Bulan: Januari 2026

  • Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. SERI 2 – PI’IL PESENGGIRI, FALSAFAH HIDUP YANG TERLUPAKAN. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. SERI 2 – PI’IL PESENGGIRI, FALSAFAH HIDUP YANG TERLUPAKAN. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah dusun di tepian Way Sekampung, hiduplah seorang pemuda bernama Rangga. Ia dikenal cerdas dan berani, namun sering kali sikapnya membuat risih tetua adat karena dianggap terlalu kasar dan individualistis. Suatu hari, Rangga hendak melamar kerja ke kota. Sebelum berangkat, sang nenek, Umpu Sindi, memberinya sebuah tapis tua bersulam benang emas dengan motif pucuk rebung dan sigar betung.
    “Ini bukan sekadar kain, Cucu,” bisik Umpu Sindi. “Di setiap jahitan dan motifnya, tersirat Piil Pesenggiri. Bawalah ia sebagai penuntun. Pesenggiri tanpa piil, ibarat harimau tanpa taring; gagah namun kosong. Piil tanpa pesenggiri, bagai sungai tanpa air; ada alur namun hampa.”

    Di kota, Rangga mengalami banyak benturan. Ia hampir terseret arus persaingan tak sehat. Setiap kali ragu, ia memandang tapis pemberian nenek. Lambat laun, ia mulai memahami makna di balik simbol-simbol itu: keramahan dalam berinteraksi, keterbukaan menerima perbedaan, semangat gotong royong, penghormatan pada yang lebih tua, dan menjaga harga diri tanpa merendahkan orang lain. Rangga pun menjadi pribadi yang disegani bukan karena kekerasan, tetapi karena kearifan dan integritasnya. Cerita Rangga adalah cermin bagi kita semua.
    Piil Pesenggiri bukanlah kata mati yang hanya menghiasi prasasti atau pidato. Ia adalah jiwa yang mengalir dalam denyut nadi kehidupan masyarakat Lampung.

    Secara harfiah, Piil berarti tingkah laku, perangai, atau akhlak. Sedangkan Pesenggiri berasal dari kata senggiri yang berarti ‘malu’, merujuk pada harga diri dan kehormatan yang harus dijunjung tinggi. Jadi, Piil Pesenggiri dapat dimaknai sebagai perilaku mulia yang dilandasi oleh harga diri dan kehormatan.

    Falsafah ini merupakan landasan moral yang mengatur interaksi antarindividu, keluarga (buah, bebai), marga (jurai), dan dengan alam semesta. Seperti tertulis dalam Kuntara Raja Niti, sebuah naskah kuno panduan hidup masyarakat Lampung: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah.” Artinya, adat istiadat bersumber pada ajaran agama, dan ajaran agama bersumber pada kitab suci Tuhan.

    Kutipan ini menegaskan bahwa Piil Pesenggiri bukanlah budaya yang sekuler, tetapi sarat dengan nilai-nilai spiritual dan ketuhanan, selaras dengan sila pertama Pancasila.

    Mari kita telusuri kelima nilai utama ini, yang saling berkait seperti untaian manik-manik pada sebuah tapis.
    1. Nemui Nyimah, Keramahan yang Menyapa.
    Nemui Nyimah adalah nilai tentang keramahan dan keterbukaan menerima tamu. Dalam tradisi, tamu adalah anugerah. Ritual penyambutan tamu dengan cangget (tari tradisional) dan sajian seruit (makanan khas) bukan sekadar formalitas. Ia adalah simbol bahwa setiap orang, siapapun dia, layak dihargai kehadirannya. Filosofi ini mengajarkan kita untuk tidak menutup diri dari perbedaan, melainkan menjadikannya sebagai khazanah untuk saling mengenal, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

    2. Nengah Nyappur, Keterbukaan dalam Pergaulan.
    Nengah Nyappur berarti aktif dalam pergaulan dan kehidupan sosial. Nilai ini mendorong seseorang untuk tidak mengisolasi diri, tetapi terjun ke tengah masyarakat, mendengar, belajar, dan berkontribusi. Sebuah pepatah adat Lampung mengingatkan: “Muli menyanak, bejuluk beadek.” Artinya, untuk menjadi mulia (secara martabat), seseorang harus memiliki sanak saudara dan berinteraksi dalam tatanan adat. Hidup bermasyarakat adalah sekolah utama untuk mematangkan piil (akhlak) seseorang.

    3. Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Menguatkan.
    Inilah prinsip solidaritas dan tolong-menolong tanpa pamrih. Membangun rumah (nuah), menggarap ladang, atau menyelenggarakan hajatan, selalu dilakukan secara bersama-sama. Nilai ini adalah pengejawantahan nyata dari sila kelima Pancasila, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Gotong royong memastikan tidak ada anggota masyarakat yang terpinggirkan dan beban berat menjadi ringan ketika dipikul bersama.

    4. Juluk Adok, Identitas dan Penghormatan.
    Juluk Adok merujuk pada gelar adat (juluk) dan tata krama (adok) yang melekat pada setiap individu berdasarkan garis keturunan dan prestasinya. Sistem marga (jurai) seperti Pubian, Sungkay, Menggala, atau Way Kanan, bukan untuk mengkotak-kotakkan, melainkan untuk mengetahui asal-usul dan menempatkan seseorang dalam tata pergaulan yang sopan. Menghormati juluk adek seseorang berarti menghargai sejarah dan perjalanan hidup keluarganya. Legenda asal-usul marga sering dikaitkan dengan tokoh penyebar agama atau pemuka adat, seperti kisah Said Abdullah, leluhur dari beberapa marga di Lampung, yang menyebarkan Islam sambil menata adat istiadat.

    5. Piil Pesenggiri Inti, Harga Diri yang Tak Tergadai.
    Ini adalah nilai paling hakiki. Menjaga pesenggiri (harga diri) berarti menjaga integritas, kejujuran, dan komitmen pada kata-kata. Seorang Lampung diharapkan bejenggot (berkata benar), betangkei (berpendirian teguh), dan sai bumi (menjunjung tinggi kebenaran). Seperti pesan dalam naskah Kuntara Raja Niti: “Hidup sekali, hiduplah yang berarti. Mati sekali, matilah yang mulia.” Hidup yang berarti adalah hidup yang dijalani dengan prinsip dan kontribusi, bukan dengan harta atau pangkat semata. Inilah pondasi karakter kuat yang dibutuhkan untuk membangun profil masyarakat Pancasila.

    Lalu, mengapa judul serial ini menyebut “Pemerintah Tutup Mata”? Ini bukan tentang menyalahkan, tetapi sebuah seruan agar semua pihak, terutama pemangku kebijakan, lebih membuka mata. Krisis budaya terjadi ketika:
    * Nemui Nyimah tergerus individualisme perkotaan.
    * Nengah Nyappur tergantikan oleh interaksi di media sosial yang dangkal.
    * Sakai Sambayan menghilang karena segala sesuatu diukur dengan materi.
    * Juluk Adok dilupakan, generasi muda tidak lagi mengenal silsilah dan tata krama adatnya.
    * Piil Pesenggiri tergadai demi keuntungan sesaat.

    Pemerintah daerah, melalui dinas pendidikan dan kebudayaan, diharapkan tidak hanya memajukan budaya sebagai “atraksi pariwisata” semata, tetapi menintegrasikan nilai-nilai Piil Pesenggiri ke dalam kurikulum pendidikan dasar, pelatihan aparatur sipil negara, dan program pembangunan masyarakat. Membangun gedung megah tapi mengabaikan karakter warganya adalah kemajuan yang semu.

    Piil Pesenggiri adalah pelita warisan leluhur. Ia mungkin tertutup debu zaman, tetapi apinya belum padam. Buku seri ini hadir untuk mengembuskan napas, menyulutnya kembali agar terangnya menerangi jalan generasi sekarang.
    Menerapkan Piil Pesenggiri hari ini bisa dimulai dari hal sederhana: bersikap ramah pada tetangga, aktif dalam kegiatan RT, membantu yang kesulitan, menghormati orang yang lebih tua, dan berani berkata benar meski sulit. Dengan demikian, kita tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membangun peradaban yang lebih beradab, berkarakter, dan berjiwa Pancasila.

    Mari kita jadikan falsafah yang hampir terlupakan ini sebagai kompas dalam mengarungi kehidupan modern. Sebab, seperti kata Umpu Sindi dalam cerita fiksi kita, “Mengabaikan Piil Pesenggiri berarti kehilangan arah pulang ke jati diri kita.”

    Sumber Referensi Terverifikasi:
    1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Buku Fisik)
    2. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno, transkripsi dan terjemahan). Koleksi Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung. (Dokumen Digital/Fisik)
    3. Suryadi, A. (2008). Piil Pesenggiri: Ajaran Moral Masyarakat Lampung. Sapu Lidi. (Buku Fisik).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • KHUTBAH JUM’AT : Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban – Malam Ampunan dan Persiapan Menuju Ramadhan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    KHUTBAH JUM’AT : Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban – Malam Ampunan dan Persiapan Menuju Ramadhan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    natatagung.id – Pemanggilan – Di antara karunia Allah yang besar adalah Dia memberi kita musim-musim kebaikan, waktu-waktu istimewa, agar hati yang letih kembali hidup, dosa-dosa yang menumpuk diampuni, dan jiwa yang jauh kembali mendekat.

    Salah satu malam agung itu adalah malam Nisfu Sya’ban, malam pertengahan bulan Sya’ban, malam yang dipenuhi rahmat, ampunan, dan perhatian Allah kepada hamba-Nya. Kesempatan Jum’at hari ini khatib akan membacakan tema khutbah yaitu : “Keutamaan Malam Nisfu Sya’ban – Malam Ampunan dan Persiapan Menuju Ramadhan.”

    KHUTBAH PERTAMA

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ،
    وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا،
    مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
    أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subḥanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan yang bukan hanya terucap di lisan, tetapi hidup dalam amal, hadir dalam kesadaran, dan berbuah dalam akhlak.

    Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    Yā ayyuhalladzīna āmanūttaqullāha ḥaqqa tuqātihī wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

    “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

    Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Di antara karunia Allah yang besar adalah Dia memberi kita musim-musim kebaikan, waktu-waktu istimewa, agar hati yang letih kembali hidup, dosa-dosa yang menumpuk diampuni, dan jiwa yang jauh kembali mendekat.

    Salah satu malam agung itu adalah malam Nisfu Sya’ban, malam pertengahan bulan Sya’ban, malam yang dipenuhi rahmat, ampunan, dan perhatian Allah kepada hamba-Nya.
    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    إِنَّ اللَّهَ يَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

    Innallāha yaṭṭali‘u fī laylatin-niṣfi min Sya‘bān, fa yaghfiru li jamī‘i khalqihī illā li musyrikin aw musyāḥin.

    “Sesungguhnya Allah melihat (memberi perhatian khusus) pada malam Nisfu Sya’ban, lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang menyimpan permusuhan.”
    (HR. Ibnu Mājah)

    Ma’asyiral Muslimin,

    Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa ampunan Allah sangat luas, tetapi ada penghalang turunnya ampunan:
    – Syirik, hati yang menggantungkan harapan selain kepada Allah
    – Permusuhan, dendam, kebencian, dan kebekuan hati terhadap sesama

    Malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar malam ibadah, tetapi malam membersihkan hati.

    Jama’ah yang dirahmati Allah,

    Bulan Sya’ban sendiri adalah bulan yang sangat dimuliakan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam

    Dalam sebuah hadits, Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu berkata:

    ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

    Dzālika syahrun yaghfulun-nāsu ‘anhu baina Rajaba wa Ramaḍān, wa huwa syahrun turfa‘u fīhil-a‘mālu ilā Rabbil-‘ālamīn.

    “Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam.” (HR. An-Nasā’i)

    Maka malam Nisfu Sya’ban adalah puncak kesadaran, saat yang tepat untuk bertanya pada diri kita:
    – Bagaimana keadaan iman kita?

    – Bagaimana amal kita yang akan diangkat?

    Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Allah membuka pintu taubat sepanjang malam dan siang. Allah berfirman:

    قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

    Qul yā ‘ibādiyalladzīna asrafū ‘alā anfusihim lā taqnaṭū min raḥmatillāh.

    “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

    Malam Nisfu Sya’ban adalah malam harapan, bukan malam keputusasaan.

    Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

    Marilah kita jadikan malam Nisfu Sya’ban sebagai titik balik:

    Memperbanyak istighfar dan taubat

    Menghidupkan malam dengan shalat dan doa

    Membersihkan hati dari dendam dan kebencian

    Memperbaiki hubungan dengan sesama

    Mempersiapkan diri menyambut Ramadhan

    Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

    التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ

    At-tā`ibu minadz-dzanbi ka man lā dzanba lah.

    “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Mājah)

    Betapa indahnya jika kita memasuki Ramadhan dengan lembaran hati yang bersih.

    Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

    Jangan biarkan malam Nisfu Sya’ban berlalu tanpa makna. Jadikan ia sebagai malam doa, malam tangis, malam pengakuan kelemahan di hadapan Allah.
    Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal kita, dan mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman dan kesehatan.

    بارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

    Bārakallāhu lī wa lakum fīl-Qur’ānil-‘aẓīm, wa nafa‘anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm, wa taqabbalallāhu minnī wa minkum tilāwatahu, innahu huwa-s-samī‘ul-‘alīm. Aqūlu qawlī hādzā wa astaghfirullāhal-‘aẓīma lī wa lakum wa lisā’iril-muslimīn min kulli dzanbin, fastaghfirūh, innahu huwa al-Ghafūru ar-Raḥīm…

    KHUTBAH JUM’AT KEDUA

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

    Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

    أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

    Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

    Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

    اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

    Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

    اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

    Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

    اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

    Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

    عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

    ‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Kakanwil Kemenag Lampung Lantik 12 Pejabat Eselon III. Erwinto Jabat Kemenag Kota Bandar Lampung, Rifa’i di Lampung Selatan, A.Khotob di Pesisir Barat

    Kakanwil Kemenag Lampung Lantik 12 Pejabat Eselon III. Erwinto Jabat Kemenag Kota Bandar Lampung, Rifa’i di Lampung Selatan, A.Khotob di Pesisir Barat

    nataragung.id – Bandar Lampung – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Lampung, Zulkarnain, melantik sebanyak 12 pejabat administrator atau eselon III di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Rabu (28/1/2026).

    Dari 12 pejabat yang dilantik 3 diantara yaitu; H. Erwinto, SAg., menduduki jabatan Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung. H. Rifa’i, SE, MM., menduduki jabatan Kakemenag Lampung Selatan dan Ahmad Khotob, SAg, MM., menduduki jabatan Kepala Kemenag Pesisir Barat.

    Zulkarnain menyampaikan bahwa mutasi dan rotasi jabatan merupakan bagian dari dinamika organisasi sekaligus hukum alam dalam upaya penyegaran dan peningkatan kinerja birokrasi.

    “Mutasi dan rotasi itu sunnatullah dalam organisasi. Selain penyegaran, ada juga yang mendapatkan promosi sesuai dengan prestasi yang bersangkutan,” ujar Zulkarnain usai pelantikan.

    Ia mengungkapkan, selama sekitar satu bulan menjabat sebagai Kakanwil Kemenag Lampung, pihaknya telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pejabat. Hasil evaluasi tersebut kemudian menjadi dasar penempatan dan promosi jabatan.

    “Selama satu bulan ini dilakukan evaluasi. Inilah yang kami nilai terbaik untuk mereka. Insyaallah,” katanya.

    Zulkarnain berharap para pejabat yang baru dilantik dapat bekerja secara maksimal dengan mengedepankan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas. Ia menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

    “Jabatan itu amanah. Jangan sombong, jangan menyalahgunakan kewenangan, dan jangan sampai menzalimi umat maupun masyarakat,” tegasnya.

    Berikut adalah Daftar Pejabat yang Dimutasi/Dilantik di Lingkungan Kemenag Lampung:

    1. Drs. H. Marwansyah
    Dari Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung → Kepala Kemenag Kabupaten Lampung Timur

    2. H. Rifai, SE., MM
    Dari Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Lampung → Kepala Kemenag Kabupaten Lampung Selatan

    3. H. Indra Jaya, S.Ag., M.A.P.
    Dari Kepala Kemenag Kabupaten Lampung Timur → Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan Islam Kanwil Kemenag Lampung

    4. H. Yulizar Andri, S.T., M.Ag
    Dari Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Lampung → Kepala Kemenag Kabupaten Tulang Bawang Barat

    5. H. Erwinto, S.Ag., M.Kom.I
    Dari Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf Kanwil Kemenag Lampung → Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung

    6. Drs. H. Makmur, M.Ag
    Dari Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung → Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf Kanwil Kemenag Lampung

    7. A. Jalaluddin, S.Ag., M.Kom.I
    Dari Kepala Kemenag Kabupaten Tulang Bawang → Kepala Kemenag Kabupaten Mesuji

    8. H. Johan Yusuf, S.Ag., M.Pd.I
    Dari Kepala Kemenag Kabupaten Mesuji → Kepala Kemenag Kabupaten Tulang Bawang

    9. Yan Maradonna, SE., MM
    Dari Pengelola Pengadaan Barang/Jasa Ahli Muda Kanwil Kemenag Lampung → Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung

    10. Miftahus Surur, S.Ag
    Dari Kepala Sub Bagian Kemenag Kabupaten Lampung Barat → Kepala Kemenag Kabupaten Lampung Barat

    11. Ahmad Khotob, S.Ag., M.M
    Dari Kepala Seksi Pendidikan Islam Kemenag Kabupaten Pesisir Barat → Kepala Kemenag Kabupaten Pesisir Barat

    12. Herry Setiawan, S.Sos.I., M.Pd
    Dari Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Lampung Utara → Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag.

    Editor : Muhammad Arya

  • Pemkab Lampung Selatan Siap Luncurkan Tiga Inovasi Strategis: Hallo Lamsel, L-Betik, dan Desa HELAU

    Pemkab Lampung Selatan Siap Luncurkan Tiga Inovasi Strategis: Hallo Lamsel, L-Betik, dan Desa HELAU

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan tengah bersiap meluncurkan tiga program inovasi strategis, yakni Hallo Lamsel, L-Betik, dan Desa HELAU, sebagai langkah transformasi layanan publik dan penguatan tata kelola pemerintahan yang lebih modern, transparan, dan partisipatif.

    Persiapan peluncuran tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Selatan, Supriyanto, di Ruang Kerja Sekda Lampung Selatan, Rabu (28/1/2026).

    Rapat tersebut bertujuan menyelaraskan konsep teknis dan narasi program agar manfaat ketiga inovasi tersebut dapat segera dirasakan langsung oleh masyarakat.

    Rapat dihadiri sejumlah pejabat utama daerah, serta tiga kepala perangkat daerah pemrakarsa inovasi, yakni Inspektur Kabupaten, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), bersama perangkat daerah terkait lainnya.

    Dalam rapat tersebut, Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Lampung Selatan, Anasrullah, menjelaskan bahwa Hallo Lamsel merupakan penyempurnaan layanan masyarakat yang kini dikemas lebih modern dan interaktif.

    Menariknya, peluncuran aplikasi ini tidak dikemas dalam format seremonial formal, melainkan mengusung konsep nongkrong ala kafe yang akan digelar di Taman Tengah Kantor Bupati Lampung Selatan.

    “Awalnya launching dirancang secara formil, tetapi sesuai arahan Bapak Bupati, acara diminta tidak terlalu kaku. Kami akan mengundang unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, hingga masyarakat, dengan estimasi sekitar 150 peserta,” jelas Anasrullah.

    Ia menambahkan, dalam peluncuran tersebut juga akan ditampilkan demo aplikasi Hallo Lamsel yang memuat delapan layanan unggulan dari berbagai perangkat daerah melalui videotron, sehingga masyarakat dapat langsung melihat fungsi dan manfaat layanan digital tersebut.

    Sementara itu, Inspektur Kabupaten Badruzzaman menjelaskan bahwa L-Betik hadir sebagai sistem pencegahan korupsi dan penguatan integritas di lingkungan pemerintahan Lampung Selatan.

    Saat ini, pihaknya tengah melakukan revisi Peraturan Bupati untuk mempertegas nomenklatur L-Betik dan Sai Betik, yang ditargetkan rampung dalam dua minggu ke depan.

    “Kami juga memperkenalkan Si Elbik sebagai maskot resmi. Selain menyiapkan tim teknis, kami menyediakan suvenir berisi nomor kontak aduan agar masyarakat lebih mudah menyampaikan laporan,” ujarnya.

    Di sisi lain, Kepala Dinas PMD Lampung Selatan, Erdiyansyah, memaparkan program Desa HELAU yang merupakan ide orisinal Bupati Lampung Selatan. Program ini dirancang untuk mengintegrasikan nilai-nilai ABRI BKW ke dalam narasi pembangunan desa yang lebih komunikatif dan mudah dipahami masyarakat.

    “HELAU merepresentasikan daerah yang indah, cantik, rapi, dan berdaya saing. Ke depan akan dipilih 17 desa percontohan sebagai model penguatan komitmen bersama antar-stakeholder, di luar agenda rutin lomba desa,” kata Erdiyansyah.

    Sekda Supriyanto menegaskan pentingnya percepatan peluncuran ketiga inovasi tersebut. Meski jadwal pelaksanaan masih menyesuaikan agenda Bupati, ia meminta seluruh persiapan teknis dan narasi penguatan program segera dirampungkan.

    “Saya berharap secepatnya bisa segera di-launching. Terkait jadwal, kita menyesuaikan agenda Bapak Bupati. Namun secara teknis maupun narasi penguatannya, semua harus sudah siap dalam waktu dekat,” tegas Supriyanto.

    Rencana peluncuran besar ini akan dipusatkan secara terbuka (outdoor) di Taman Tengah Kantor Bupati Lampung Selatan, sebagai simbol transparansi, keterbukaan informasi, dan kedekatan pemerintah dengan masyarakat. (mara)

  • Musrenbang RKPD 2027 Dimulai Awal Februari, Pemkab Lampung Selatan Hadirkan Layanan Publik Gratis di 17 Kecamatan

    Musrenbang RKPD 2027 Dimulai Awal Februari, Pemkab Lampung Selatan Hadirkan Layanan Publik Gratis di 17 Kecamatan

    nataragung.id – Kalianda – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan mulai mematangkan persiapan pelaksanaan Musrenbang RKPD Tahun 2027 yang akan digelar di seluruh 17 kecamatan.

    Persiapan tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, bersama para pejabat utama, kepala perangkat daerah, dan camat, di Aula Krakatau, Kantor Bupati Lampung Selatan, Rabu (28/1/2026).

    Pelaksanaan Musrenbang RKPD Kecamatan dijadwalkan berlangsung selama hampir dua pekan, mulai Senin, 2 Februari hingga Kamis, 12 Februari 2026. Kegiatan ini akan dilaksanakan dengan konsep maraton, bahkan dalam satu hari digelar di dua kecamatan.

    Selain sebagai forum perencanaan pembangunan, Musrenbang RKPD tahun ini juga akan diramaikan dengan berbagai layanan publik gratis, seperti pelayanan perizinan, kesehatan, administrasi kependudukan, serta bazar UMKM di masing-masing kecamatan.

    Sekda Kabupaten Lampung Selatan, Supriyanto, mengatakan bahwa Musrenbang RKPD 2027 tahun ini dirancang dengan sejumlah pembaruan untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas forum perencanaan tersebut.

    “Pelaksanaan Musrenbang ini kita dorong agar terus ada perbaikan dan hal-hal yang berbeda. Semua itu dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas Musrenbang itu sendiri,” ujar Supriyanto saat menyampaikan arahannya.

    Menurut Supriyanto, Musrenbang tidak hanya berfungsi sebagai wadah penyerapan aspirasi masyarakat, tetapi juga sebagai sarana penyampaian informasi pembangunan secara terbuka kepada publik.

    “Musrenbang ini dalam rangka menyerap aspirasi sekaligus menyampaikan informasi kepada masyarakat terkait program pembangunan yang telah dan akan dilaksanakan,” lanjutnya.

    Pada pelaksanaan Musrenbang RKPD 2027 tahun ini, Pemkab Lampung Selatan juga akan menampilkan video capaian pembangunan di setiap kecamatan sepanjang tahun 2025 sebagai bentuk transparansi dan edukasi publik.

    “Penyajian informasi kita tingkatkan melalui tampilan visual berupa video capaian pembangunan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mudah memahami apa saja yang sudah kita lakukan,” katanya.

    Ia menegaskan, konsep dan format Musrenbang RKPD 2027 di 17 kecamatan tidak boleh justru menyulitkan kecamatan dalam pelaksanaannya.

    “Kita tidak membuat format lokasi Musrenbang yang menyusahkan kecamatan. Justru kegiatan ini kita rancang agar menarik, nyaman, dan menyenangkan, dengan lokasi yang rapi, bersih, dan tertata,” ungkapnya.

    Melalui konsep tersebut, Pemkab Lampung Selatan berharap Musrenbang RKPD 2027 di 17 kecamatan mampu memberikan gambaran yang jelas kepada masyarakat mengenai capaian pembangunan di masing-masing kecamatan, sekaligus arah dan rencana pembangunan yang akan dilaksanakan ke depan. (mara)

  • Gubernur Mirza Ajak Pengurus PERKINDO Ambil Peran Strategis Dalam Penguatan SDM di Sektor Jasa Konsultan

    Gubernur Mirza Ajak Pengurus PERKINDO Ambil Peran Strategis Dalam Penguatan SDM di Sektor Jasa Konsultan

    nataragung.id – Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak Persatuan Konsultan Indonesia (Perkindo) untuk mengambil peran strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya di sektor jasa konsultan.

    Hal tersebut disampaikan Gubernur Mirza saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) VI Perkindo yang digelar di Swiss-Belhotel Bandarlampung, Rabu (28/1/2026). Turut hadir Ketua Umum DPP Perkindo Nunus Nugroho.

    Gubernur Mirza menegaskan, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari empat hingga lima negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2045. Target besar itu, kata dia, membutuhkan kesiapan seluruh sektor, termasuk dunia konstruksi dan jasa konsultan.

    “Indonesia diproyeksikan masuk peringkat empat atau lima ekonomi terbesar dunia pada 2045. Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa pertumbuhan perekonomian kita harus tumbuh dengan target 8 persen dan terus meningkat,” ujar Mirza.

    Ia menambahkan, sektor konstruksi masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor konstruksi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional mencapai sekitar 9,48 persen.

    Namun demikian, Mirza mengingatkan bahwa tantangan ke depan tidaklah ringan. Globalisasi, keterbukaan pasar, serta digitalisasi akan menciptakan kompetisi yang semakin ketat, termasuk di bidang jasa konsultan.

    “Dalam era keterbukaan ini, bukan tidak mungkin ketika investasi masuk, bukan hanya modalnya yang datang, tetapi juga konsultan dari luar negeri ikut dibawa masuk,” katanya.

    Menurut Mirza, untuk mempersiapkan Indonesia Emas 2045, periode 2025–2030 menjadi fase krusial dalam memperkuat kualitas SDM. Upaya tersebut harus dilakukan secara kolaboratif oleh pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten dan kota, termasuk pihak swasta.

    “Fokus kita bersama adalah bagaimana memperkuat kualitas sumber daya manusia. Digitalisasi dan kompetisi yang semakin ketat harus diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM di setiap bidang, termasuk jasa konsultan,” tegasnya.

    Dalam kesempatan itu, Gubernur Mirza secara khusus mengajak para konsultan yang tergabung dalam Perkindo untuk bersiap menghadapi peluang besar di masa depan, seiring pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah.

    “Saya mengajak para konsultan, khususnya yang tergabung dalam Perkindo, untuk mempersiapkan diri menghadapi market, pertumbuhan, dan masa depan. Indonesia, termasuk Provinsi Lampung, akan menjadi wilayah dengan peluang yang sangat besar,” ujarnya.

    Ia juga berharap Perkindo memiliki fokus yang kuat dalam meningkatkan kualitas konsultan anggotanya, baik melalui peningkatan kapasitas maupun sertifikasi profesional yang relevan dengan perkembangan zaman.

    “Kami berharap Rakernas ini menghasilkan rekomendasi dan arah kebijakan yang konkret, terutama dalam peningkatan kualitas SDM, termasuk penguatan sertifikasi kompetensi profesional yang relevan di era digital,” pungkas Mirza.

    Dalam Rakernas ini juga dihadiri Direktur Usaha dan Kelembagaan Jasa Konstruksi Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PU Airyn Saputri secara virtual. (SMh)

  • Pemprov Lampung Siap Kembangkan Kakao Agroforestri

    Pemprov Lampung Siap Kembangkan Kakao Agroforestri

    nataragung.id – Bandar Lampung – Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela melakukan diskusi lanjutan bersama PT. Olam Indonesia serta tim Partnership for Forests (P4F) dari pemerintah Inggris, di RM. Rumah Kayu, Bandar Lampung, Selasa (27/1/2026). Pertemuan berlangsung sebagai tindak lanjut kerja sama pengembangan komoditas kehutanan sosial.

    Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari kunjungan lapangan hilirisasi kakao di Kabupaten Lampung Timur, Pesawaran, Lampung Tengah, dan Tanggamus. Site visit dilakukan untuk melihat langsung potensi kakao petani perhutanan sosial yang akan masuk dalam skema hilirisasi berbasis agroforestri.

    Wakil Gubernur Jihan Nurlela mengatakan, kerja sama dengan PT. Olam telah memiliki dasar yang kuat melalui nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian kerja sama (PKS). Kolaborasi ini difokuskan pada hilirisasi kakao sekaligus peningkatan kualitas budidaya petani.

    “Kami hari ini membersamai PT Olam yang melakukan site visit di beberapa daerah yang sudah disepakati dalam MoU, termasuk Pesawaran dan Lampung Timur, terkait kerja sama hilirisasi kakao,” ucap Wagub Jihan. Ia menambahkan, hasil observasi menunjukkan kualitas kakao petani Lampung dinilai baik dan proyek ini disambut optimistis oleh semua pihak.

    Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Lampung menyampaikan, pembahasan kerja sama dengan PT. Olam telah berlangsung intensif dan mendapat dukungan penuh dari Gubernur Lampung. Menurutnya, kolaborasi ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan petani perhutanan sosial.

    “Petani perhutanan sosial banyak yang membudidayakan kakao, dan PT Olam memiliki ketertarikan kuat pada komoditas ini. Mereka akan ikut membina petani sekaligus melakukan hilirisasi kakao,” ujarnya. Ia menilai kerja sama ini mendorong transisi dari sistem monokultur ke agroforestri yang lebih berkelanjutan.

    Pendekatan agroforestri dinilai mampu menjaga keseimbangan antara nilai ekonomi dan ekologis hutan. Petani tetap memperoleh manfaat ekonomi, sementara fungsi lingkungan hutan dapat dipertahankan dan ditingkatkan secara bersama-sama.

    Direktur PT. Olam Food Ingredients (OFI) Indonesia, Imam Suharto mengatakan pihaknya telah menjalankan pendampingan kakao berbasis agroforestri di lahan pertanian sejak 2015. Model tersebut dinilai berhasil dan siap diperluas ke kawasan perhutanan sosial di Lampung.

    “Kami menemukan visi yang sama dengan Pemerintah Provinsi Lampung untuk mengembangkan kakao agroforestri dan multi komoditas di lahan perhutanan sosial,” ujar Imam.

    Proyek ini direncanakan mencakup sekitar 35.000 hektare lahan perhutanan sosial dengan melibatkan 18.000 petani di empat kabupaten.

    Imam Suharto menambahkan, proyek ini mendapat perhatian dari Pemerintah Inggris melalui FCDO dan diharapkan menjadi percontohan global. PT. Olam menargetkan implementasi program dapat dimulai paling lambat pada Maret 2026, setelah seluruh tahapan persiapan disepakati bersama pemerintah daerah. (SMh)

  • Kabupaten Bandar Negara: Pilihan Realistis, Taktis, dan Berdaya Tahan Ekonomi. Oleh: Ir. Irfan Nuranda Djafar, CES *)

    Kabupaten Bandar Negara: Pilihan Realistis, Taktis, dan Berdaya Tahan Ekonomi. Oleh: Ir. Irfan Nuranda Djafar, CES *)

    nataragung.id – Jati Agung – Pemekaran wilayah bukan sekadar soal peta dan batas administratif. Ia adalah soal waktu, momentum, dan ketepatan strategi. Dalam konteks rencana pembentukan Kabupaten Bandar Negara, pilihan untuk tetap mengusulkan bentuk kabupaten—bukan kota—bukanlah pilihan kompromistis, melainkan keputusan yang realistis, cerdas, dan berpijak kuat pada logika birokrasi serta ekonomi Indonesia hari ini.

    Apalagi, Lampung sedang berada di ambang perubahan besar dengan pemindahan ibu kota provinsi. Momentum seperti ini tidak datang dua kali. Karena itu, keputusan yang diambil harus mampu mempercepat, bukan justru menghambat.

    Menghindari “Pagar” Aturan Tujuh Tahun

    Secara regulasi, Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2007 memberi batasan yang tegas: daerah otonom baru tidak bisa dimekarkan lagi sebelum mencapai usia tertentu. Jika sejak awal Bandar Negara dipaksakan menjadi kota, maka ada beberapa konsekuensi birokratis yang tidak ringan.

    Pertama, syarat kota menuntut adanya kecamatan dengan karakter perkotaan yang mapan. Artinya, harus ada pemekaran kecamatan terlebih dahulu, proses yang secara realistis bisa memakan waktu 1–2 tahun. Kedua, setelah kota terbentuk, masih ada masa tunggu otonomi sebelum bisa melakukan penyesuaian lanjutan. Jika dijumlahkan, waktu yang terbuang bisa mendekati satu dekade—sebuah kemewahan yang tidak kita miliki saat ini.

    Dalam birokrasi Indonesia, kecepatan sering kali lebih menentukan daripada ambisi bentuk. Karena itu, mengusulkan Kabupaten Bandar Negara adalah cara paling rasional untuk menembus pagar regulasi tanpa melanggar aturan.

    Strategi “Kabupaten Dulu, Kota Kemudian”

    Banyak daerah di Indonesia telah membuktikan efektivitas strategi ini. Polanya sederhana namun kuat.

    Langkah pertama, mengesahkan Kabupaten Bandar Negara agar lepas dari Lampung Selatan dan memiliki APBD sendiri. Ini kunci. Tanpa APBD, pembangunan hanya akan menjadi wacana.

    Langkah kedua, menggunakan APBD kabupaten tersebut untuk membangun infrastruktur perkotaan di wilayah strategis seperti Jati Agung dan Natar—jalan, kantor pemerintahan, layanan publik, dan konektivitas.

    Langkah ketiga, ketika seluruh syarat administratif dan fisik telah matang, status kabupaten dapat ditingkatkan menjadi kota di masa depan melalui revisi undang-undang pembentukannya. Dengan cara ini, kota lahir dari fondasi yang kuat, bukan dari paksaan administratif.

    Keuntungan Finansial di Masa Transisi

    Status kabupaten memberi keuntungan finansial yang sering luput dari perhatian. Selama masih berbentuk kabupaten, desa-desa yang ada tetap berhak atas Dana Desa dari pemerintah pusat. Artinya, pembangunan jalan lingkungan, drainase, dan fasilitas dasar desa tetap berjalan menggunakan dana dari Jakarta, bukan menguras APBD kabupaten baru yang masih dalam tahap konsolidasi.

    Logikanya jelas: uang pusat membiayai desa, APBD fokus membangun pusat pemerintahan dan infrastruktur strategis. Ini pembagian peran yang sehat dan efisien.

    Wilayah Ideal, Tidak Gemuk Tapi Bernilai Tinggi

    Dengan bergabungnya 8 desa di Jati Agung ke Kota Bandar Lampung, memang ada pengurangan wilayah. Dari luas awal sekitar 750 km², pengurangan diperkirakan 40–50 km². Namun hasil akhirnya tetap sebuah kabupaten dengan luas sekitar 700 km²—ukuran yang sangat ideal.

    Wilayah ini memiliki komposisi strategis: Natar sebagai pintu masuk (bandara), Jati Agung sebagai pusat pemerintahan, dan berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi. Ini bukan wilayah luas yang sulit dikelola, melainkan wilayah ringkas dengan nilai ekonomi tinggi.

    Tanjung Bintang: Mesin Uang yang Menentukan

    Salah satu penopang utama kemandirian Kabupaten Bandar Negara adalah Kawasan Industri Tanjung Bintang. Memasukkan kawasan ini ke dalam wilayah kabupaten baru adalah keputusan strategis yang membuat struktur ekonomi Bandar Negara kuat dan mandiri sejak hari pertama.

    Puluhan perusahaan besar beroperasi di sini: dari pabrik pakan ternak, makanan, logistik, hingga manufaktur. Kontribusi Pajak Bumi dan Bangunan sektor industri serta pajak penerangan jalan akan menjadi modal utama APBD, sehingga kabupaten baru tidak sepenuhnya bergantung pada dana perimbangan pusat.

    Dari sisi ketenagakerjaan, status kabupaten memudahkan koordinasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha. Warga Natar dan Jati Agung tidak perlu mencari kerja ke luar daerah, karena pusat industri masih berada dalam satu wilayah administrasi.

    Ditambah lagi, akses langsung ke Jalan Tol Trans Sumatera melalui Gerbang Tol Lematang menciptakan apa yang bisa disebut sebagai segitiga emas: Industri (Tanjung Bintang) – Transportasi (Bandara Natar) – Pemerintahan (Jati Agung).

    Fleksibilitas Kabupaten bagi Industri

    Industri membutuhkan dua hal: lahan luas dan kepastian biaya. Status kabupaten memberikan keduanya. Jika berstatus kota, ekspansi industri sering terhambat oleh kepadatan permukiman dan lonjakan harga tanah.

    Selain itu, Upah Minimum Kabupaten (UMK) umumnya lebih kompetitif dibanding UMK kota. Ini faktor penting agar investor tetap bertahan dan tidak memindahkan usahanya ke daerah lain.

    Dengan kata lain, kabupaten memberi ruang napas bagi industri, sementara kota sering kali membatasi.

    Sektor Unggulan dan Simulasi Kemandirian

    Jika disimulasikan, profil ekonomi Kabupaten Bandar Negara akan ditopang oleh tiga sektor utama. Pertama, kawasan industri Tanjung Bintang yang diprediksi menyumbang hingga 30–40 persen PAD. Kedua, Bandara Radin Inten II dan logistik Natar, yang menjadi sumber pajak parkir, reklame, retribusi jasa, dan aktivitas pergudangan. Ketiga, ekonomi jasa dan pendidikan di sekitar ITERA dan wilayah Jati Agung tersisa, yang mendorong pajak restoran, kos-kosan, dan jasa.

    Dengan luas wilayah yang relatif kecil—sekitar 700 km²—biaya pembangunan infrastruktur jauh lebih efisien. Uang yang besar tidak tersebar ke wilayah yang terlalu luas. Hasilnya, kualitas jalan dan fasilitas publik bisa meningkat lebih cepat dibanding kabupaten induk yang wilayahnya lebih dari 2.000 km².

    Penutup: Kecil-Kecil Cabai Rawit

    Kehilangan 8 desa di Jati Agung memang mengurangi sebagian potensi pajak kawasan Kota Baru. Namun pada saat yang sama, beban belanja pegawai dan pembangunan juga berpindah ke Kota Bandar Lampung. Secara neraca keuangan, Kabupaten Bandar Negara justru tetap diuntungkan.

    Inilah wilayah yang bisa disebut “kecil-kecil cabai rawit”: luasnya tidak besar, tetapi nilai ekonominya tinggi dan daya ungkitnya kuat. Dalam konteks pemekaran, Kabupaten Bandar Negara bukan hanya mungkin, tetapi masuk akal dan menjanjikan—bukan sekadar hari ini, tetapi untuk masa depan Lampung. **

    *) Penulis adalah : Ketua Umum Panitia Pembentukan Pemekaran Kabupaten Bandar Negara (P3KBN

  • Jalankan Amanat Sanad, KH RM Soleh Bajuri Pimpin Pengecoran Gedung Kholwat Thariqah

    Jalankan Amanat Sanad, KH RM Soleh Bajuri Pimpin Pengecoran Gedung Kholwat Thariqah

    nataragung.id – Palas – Khidmah terhadap umat dan pelestarian tradisi spiritual pesantren memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai. Hal inilah yang mendasari langkah nyata KH RM Soleh Bajuri, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotussolihin, Palas, Lampung Selatan, dalam memimpin langsung proses pembangunan sarana thariqah di kompleks pesantren setempat.

    Pada Rabu (28/1/2026) pagi, Wakil Rais Aam Pengurus Besar Jam’iyah Ahli Thoriqoh Mu’tabarah Indonesia (PB JATMI) tersebut turun langsung meninjau sekaligus memimpin proses pengecoran lantai atas pembangunan Gedung Kholwat Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Kegiatan ini melibatkan gotong royong para ikhwan thariqah, santri sepuh, serta para santri Pesantren Roudlotussolihin.

    Pembangunan gedung berukuran 10×24 meter ini memiliki nilai historis dan spiritual yang mendalam. Kiai Soleh menjelaskan bahwa pembangunan sarana ini merupakan wujud pelaksanaan amanat dari guru beliau, KH M. Tauhid, M.Si (Rois Aam PB JATMI/Pengasuh PP Al-Madani Semarang), saat mengangkat beliau sebagai Mursyid.

    “Sebelumnya, saat saya masih berstatus sebagai Badal dari Mbah KH Jamaluddin Al-Busthomi, kami belum melaksanakan kegiatan suluk atau kholwat secara mandiri karena keterbatasan tempat. Saat ini, atas mandat dari guru, kami didaulat untuk memulai pelaksanaan suluk tersebut,” ungkap Kiai Soleh di sela-sela aktivitas pengecoran.

    Gedung dua lantai yang berlokasi di area Pesantren Tahfidz (kompleks Gus Yusuf) ini dirancang secara fungsional; lantai dasar akan dipergunakan sebagai pusat kegiatan dzikir jemaah, sementara lantai dua difungsikan sebagai ruang kamar khusus bagi para peserta suluk.

    Pembangunan gedung yang beralamat di Jalan KH Bisri Musthofa, Desa Bumi Restu ini, sejatinya telah melalui proses perencanaan yang matang. Peletakan batu pertama pembangunan ini dilakukan bertepatan dengan Hari Santri, 22 Oktober 2025 lalu.

    Momen historis tersebut dihadiri oleh tokoh-tokoh besar, di antaranya Mustasyar PBNU Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA, Sekjen JATMI KH Miftahul Falah, serta jajaran Bupati dan Uspika Kecamatan Palas. Kehadiran para tokoh lintas struktur ini menegaskan dukungan kuat terhadap pengembangan pusat spiritualitas di Lampung Selatan.

    “Kami memohon doa dari segenap masyarakat dan warga Nahdliyin agar pembangunan ini cepat selesai, membawa keberkahan, serta memberikan kemanfaatan bagi umat dalam mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” harap Kiai Soleh.

    Melalui pembangunan Gedung Kholwat ini, Pesantren Roudlotussolihin berkomitmen untuk terus menjaga marwah ajaran Tasawuf yang murni melalui bimbingan yang bersanad, sekaligus menyediakan ruang kontemplasi bagi jemaah di tengah arus modernitas yang kian deras. **

    Editor : Edi Sriyanto

  • Yoga Andrian Saputra Terpilih sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026 – Suara Mahasiswa Sebagai Katalisator Perubahan untuk Masa Depan Riau

    Yoga Andrian Saputra Terpilih sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026 – Suara Mahasiswa Sebagai Katalisator Perubahan untuk Masa Depan Riau

    nataragung.id – Pekanbaru – Di tengah gemerlap acara Putera Puteri Kampus Riau (PKKR) 2026 yang diadakan di pusat kota Pekanbaru, nama Yoga Andrian Saputra semakin dikenal sebagai sosok pemuda yang membawa misi penting untuk mengangkat suara mahasiswa ke kancah yang lebih luas.

    Sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Abdurrab asal Pekanbaru, ia tidak hanya berhasil meraih posisi sebagai Top 12 Putera Kampus Riau, tetapi juga dianugerahi gelar yang sangat bermakna: Putera Advokasi Kampus PKKR 2026.

    Bagi Yoga, pencapaian ini bukan sekadar mahkota yang dikenakan di pundaknya, melainkan sebuah amanah yang mengingatkan bahwa suara mahasiswa memiliki peran krusial dalam membentuk dinamika sosial dan kebijakan di Provinsi Riau bahkan lebih luas.

    “Ketika nama saya disebut sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026, perasaan yang saya rasakan bukan hanya kegembiraan semata, tetapi juga rasa tanggung jawab yang luar biasa besar,” ujar Yoga dengan tatapan yang penuh kedalaman dan keyakinan yang membara, “saya melihat gelar ini sebagai pengingat bahwa kita sebagai mahasiswa tidak bisa hanya tinggal diam di balik meja kuliah. Kita memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan apa yang menjadi aspirasi teman-teman sebayanya, serta berbagai isu yang berdampak pada kehidupan masyarakat luas. Latar belakang saya di Ilmu Hubungan Internasional telah membentuk keyakinan yang kuat bahwa setiap perubahan, baik yang terjadi di tingkat global maupun yang terjadi di pelosok tanah air kita, selalu berawal dari keberanian seseorang atau sekelompok orang untuk mengangkat suara mereka dalam memperjuangkan kepentingan manusia dan nilai-nilai keadilan yang universal.”

    Sebelum mencapai pencapaian gemilang ini, Yoga telah menjalani perjalanan yang tidak selalu mulus dalam dunia advokasi dan kepemudaan. Sejak memasuki bangku perkuliahan di Universitas Abdurrab, ia aktif terlibat dalam berbagai diskusi mahasiswa, lokakarya kebijakan, serta kegiatan sosial yang bertujuan untuk menghubungkan ruang akademik dengan realitas masyarakat. Ia seringkali menghabiskan waktu luangnya untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai program studi dan kampus di seluruh Riau, mendengarkan keluhan, harapan, dan aspirasi mereka terkait dengan pendidikan, kesempatan kerja, serta isu-isu sosial yang mereka hadapi sehari-hari. “Saya selalu percaya bahwa advokasi yang efektif tidak bisa dilakukan hanya dengan teori saja,” ungkapnya dengan sikap yang sangat praktis, “kita harus benar-benar mendengar suara yang berada di bawah, memahami konteks yang mereka hadapi, dan kemudian bekerja sama untuk menemukan solusi yang paling tepat. Itulah prinsip dasar yang saya pegang teguh dalam setiap langkah yang saya tempuh sebagai seorang advokat mahasiswa.”

    Dukungan yang tak pernah pudar dari keluarga, khususnya orang tuanya, menjadi pijakan utama yang membuat Yoga mampu berdiri tegak dan terus berjuang untuk apa yang ia yakini. Pada saat pengumuman pemenang PKKR 2026, orang tuanya yang hadir langsung memberikan dukungan yang penuh kasih sayang. “Orang tua saya datang ke acara tersebut dengan wajah yang penuh harapan,” cerita Yoga dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa syukur yang dalam, “setelah saya terpilih, ayah saya berkata padaku, ‘Anakku, gelar Putera Advokasi Kampus yang kamu dapatkan hari ini bukan hanya milikmu sendiri. Ini adalah bukti bahwa suara mahasiswa layak untuk didengar, dan harapannya kamu bisa menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi banyak orang dengan ruang-ruang yang memiliki kekuasaan untuk membuat perubahan’. Sedangkan ibu saya dengan mata yang penuh kebanggaan berkata, ‘Jangan pernah lupa bahwa setiap suara yang kamu angkat harus berasal dari hati yang tulus dan selalu berpihak pada kepentingan banyak orang. Itulah caranya terbaik untuk membanggakan nama keluarga dan daerah kita’. Pesan mereka menjadi energi yang membuat saya semakin yakin untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.”

    Sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026, Yoga memiliki visi yang jelas tentang bagaimana ia akan menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Ia berencana untuk membentuk sebuah jaringan advokasi mahasiswa yang melibatkan berbagai kampus di seluruh Riau, dengan fokus pada tiga bidang utama: peningkatan kualitas pendidikan tinggi, peningkatan kesempatan kerja dan kewirausahaan bagi mahasiswa, serta penguatan peran mahasiswa dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam di Provinsi Riau. “Pencapaian ini memotivasi saya untuk terus mengambil peran sebagai aktor advokasi yang benar-benar mampu menjembatani aspirasi mahasiswa dengan ruang-ruang pengambilan keputusan,” jelas Yoga dengan semangat yang sangat menular, “saya ingin mengubah paradigma bahwa advokasi selalu identik dengan protes dan konflik. Sebaliknya, saya ingin menghadirkan praktik diplomasi mahasiswa yang berakar pada empati, dialog yang konstruktif, dan keberpihakan yang tegas pada kepentingan publik. Saya percaya bahwa dengan pendekatan seperti itu, kita bisa mencapai hasil yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak.”

    Dalam konteks yang lebih luas, Yoga melihat bahwa peran sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026 juga memiliki makna penting bagi perkembangan Provinsi Riau yang sedang berusaha untuk berkembang menjadi daerah yang maju dan sejahtera. Ia berpendapat bahwa mahasiswa merupakan aset berharga yang dapat berkontribusi dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi Riau, mulai dari isu ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan hidup. “Riau adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki potensi yang luar biasa untuk berkembang,” ujar Yoga dengan pandangan yang sangat luas, “namun untuk mencapai potensi tersebut, kita membutuhkan partisipasi aktif dari semua elemen masyarakat, termasuk mahasiswa. Melalui peran saya sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026, saya ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa menjadi agen pembelajar, tetapi juga agen pembangunan yang memiliki kontribusi nyata bagi kemajuan daerah kita. Saya berharap bahwa dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan mahasiswa, kita bisa membangun Riau yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera.”

    Harapan yang besar juga tertanam dalam hati Yoga untuk diri sendiri dan generasi muda Indonesia khususnya pemuda Riau. Ia berharap bahwa peran yang diembannya saat ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam berbagai bentuk advokasi dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. “Harapan saya, peran sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026 ini dapat menghadirkan praktik diplomasi mahasiswa yang benar-benar relevan dengan kebutuhan zaman dan kondisi masyarakat kita,” pungkasnya dengan tatapan yang penuh harapan dan semangat yang sangat menginspirasi, “saya ingin setiap mahasiswa menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membawa perubahan, dan bahwa setiap suara yang mereka angkat bisa menjadi katalisator bagi perubahan yang lebih besar. Dengan demikian, gelar Putera Advokasi Kampus PKKR 2026 ini bukan hanya simbol prestasi pribadi, tetapi juga sebuah komitmen berkelanjutan untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan, terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan, serta membangun masa depan Riau yang lebih cerah dalam konteks nasional maupun global.”

    Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan inspiratif Yoga Andrian Saputra seorang pemuda Pekanbaru yang dengan keberanian dan dedikasi berhasil membawa nama Universitas Abdurrab dan Provinsi Riau sebagai Putera Advokasi Kampus PKKR 2026. Semoga kisahnya dapat menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi banyak mahasiswa untuk bangkit, mengangkat suara mereka, dan berkontribusi dalam membangun negeri yang lebih baik. Mari kita dukung satu sama lain untuk terus berjuang demi kebenaran, keadilan, dan kemajuan bersama karena masa depan bangsa kita terletak pada tangan mereka yang berani untuk berbicara dan bertindak demi kepentingan banyak orang. **
    Kontributor : Riszuan – Riau