Bulan: Januari 2026

  • Satu Abad NU, Puluhan Lembaga Pendidikan Lakukan Karnaval ‘Ijo Royo-Royokan’ Sidomulyo

    Satu Abad NU, Puluhan Lembaga Pendidikan Lakukan Karnaval ‘Ijo Royo-Royokan’ Sidomulyo

    nataragung.id – Sidomulyo – Semarak peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-100 Masehi di Kecamatan Sidomulyo terus berlanjut. Usai digetarkan dengan gema 50 grup hadroh, jalanan protokol Sidomulyo kini berubah menjadi “Ijo Royo-Royo” melalui gelaran pawai karnaval yang diikuti oleh puluhan lembaga pendidikan, Sabtu (31/1/2026).

    Kegiatan ini melibatkan lebih dari 20 lembaga yang terdiri dari TPA, TPQ, hingga Pondok Pesantren se-Kecamatan Sidomulyo. Tak hanya para santri, pawai ini juga diramaikan oleh iring-iringan kendaraan wali santri serta jajaran pengurus Badan Otonom (Banom) NU yang berbaris rapi mengikuti rute yang telah ditentukan.

    Prosesi pelepasan (flag-off) peserta pawai dilakukan secara simbolis di halaman belakang Kantor MWC NU Sidomulyo. Pemilihan titik pelepasan di bagian belakang kantor ini dilakukan secara sengaja agar mobilisasi massa dan kendaraan peserta tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas di jalan raya depan kantor.

    Ketua MWCNU Sidomulyo, Ust. Giyarno, melepas peserta dengan mengangkat bendera NU, didampingi jajaran Syuriyah yang mengangkat bendera Merah Putih sebagai simbol tegaknya komitmen kebangsaan dan keagamaan.

    Dalam sambutannya, Ust. Giyarno menekankan bahwa kehadiran para santri dalam pawai ini adalah cerminan masa depan NU di abad kedua. “Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pawai ini dilepas. Harapannya, generasi santri ini kelak menjadi benteng ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di masa depan,” tegas beliau sebelum mengangkat bendera start.

    Kelancaran arus lalu lintas dan ketertiban barisan sepanjang rute mulai dari Lapangan Sidorejo hingga melintasi Pasar Sidomulyo menjadi prioritas utama. Personil Banser disiagakan penuh, baik yang berjaga di titik pusat Kantor MWCNU maupun yang melakukan pengawalan bergerak (mobile).

    Menariknya, Sekretaris MWCNU Sidomulyo, Irfan Prasetya, menunjukkan dedikasi tinggi dengan turun langsung ke jalan. Mengendarai kendaraan roda dua, ia memimpin koordinasi personil Banser di sepanjang rute untuk memastikan barisan mobil dan motor peserta tetap tertib dan tidak mengganggu pengguna jalan umum.

    Hadirnya seluruh pucuk pimpinan PAC Banom, mulai dari GP Ansor, Muslimat NU, Fatayat NU, hingga IPNU-IPPNU Sidomulyo beserta jajarannya, mempertegas soliditas struktural yang kuat dalam menyambut satu abad masehi ini. Pawai ini menjadi bukti nyata bahwa NU di Sidomulyo memiliki basis kaderisasi yang mengakar kuat di tingkat TPA dan Pesantren.

    Rangkaian Harlah NU ke-100 Masehi di Sidomulyo ini dijadwalkan akan mencapai puncaknya pada malam nanti melalui agenda Istighosah dan Doa Bersama yang akan dihadiri oleh para Kyai sepuh dan ribuan jamaah warga Nahdliyyin. **

    Editor : Edi Sriyanto.

  • 100 Tahun NU Masehi, 50 Grup Hadroh Getarkan MWC NU Sidomulyo, Gerakkan Ekonomi Umat

    100 Tahun NU Masehi, 50 Grup Hadroh Getarkan MWC NU Sidomulyo, Gerakkan Ekonomi Umat

    nataragung.id – Sidomulyo – Suasana semarak menyelimuti Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sidomulyo, Lampung Selatan. Ribuan warga Nahdliyyin memadati area aula hingga halaman belakang kantor guna memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-100 Tahun NU, Sabtu (31/1/2026).

    Acara yang dipusatkan di Jalan Raya Sidomulyo – Way Panji ini dibuka dengan agenda “MASBRO” atau Majelis Shalawat Kubro yang diinisiasi oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Sidomulyo. Tidak kurang dari 50 grup hadroh dari berbagai penjuru kecamatan turut ambil bagian dalam syiar shalawat ini.

    Ketua MWCNU Sidomulyo, Ust. Giyarno, menegaskan bahwa momentum satu abad masehi ini merupakan titik balik untuk memperkuat barisan organisasi di tingkat akar rumput. Beliau berharap peringatan ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi pemicu semangat warga dalam berorganisasi.

    “Dengan mengadakan Harlah NU ke-100 Masehi, semoga warga Nahdliyyin Sidomulyo khususnya bisa menggugah semangat berjam’iyah dan bisa menjadi warga Nahdliyyin yang baik secara agama dan negara,” ujar Ust. Giyarno di sela-sela acara.

    Senada dengan itu, Rais Syuriyah MWCNU Sidomulyo, Kiai Sholihun, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas terselenggaranya acara ini. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh Badan Otonom (Banom) yang telah bahu-membahu menyukseskan acara.

    “Kami bersyukur atas nikmat Allah sehingga dapat melaksanakan peringatan Harlah ke-100 NU. Terima kasih atas partisipasi 50 kelompok Hadroh Masbro, seluruh Banom mulai dari Muslimat, Fatayat, GP Ansor, Banser, IPNU, IPPNU, hingga para Kader Penggerak dan keluarga besar NU Sidomulyo,” ungkap Kiai Sholihun.

    Pantauan di lokasi, PAC Muslimat NU Sidomulyo beserta jajarannya telah bersiaga sejak pagi untuk memastikan jalannya acara berlangsung tertib. Soliditas ini terlihat dari keselarasan visi antar pimpinan lembaga dalam memaknai satu abad NU.

    Selain menjadi ajang spiritual, peringatan Harlah ini juga membawa berkah bagi para pelaku usaha kecil. Di sekeliling lokasi acara, terutama di bagian belakang kantor yang menjadi pusat keramaian, tampak deretan pedagang yang menjajakan berbagai kebutuhan jamaah. Hal ini mempertegas wajah NU yang selalu berdampingan dengan pemberdayaan ekonomi umat.

    Acara “MASBRO” ini merupakan rangkaian awal dari agenda besar MWCNU Sidomulyo. Berdasarkan jadwal, kegiatan akan dilanjutkan dengan karnaval TPA/TPQ serta Pondok Pesantren se-Kecamatan Sidomulyo pada siang hari, dan ditutup dengan Istighosah serta Doa Bersama pada malam harinya sebagai puncak peringatan satu abad NU masehi. <>

    Editor : Edi Sriyanto.

  • Pemuda yang Mengubah Semangat Olahraga Menjadi Tenaga untuk Meraih Cita-Cita di Bidang Geografi

    Pemuda yang Mengubah Semangat Olahraga Menjadi Tenaga untuk Meraih Cita-Cita di Bidang Geografi

    nataragung.id – Agam – MHD IKHSAN UL AKHSAN, yang akrab disapa Aksan, adalah mahasiswa Program Studi Geografi Universitas Negeri Padang yang berasal dari Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia merupakan sosok pemuda yang penuh semangat dan memiliki tekad kuat untuk meraih cita-cita, dengan semangat olahraga yang menjadi bagian penting dari kehidupannya. Berasal dari keluarga sederhana dan sebagai anak keempat dari lima bersaudara, Aksan telah membuktikan bahwa keadaan bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki keinginan kuat untuk keluar dari zona nyaman dan menggapai apa yang diinginkan.

    “Tanah Kabupaten Agam yang kaya akan budaya dan alam yang indah telah membentuk karakter saya sejak kecil di sini saya belajar tentang kerja keras dan pentingnya memiliki semangat yang tidak mudah padam,” ujar Aksan dengan rasa cinta yang mendalam pada daerah kelahirannya. Sebagai anak keempat dari lima bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana namun penuh kasih sayang. “Hobi saya yang paling besar adalah olahraga, terutama futsal – melalui olahraga saya belajar tentang kerja sama tim, ketekunan, dan bagaimana bangkit kembali setelah mengalami kekalahan,” jelasnya dengan senyum yang ceria. Bagi Aksan, masa muda adalah waktu yang tepat untuk keluar dari zona nyaman dan berjuang meraih cita-cita. “Saya memiliki impian yang jelas untuk membanggakan keluarga dan mencapai apa yang saya inginkan dalam hidup. Saya tahu jalan yang ditempuh tidak akan mudah, tetapi dengan semangat yang kuat dan usaha yang maksimal, saya yakin setiap cita-cita bisa diraih,” tambahnya dengan keyakinan yang tegas dan penuh semangat.

    Perjalanan Aksan dalam dunia organisasi telah membantu ia mengembangkan kemampuan sosial dan kepemimpinan. Pada tahun 2025, ia bergabung dengan Mahasantri Islamic Centre Al Quds sebagai anggota Divisi Olahraga, di mana ia terlibat dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran dan silaturahmi antar mahasantri. Di divisi ini, ia belajar tentang pentingnya perencanaan kegiatan, koordinasi antar anggota, dan bagaimana mengelola waktu dengan baik antara aktivitas organisasi dan akademik. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi anggota Gen Z Produktif – sebuah komunitas yang fokus pada pengembangan kapasitas pemuda agar bisa menjadi generasi yang produktif dan berkontribusi positif bagi masyarakat. “Pengalaman di organisasi telah memberikan saya banyak pelajaran berharga. Saya belajar bahwa bekerja sama dengan orang lain bisa membantu kita mencapai tujuan yang lebih besar dan juga memperluas jaringan pertemanan serta wawasan kita,” paparnya dengan kebanggaan yang tulus.

    Meskipun masih dalam perjalanan awal untuk meraih prestasi lebih banyak, Aksan telah berhasil meraih pencapaian yang membanggakan pada tahun 2025 dengan menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Padang. Bagi dirinya, bisa diterima sebagai mahasiswa di salah satu kampus ternama di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah, melainkan hasil dari kerja keras dan usaha yang ia lakukan selama ini. “Menjadi bagian dari Universitas Negeri Padang adalah prestasi tersendiri bagi saya. Ini adalah bukti bahwa usaha yang saya lakukan tidak sia-sia dan juga menjadi awal dari perjalanan baru untuk meraih prestasi lebih banyak di masa depan,” ungkapnya dengan rasa syukur yang dalam. Ia bertekad untuk terus mengembangkan diri dan meraih prestasi lebih banyak baik di bidang akademik maupun olahraga yang dicintainya.

    Sebelum bisa menjadi mahasiswa Universitas Negeri Padang, Aksan pernah melalui masa tantangan dan kegagalan yang menjadi pelajaran berharga dalam kehidupannya. Pada tahun 2025, ia mengalami kegagalan saat mencoba masuk jurusan yang diinginkan, membuatnya harus memilih jurusan lain yang tersedia. Selain itu, ia juga tidak berhasil menjadi siswa eligible yang diharapkan. “Pada awalnya, kedua kegagalan itu membuat saya merasa kecewa dan bingung tentang jalan yang harus ditempuh selanjutnya. Saya merasa bahwa semua usaha yang saya lakukan tidak memberikan hasil yang saya inginkan,” cerita dia dengan kejujuran yang tulus. Namun, ia tidak memilih untuk menyerah. Ia melihat bahwa kegagalan tersebut adalah bagian dari proses yang harus dilalui untuk menjadi lebih kuat dan lebih paham tentang diri sendiri. Dari pengalaman tersebut, ia belajar untuk lebih fleksibel, menerima keadaan dengan lapang dada, dan tetap fokus pada tujuan utamanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. “Sekarang saya menyadari bahwa kegagalan itu bukanlah akhir dari segalanya. Justru melalui kegagalan tersebut, saya menemukan jalan baru yang mungkin lebih cocok untuk saya dan membuat saya lebih siap menghadapi tantangan di masa depan,” tambahnya dengan keyakinan yang semakin kuat.

    Motivasi utama yang selalu menggerakkan Aksan untuk terus maju dan tidak pernah menyerah adalah prinsip yang ia pegang teguh “Jangan pernah mengalah dengan keadaan.” Ia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita, dan keadaan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berjuang. “Saya melihat banyak orang yang berasal dari kondisi yang lebih sulit namun bisa meraih kesuksesan. Hal itu menjadi motivasi bagi saya untuk terus berusaha dan tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan,” jelasnya dengan semangat yang menular. Sementara itu, inspirasi besar bagi dirinya datang dari pesan sederhana namun kuat: “Lakukan yang ingin kamu lakukan.” Ia percaya bahwa setiap orang harus memiliki keberanian untuk mengejar apa yang mereka inginkan dalam hidup, tanpa harus takut pada kritik atau kegagalan. “Jika kita tidak melakukan apa yang kita inginkan, kita akan selalu merasa menyesal di kemudian hari. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk melakukan apa yang saya yakini benar dan mengejar apa yang saya inginkan dengan sepenuh hati,” tegasnya dengan pandangan yang jelas dan fokus.

    Bagi masa depan, Aksan memiliki harapan yang penuh makna dan optimisme yang tinggi. “Semoga jalan yang saya pilih menjadi mahasiswa ini bisa membuahkan hasil yang baik dan tidak mengecewakan orang tua, orang banyak, dan tidak terkecuali diri saya sendiri,” katanya dengan suara yang penuh pengharapan. Ia berharap bisa menyelesaikan pendidikan dengan prestasi yang membanggakan, sambil terus mengembangkan diri dalam bidang yang dicintainya. Selain itu, ia berharap bisa bertemu dengan orang-orang baik yang bisa membantu dan menginspirasi dirinya dalam perjalanan ini, serta bisa menjalankan ibadah dengan lancar tanpa hambatan. “Apa pun yang terjadi nantinya, saya bertekad untuk tetap tersenyum dan menghadapinya dengan sikap yang positif. Saya percaya bahwa dengan sikap yang baik dan usaha yang maksimal, semua hal akan berjalan dengan baik sesuai dengan takdir yang telah ditentukan,” tutupnya dengan senyum yang hangat dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

    Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan MHD IKHSAN UL AKHSAN – seorang mahasiswa Geografi Universitas Negeri Padang yang dengan semangat dan tekad kuat mengubah tantangan menjadi kekuatan untuk meraih cita-cita. Semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda Sumatera Barat, untuk terus berusaha, tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan, dan selalu menjaga sikap positif dalam setiap langkah hidupnya. <>

    Kontributor : Riszuan – Riau

  • Pemuda yang Mengubah Semangat Olahraga Menjadi Tenaga untuk Meraih Cita-Cita di Bidang Geografi

    Pemuda yang Mengubah Semangat Olahraga Menjadi Tenaga untuk Meraih Cita-Cita di Bidang Geografi

    nataragung.id – Agam – MHD IKHSAN UL AKHSAN, yang akrab disapa Aksan, adalah mahasiswa Program Studi Geografi Universitas Negeri Padang yang berasal dari Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia merupakan sosok pemuda yang penuh semangat dan memiliki tekad kuat untuk meraih cita-cita, dengan semangat olahraga yang menjadi bagian penting dari kehidupannya. Berasal dari keluarga sederhana dan sebagai anak keempat dari lima bersaudara, Aksan telah membuktikan bahwa keadaan bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki keinginan kuat untuk keluar dari zona nyaman dan menggapai apa yang diinginkan.

    “Tanah Kabupaten Agam yang kaya akan budaya dan alam yang indah telah membentuk karakter saya sejak kecil di sini saya belajar tentang kerja keras dan pentingnya memiliki semangat yang tidak mudah padam,” ujar Aksan dengan rasa cinta yang mendalam pada daerah kelahirannya. Sebagai anak keempat dari lima bersaudara, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana namun penuh kasih sayang. “Hobi saya yang paling besar adalah olahraga, terutama futsal – melalui olahraga saya belajar tentang kerja sama tim, ketekunan, dan bagaimana bangkit kembali setelah mengalami kekalahan,” jelasnya dengan senyum yang ceria. Bagi Aksan, masa muda adalah waktu yang tepat untuk keluar dari zona nyaman dan berjuang meraih cita-cita. “Saya memiliki impian yang jelas untuk membanggakan keluarga dan mencapai apa yang saya inginkan dalam hidup. Saya tahu jalan yang ditempuh tidak akan mudah, tetapi dengan semangat yang kuat dan usaha yang maksimal, saya yakin setiap cita-cita bisa diraih,” tambahnya dengan keyakinan yang tegas dan penuh semangat.

    Perjalanan Aksan dalam dunia organisasi telah membantu ia mengembangkan kemampuan sosial dan kepemimpinan. Pada tahun 2025, ia bergabung dengan Mahasantri Islamic Centre Al Quds sebagai anggota Divisi Olahraga, di mana ia terlibat dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan olahraga yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran dan silaturahmi antar mahasantri. Di divisi ini, ia belajar tentang pentingnya perencanaan kegiatan, koordinasi antar anggota, dan bagaimana mengelola waktu dengan baik antara aktivitas organisasi dan akademik. Pada tahun yang sama, ia juga menjadi anggota Gen Z Produktif – sebuah komunitas yang fokus pada pengembangan kapasitas pemuda agar bisa menjadi generasi yang produktif dan berkontribusi positif bagi masyarakat. “Pengalaman di organisasi telah memberikan saya banyak pelajaran berharga. Saya belajar bahwa bekerja sama dengan orang lain bisa membantu kita mencapai tujuan yang lebih besar dan juga memperluas jaringan pertemanan serta wawasan kita,” paparnya dengan kebanggaan yang tulus.

    Meskipun masih dalam perjalanan awal untuk meraih prestasi lebih banyak, Aksan telah berhasil meraih pencapaian yang membanggakan pada tahun 2025 dengan menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Negeri Padang. Bagi dirinya, bisa diterima sebagai mahasiswa di salah satu kampus ternama di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah, melainkan hasil dari kerja keras dan usaha yang ia lakukan selama ini. “Menjadi bagian dari Universitas Negeri Padang adalah prestasi tersendiri bagi saya. Ini adalah bukti bahwa usaha yang saya lakukan tidak sia-sia dan juga menjadi awal dari perjalanan baru untuk meraih prestasi lebih banyak di masa depan,” ungkapnya dengan rasa syukur yang dalam. Ia bertekad untuk terus mengembangkan diri dan meraih prestasi lebih banyak baik di bidang akademik maupun olahraga yang dicintainya.

    Sebelum bisa menjadi mahasiswa Universitas Negeri Padang, Aksan pernah melalui masa tantangan dan kegagalan yang menjadi pelajaran berharga dalam kehidupannya. Pada tahun 2025, ia mengalami kegagalan saat mencoba masuk jurusan yang diinginkan, membuatnya harus memilih jurusan lain yang tersedia. Selain itu, ia juga tidak berhasil menjadi siswa eligible yang diharapkan. “Pada awalnya, kedua kegagalan itu membuat saya merasa kecewa dan bingung tentang jalan yang harus ditempuh selanjutnya. Saya merasa bahwa semua usaha yang saya lakukan tidak memberikan hasil yang saya inginkan,” cerita dia dengan kejujuran yang tulus. Namun, ia tidak memilih untuk menyerah. Ia melihat bahwa kegagalan tersebut adalah bagian dari proses yang harus dilalui untuk menjadi lebih kuat dan lebih paham tentang diri sendiri. Dari pengalaman tersebut, ia belajar untuk lebih fleksibel, menerima keadaan dengan lapang dada, dan tetap fokus pada tujuan utamanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. “Sekarang saya menyadari bahwa kegagalan itu bukanlah akhir dari segalanya. Justru melalui kegagalan tersebut, saya menemukan jalan baru yang mungkin lebih cocok untuk saya dan membuat saya lebih siap menghadapi tantangan di masa depan,” tambahnya dengan keyakinan yang semakin kuat.

    Motivasi utama yang selalu menggerakkan Aksan untuk terus maju dan tidak pernah menyerah adalah prinsip yang ia pegang teguh “Jangan pernah mengalah dengan keadaan.” Ia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-cita, dan keadaan tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berjuang. “Saya melihat banyak orang yang berasal dari kondisi yang lebih sulit namun bisa meraih kesuksesan. Hal itu menjadi motivasi bagi saya untuk terus berusaha dan tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan,” jelasnya dengan semangat yang menular. Sementara itu, inspirasi besar bagi dirinya datang dari pesan sederhana namun kuat: “Lakukan yang ingin kamu lakukan.” Ia percaya bahwa setiap orang harus memiliki keberanian untuk mengejar apa yang mereka inginkan dalam hidup, tanpa harus takut pada kritik atau kegagalan. “Jika kita tidak melakukan apa yang kita inginkan, kita akan selalu merasa menyesal di kemudian hari. Oleh karena itu, saya selalu berusaha untuk melakukan apa yang saya yakini benar dan mengejar apa yang saya inginkan dengan sepenuh hati,” tegasnya dengan pandangan yang jelas dan fokus.

    Bagi masa depan, Aksan memiliki harapan yang penuh makna dan optimisme yang tinggi. “Semoga jalan yang saya pilih menjadi mahasiswa ini bisa membuahkan hasil yang baik dan tidak mengecewakan orang tua, orang banyak, dan tidak terkecuali diri saya sendiri,” katanya dengan suara yang penuh pengharapan. Ia berharap bisa menyelesaikan pendidikan dengan prestasi yang membanggakan, sambil terus mengembangkan diri dalam bidang yang dicintainya. Selain itu, ia berharap bisa bertemu dengan orang-orang baik yang bisa membantu dan menginspirasi dirinya dalam perjalanan ini, serta bisa menjalankan ibadah dengan lancar tanpa hambatan. “Apa pun yang terjadi nantinya, saya bertekad untuk tetap tersenyum dan menghadapinya dengan sikap yang positif. Saya percaya bahwa dengan sikap yang baik dan usaha yang maksimal, semua hal akan berjalan dengan baik sesuai dengan takdir yang telah ditentukan,” tutupnya dengan senyum yang hangat dan keyakinan yang tak tergoyahkan.

    Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan MHD IKHSAN UL AKHSAN – seorang mahasiswa Geografi Universitas Negeri Padang yang dengan semangat dan tekad kuat mengubah tantangan menjadi kekuatan untuk meraih cita-cita. Semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama generasi muda Sumatera Barat, untuk terus berusaha, tidak pernah menyerah menghadapi kesulitan, dan selalu menjaga sikap positif dalam setiap langkah hidupnya. <>

    Kontributor : Riszuan – Riau

  • Amerika Serang Iran Manuver Atau Blunder Oleh : M. Habib purnomo // Aktivis PW NU Lampung

    Amerika Serang Iran Manuver Atau Blunder Oleh : M. Habib purnomo // Aktivis PW NU Lampung

    nataragung.id – Bandar Lampung – Geopolitik global berdampak terhadap peta politik nasional, peta politik nasional berdampak terhadap situasi politik daerah.
    Inilah penting nya kita selalu mengamati dinamika politik global.

    Sekarang kapal induk Amerika Abraham lincoln dikawal kapal-kapal perang lainnya sudah berada di laut Timur Tengah siap menyerang Iran.

    Tekanan militer Amerika ke Iran kali ini diawali dengan demo besar-besaran didalam negeri Iran dan tercatat yang terbesar sejak revolusi Islam Iran tahun 1979 yang menewaskan lebih dari tiga ribu warga dan pihak keamanan Iran yang direkayasa Amerika, namun saat sekarang situasi di Iran sudah kondusif.

    Posisi siap serang Amerika kali ini, mengingatkan kita akan serangan Amerika dan Israel selama 12 hari ke Iran pada bulan Juni tahun 2025 yang lalu.

    Memang dalam rekam jejaknya, sejak perang dunia kedua Amerika selalu pada posisi menyerang negara lain baik di kawasan Eropa atau pun Asia yang jauh dari negerinya.

    Banyak pertanyaan yang muncul, apa urgensinya Amerika kali ini akan menyerang Iran? Bagi Amerika, pasca perang dingin tahun 1991 Cina telah menjadi hantu dalam mimpi buruknya yang harus diselesaikan.

    Ketika sekarang Amerika tepuk dada sebagai negara terkuat dimuka bumi, ternyata justru kini di benua Amerika sendiri khusus Amerika Serikat mengalami kenyataan yang menyakitkan, negara tetangga-tetangga dekatnya ibarat satu bantal ternyata sudah lain mimpi berpaling ke Cina, Amerika terkepung di kandangnya sendiri.

    Venezuela tetangga dekatnya sudah berteman dengan Cina dan solusinya Maduro presiden Venezuela diangkut ke Amerika.

    Kanada tetangga terdekatnya Amerika, juga telah berkongsi dengan Cina, bisa di bayangkan bila terjadi konflik skala besar antara Amerika lawan aliansi Cina Rusia maka tidak perlu repot-repot bagi Rusia dan Cina, tidak perlu gunakan rudal antar benua berhulu ledak nuklir, dengan ketapelpun dari Kanada sudah sampai melempar batu kearah Amerika, karena Kanada berbatasan langsung dengan Amerika Serikat.

    Brazil yang terkenal dengan pemain-pemain sepak bola kelas dunia dan berbatasan langsung dengan Venezuela dan Brasil justru pelopor BRICS (Brazil, Rusia India, China dan Afrika selatan) untuk melawan dominasi dolarnya Amerika. Hak itu terjadi karena Amerika bersikeras akan merebut pulau es raksasa milik Denmark (Greenland) yang lebarnya tiga kali lebih besar dari Kalimantan dan posisi Greenland tepat di depan negara Kanada. Bila Kanada bekerjasama dengan Cina, artinya secara de facto Greenland di bawah kendali Rusia Cina dan Kanada.

    Sebenarnya Amerika tidak terbiasa perang jarak dekat dikandang sendiri, bila terjadi perang skala besar lawan aliansi Cina dan Rusia dibenua Amerika maka negara Kanada, Brasil, Venezuela dan Kuba bisa jadi tempat titik serang senjata-senjata canggihnya Rusia dan Cina kearah Amerika.

    Amerika menyerang Iran adalah upaya mengalihkan bola panas dari benua Amerika ke Timur Tengah.

    Namun langkah Amerika kali ini akan menyerang Iran dengan terang-terangan masih timbulkan tanda-tanya, kalau perang 12 hari yang lalu Iran dalam posisi didadak oleh Israel dan Amerika, kali ini Iran sudah dalam posisi siap tembak.

    Sekarang Amerika seakan sendirian, negara-negara Eropa sekutu dekatnya sedang kecewa dengan Trump yang akan mencaplok Greenland milik Denmark.

    Arab Saudi sohib karib Amerika sudah mengumumkan tidak mengizinkan wilayahnya sebagai tempat Amerika menyerang Iran karena antara Arab Saudi dan Iran sudah ada perjanjian damai yang difasilitasi oleh Cina selain itu Turki sebagai sesama anggota NATO sudah memperingatkan Amerika jangan menyerang Iran.

    Pakistan yang merupakan sekutu Cina sudah berkomitmen bila Iran di serang maka Pakistan yang memiliki senjata nuklir sudah siap membantu Iran. Inilah sebabnya beberapa bulan ini sering terjadi konflik bersenjata di perbatasan antara Afganistan dengan Pakistan untuk mengganggu supaya Pakistan tidak fokus membela Iran.

    Dengan senjata dan alat-alat penginderaan jarak jauh dari teknologi militer Rusia dan Cina. Kapal Induk Amerika Abraham Lincoln yang dikawal kapal-kapal perang justru jadi sasaran empuk, serangan Amerika ke Iran akan jadi pembenar bagi Iran untuk menyerang Israel sekutunya Amerika , Israel akan jadi sasaran Iran didetik pertama bila Amerika menyerang Iran.

    Memindahkan medan konflik dengan Rusia dan Cina dari benua Amerika ke Timur Tengah adalah langkah tepat bagi Amerika karena hal itu belum pernah terjadi .

    Dengan memindahkan medan perang ke Timur Tengah akan sebabkan Rusia dan Cina tidak fokus di benua Amerika (Venezuela Kanada Brazil) tapi harus konsentrasi membantu Iran, namun langkah Amerika ini juga blunder karena menyerang Iran artinya perang lawan Rusia dan Cina dan Israel akan jadi sasaran serangan Iran.

    Ibarat menggiring bola bundar, geopolitik global sedang berproses, kita belum tau ending nya. <>

    Bandar Lampung 31 Januari 2026.

  • Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 4 – BAHASA LAMPUNG, SUARA YANG SEMAKIN MEREDUP. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 4 – BAHASA LAMPUNG, SUARA YANG SEMAKIN MEREDUP. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Di lereng Gunung Rajabasa, hiduplah seorang nenek tua bernama Umpu Sari. Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang masih fasih merajut andai-andai (cerita berirama) dan hadis munjung (pantun adat) dalam bahasa Lampung asli. Setiap malam, cucunya, Nila, meminta cerita sebelum tidur. Namun Nila selalu meminta diceritakan dalam bahasa Indonesia, karena ia tak paham banyak kata-kata dalam bahasa neneknya.

    Suatu malam, setelah Nila tertidur, Umpu Sari membuka peti kayu tua. Dari dalamnya, ia mengeluarkan lembaran-lembaran daluang (kertas kulit kayu) bertuliskan aksara Lampung kuno. Sambil menelusuri setiap goresan tinta dengan jari keriputnya, ia berbisik lirih, “Ini suara leluhur kita, Nak. Di setiap lengkung ka-ga-nga ini, ada doa, ada hukum, ada cerita tentang siapa kita. Jika suara ini diam, maka kita seperti rumah yang kehilangan tiang penyangganya.”

    Esok harinya, Nila bertanya pada gurunya tentang tulisan di topi sekolahnya yang bertuliskan “Sai Bumi Ruwai Jurai”. Guru itu hanya bisa menjelaskan sekilas artinya: “Satu Bumi Ruwai Jurai”. Nila penasaran, apa makna sebenarnya? Mengapa sebuah kalimat tentang persatuan justru ditulis dalam bahasa yang semakin sedikit yang memahaminya?
    Bahasa Lampung, dengan dua dialek utama Api (Pesisir) dan Nyo (Pepadun/Pedalaman), adalah sistem pengetahuan yang hidup. Ia bukan hanya kumpulan kosakata untuk berjual-beli atau bersenda gurau. Ia adalah gudang memori peradaban masyarakat Lampung. Seperti diungkapkan dalam naskah Kuntara Raja Niti: “Bahasa itu cermin adat. Bahasa rusak, adat pun runtuh.”

    Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan:
    1. Bahasa sebagai Cermin: Bahasa memantulkan cara berpikir, nilai, dan dunia batin penuturnya. Kekayaan kosakata tentang alam (jenis-jenis bambu, pola hujan, nama ikan di sungai) menunjukkan kedekatan ekologis masyarakat Lampung.
    2. Bahasa sebagai Penjaga: Bahasa adalah penjaga adat. Hukum adat (simbur) dan petuah hidup (piil pesenggiri) disampaikan dan diingat melalui bahasa. Jika bahasanya hilang, pemahaman tentang adat pun akan dangkal dan mudah terdistorsi.
    3. Bahasa sebagai Perekat: Bahasa adalah penanda utama identitas jurai (marga). Dialek dan logat menjadi penanda asal-usul seseorang, memperkuat rasa memiliki dan solidaritas dalam kelompoknya, sekaligus dalam payung besar “Sai Bumi Ruwai Jurai” (Satu Bumi Ruwai Jurai – semboyan persatuan Lampung).

    Setiap kata dalam bahasa Lampung seringkali mengandung filosofi yang dalam. Mari kita ambil contoh konsep kunci:
    * Sai Bumi Ruwai Jurai: Semboyan ini lebih dari sekadar “satu bumi untuk semua marga”. Sai berarti satu, utuh, tak terpecahkan. Bumi adalah ruang hidup yang memberikan kehidupan. Ruwai berasal dari kata rua (dua) yang bermakna pasangan atau kesatuan dari perbedaan (laki-perempuan, darat-laut, adat-agama). Jurai adalah marga, garis keturunan. Jadi, makna sesungguhnya adalah: “Di tanah yang satu ini, kita bersatu dalam perbedaan marga-marga kita untuk membangun kehidupan yang harmonis.” Ini adalah refleksi sempurna dari nilai Bhinneka Tunggal Ika dan persatuan Indonesia.
    * Mulia: Dalam bahasa Indonesia, “mulia” sering berarti terhormat atau tinggi martabat. Dalam bahasa Lampung, kata “muli” (dalam dialek tertentu) tidak berdiri sendiri. Ia selalu berkait dengan hubungan sosial: “Muli menyanak, bejuluk beadek” (Menjadi mulia karena memiliki banyak sanak saudara, bergelar, dan beradat). Artinya, kemuliaan diperoleh dari kontribusi pada komunitas dan penghormatan pada tata nilai, bukan dari kekayaan pribadi.

    Bahasa juga menjadi pembeda dan penanda sejarah marga. Legenda lisan dari marga Abung menceritakan bahwa dialek mereka yang keras mencerminkan watak pejuang dan peladang berpindah. Sementara dialek Api yang lebih mendayu diasosiasikan dengan kehidupan masyarakat pesisir yang berdagang dan berlayar. Perbedaan ini bukan pemecah belah, melainkan mozaik keindahan dalam kesatuan.
    Bahasa mencapai puncak kesakralannya dalam upacara adat. Di sini, ia bukan lagi bahasa sehari-hari, melainkan bahasa ritual yang penuh kuasa.
    * Pembacaan Simbur (Hukum Adat): Dalam upacara Cakak Pepadun atau penyelesaian sengketa, tetua adat akan membacakan simbur dengan bahasa yang khusyuk dan formula tetap. Kata-katanya tidak boleh diubah, karena dianggap mengandung semangat (kekuatan) leluhur. Sebuah simbur tentang menjaga hutan mungkin berbunyi: “Anak udeh jama kakah, ngakuk bulung laman lemakau.” (Jagalah hutan seperti menjaga tubuh sendiri, karena daunnya adalah napas kita). Bahasa di sini berfungsi sebagai konstitusi ekologis.
    * Hadis Munjung (Pantun Adat) dan Andai-andai (Cerita Berirama): Ini adalah sekolah karakter tradisional. Melalui irama dan metafora yang indah, nilai-nilai piil pesenggiri diajarkan. Contoh hadis munjung: “Lampung sai, bumi sai, jurai sai. Pegunungan satu, bumi satu, keturunan satu. Tapi di dalam satu itu ada banyak warna, bagai pelangi setelah hujan.” Pantun ini mengajarkan persatuan dalam keberagaman.

    Suara bahasa Lampung meredup karena berbagai tekanan, dan peran pemerintah dianggap belum optimal dalam menangkalnya:
    1. Dominasi Bahasa Nasional dan Global: Di sekolah, media, dan ranah publik, bahasa Indonesia dan Inggris mendominasi. Bahasa Lampung sering hanya menjadi mata pelajaran muatan lokal yang jamnya sedikit dan diajarkan tanpa konteks budaya yang hidup.
    2. Pergeseran Komunikasi Keluarga: Orang tua generasi 80-90an banyak yang tidak lagi aktif menggunakan bahasa Lampung di rumah, karena menganggapnya “tidak praktis” atau takut anaknya ketinggalan dalam bahasa Indonesia. Ini memutus rantai transmisi alami.
    3. Kebijakan yang Setengah Hati: Pemerintah daerah seringkali hanya membuat slogan atau menempelkan aksara Lampung di gedung-gedung, tanpa strategi kebahasaan yang menyeluruh. Tidak ada program massif pelatihan guru, pendokumentasian penutur tua, atau insentif bagi seniman/media yang menciptakan konten menarik dalam bahasa Lampung. Kebijakan ini dianggap sekadar “pemanis” tanpa upaya serius menghidupkan bahasa sebagai alat komunikasi yang relevan bagi anak muda.

    Menyelamatkan bahasa Lampung bukan berarti menolak bahasa Indonesia atau globalisasi. Ia adalah upaya menjaga kearifan lokal (local wisdom) yang terkandung di dalamnya, sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional yang dijamin oleh Pancasila, khususnya sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab) dan sila ke-3 (Persatuan Indonesia).
    Upaya yang bisa dilakukan:
    * Di Keluarga: Mulai dengan kata-kata sederhana: panggilan sayang (undi untuk anak laki, cakak untuk anak perempuan), nama bagian rumah, atau nama makanan.
    * Di Sekolah: Bahasa Lampung harus diajarkan dengan cara kreatif: melalui lagu, komik, podcast, atau proyek dokumentasi cerita kakek-nenek. Bukan sekadar menghafal aksara.
    * Peran Pemerintah: Pemerintah harus menjadi “juru bahasa” yang aktif. Membuat kebijakan yang mendukung penggunaan bahasa Lampung di media lokal, menyediakan bahan ajar yang menarik, dan mengapresiasi komunitas-komunitas pegiat bahasa.

    Bahasa Lampung adalah nyanyian lama dari bumi Ruwai Jurai. Ia mungkin semakin pelan, namun nadanya masih ada. Tugas kita adalah menjadi penyanyi baru yang membawakannya dengan gaya masa kini, agar nyanyian itu tak pernah benar-benar berhenti. Dengan menjaga bahasa, kita menjaga cara kita memahami dunia, dan pada akhirnya, menjaga jati diri kita sebagai bagian dari Indonesia yang berbhineka.

    Sumber Referensi Terverifikasi:
    1. Junaiyah H.M., dkk. (2008). Tata Bahasa Lampung Dialek A. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (Buku fisik, terverifikasi).
    2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno). Transkripsi koleksi Perpustakaan Daerah Lampung. (Dokumen digital/fisik).
    3. Arifin, Zainal. (2015). Fungsi Sosial dan Religius Bahasa dalam Upacara Adat Lampung. Jurnal Literasi, 7(1). (Artikel ilmiah digital).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Menanam Harapan di Ambang Kiamat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Menanam Harapan di Ambang Kiamat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Di antara ajaran Rasulullah shalallahu alaihi wasallam yang paling menenangkan hati dan meneguhkan harapan adalah sabda beliau tentang tetap berbuat kebaikan, meskipun akhir zaman sudah di depan mata.

    Islam tidak mengajarkan keputusasaan, bahkan pada detik-detik terakhir kehidupan.
    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا»

    “Apabila hari kiamat telah tiba, sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, hendaklah ia menanamnya.”
    (HR. Ahmad dan al-Bukhārī dalam al-Adab al-Mufrad)

    Hadits ini mengajarkan bahwa nilai amal tidak selalu diukur dari hasil yang tampak, tetapi dari niat dan kesungguhan dalam ketaatan.

    Menanam bibit di ambang kiamat bukan untuk memetik buahnya, melainkan sebagai bukti bahwa seorang mukmin tidak pernah berhenti berbuat baik, selama hayat masih dikandung badan.

    Dalam pandangan Islam, harapan adalah ibadah, dan usaha adalah bentuk tawakal. Sekalipun dunia akan berakhir, tangan seorang beriman tetap bergerak menanam, memberi manfaat, dan menunaikan amanah.

    Inilah akhlak Islam: bekerja untuk kebaikan, bukan karena situasi mendukung, tetapi karena Allah memerintahkan.

    Maka selama kita masih diberi waktu dan kemampuan, tanamlah kebaikan, meski kecil, meski tampak sia-sia di mata manusia. Sebab di sisi Allah, tidak ada satu amal pun yang hilang tanpa balasan. (KIS/162).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • JPZISNU Al-Istiqamah Hadirkan Senyum Bagi Jamaah di Masa Pemulihan

    JPZISNU Al-Istiqamah Hadirkan Senyum Bagi Jamaah di Masa Pemulihan

    nataragung.id – Kalianda – Kekuatan kemandirian ekonomi umat kembali dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga Nahdliyin di Lampung Selatan. Melalui pengelolaan Koin NU yang konsisten, Jaringan Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (JPZISNU) Al-Istiqamah melaksanakan pentasyarufan santunan rutin bagi anggota Majelis Taklim (MT) yang sedang diuji sakit maupun berduka, Jumat (30/01/2026).

    Program yang telah melembaga selama bertahun-tahun ini berakar dari semangat jamaah Majelis Istighotsah Al-Istiqomah. Wadah spiritual yang menghimpun berbagai Majelis Taklim lintas kecamatan tersebut kini menjelma menjadi kekuatan sosial-karitatif yang profesional melalui bendera JPZISNU.

    Dalam aksi kemanusiaan kali ini, tim JPZISNU Al-Istiqamah melakukan pentasyarufan dengan metode sowan atau kunjungan langsung ke rumah-rumah warga (door-to-door). Ketua Majelis Istighotsah sekaligus Ketua JPZISNU Al-Istiqamah, Hj. Nunuk Nirwana, SE, memimpin langsung rombongan didampingi jajaran pengurus lainnya.

    Titik pertama pentasyarufan dilakukan di wilayah Kalianda. Tim menyambangi kediaman Ibu Riyanti (MT Al-Maghfiroh) untuk menyerahkan santunan rawat inap bagi putrinya, Ananda Azira. Perjalanan kemudian berlanjut ke wilayah Palas untuk menemui Bapak Winardi (suami Ibu Mariyam) serta Ananda Tedi (putra Ibu Kalimah) yang keduanya merupakan jamaah MT Darul Iqomah.

    Kunjungan ini terasa sangat emosional karena para penerima manfaat tersebut saat ini tengah menjalani masa pemulihan setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Kehadiran pengurus NU di rumah mereka menjadi suplemen semangat dan dukungan moral yang sangat berarti bagi proses penyembuhan.

    Selain santunan kesehatan, tim juga menunjukkan empati mendalam dengan mentasyarufkan santunan meninggal dunia kepada ahli waris almarhumah Ibu Marwiyah, anggota MT Nurul Iman, Cita Jaya, Palas.

    Secara keseluruhan, JPZISNU Al-Istiqamah mentasyarufkan total dana sebesar Rp2.000.000 yang dialokasikan secara proporsional bagi empat orang penerima manfaat, dengan nominal masing-masing Rp500.000. Dana ini ditegaskan murni bersumber dari penghimpunan Koin NU para jamaah.

    Hj. Nunuk Nirwana, SE menekankan bahwa transparansi pengelolaan menjadi kunci utama mengapa program ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun.

    “Alhamdulillah, amanah dari Koin NU ini terus kita tasyarufkan secara rutin. Ini adalah bukti bahwa sedikit dari banyak orang, jika dikelola dengan ikhlas, akan menjadi kekuatan besar. Kami ingin pengurus selalu hadir, terutama saat jamaah sedang dalam masa pemulihan seperti ini, agar mereka merasa benar-benar memiliki jam’iyah,” tutur Hj. Nunuk.

    Gerakan yang digerakkan oleh para tokoh pengurus seperti Sri Karyawati, Nurul Hamni, Khoiriyah, Iin Darwati, dan Siti Fatimah ini mempertegas corak NU yang sejuk: kuat secara struktural melalui kelembagaan ZISNU, namun tetap santun secara kultural dengan mendatangi langsung pintu-pintu rumah jamaah.

    Aksi rutin ini diharapkan terus menginspirasi warga Nahdliyin untuk semakin yakin menyalurkan zakat, infak, dan sedekahnya melalui lembaga resmi, demi terwujudnya kemandirian umat yang bermartabat. <>

    Editor : Edi Sriyanto.

  • Dua Orang Anggota Kelompok Tani di Cikalong Wetan, Dapat Umroh Gratis Dari Kapolda Jawa Barat

    Dua Orang Anggota Kelompok Tani di Cikalong Wetan, Dapat Umroh Gratis Dari Kapolda Jawa Barat

    nataragung.id – Bandung – Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan, memberangkatkan dua orang anggota kelompok tani Subur, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat untuk umroh gratis ketanah suci Makkah dan Madinah.

    Hal tersebut disampaikan oleh Rudi Setiawan di Mapolda Jawa Barat, Kamis (29/1/2026). Menurut Kapolda dalam Rangka mendukung program swasembada dan ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Pada semester ini, Polda Jabar memulai penanaman jagung di lahan seluas 750 hektare yang tersebar di sejumlah wilayah Cikalong Wetan. Kabupaten Bandung Barat.

    Selain itu Kapolda Jabar Irjen Pol. Rudi Setiawan sekaligus memberangkatkan dua orang anggota kelompok tani untuk berangkat umroh ke tanah suci Makkah

    Lebih lanjut Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan mengatakan, Polri hadir sebagai fasilitator dalam setiap tahapan program ketahanan pangan, mulai dari pencarian lahan hingga proses panen dan penyimpanan hasil pertanian.

    “Polda Jabar senantiasa bekerja sama dengan seluruh stakeholder, mulai dari Perhutani, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, Dinas Tanaman Pangan, Bulog, kelompok tani, hingga BPS. Semua kami libatkan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,” ujar Irjen Pol Rudi Setiawan.

    Selain penanaman jagung, Polda Jabar juga memberikan berbagai bantuan kepada kelompok tani, seperti bibit, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), hingga pendampingan teknis. Bantuan tersebut diberikan kepada Kelompok Tani Subur di Cikalong Wetan agar proses tanam hingga panen berjalan lebih optimal.

    “Kami hadir dari awal, mulai pencarian lahan, pemberian bibit, pupuk, alsintan, pendidikan pertanian, sampai panen dan penyimpanan. Polda Jabar juga memiliki dua gudang penyimpanan hasil panen di Indramayu dan Subang,” jelasnya.

    Kapolda Jabar juga menyinggung inovasi produksi pupuk organik dari kotoran ternak yang diinisiasi oleh salah satu staf Polda Jabar, sebagai bagian dari dukungan berkelanjutan terhadap pertanian ramah lingkungan.

    Sementara itu, perwakilan Kelompok Tani, Endi Suhendi, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas dukungan nyata yang diberikan Polda Jabar. Menurutnya, kehadiran Polri memberikan kepastian hukum dan semangat baru bagi para petani jagung.

    “Awalnya kami ragu, tapi dengan dorongan dan dukungan ini kami jadi kuat. Sekarang jelas payung hukumnya, kami tidak lagi takut menggarap lahan. Bahkan tenaga kerja direkrut dari penggarap lokal yang sudah ada,” ungkap Endi.

    “Haturnuhun Bapak Kapolda Jabar yang telah memberangkatkan kami ke tanah Suci.” ungkap Entin Suhartini

    Ia menyebut, program ketahanan pangan tersebut telah menyerap sekitar 250 tenaga kerja lokal, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.

    “Ini menjadi keberkahan bagi kampung kami. Bantuan alsintan, pupuk, hingga sembako ini belum pernah kami rasakan sebelumnya. Kami hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga,” tuturnya.

    Kami juga ucapkan terima kasih kepada bapak Kapolda Jabar dan jajaran serta Bapak Kagab Binkar Polda Jabar AKBP Condro yang telah memberikan bantuan untuk kemanfaatan buat petani jagung khususnya.

    Polda Jabar berharap kolaborasi lintas sektor ini terus berlanjut demi mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Jawa Barat. **
    Editor : SyahidanMh

  • MBG Lebih Mendesak, Lapangan Kerja Nanti Dulu Ya!

    MBG Lebih Mendesak, Lapangan Kerja Nanti Dulu Ya!

    nataragung.id – Jakarta – Kalian yang masih nganggur, harap sabar. Sebab, kalian tak termasuk yang diprioritaskan pemeritnah. Fokus pemerintah adalah MBG. Lapangan kerja, nanti dulu ya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

    Negara ini akhirnya menemukan urutan prioritas paling segar dalam sejarah perencanaan pembangunan. Makan dulu, kerja nanti, atau kalau bisa, tidak usah sama sekali. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, dengan ketenangan yang hanya dimiliki orang kenyang, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih mendesak dibanding penciptaan lapangan kerja. Bukan lebih penting, jangan salah paham, tetapi lebih mendesak. Sebuah diksi ajaib yang sanggup mengubah logika ekonomi menjadi puisi bebas.

    Pernyataan itu disampaikan di Prasasti Economic Forum 2026, SCBD Jakarta, Kamis 29 Januari. Di sana, publik diberi analogi klasik. Jangan beri kail, beri ikan. Sebab kalau diberi kail, orang keburu mati. Logika ini terdengar manusiawi, mengharukan, dan sangat cocok untuk poster kebijakan, meski lupa satu hal kecil. Setelah ikan habis, orang tetap lapar, dan kail tetap tidak ada.

    “Di pelosok desa,” kata beliau, “orang-orang kelaparan.” Kalimat ini sakral, ampuh, dan kebal verifikasi. Pelosok yang mana? Dusun apa? Desa siapa? Kabupaten mana? Provinsi sebelah mana? Apakah “pelosok desa” ini lokasi nyata atau sekadar tempat ghaib, satu habitat dengan “masyarakat kecil” dan “oknum tak bertanggung jawab”? Aneh rasanya, di negeri dengan kamera lebih banyak dari tiang listrik, tak pernah ada pemberitaan nasional tentang warga mati kelaparan massal. Tak ada breaking news, tak ada liputan langsung, tak ada alamat. Yang ada hanya narasi, dipakai ulang dari podium ke podium.

    Jika benar ada warga Indonesia kelaparan, bukan lapar karena telat makan siang, tapi kelaparan sungguhan, maka ini bukan sekadar argumen kebijakan, ini dakwaan moral. Betapa berdosanya sebuah negara yang mampu menggelar forum ekonomi ber-AC di SCBD, tapi membiarkan warganya mati perlahan di pelosok tanpa nama. Anehnya, negeri ini tak pernah menyatakan darurat kelaparan. Yang darurat justru anggaran dan framing. Yang ada juga, negara nyumbang warga negara lain yang kelaparan.

    Sementara itu, fakta yang benar-benar punya alamat justru diabaikan. Pada awal 2026, jumlah pengangguran Indonesia diperkirakan 7,4–7,5 juta orang, dengan tingkat pengangguran terbuka 4,8–4,9 persen. Data ini relatif stabil dibanding Agustus 2025 yang mencatat 7,46 juta pengangguran dengan TPT 4,85 persen menurut BPS. World Economic Forum bahkan menempatkan pengangguran sebagai ancaman ekonomi terbesar Indonesia periode 2026–2028. Tapi tenang, ancaman ini tidak lapar, setidaknya tidak disebut begitu.

    Bonus demografi belum optimal, pasar kerja formal melemah, fresh graduate berbaris rapi di gerbang industri yang makin sempit, PHK masih terjadi, otomatisasi dan digitalisasi bekerja tanpa perlu nasi kotak. Semua ini tercatat rapi oleh BPS, Trading Economics, dan lembaga internasional. Ironisnya, pengangguran inilah yang justru paling berpotensi melahirkan “kelaparan” versi sunyi. Makan sekali sehari, gizi seadanya, anak tumbuh pendek, otak tumbuh pelan, lalu negara heran kenapa SDM tertinggal.

    Logika kebijakan pun makin artistik. Lapangan kerja dianggap bisa menunggu, seolah-olah pengangguran hidup dari udara dan motivasi. Negara memberi makan hari ini, tapi menunda pekerjaan yang mencegah kelaparan esok hari. Ini seperti memadamkan api dengan kipas sambil berkata, yang penting sekarang adem.

    Lebih menarik lagi, publik masih mengingat janji kampanye Pilpres 2024. Gibran Rakabuming Raka menjanjikan 19 juta lapangan kerja, termasuk 5 juta green jobs. Janji ini berbasis hilirisasi, transisi energi, UMKM, dan masa depan hijau. Memasuki awal 2026, realisasinya masih “bertahap”, lima tahun, kata pemerintah. Ekonom skeptis, publik sinis, sebagian menyebutnya nol besar. Tapi tak apa. Janji bisa ditunda, MBG tidak.

    Akhirnya kita sampai pada kesimpulan yang pahit tapi mengenyangkan, negara memilih memberi ikan di negeri yang kolamnya kering, nelayannya menganggur, dan kailnya masih dalam kajian akademik. Anak-anak diberi makan, orang dewasa diminta sabar. Data pengangguran lengkap diabaikan, narasi kelaparan tanpa alamat dijadikan senjata.

    Foto Ai hanya ilustrasi

    Rosadi Jamani
    Ketua Satupena Kalbar
    #camanewak
    #jurnalismeyangmenyapa
    #JYM