Bulan: Januari 2026

  • Menakar Resolusi dan Adab Diawal Tahun. Oleh: Edi Sriyanto *)

    Menakar Resolusi dan Adab Diawal Tahun. Oleh: Edi Sriyanto *)

    nataragung.id – Sidomulyo – Tepat di hari pertama tahun 2026, alam seolah enggan menyuguhkan kemeriahan yang semu. Tak ada terik matahari yang optimis menyambut pergantian angka di kalender.

    Sebaliknya, tepat pukul 12.00 siang tadi, langit justru memilih warna abu-abu pekat, dan kini menjelang pukul 13.00 WIB, mendung semakin bergelayut rendah, seolah sedang memanggul beban yang sangat berat.

    Di sebuah sudut ruas jalan, pemandangan tak biasa hadir menjadi saksi bisu. Air parit tak lagi setia pada jalurnya; ia meluap, menyeberangi aspal, menciptakan aliran yang memaksa setiap pelintas untuk sejenak menunda langkah dan merenung.

    Ada ironi yang manis sekaligus getir di sini. Di tengah hari yang seharusnya membakar aspal, luapan air itu justru menjadi “oase” dadakan. Ia memberikan thermal comfort, sebuah kesejukan mikro yang mendinginkan suhu jalanan dan memaksa debu-debu untuk tunduk melekat pada bumi.

    Inilah isyarat paling sunyi dari alam di awal tahun: kita sering kali mendapatkan kenyamanan dari sebuah malfungsi. Kita menikmati sejuknya jalanan justru dari mampetnya drainase.

    Sebuah pengingat bahwa di balik kenyamanan yang kita rasakan, mungkin ada sistem yang sedang “batuk” karena kelalaian kolektif kita dalam merawat urat nadi lingkungan. Alam sedang menunjukkan wajah aslinya, memberikan manfaat sesaat sebagai bentuk “protes” atas jalur yang tersumbat.

    Bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan di awal tahun ini, aliran air yang menyeberang jalan adalah sebuah “madrasah” dadakan. Di sinilah letak ujian prinsip yang sesungguhnya. Jalan yang basah bukan sekadar hambatan teknis, melainkan garis pemisah antara ego dan empati.

    Saat seorang pengendara memilih untuk melambatkan lajunya agar cipratan air kotor itu tidak menghantam teras rumah warga atau pakaian pejalan kaki, di situlah sebuah “resolusi” nyata sedang dipraktikkan.

    Bukan resolusi lisan yang mengawang-awang, melainkan laku nyata untuk menjadi manusia yang lebih peka terhadap ruang publik. Di atas aspal yang basah ini, adab kita dipertaruhkan: apakah kita akan melintas sebagai pembawa ketenangan, atau sebagai penebar kesulitan bagi orang lain?

    Kini, mendung semakin pekat mengurung cakrawala. Kita tahu, air yang menyeberang ini hanyalah pembukaan. Jika parit tetap dibiarkan tersumbat oleh abainya kepedulian, maka genangan ini akan menjadi titik rapuh bagi ketahanan infrastruktur kita di masa depan. Kesejukan siang ini hanyalah “pinjaman” yang harus dibayar mahal dengan kerusakan jalan jika kita tetap berdiam diri.

    Januari 2026 dimulai dengan sebuah pesan: bahwa kebaikan sering kali dimulai dari hal-hal kecil di bawah kaki kita. Jangan sampai kita terlalu sibuk menatap langit untuk mencari keberuntungan, hingga lupa melihat air yang merayap di jalanan, yang sedang berteriak meminta perhatian dan sentuhan tangan-tangan yang peduli.
    Tabik….

    *) Penulis Adalah : Aktivis PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Sidomulyo – Lampung Selatan

  • Awali 2026 di Tanjung Bintang, Bupati Egi Buka Ruang Aspirasi dan Soroti Data Bansos

    Awali 2026 di Tanjung Bintang, Bupati Egi Buka Ruang Aspirasi dan Soroti Data Bansos

    nataragung.id – Tanjung Bintang – Mengawali aktivitas pemerintahan di awal tahun 2026, Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, melakukan kunjungan kerja sekaligus silaturahmi bersama masyarakat melalui kegiatan Lomba Menangkap Ikan, Kamis (1/1/2026).

    Kegiatan tersebut digelar di kediaman salah seorang Relawan OK GAS, Bapak Untung, di Desa Jati Indah, Kecamatan Tanjung Bintang. Agenda ini menjadi kegiatan perdana Bupati Egi di tahun 2026 sekaligus ajang hiburan rakyat yang dikemas dalam suasana akrab dan partisipatif.

    Dalam kegiatan tersebut, Bupati Egi didampingi Ketua BPH Yayasan Battuta Bangun Negeri Universitas Indonesia Mandiri (UIM), sejumlah anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, kepala perangkat daerah, camat, serta unsur Forkopimcam Tanjung Bintang.

    Pada kesempatan itu, Bupati Egi menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru 2026 kepada seluruh warga yang hadir. Ia mengaku bahagia dapat mengawali tahun baru dengan bersilaturahmi langsung bersama masyarakat.

    “Saya mengucapkan selamat Tahun Baru 2026. Semoga seluruh harapan dan aspirasi kita bisa terwujud. Ini adalah agenda pertama saya di tahun 2026. Begitu bangun pagi, saya langsung ke sini sebagai bentuk kebahagiaan dan apresiasi saya bisa bersilaturahmi dengan Bapak Ibu semua,” ujar Bupati Egi.

    Selain bersilaturahmi, Bupati Egi juga membuka ruang dialog bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan harapan di tahun yang baru. Sejumlah warga menyampaikan doa agar diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, serta kemudahan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

    Suasana diskusi kemudian menghangat saat salah satu perwakilan RT menyampaikan usulan terkait perlunya revisi dan verifikasi ulang data penerima bantuan sosial (bansos). Ia berharap pendataan dapat diperbaiki agar bantuan benar-benar diterima oleh warga yang berhak.

    Menanggapi hal tersebut, Bupati Egi menegaskan bahwa pengawasan penyaluran bansos merupakan tanggung jawab bersama. Ia menginstruksikan camat hingga kepala desa untuk terjun langsung ke lapangan memastikan validitas data penerima bantuan.

    “Saya minta bantuan harus tepat sasaran. Jangan sampai ada praktik nepotisme, mentang-mentang saudara lalu didahulukan. Harus adil dan merata sesuai visi dan misi saya. Dari sisi kebijakan saya pastikan tepat sasaran, namun jajaran di bawah juga harus merealisasikannya dengan jujur,” tegasnya.

    Silaturahmi yang dikemas dalam lomba menangkap ikan ini tidak hanya menjadi hiburan rakyat, tetapi juga menjadi ruang terbuka antara pemerintah dan masyarakat untuk memastikan program-program berjalan sesuai kebutuhan warga.

    Komitmen Bupati Egi dalam menyerap aspirasi dan mengawal ketepatan program sosial sejak hari pertama tahun 2026 dinilai sebagai sinyal positif bagi pembangunan dan tata kelola pemerintahan di Kabupaten Lampung Selatan ke depan. (SMh)

  • Muhasabah Akhir dan Awal Tahun

    Muhasabah Akhir dan Awal Tahun

    nataragung.id – Pemanggilan – Satu tahun telah berlalu, membawa serta cerita, air mata, tawa, dan pelajaran. Tahun yang pergi tak mungkin kita panggil kembali, sebagaimana waktu tak pernah sudi menoleh ke belakang.

    Lalu datanglah tahun yang baru, membuka lembaran kosong yang menanti untuk ditulisi dengan langkah dan pilihan hidup kita.

    Di antara tahun yang telah lewat dan tahun yang akan datang, kehidupan terus berjalan tanpa henti. Hari demi hari bergulir, mengajarkan kepada kita satu hakikat penting: bahwa manusia tidak diberi kuasa untuk menghentikan waktu, tetapi diberi amanah untuk memperbaiki arah langkah.

    Masa lalu bukan untuk diratapi tanpa akhir, melainkan untuk dijadikan cermin agar kesalahan tak terulang dan kebaikan dapat ditingkatkan.

    Penyesalan yang berlebihan hanya akan melemahkan jiwa. Namun muhasabah yang jujur akan melahirkan tekad baru. Apa yang terlewat biarlah menjadi pelajaran, dan apa yang akan datang kita sambut dengan kesungguhan.

    Sebab Allah membuka pintu harapan selama hayat masih dikandung badan, dan selama itu pula kesempatan untuk berubah masih terbentang luas.

    Maka mari kita songsong hari esok dengan ikhtiar yang lebih baik, doa yang lebih khusyuk, dan hati yang lebih lapang.

    Jangan terikat oleh luka masa lalu, tetapi jadikan ia pijakan untuk melompat lebih tinggi. Siapa tahu, di balik kesabaran dan kesungguhan hari ini, Allah telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah di masa depan. (KIS).
    #Goresan pena ; Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc. 31/12/25. Pukul 22.03 WIB

    #Lailuka_said

  • 1 Januari 2026, Tahun Baru yang Dimulai dengan Bakwan, Berikut Tips Buat Bakwan Gurih dan Nikmat

    1 Januari 2026, Tahun Baru yang Dimulai dengan Bakwan, Berikut Tips Buat Bakwan Gurih dan Nikmat

    nataragung.id, Artikel — Hari ini, Kamis 1 Januari 2026. Pagi datang seperti biasa, tanpa dentuman petasan atau euforia berlebihan. Saya bangun seperti hari-hari biasa. Tidak ada perasaan istimewa yang berlebihan, hanya kesadaran bahwa waktu terus berjalan.

    Setelah itu, bersiap menuju Masjid Abdullah Husein untuk menunaikan shalat Subuh. Meski harus menerima kenyataan ketinggalan satu rakaat pertama, rasa syukur tetap menyertai. Tahun baru tidak selalu harus sempurna untuk bisa dimulai dengan baik.

    Usai Subuh, rumah terasa sunyi dan hangat. Libur awal tahun memberi hadiah yang jarang kita sadari: waktu. Tidak ada kejaran jadwal, tidak ada dering ponsel yang memaksa. Di waktu lengang itulah, pikiran justru kembali ke hal-hal paling sederhana.

    Memasak di dapur.

    Mengawali 2026, saya tidak menyusun target besar atau resolusi panjang. Saya memilih membuat bakwan. Gorengan sederhana yang sejak kecil sudah menjadi teman setia.

    Bakwan adalah makanan favorit saya sejak kecil. Bukan karena mewah, tapi justru karena ia murah, mudah, dan selalu ada. Di masa kecil, bakwan sering menjadi pengganjal lapar, teman nasi, atau sekadar camilan sore yang dinanti. Rasanya gurih, teksturnya renyah, dan yang paling penting: ia dibuat dengan tangan sendiri, dari dapur rumah sendiri.

    Membuat bakwan adalah proses yang jujur. Memotong kol dan wortel, mencampur tepung, menghaluskan bawang putih, bawang merah dan ketumbar. Tidak perlu alat canggih, tidak perlu bahan mahal. Cukup niat dan kesabaran.

    Ketika minyak mulai panas dan adonan dituangkan ke wajan, suara desisnya seperti musik pagi. Perlahan berubah warna, dari pucat menjadi kuning keemasan. Di momen itu, saya sadar: kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang ia hadir dari wajan kecil dan dapur sederhana.

    Bakwan pagi itu lalu ditemani dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana, namun sarat makna: air tajin.

    CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 90

    Air tajin adalah air dari rebusan beras. Ketika beras dimasak, airnya dibayangkan—diambil perlahan—hingga warnanya putih seperti susu. Lalu ditambahkan sedikit gula agar terasa manis. Sederhana sekali.

    Di masa kecil, air tajin bukan pilihan gaya hidup sehat. Ia adalah keterpaksaan. Waktu itu, susu bukan sesuatu yang mudah dibeli. Maka air tajin menjadi pengganti. Bukan karena ingin, tapi karena memang hanya itu yang ada.

    Namun justru dari air tajin itulah, tubuh tumbuh dan hari-hari terus berjalan.

    Kini, di 1 Januari 2026, segelas air tajin terasa jauh lebih mahal daripada susu mana pun. Ia bukan sekadar minuman, tapi pengingat. Tentang masa kecil yang sederhana. Tentang orang tua yang berjuang diam-diam. Tentang hidup yang keras, tapi tetap memberi jalan.

    Bagi yang ingin mencoba memulai tahun dengan kesederhanaan yang jujur, berikut tips membuat bakwan rumahan:

    Tips Membuat Bakwan Renyah dan Bersahaja:

    1. Gunakan sayuran segar seperti kol, wortel, dan daun bawang.
    2. Campurkan tepung terigu dengan sedikit tepung beras agar lebih renyah.
    3. Tambahkan tumbukan bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan sedikit merica untuk aroma yang dalam.
    4. Gunakan air secukupnya agar adonan tidak terlalu encer.
    5. Goreng dengan minyak panas dan api sedang hingga keemasan.

    Dan jika ingin mengenang kesederhanaan masa kecil, cobalah segelas air tajin hangat—putih, manis tipis, dan jujur.

    Tahun baru tidak selalu harus dimulai dengan kemewahan. Kadang, cukup dengan Subuh yang nyaris sempurna, bakwan hangat di pagi hari, dan segelas air tajin yang mengingatkan bahwa kita pernah tumbuh dari keterbatasan.

    Dari sana, kita belajar satu hal penting:
    hidup boleh sederhana, asal dijalani dengan syukur.

    Editor  : Muhammad Arya

  • Lampung Selatan Menguat sebagai Magnet Investasi, Kepemimpinan Egi–Syaiful Dinilai Ramah Dunia Usaha

    Lampung Selatan Menguat sebagai Magnet Investasi, Kepemimpinan Egi–Syaiful Dinilai Ramah Dunia Usaha

    nataragung.id, Lampung Selatan – Kabupaten Lampung Selatan terus menunjukkan akselerasi sebagai daerah tujuan investasi yang menjanjikan di Provinsi Lampung. Di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama dan Wakil Bupati M. Syaiful Anwar, pemerintah daerah dinilai berhasil membangun iklim usaha yang kondusif, ramah investor, serta berorientasi pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Transformasi tata kelola pemerintahan menjadi salah satu kunci utama. Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan secara konsisten melakukan penyederhanaan birokrasi perizinan, memperkuat kepastian regulasi, serta mengoptimalkan pelayanan berbasis digital guna memangkas waktu dan biaya bagi pelaku usaha. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan dunia usaha sekaligus menciptakan kepastian hukum dalam berinvestasi.

    Selain reformasi perizinan, penguatan infrastruktur dan konektivitas wilayah juga menjadi fokus utama. Posisi strategis Lampung Selatan sebagai gerbang Pulau Sumatera dimaksimalkan untuk mendukung sektor industri, logistik, perdagangan, pariwisata, hingga pengembangan UMKM. Pemerintah daerah membuka ruang sinergi seluas-luasnya dengan pihak swasta untuk mendorong pertumbuhan sektor-sektor produktif tersebut.

    Ketua Forum CSR Kabupaten Lampung Selatan, Akbar Bintang P, S.IP, menilai kepemimpinan Egi–Syaiful mencerminkan paradigma baru pembangunan daerah yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga keberlanjutan dan dampak sosial.

    “Pemerintah daerah sangat terbuka terhadap kolaborasi dengan dunia usaha, terutama dalam pelaksanaan program CSR yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa Lampung Selatan dikelola dengan pendekatan inklusif,” ujarnya.

    Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Forum CSR Kabupaten Lampung Selatan, Sunano, S.E., M.M. Menurutnya, stabilitas kebijakan serta kemudahan koordinasi lintas sektor membuat dunia usaha merasa aman dan nyaman dalam menanamkan modalnya.

    “Iklim usaha saat ini jauh lebih kondusif. Proses perizinan berjalan cepat dan transparan, komunikasi dengan pemerintah daerah terbuka, serta pelaku usaha merasa dilibatkan sebagai mitra strategis pembangunan,” katanya.

    Lebih jauh, pemerintah daerah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal agar sejalan dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, investasi yang masuk tidak hanya berdampak pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Dengan kepemimpinan yang progresif, adaptif, dan berorientasi hasil, Lampung Selatan kian mengukuhkan posisinya sebagai destinasi investasi yang kompetitif dan berdaya saing tinggi. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diyakini akan menjadi fondasi kuat bagi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan dan inklusif.

    Editor  : Muhammad Arya

  • Tanpa Kembang Api, Pergantian Tahun di BHC Diisi Doa Lintas Agama dan Optimisme Lampung 2026

    Tanpa Kembang Api, Pergantian Tahun di BHC Diisi Doa Lintas Agama dan Optimisme Lampung 2026

    nataragung.id – Bakauheni – Pergantian tahun baru di kawasan Siger Park, Bakauheni Harbour City (BHC), Kabupaten Lampung Selatan, berlangsung dengan nuansa berbeda pada Rabu malam (31/12/2025).

    Tanpa gemerlap kembang api dan hiruk-pikuk hiburan berlebihan, malam penutup tahun 2025 justru diisi doa lintas agama yang khidmat di tengah rintik hujan.

    Suasana syahdu menyelimuti kawasan yang berada di gerbang Pulau Sumatra itu. Gemuruh doa dari para tokoh lintas agama menggantikan dentuman petasan, menghadirkan refleksi spiritual yang mengajak seluruh hadirin menatap tahun 2026 dengan ketenangan dan harapan baru.

    Direktur Operasi dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Rio Theodore Natalianto Lasse, menegaskan bahwa Bakauheni Harbour City kini tidak lagi sekadar destinasi wisata, melainkan ruang bersama untuk membangun makna dan kebersamaan.

    “Bukan riuh petasan yang kita cari, melainkan kedamaian dalam doa. Di tempat ini, kita menanam harapan-harapan baru untuk tahun 2026,” ujarnya.

    Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Selatan, Intji Indriati, yang mewakili Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, menyampaikan bahwa hujan yang turun justru menjadi simbol berkah dalam momentum pergantian tahun.

    “Di tengah gerimis dan malam yang syahdu ini, semoga kita semua dapat memetik hikmah dan membawa semangat kebersamaan menuju tahun 2026 yang lebih baik,” kata Intji.

    Ia juga menegaskan perubahan wajah Bakauheni yang kini tidak lagi dipandang hanya sebagai pintu masuk Sumatra, melainkan sebagai etalase Lampung yang merepresentasikan kemajuan daerah.

    Menurutnya, kegiatan malam pergantian tahun tersebut bertumpu pada tiga landasan utama: doa lintas agama sebagai fondasi spiritual, kebersamaan sosial sebagai perekat pembangunan, serta optimisme dalam menyongsong masa depan yang dinamis.

    “Semoga tahun yang akan datang menjadikan kita lebih cerdas dalam segala aspek kehidupan,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Lampung Bobby Irawan, yang mewakili Gubernur Lampung, memberikan apresiasi atas transformasi kawasan Bakauheni oleh PT ASDP. Posisi strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra dinilai menjadikan Bakauheni Harbour City sebagai simpul penting pariwisata nasional.

    Ia mengungkapkan bahwa sepanjang Januari hingga Oktober 2025, kunjungan wisatawan ke kawasan Bakauheni telah melampaui 2,5 juta orang, menempatkannya sebagai salah satu destinasi unggulan baru di Indonesia.

    Kehadiran tokoh lintas agama Kecamatan Bakauheni pada malam tersebut menjadi penegasan bahwa kerukunan dan toleransi merupakan fondasi utama pembangunan.

    Di bawah rintik hujan yang belum reda, pergantian tahun di Siger Park ditutup dengan keyakinan bersama bahwa dari gerbang Sumatra ini, masa depan Kabupaten Lampung yang lebih gemilang mulai ditapaki. (mara)

  • Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 4: Sakai Sambayan – Semangat Gotong Royong yang Kuat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Nilai-Nilai Pi’il Pesenggiri, Pedoman Hidup Bermartabat Masyarakat Adat Lampung. Seri 4: Sakai Sambayan – Semangat Gotong Royong yang Kuat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Konon, pada masa ketika hutan masih rapat dan sungai Way Sekampung mengalir tanpa sekat, hiduplah seorang tetua bernama Minak Ratu Punyimbang. Suatu hari, rumah panggungnya roboh diterpa angin besar. Alih-alih meratap, ia menyalakan pelita di balai adat. Satu per satu warga datang membawa kayu, rotan, dan tenaga. Tanpa perintah, tanpa upah. Dalam satu hari, rumah berdiri kembali. Minak Ratu hanya berkata pelan, “Inilah sakai sambayan, hidup tidak ditopang seorang diri.” Sejak itulah kisah gotong royong diwariskan sebagai napas hidup orang Lampung.

    Makna Sakai Sambayan dalam Adat Lampung.

    Dalam masyarakat adat Lampung, Sakai Sambayan bukan sekadar kerja bersama, melainkan nilai moral yang mengikat manusia dalam jaringan tanggung jawab sosial. Kata sakai bermakna saling mengangkat, sedangkan sambayan berarti bersama-sama memikul beban. Nilai ini hidup dalam dua sistem adat utama Lampung, yakni Saibatin dan Pepadun, meski dengan ekspresi yang berbeda.

    Pada masyarakat Saibatin yang bersifat aristokratis, Sakai Sambayan dijalankan dengan tertib di bawah arahan penyimbang adat. Sementara pada Pepadun yang egaliter, gotong royong tumbuh dari kesadaran kolektif tanpa sekat status. Keduanya bertemu pada satu titik: kebersamaan sebagai kekuatan hidup.

    Jejak Sejarah Marga dan Legenda Tua.

    Naskah adat Lampung kuno, seperti Kuntara Raja Niti dan Hukum Adat Lampung, menyebutkan prinsip hidup bermasyarakat yang menekankan kerja bersama. Dalam salah satu petuah tua tertulis:
    “Sai bumi ruwa jurai, sakai sambayan, ulun sai mak panggih di jalan.” (Orang Lampung dua keturunan, hidup dengan saling menolong, tidak membiarkan sesama terlantar.)
    Petuah ini diyakini berasal dari masa pembentukan marga-marga tua seperti Marga Abung Siwo Mego, Marga Pubian, dan Marga Sekala Brak. Dalam legenda Sekala Brak, nenek moyang Lampung diceritakan membuka wilayah baru secara berkelompok. Hutan dibuka bersama, ladang digarap bersama, dan hasilnya dibagi menurut kebutuhan, bukan kekuasaan.

    Sakai Sambayan dalam Ritual Kehidupan.

    Nilai Sakai Sambayan paling nyata terlihat dalam praktik keseharian. Saat membangun nuwo sesat (rumah adat), seluruh warga marga hadir. Ada yang menyiapkan kayu, ada yang memasak, ada pula yang memanjat tiang. Tidak ada istilah tamu dalam kerja adat; semua adalah pelaku.

    Dalam upacara pernikahan adat Lampung, Sakai Sambayan hadir sejak awal. Mulai dari ngebakhung (musyawarah), ngantak salah (mengantar perlengkapan), hingga hari pesta, semua dilakukan secara kolektif. Filosofinya jelas: rumah tangga baru tidak berdiri sendiri, melainkan disangga oleh masyarakat.

    Analisis nilai ini menunjukkan bahwa gotong royong bukan hanya efisiensi kerja, tetapi sarana pendidikan karakter. Setiap individu dilatih rendah hati, sabar, dan peduli, jauh sebelum mengenal konsep modern tentang solidaritas sosial.

    Dimensi Spiritual Sakai Sambayan.

    Dalam pandangan spiritual adat Lampung, manusia tidak hidup terpisah dari alam dan sesama. Sakai Sambayan dipandang sebagai cara menjaga keseimbangan kosmis. Kitab adat menyebut:
    “Sai sakai sambayan, dijauhi bala, didekati rahmat.” (Orang yang hidup bergotong royong dijauhkan dari bencana dan didekatkan pada berkah.)
    Kutipan ini mencerminkan keyakinan bahwa kebersamaan mengundang kebaikan semesta.

    Analisis filosofisnya menunjukkan adanya etika timbal balik: menolong bukan karena pamrih, melainkan karena kesadaran bahwa hidup saling terhubung. Spirit ini sejalan dengan pandangan Nusantara bahwa harmoni sosial adalah jalan keselamatan.

    Sakai Sambayan di Ladang dan Sungai.

    Dalam tradisi bertani, Sakai Sambayan dikenal melalui sistem ngeladak dan besambai. Membuka ladang dilakukan bergiliran, dari lahan satu keluarga ke keluarga lain. Tidak hadir berarti memutus ikatan sosial. Di sungai, nelayan Lampung saling membantu menarik perahu dan membagi hasil tangkapan saat musim sulit.

    Tradisi ini memperlihatkan bahwa Sakai Sambayan bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi bertahan hidup. Ia membentuk ekonomi moral, di mana keuntungan tidak mengorbankan kebersamaan.

    Tantangan Zaman dan Makna yang Bertahan.

    Modernisasi perlahan menggeser praktik Sakai Sambayan. Upah menggantikan sukarela, individualisme mulai tumbuh. Namun, nilai ini belum punah. Pada bencana alam, kematian, dan hajatan adat, Sakai Sambayan kembali hidup. Ia seperti api dalam sekam, menunggu ditiup kesadaran.
    Analisis ini menunjukkan bahwa Sakai Sambayan bukan terikat pada bentuk, melainkan pada makna. Selama manusia masih membutuhkan sesama, nilai ini akan terus relevan.

    Warisan yang Tidak Lapuk.

    Sakai Sambayan adalah jantung kebudayaan Lampung. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan pada kekuasaan, melainkan pada kesediaan berbagi beban. Seperti pesan tetua adat: hidup akan ringan jika dijinjing bersama. Dalam dunia yang kian sibuk sendiri, Sakai Sambayan hadir sebagai pengingat bahwa manusia lahir untuk saling menolong, bukan berjalan sendiri.

    Referensi Terverifikasi (Fisik dan Digital)
    * Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandung: Alumni.
    * Depdikbud. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta.
    * Fachruddin, Irfan. Piil Pesenggiri dan Falsafah Hidup Orang Lampung.
    * Manuskrip adat Kuntara Raja Niti (koleksi Museum Lampung).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • KHUTBAH JUM’AT : Rajab: Pintu Gerbang Menuju Ramadhan dan Doa Kerinduan Orang Beriman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    KHUTBAH JUM’AT : Rajab: Pintu Gerbang Menuju Ramadhan dan Doa Kerinduan Orang Beriman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Kita kini berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Rajab bukan sekadar pergantian waktu, tetapi pintu gerbang spiritual menuju bulan agung yang dirindukan, yaitu Ramadhan. Dalam kesempatan khutbah hari ini khatib akan mengambil judul : Rajab: Pintu Gerbang Menuju Ramadhan dan Doa Kerinduan Orang Beriman.

    KHUTBAH PERTAMA

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

    Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdhu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā mudlilla lah, wa man yudhlilhu fa lā hādiya lah.
    Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    Ma‘āsyiral Muslimīn jama’ah Jum’at rahimakumullāh,

    Kita kini berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Rajab bukan sekadar pergantian waktu, tetapi pintu gerbang spiritual menuju bulan agung yang dirindukan, yaitu Ramadhan. Allah Ta‘ala berfirman:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا… مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

    Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhitsnā ‘asyara syahrā… minhā arba‘atun ḥurum.

    “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

    Rajab termasuk bulan haram, bulan yang dimuliakan, bulan untuk menyucikan niat, menenangkan hati, dan menyiapkan diri.

    Para ulama mengatakan:
    Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.

    Jamaah yang dirahmati Allah,

    Saat memasuki Rajab, para salaf melantunkan doa penuh rindu:

    اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

    Allāhumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramaḍān.

    “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya‘ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

    Doa ini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi jeritan rindu orang beriman agar diberi umur, kesehatan, dan kesiapan iman untuk bertemu Ramadhan.

    Para salafus shalih menyambut Rajab dengan hati yang bergetar, karena mereka tahu: Rajab adalah pintu menuju Ramadhan.

    Diriwayatkan dari Ma‘lā bin al-Faḍl rahimakumullah, beliau berkata:

    كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

    Kānū yad‘ūnallāha sittata asyhurin an yuballighahum Ramaḍān, ṡumma yad‘ūnahū sittata asyhurin an yataqabbalahū minhum.

    “Mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, kemudian enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amalan Ramadhan diterima.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Ḥilyatul Auliyā’)

    Perhatikan, wahai jamaah sekalian.
    Enam bulan sebelum Ramadhan, doa mereka adalah rindu.
    Enam bulan setelah Ramadhan, doa mereka adalah takut. Takut jika Ramadhan berlalu, namun tidak meninggalkan bekas dalam iman. Diriwayatkan pula dari Yahya bin Abi Katsir rahimakumullah, beliau berdoa:

    اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

    Allāhumma sallimnī ilā Ramaḍān, wa sallim lī Ramaḍān, wa tasallamhu minnī mutaqabbalan.

    “Ya Allah, selamatkanlah aku hingga Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku, dan terimalah Ramadhan dariku dengan penuh penerimaan.”

    Doa ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar hadir, tetapi amanah besar yang harus dijaga agar tidak ternodai oleh dosa dan kelalaian.

    Hasan al-Bashri rahimakumullah berkata:

    إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِخَلْقِهِ، يَسْتَبِقُونَ فِيهِ بِطَاعَتِهِ إِلَى مَرْضَاتِهِ

    Innallāha ja‘ala Ramaḍāna miḍmāran likhalqih, yastabiqūna fīhi biṭā‘atihī ilā marḍātih.

    “Sesungguhnya Allah menjadikan Ramadhan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, mereka berlomba dengan ketaatan untuk meraih ridha-Nya.”

    Maka Rajab dan Sya‘ban adalah masa pemanasan ruhani, agar ketika lomba dimulai, kita tidak terengah-engah dalam ibadah.
    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

    Al-kayyisu man dāna nafsahū wa ‘amila limā ba‘dal-maut.

    “Orang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

    Rajab adalah waktu muhasabah, memperbaiki shalat, membersihkan hati dari dendam, dan melatih diri agar tidak kaget ketika Ramadhan datang.

    Jamaah yang dirahmati Allah,

    Ramadhan tidak datang kepada orang yang lalai, tetapi kepada mereka yang menyambutnya dengan persiapan.
    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

    Man ḥurima khayrahā faqad ḥurima.

    “Barang siapa terhalang dari kebaikan Ramadhan, sungguh ia telah terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. Ahmad)

    Jangan sampai kita berdoa bertemu Ramadhan, namun hati belum siap, shalat belum terjaga, dan dosa masih dipelihara.

    بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…

    KHUTBAH KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

    Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

    I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

    Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

    Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

    اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

    Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

    اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

    Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Rajab: Pintu Gerbang Menuju Ramadhan dan Doa Kerinduan Orang Beriman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Rajab: Pintu Gerbang Menuju Ramadhan dan Doa Kerinduan Orang Beriman. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Kita kini berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Rajab bukan sekadar pergantian waktu, tetapi pintu gerbang spiritual menuju bulan agung yang dirindukan, yaitu Ramadhan. Dalam kesempatan khutbah hari ini khatib akan mengambil judul : Rajab: Pintu Gerbang Menuju Ramadhan dan Doa Kerinduan Orang Beriman.

    KHUTBAH PERTAMA

    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ. اَشْهَدُ اَنْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ، صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ.

    Alhamdulillāhi naḥmaduhū, wa nasta‘īnuhū, wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdhu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā mudlilla lah, wa man yudhlilhu fa lā hādiya lah.
    Asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī ajma‘īn.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    Ma‘āsyiral Muslimīn jama’ah Jum’at rahimakumullāh,

    Kita kini berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Rajab bukan sekadar pergantian waktu, tetapi pintu gerbang spiritual menuju bulan agung yang dirindukan, yaitu Ramadhan. Allah Ta‘ala berfirman:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا… مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

    Inna ‘iddata asy-syuhūri ‘indallāhitsnā ‘asyara syahrā… minhā arba‘atun ḥurum.

    “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

    Rajab termasuk bulan haram, bulan yang dimuliakan, bulan untuk menyucikan niat, menenangkan hati, dan menyiapkan diri.

    Para ulama mengatakan:
    Rajab adalah bulan menanam, Sya‘ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen.

    Jamaah yang dirahmati Allah,

    Saat memasuki Rajab, para salaf melantunkan doa penuh rindu:

    اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

    Allāhumma bārik lanā fī Rajaba wa Sya‘bāna wa ballighnā Ramaḍān.

    “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya‘ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

    Doa ini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi jeritan rindu orang beriman agar diberi umur, kesehatan, dan kesiapan iman untuk bertemu Ramadhan.

    Para salafus shalih menyambut Rajab dengan hati yang bergetar, karena mereka tahu: Rajab adalah pintu menuju Ramadhan.

    Diriwayatkan dari Ma‘lā bin al-Faḍl rahimakumullah, beliau berkata:

    كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، ثُمَّ يَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

    Kānū yad‘ūnallāha sittata asyhurin an yuballighahum Ramaḍān, ṡumma yad‘ūnahū sittata asyhurin an yataqabbalahū minhum.

    “Mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, kemudian enam bulan berikutnya mereka berdoa agar amalan Ramadhan diterima.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu‘aim dalam Ḥilyatul Auliyā’)

    Perhatikan, wahai jamaah sekalian.
    Enam bulan sebelum Ramadhan, doa mereka adalah rindu.
    Enam bulan setelah Ramadhan, doa mereka adalah takut. Takut jika Ramadhan berlalu, namun tidak meninggalkan bekas dalam iman. Diriwayatkan pula dari Yahya bin Abi Katsir rahimakumullah, beliau berdoa:

    اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

    Allāhumma sallimnī ilā Ramaḍān, wa sallim lī Ramaḍān, wa tasallamhu minnī mutaqabbalan.

    “Ya Allah, selamatkanlah aku hingga Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku, dan terimalah Ramadhan dariku dengan penuh penerimaan.”

    Doa ini menunjukkan bahwa Ramadhan bukan sekadar hadir, tetapi amanah besar yang harus dijaga agar tidak ternodai oleh dosa dan kelalaian.

    Hasan al-Bashri rahimakumullah berkata:

    إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِخَلْقِهِ، يَسْتَبِقُونَ فِيهِ بِطَاعَتِهِ إِلَى مَرْضَاتِهِ

    Innallāha ja‘ala Ramaḍāna miḍmāran likhalqih, yastabiqūna fīhi biṭā‘atihī ilā marḍātih.

    “Sesungguhnya Allah menjadikan Ramadhan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, mereka berlomba dengan ketaatan untuk meraih ridha-Nya.”

    Maka Rajab dan Sya‘ban adalah masa pemanasan ruhani, agar ketika lomba dimulai, kita tidak terengah-engah dalam ibadah.
    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

    Al-kayyisu man dāna nafsahū wa ‘amila limā ba‘dal-maut.

    “Orang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

    Rajab adalah waktu muhasabah, memperbaiki shalat, membersihkan hati dari dendam, dan melatih diri agar tidak kaget ketika Ramadhan datang.

    Jamaah yang dirahmati Allah,

    Ramadhan tidak datang kepada orang yang lalai, tetapi kepada mereka yang menyambutnya dengan persiapan.
    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

    Man ḥurima khayrahā faqad ḥurima.

    “Barang siapa terhalang dari kebaikan Ramadhan, sungguh ia telah terhalang dari kebaikan yang besar.” (HR. Ahmad)

    Jangan sampai kita berdoa bertemu Ramadhan, namun hati belum siap, shalat belum terjaga, dan dosa masih dipelihara.

    بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…

    KHUTBAH KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

    Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

    أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

    Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

    I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

    اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

    Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

    Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

    اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

    Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

    اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

    Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

    اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.