menambah kemacetan, karena banyak kendaraan yang berhenti atau parkir di badan jalan untuk membeli dagangan. Membangun kota tidak melulu harus untuk bisnis dan kendaraan, tapi juga untuk masyarakat dari anak-anak, generasi muda, orang tua bahkan lansia. Maka sebelum berencana menambah bangunan jalan, seperti flyover misalnya, lebih baik tertibkan dulu pedagang diatas trotoar agar tidak ada kendaraan yang parkir di badan jalan. Salah besar kalau mengatasi kemacetan lalulintas dilakukan dengan cara membangun jalan. Teori sederhananya begini, semakin banyak jalan yang dibangun, akan semakin banyak jumlah kendaraan yang mengikutinya. Artinya, kalau kita mau mengundang pengendara sepeda, bangunlah jalur khusus sepeda. Kalau mau mengundang pengendara bermotor, bangunlah jalan tol, jalan layang, atau terowongan. Maka dalam memimpin kota besar, penting untuk memiliki tim yang solid dan berkompeten, serta melibatkan warga dalam proses perencanaan pembangunan.

    Pemimpin kota harus memiliki gagasan yang inovatif dan berorientasi pada masa depan, agar dapat meningkatkan daya saing, baik di tingkat regional maupun nasional. Jangan sampai setiap rencana cuma untuk memenuhi ambisi dan mengikuti selera pribadi pemimpin, tapi harus ada gagasan dan kajian yang matang, baru direalisasikan dalam karya. Sangat berbahaya kalau karya tanpa gagasan dan kajian yang matang, ucap Hendrawan yang langsung ditimpali Zlatan, mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi ternama di Jogja yang sedang libur Nataru. Zlatan berseloroh bahwa menjadi warga kota ini harus kaya. Dirinya nggak habis pikir, mengapa di kota sebesar ini tidak ada angkutan umum transportasi kota.

    Mestinya masalah transportasi umum kota menjadi prioritas utama bagi pemerintah kota sebagai kota besar yang sedang digadang-gadang menjadi kota Metropolitan. Kalau terus-terusan begini, kasihan masyarakat yang kurang mampu, karena harus menggunakan angkutan jasa online yang cukup menguras dompet. Menurutnya, masalah kemacetan di kota ini dari tahun ke tahun semakin meningkat dan sudah mencapai titik tinggi, dampak dari pertumbuhan penduduk yang relatif cepat. Akibatnya bukan hanya kemacetan lalulintas, tapi juga masalah sosial lainnya seperti penurunan kualitas pelayanan publik, berkurangnya ketersediaan lahan pemukiman, kesulitan mendapatkan tempat parkir, membengkaknya tingkat konsumsi energi, penumpukan sampah, bencana banjir, peningkatan angka kriminal dan masalah-masalah sosial lainnya. Di Jogja banyak pilihan transportasi, mulai dari angkutan tradisional sampai modern. Tarifnya juga relatif murah, apalagi untuk mahasiswa dan pelajar, cuma 60 rupiah sekali naik. Ada Trans Jogja, taksi online, ojek, becak dan andong untuk melayani warga kota. Kita tinggal pilih mau kemana sesuai dengan kebutuhannya, ucap Zlatan.

    Yuliansyah yang sejak lama hanya diam, tiba-tiba nyeletuk agar jangan mengkritik pemerintah terus. Menurut ketua RT ini, menjadi warga harus menghormati pemimpin yang diatas, nggak boleh benci. Sikap ketua RT langsung ditanggapi Zlatan dengan santun. “Kita jangan gagal paham pak RT, seolah kalau mengkritisi kebijakan pemerintah lantas dianggap atau di cap tidak cinta kepada pemimpin, benci kepada pemerintah dan negara. Itu cara pandang yang keliru, karena negara dan pemerintah itu berbeda, ucap Zlatan sambil menjelaskan bahwa pemerintah itu pengelolanya, dan negara adalah yang dikelolanya. Kalau negara itu kita ibaratkan pesawat terbang, maka pemerintah adalah pilot dan segenap crew dalam pesawat terbang itu. Kalau negara diibaratkan mobil, maka pemerintah adalah sopir dan kondekturnya dari mobil itu. Kalau negara itu kita ibaratkan kereta, maka pemerintah adalah masinis dan segenap crew dari kereta itu. Jadi, hal yang wajar kalau kita mengingatkan pilot, sopir, masinis dan segenap crew yang bertugas itu supaya hati-hati, tidak ngantuk, dan konsentrasi ketika sedang menjalankan tugasnya demi keamanan kendaraannya dan keselamatan seluruh penumpangnya. Yang membayar dan menggaji mereka itu kan kita-kita ini sebagai penumpang, dengan uang dari tiket yang kita beli, iya kan? Maka wajar kalau kita mengkritisi, minta kepada pemerintah supaya bekerja secara maksimal dalam menjalankan tugasnya mengelola negara ini. Jangan sampai karena salah kelola, lalu nanti setelah pergi meninggalkan beban hutang disana sini, yang pada akhirnya rakyat juga yang harus menanggung semuanya. Jadi kalau ada rakyat mengkritisi dan memberi saran kepada pemerintah, , itu artinya masih cinta kepada negaranya dan menginginkan yang terbaik dalam pengelolaannya. “Harap di ingat pak RT, bahwa rakyat adalah pemilik sah atas negara yang kita cintai ini, ucap Zlatan seraya menambahkan bahwa sekarang ini masyarakat masih dihadapkan oleh persoalan yang mendasar, terutama masalah banjir yang selalu datang setiap musim hujan dan belum terlihat ada langkah konkrit pemerintah untuk mengakhiri bencana banjir ini.

    Obrolan dihentikan oleh pakdhe Handoyo karena waktu sudah pukul 11 malam. “Kita makan dulu, keburu ikan bakarnya dingin”, ajaknya dan disambut semua warga yang hadir dengan menyerbu hidangan diatas meja. ***

    *) Penulis Adalah : Pengamat kebijakan publik dari PUSKAP (Pusat Pengkajian Etika Politik dan Pemerintahan) Provinsi Lampung.

  • Kembali nataragung.id Akan Terbitkan Kumpulan Buku Khutbah Jum’at Praktis, Singkat dan Padat

    Kembali nataragung.id Akan Terbitkan Kumpulan Buku Khutbah Jum’at Praktis, Singkat dan Padat

    nataragung.id – Pemanggilan – Setelah beberapa waktu lalu PT Natar Agung Media yang menaungi website nataragung.id dan Majalah Natar Agung (versi cetak) menerbitkan buku yang berjudul ; Dari Natar Agung ke Bandar Lampung Berlabuh di Bandar Negara yang merupakan Kronologi pembentukan Kabupaten Bandar Negara, kemudian dilanjut dengan mencetak Buku Handak – II ; mengenal adat Lampung Pubian. Serta ada 2 buku lainnya yang siap cetak yaitu ; Sejarah Asal-usul Marga Pubian Bukkuk Jadi di Lampung dan Sumpah Uppu-Tuyuk Pubian Bukkuk Jadi – Buay Beliuk (kedua buku tersebut belum dicetak karena saat ini sedang proses persetujuan dari tokoh-tokoh adat Pubian Bukkuk Jadi).

    Dalam rangka menghadapi Bulan Ramadhan 1447 H (2026) PT Natar Agung Media kembali akan menerbitkan buku yang berjudul Kumpulan Khutbah Jum’at ; Praktis, Singkat dan Padat yang khusus diperuntukkan bagi petugas pembaca khutbah di masjid-masjid atau warga umum yang berkeinginan menambah pengetahuan bidang keagamaan.

    Menurut Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc., penulis buku, diterbitkannya buku tersebut dalam upaya memberikan kemudahan bagi petugas pembaca khutbah dalam menyajikan materi khutbah yang praktis, singkat dan padat.

    Uskom (panggilan Ustadz Komiruddin) mengatakan, buku kumpulan khutbah yang ditulisnya disajikan sesuai kondisi masyarakat saat ini. Selain ada tulisan Arab, juga disertakan tulisan latin berikut artinya, guna memberi kemudahan bagi petugas pembaca khutbah. “Kumpulan buku Khutbah, kami sajikan semaksimal mungkin, praktis, singkat dan padat,” ucap Uskom di kediamannya kawasan Tabek Indah, Pemanggilan – Natar kemarin.

    Anggota DPRD Lampung Selatan periode 2004-2009 dan 2009-2014 ini menguraikan bahwa buku akan terbit dengan 178 halaman berisi 30 materi khutbah, dengan rincian 28 materi Khutbah Jum’at, 1 materi Khutbah Idul Fitri dan 1 materi Khutbah Idul Adha dilengkapi dengan materi khutbah ke-2 baik untuk sholat Jum’at maupun khutbah ke-2 untuk Idul Fitri dan Idul Adha.

    Lebih lanjut Uskom mengatakan, materi khutbah Jum’at disusun dengan memperhatikan kegiatan atau peringatan hari besar Islam atau hari besar nasional seperti peringatan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, menjelang Ramadhan, pelaksana Ramadhan, tahun baru Hijriah, hari Kemerdekaan RI, Hari Santri Nasional dan Hari Pahlawan. “Materi Khutbah Jum’at memang kita sajikan dengan menyesuaikan kondisi PHBI pada bulan-bulan yang ada, sehingga bagi para ustadz pembaca khutbah tidak bingung mencari materi khutbah dalam momen PHBI dan hari besar nasional” tegas Uskom

    Sementara itu H. SyahidanMh, S.Ag., pemimpin redaksi nataragung.id yang merupakan penyusun buku kumpulan khutbah menjelaskan, bahwa materi-materi khutbah adalah tulisan dari Uskom yang secara rutin di publikasikan di website nataragung.id. “Materi khutbah secara rutin kami upload pada setiap hari Kamis untuk di pergunakan bagi siapa saja yang ingin membaca khutbah pada hari Jum’at,” ucap Syahidan.

    Dalam perjalanannya ternyata banyak masukan agar materi-materi khutbah tersebut di buku-kan agar bermanfaat bagi siapapun yang akan mempergunakannya. “Alhamdulillah keinginan dari para pembaca kami wujudkan,” kata Syahidan.

    Ia juga menyampaikan bahwa buku kumpulan khutbah ini akan diberikan secara gratis kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang membutuhkan. “Mudah-mudah buku ini akan menjadi amal jariyah baik bagi penulis maupun para Muhsinin yang telah menginfaqkan sebagian rizkinya untuk biaya cetak buku,” jelas SyahidanMh, seraya menambahkan bahwa buku lainnya yaitu Sejarah Pemekaran Bandar Negara, Sejarah Asal-usul Marga Pubian Bukkuk Jadi serta Sumpah Uppu-Tuyuk Marga Pubian Bukkuk Jadi dan Buay Beliyuk juga berawal dari tulisan yang secara rutin di upload pada portal berita nataragung.id sehingga berwujud buku yang diterbitkan atau di cetak seperti saat ini. (**)

    Biodata Penulis kumpula khutbah Jum’at.
    ____
    Komiruddin Imron lahir di desa Batang Hari Ogan, tanggal 4 Juli 1967, sebuah desa di kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Lampung.

    Menghabiskan masa remajanya di Pesantren Darussalam, desa Banjar Negeri, kecamatan Natar.

    Dari kecil sudah hobi membaca buku buku Islam terutama cerita cerita nabi dan kepahlawanan para sahabat Nabi SAW.

    Setelah menamatkan aliyah di pesantren tersebut tahun 1986 ia mendapatkan beasiswa untuk studi di Universitas Islam Muhammad ibnu Sa’ud, Jakarta, salah satu cabang universitas yang ada di Saudi Arabia, yang lebih dikenal dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Dan Arab (LIPIA).

    Lulus dari LIPIA tahun 1992 dan langsung mengabdikan diri di PPM Daarul Hikmah Lampung sampai tahun 2017.

    Pernah menjadi anggota DPRD Lampung Selatan priode 2004 – 2009 dan 2009 – 2014.

    Pernah bekerja sebagai Dewan Pengawas Syariah di BPRS Kotabumi Lampung Utara tahun 2019 – 2023.

    Aktif di organisasi sosial di GMI dan DDII

    Istri : Fajar Andriyani

    Anak anak : Asma Nida UlHaqq (Alumni Al Azhar, Cairo, Mesir), Athiyyah Al Habibah ( Alumni UPI, Bandung), Ikrimah Al Basil (Alumni UNJ,Jakarta), Thoriq Al Muntashir (Mahasiswa Universitas Darmajaya, Bandarlampung) dan Qutaibah Al Muharrir (Mahasiswa UNJ, Jakarta)

    Aktivitas sehari harinya sebagai da’I di berbagai kegiatan Islam, konsultan syariah, dan tutor pada pelatihan syari’ah.

    Buku-buku yang ditulis : Aqidah Seorang Muslim (1991), Paket Khusus Para Da’I (1992), Satu Menit Saja ( Juni 2015), Mari Bercermin (Oktober 2015), Ayahku Murabbiku (Januari 2016), Mata air Kebaikan (April 2016), Semua Dipergilirkan (Januari 2017), 30 Nasihat Ramadhan (April 2017), Semua Ada Jalan (Desember 2017), Jiwa-jiwa Merdeka (Juni 2018), Agar Bahtera Terus Berlayar (Desember 2018), Jalan Panjang Dakwah (September 2019), Melawan Kezaliman (April 2020)

    Alamat : Jl Kartini, Dusun Serbajadi, desa Pemanggilan, Kecamatan Natar. Lampung Selatan. (**).

    Editor : Mamad Rahmat (mara)