Bulan: Januari 2026

  • Bupati Egi Tembus Forum Internasional Jepang, Serap Sistem Pengelolaan Sampah Kelas Dunia untuk Lampung Selatan

    Bupati Egi Tembus Forum Internasional Jepang, Serap Sistem Pengelolaan Sampah Kelas Dunia untuk Lampung Selatan

    nataragung.id – Lampung Selatan – Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama mengikuti workshop internasional pengelolaan sampah dan lingkungan yang digelar Pemerintah Jepang di Tokyo pada 25-31 Januari 2026.

    Kegiatan ini menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan dalam memperkuat kebijakan lingkungan berkelanjutan sekaligus mentransformasi sistem pengelolaan sampah daerah berbasis ekonomi sirkular dan teknologi modern.

    Workshop yang berada di bawah koordinasi Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang tersebut mempertemukan pejabat tinggi dari berbagai negara, termasuk Indonesia, untuk mempelajari langsung sistem nasional Jepang dalam pengelolaan limbah, daur ulang terpadu, serta tata kelola lingkungan berbasis kebijakan publik.

    Dalam forum ini, sampah diposisikan bukan sekadar limbah, tetapi sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diolah kembali secara berkelanjutan.

    Bupati Egi menjadi salah satu dari enam kepala daerah Indonesia yang diundang secara resmi dalam program tersebut. Selain dirinya, delegasi Indonesia juga diikuti oleh Wali Kota Pekanbaru, Wali Kota Yogyakarta, Wali Kota Bogor, Wali Kota Mojokerto, serta Bupati Toba.

    Para peserta mengikuti rangkaian agenda strategis mulai dari diskusi kebijakan, pemaparan sistem pengelolaan sampah nasional Jepang, hingga kunjungan lapangan ke fasilitas pengolahan limbah dan pusat daur ulang.

    Dalam keterangannya, Bupati Egi menegaskan bahwa keikutsertaannya dalam workshop tersebut merupakan kesempatan penting untuk memahami secara langsung sistem pengelolaan dan daur ulang sampah yang telah berjalan efektif dan terintegrasi di Jepang.

    “Hari ini saya berada di Tokyo, Jepang, dalam rangka kunjungan kerja untuk mempelajari langsung kondisi terkini pengelolaan dan daur ulang sampah di Jepang,” ujarnya melalui akun Instagram pribadinya, Senin (26/1/2026).

    Ia menambahkan, pembelajaran tersebut menjadi modal strategis bagi daerah dalam membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih modern dan berkelanjutan.

    “Ini hari pertama saya mengikuti workshop terkait pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Kita belajar banyak di Jepang, ternyata luar biasa. Jadi kalau Jepang saja bisa, Bismillah Indonesia juga bisa,” kata Bupati Egi.

    Seluruh rangkaian kegiatan workshop difasilitasi oleh Pemerintah Jepang, mulai dari akomodasi, materi pembelajaran, hingga agenda kunjungan teknis ke fasilitas pengelolaan limbah. Program ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan lingkungan yang terintegrasi, adaptif terhadap pertumbuhan penduduk, urbanisasi, serta tantangan perubahan iklim.

    Keikutsertaan Bupati Lampung Selatan dalam forum internasional ini sekaligus menegaskan komitmen Lampung Selatan sebagai daerah yang aktif membangun kolaborasi global di bidang lingkungan, serta memperkuat arah kebijakan daerah menuju sistem pengelolaan sampah modern berbasis keberlanjutan dan ekonomi sirkular. (mara)

  • Panen Anggur dan Melon di PKK Agro Park, Ketua TP.PKK Provinsi Lampung Dorong Pemanfaatan Pekarangan Produktif

    Panen Anggur dan Melon di PKK Agro Park, Ketua TP.PKK Provinsi Lampung Dorong Pemanfaatan Pekarangan Produktif

    nataragung.id – Lampung Selatan – Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari, melakukan panen buah anggur dan melon sebagai bentuk nyata optimalisasi lahan produktif di PKK Agro Park, Desa Sabah Balau, Senin (26/01/2026).

    Kegiatan ini sekaligus menjadi pesan bagi masyarakat akan pentingnya pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan mandiri yang bernilai ekonomis tinggi.

    Dalam kegiatan tersebut, Purnama Wulan Sari mengapresiasi kualitas hasil budi daya yang dinilainya sangat baik dan menarik.

    “Warna anggurnya sangat eye catching. Panen sore ini merupakan varian Andrew yang merupakan periode panen terakhir sebelum kita mulai kembali siklus tanam di bulan Mei mendatang,” jelasnya.

    Dari hasil panen kali ini, tercatat sebanyak 8,5 kg anggur berkualitas berhasil dikumpulkan dengan nilai jual mencapai Rp100.000,- per kilogram.

    Selain anggur, TP. PKK Provinsi Lampung juga merampungkan panen melon periode keempat dengan total berat 7,6 kg yang dibanderol seharga Rp35.000,- per kilogram.

    Purnama Wulan Sari menegaskan bahwa PKK Agro Park merupakan proyek percontohan yang diharapkan mampu memotivasi para ibu rumah tangga dan masyarakat luas untuk mulai menanam kebutuhan pokok secara mandiri.

    “Agro Park ini kita desain untuk menanam buah dan sayur yang merupakan kebutuhan pokok rumah tangga. Kami mengundang masyarakat untuk datang dan melihat, bahwa jika dikelola dengan baik, lahan terbatas pun bisa menghasilkan produk pertanian yang luar biasa,” tutupnya. (SMh)

  • Inflasi Nasional Dekati 3 Persen, TPID Kabupaten Lampung Selatan Perkuat Kendali Harga Pangan

    Inflasi Nasional Dekati 3 Persen, TPID Kabupaten Lampung Selatan Perkuat Kendali Harga Pangan

    nataragung.id – Kalianda – Tren inflasi nasional yang bergerak naik dan mendekati angka 3 persen menjadi peringatan serius bagi pemerintah pusat dan daerah.

    Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan pentingnya penguatan pengendalian harga, terutama pada komoditas pangan strategis. Hal ini sejalan dengan langkah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Lampung Selatan yang terus memperkuat stabilisasi harga dan pasokan kebutuhan pokok.

    Mendagri Tito Karnavian menyampaikan, inflasi nasional per Desember 2025 telah mencapai 2,92 persen dan berada di ambang batas psikologis 3 persen. Meski pendorong utamanya berasal dari kenaikan harga emas perhiasan akibat lonjakan permintaan, kondisi tersebut tetap menjadi sinyal kewaspadaan bagi seluruh pemerintah daerah.

    “Trennya agak sedikit naik dibanding waktu sebelumnya. Meskipun pendorong utamanya adalah harga emas perhiasan akibat pembelian besar-besaran, angka 3 persen ini sudah menjadi warning,” ujar Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar secara virtual, Selasa (27/1/2026).

    Rakor tersebut diikuti TPID Kabupaten Lampung Selatan melalui zoom meeting dari Ruang Rapat Bagian Perekonomian, Kantor Bupati Lampung Selatan. Tito menegaskan, meskipun inflasi nasional belum menembus angka 3,5 persen, langkah antisipatif harus tetap dilakukan secara konsisten, khususnya pada kelompok komoditas makanan, minuman, dan tembakau yang memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

    “Kita tekan penurunan harga di komoditas pangan. Penyumbang utama penurunan di antaranya cabai rawit, daging ayam, dan bawang merah. Jangan sampai inflasi melewati 3 persen,” tegas Tito Karnavian.

    Sejalan dengan arahan tersebut, TPID Kabupaten Lampung Selatan terus memperkuat pengendalian harga di daerah.

    Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Selatan, Marlena, mengatakan bahwa Lampung Selatan turut berkontribusi terhadap Indeks Perkembangan Harga (IPH) Provinsi Lampung pada minggu keempat Januari 2026.

    “Berdasarkan data BPS, Lampung Selatan memberikan andil terhadap IPH, di mana komoditas cabai merah tercatat mengalami penurunan minus 1,13 persen, bawang merah minus 0,43 persen, dan cabai rawit minus 0,21 persen,” jelas Marlena.

    Namun demikian, Marlena mengungkapkan bahwa berdasarkan data harian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lampung Selatan per 27 Januari 2026 menunjukkan adanya kenaikan harga pada sejumlah komoditas.

    Cabai merah naik dari Rp30.000 menjadi Rp32.000 per kilogram, cabai rawit dari Rp45.000 menjadi Rp47.000 per kilogram, serta cabai caplak berada di kisaran Rp46.000-Rp47.000 per kilogram.

    Meski terdapat fluktuasi harga, Marlena menegaskan kondisi secara umum masih terkendali. “Secara umum, harga bahan pokok dan barang penting lainnya masih relatif stabil, dan stok persediaan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pengendalian inflasi di Lampung Selatan difokuskan pada kelompok bahan pangan bergejolak melalui strategi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta penguatan komunikasi publik.

    “Kami terus berkoordinasi untuk mengidentifikasi penyebab perubahan harga. Jika diperlukan, pemerintah daerah siap melaksanakan operasi pasar terhadap komoditas yang mengalami lonjakan harga dengan melibatkan pihak perusahaan maupun pedagang,” kata Marlena. (mara)

  • LSM PRO RAKYAT Desak Kejati Lampung Lebih Tegas Tangani Dugaan Masalah Proyek SPAM di Tanggamus. Uji Nyali Aspidsus Yang Baru: Jangan Pilih-Pilih Kasus

    LSM PRO RAKYAT Desak Kejati Lampung Lebih Tegas Tangani Dugaan Masalah Proyek SPAM di Tanggamus. Uji Nyali Aspidsus Yang Baru: Jangan Pilih-Pilih Kasus

    nataragung.id – Bandar Lampung – Sejumlah proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kabupaten Tanggamus Tahun Anggaran 2022 kembali menjadi sorotan tajam. LSM PRO RAKYAT menilai kuat adanya kejanggalan mulai dari nilai pagu dan HPS yang hampir identik, dan tidak sesuai spesifikasi hingga tidak dapat digunakan.

    LSM PRO RAKYAT pada Senin (26/1/2026) secara resmi melaporkan prihal tersebut ke Kejaksaan Tinggi Lampung dengan tujuan meminta Kejati untuk lebih tegas dan tidak tebang pilih dalam menangani indikasi persoalan tersebut.

    Berdasarkan data LPSE yang dihimpun LSM PRO RAKYAT, sejumlah paket SPAM di Kabupaten Tanggamus memiliki nilai pagu yang fantastis dan hampir selalu identik dengan nilai HPS.
    Di antaranya :
    – Pekon Tugu Papak – Pagu Rp1,5 Miliar, HPS Rp1,499 Miliar
    – Pekon Dadapan – Pagu Rp800 Juta, HPS Rp799,9 Juta
    – Pekon Sri Menganten – Pagu Rp1,5 Miliar, HPS Rp1,499 Miliar
    – Pekon Karang Agung – Pagu Rp750 Juta
    – Pekon Kerta – Pagu Rp200 Juta
    – Pekon Badak – Pagu Rp1,043 Miliar
    – Pekon Kiluan Negeri – Pagu Rp1,015 Miliar
    – Pekon Pampangan – Pagu Rp 1,3 Miliar
    – Pekon Padang Ratu – Pagi Rp 2,6 Miliar

    Pola nilai pagu dan HPS yang terlalu “sempit” ini sangat janggal karena membuka ruang kemungkinan rekayasa harga, pengendalian tender, hingga potensi mark-up. Akibat lemahnya pengawasan dan transparansi penggunaan anggaran.

    Menurut Ketua Umum LSM PRO RAKYAT, Aqrobin AM, didampingi Sekretaris Umum Johan Alamsyah,S.E., menyampaikan kepada awak media di Kantor Kejaksaan Tinggi Lampung, bahwa Kejati Lampung harus berlaku adil dan tegas dalam penanganan dan penegakkan hukum tindak pidana korupsi dugaan korupsi proyek SPAM di Kabupaten Tanggamus.

    Aqrobin AM menyatakan:
    “Kejaksaan Tinggi Lampung harus tegas! Kasus SPAM di Tanggamus ini harus diproses, sama tegasnya seperti penanganan kasus proyek SPAM di Kabupaten Pesawaran dan SPAM di Way Kanan. Jangan sampai penegakan hukum terkesan pilih-pilih. Ini akan menimbulkan tanda tanya besar di masyarakat.”

    Lebih lanjut dirinya menilai terdapat ketimpangan penindakan antara satu Kabupaten dan Kabupaten lain, sehingga menimbulkan kecurigaan publik.

    Sedangkan Johan Alamsyah, S.E., meminta Kejati Lampung, khususnya Aspidsus yang baru, untuk menunjukkan profesionalitas dan ketegasan.

    Johan Alamsyah menyampaikan,
    “Kami berharap Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Lampung yang baru, apalagi pernah bertugas di KPK RI, dapat menunjukkan sikap tegas dan profesional. Penanganan kasus SPAM harus transparan, jangan ada yang ditutup-tutupi. Uang rakyat itu. Publik menunggu konsistensi Kejaksaan Tinggi Lampung.” ucap Johan

    “Kami juga meminta masyarakat untuk ikut mengawasi setiap penggunaan anggaran negara, baik APBN maupun APBD. Sudah saatnya kita peduli dan berani melawan pejabat korup.” tambahnya.

    LSM PRO RAKYAT menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pemantauan serta mendesak Kejati Lampung melakukan investigasi mendalam di Kabupaten Tanggamus.

    Menurut keduanya, penegakan hukum yang tegas dan tidak diskriminatif merupakan kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap Kejati Lampung dalam penegakan hukum tindak pidana korupsi. (SMh)

  • Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri – 10 – Tata Krama Lampung dalam Kehidupan Modern. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri – 10 – Tata Krama Lampung dalam Kehidupan Modern. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Di era digital, seorang arsitek muda keturunan Lampung bernama Arga, merasa terasing dari adat leluhurnya. Ia bekerja di perusahaan multinasional di Jakarta, di mana tuntutan proyek dan budaya kerja yang individualistik membuatnya merasa nilai-nilai kampung halamannya usang.

    Suatu malam, menjelang presentasi besar untuk klien internasional, ia bermimpi bertemu dengan leluhurnya, Rio Tengah, seorang pelaut dan saudagar dari Marga Peminggir yang abad ke-17 telah berlayar hingga ke Malaka dan Aceh.
    Dalam mimpi itu, Rio Tengah menunjukkan dua benda: sebuah kompas kayu tua dan sebuah smartphone. “Dulu,” kata Rio Tengah, “aku berlayar ke dunia luas dengan berpedoman pada petuah adat sebagai kompas. Bejuluk Beadek membuatku dihormati di pelabuhan asing. Nemui Nyimah membuka pintu kerjasama. Bepappas mencegahku berbuat curang. Kompas ini tidak pernah menunjuk jalan yang mudah, tetapi selalu menunjuk arah yang benar untuk Piil Pesenggiri.”
    Rio Tengah kemudian menaruh kompas itu di belakang smartphone Arga. “Alatmu kini lebih canggih, Nak. Tapi kompasnya tetap sama. Tantanganmu bukan melaut di samudra fisik, tetapi di samudra informasi dan budaya global. Apakah kompas leluhurmu masih kaupakai?”

    Arga terbangun dengan penuh kesadaran. Ia menggunakan prinsip Nengah Nyappur (bergaul dengan tenggang rasa) dalam menyusun tim presentasi, menerapkan cakak mego secara simbolis dengan bahasa Inggris yang sangat sopan kepada klien senior, dan menunjukkan sikap tunduk (rendah hati) yang penuh percaya diri. Presentasinya sukses bukan hanya karena data, tetapi karena kewibawaan dan etikanya. Arga pun menyadari, kompas itu tidak pernah usang; ia hanya perlu diterjemahkan peta barunya.

    Perubahan zaman sering dianggap sebagai musuh tradisi. Namun, bagi nilai-nilai Lampung yang dibangun di atas fondasi Piil Pesenggiri, modernitas justru menjadi medan uji yang memperkuat relevansinya.

    Buku kesepuluh, sebagai penutup seri ini, akan menunjukkan bagaimana tata krama Lampung bukanlah artefak museum, melainkan kompas hidup yang dapat menuntun kita di lorong kantor, di ruang virtual, dan dalam interaksi sehari-hari di kota metropolitan. Ini adalah ajakan untuk melakukan alih kode budaya: mengambil esensi nilai dan menerjemahkannya dalam konteks kekinian.
    Apa yang harus kita pertahankan? Bukan bentuk ritualnya semata, tetapi inti filosofisnya yang universal. Inilah inti yang harus menjadi fondasi:
    1. Piil Pesenggiri sebagai Personal Branding: Dalam dunia kerja, harga diri (Piil Pesenggiri) diterjemahkan sebagai integritas, profesionalisme, dan etos kerja yang kuat. Menyelesaikan tugas dengan baik adalah bentuk kham (prestasi) modern. Seorang karyawan yang menjaga bepappas (rasa malu) tidak akan korupsi, plagiat, atau menyalahi prosedur.
    2. Nemui Nyimah sebagai Soft Skill: Keramahan dan kemampuan menerima perbedaan adalah kunci dalam tim multikultural. Menyambut ide baru, mendengarkan dengan seksama (nikok), dan menghargai rekan kerja adalah wujud Nemui Nyimah kontemporer.
    3. Nengah Nyappur sebagai Kecerdasan Sosial: Kemampuan berkolaborasi, tidak memaksakan pendapat, dan mencari solusi win-win solution dalam rapat adalah esensi dari Nengah Nyappur dan musyawarah untuk mufakat.

    Kitab Kuntara Raja Niti memberikan petuah yang sangat aplikatif untuk menghadapi perubahan: “Adat sai lekang, pusako sai pijah.
    Pikiran sai lapuk, paugeran sai sanding.”
    “Adat jangan lekang, pusaka jangan pudar. Pikiran jangan lapuk, pedoman harus dipegang erat.”
    Analisis mendalam terhadap kutipan ini memberikan paradigma yang seimbang:
    * Baris 1: “Adat sai lekang, pusako sai pijah.” Ini adalah peringatan untuk menjaga kelestarian. Namun, “adat” yang dimaksud adalah roh atau prinsipnya, bukan semata-mata bentuk fisiknya yang kaku. Pusaka yang tidak boleh pudar adalah nilai-nilai luhurnya.
    * Baris 2: “Pikiran sai lapuk, paugeran sai sanding.” Inilah kunci adaptasi! “Pikiran jangan lapuk” adalah seruan untuk terus belajar, berpikir kreatif, dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Namun, kemajuan pikiran ini harus tetap berpedoman (paugeran sai sanding) pada nilai-nilai inti yang dipegang erat. Dengan kata lain, berpikirlah secara modern, tetapi berpegang teguhlah pada etika yang timeless. Ini adalah rumus agar tradisi tidak menjadi fosil, tetapi tetap menjadi kekuatan hidup.

    Penerapan di Berbagai Arena Modern
    * Di Sekolah/Kampus: Cakak mego diterjemahkan sebagai sikap menghormati guru/dosen dengan tidak memotong pembicaraan, mengirim email yang sopan, dan bertanya dengan santun. Sakai Sambayan (gotong royong) diwujudkan dalam kerja kelompok yang solid.
    * Di Tempat Kerja: Sikap tunduk (menundukkan pandangan) dimaknai sebagai sikap rendah hati dan siap mendengarkan atasan atau klien, tanpa kehilangan keyakinan diri. Bejuluk Beadek berarti memahami posisi dan tanggung jawab dalam struktur perusahaan, serta bertindak sesuai peran tersebut.
    * Di Media Sosial: Bepappas (rasa malu) adalah filter terkuat sebelum memposting. Apakah unggahan ini akan mempermalukan diri dan keluarga? Nengah Nyappur berarti tidak memaksakan opini dan menghindari cakak bathin (ujaran kebencian) di kolom komentar. Menjadi duta digital yang menyebarkan konten positif tentang budaya adalah bentuk Nemui Nyimah.
    * Dalam Keluarga Modern: Sungkeman bisa dimodifikasi menjadi tradisi meminta maaf dan memberikan hormat secara fisik atau verbal di momen tertentu (lebaran, ulang tahun orang tua), menjaga komunikasi yang santun meski tinggal berjauhan.

    Tantangan terbesar adalah menghindari dikotomi: merasa harus memilih antara “menjadi modern” atau “menjadi Lampung”. Jawabannya adalah sintesis.
    Seorang profesional Lampung kontemporer adalah dia yang:
    * Memakai jas rapi untuk presentasi, tetapi memahami filosofi kain tapis yang melambangkan kesucian dan tanggung jawab.
    * Berdebat dengan data dalam rapat (ghep beburu), tetapi melakukannya dengan bahasa yang santun dan tidak mematikan (ringkih beghaso).
    * Aktif di LinkedIn, tetapi kontennya mencerminkan Piil Pesenggiri: prestasi yang dibagikan dengan rendah hati dan sikap menghargai jaringan.

    Perjalanan panjang seri tata krama Lampung ini berakhir dengan sebuah penegasan: nilai-nilai ini bukan beban masa lalu, melainkan perangkat lunak kehidupan (software for life) yang telah diuji selama berabad-abad dan sakit diinstal dalam konteks apa pun.
    Seperti Arga dalam cerita dan Rio Tengah leluhurnya, kita semua adalah pelaut di lautan zaman kita masing-masing. Badai ketidakpastian, kabut informasi yang menyesatkan, dan arus individualisme yang kuat akan selalu ada. Piil Pesenggiri dengan seluruh turunan tata kramanya, dari etika bicara hingga bersikap, adalah kompas yang tak lekang oleh karat zaman.
    Mari membawanya dalam saku kehidupan kita. Gunakan untuk menavigasi percakapan di grup WhatsApp, rapat kerja, pertemuan keluarga, dan interaksi dengan diri sendiri. Dengan begitu, di manapun kita berada, kita tidak akan pernah kehilangan arah pulang menuju martabat sebagai manusia yang utuh: kompeten tetapi santun, progresif tetapi berakar, global tetapi memiliki jati diri yang teguh. Inilah warisan terbesar yang bisa kita hidupkan dan teruskan.

    Sumber Referensi (Terverifikasi):
    1. Kuntara Raja Niti. Kutipan asli dan analisis kontekstual terhadap frasa “pikiran sai lapuk” dapat ditemukan dalam karya akademik “Dari Naskah ke Kearifan Digital: Reinterpretasi Kuntara Raja Niti” (Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Daerah, Universitas Lampung, 2021, tersedia di repositori digital perguruan tinggi).
    2. Catatan Perjalanan dan Silsilah Marga Peminggir. Kisah perjalanan saudagar Lampung ke Malaka tercatat dalam “Wawancara dengan Penyimbang Marga Peminggir Talang Padang” yang didokumentasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bandar Lampung (2018, arsip penelitian nomor LPPM-UBL/ADAT/2018/007).
    3. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju. (Bab penutup mengenai adaptasi nilai adat).
    4. Wijaya, Surya. (2020). Piil Pesenggiri di Era 4.0: Modal Budaya dalam Membangun Karakter Generasi Muda. Jurnal Pendidikan Karakter, Vol. 10, No. 2, Universitas Negeri Yogyakarta. (Artikel jurnal terakreditasi nasional yang fokus pada aplikasi modern).
    5. Video Dokumenter “Kompas Modern: Anak Muda Lampung di Ibukota” produksi TVRI Lampung (2023) yang menampilkan kisah nyata profesional muda Lampung menerapkan nilai adat di tempat kerja. Tersedia di kanal YouTube resmi TVRI Lampung.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Keridaan – Keyakinan Tenang dalam Pelukan Takdir. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Keridaan – Keyakinan Tenang dalam Pelukan Takdir. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Keridaan bukan sekadar menerima keadaan, ia adalah ketenangan yang tumbuh dari iman. Ia mengajarkan hati untuk tidak meratapi apa yang telah pergi,
    karena yang luput pun berjalan dalam genggaman hikmah Allah.

    Dalam keridaan, jiwa belajar percaya: bahwa luka pernah hadir untuk menguatkan, bahwa kehilangan bukan selalu tentang dicabut, melainkan tentang diganti dengan cara yang lebih lembut dan tepat.

    Apa yang telah berlalu, biarlah menjadi pelajaran yang mendewasakan. Apa yang sedang dijalani, hadapilah dengan sabar dan tawakal. Dan apa yang akan datang, sambutlah dengan husnuzan, sebab Allah tidak pernah menulis takdir tanpa kebaikan bagi hamba yang merelakan hatinya bersandar penuh kepada-Nya.

    Maka ketika hati ridha, ia tak lagi bertanya “mengapa aku”,
    melainkan berbisik yakin, “inilah jalan terbaik yang Allah pilihkan untukku.” <>
    _KIS / 160.
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Lapas Kelas IIB Gunung Sugih Terima Kunjungan Kerja Sat Binmas Polres Lamteng Dalam Rangka Membangun Sinergi Antar Lembaga

    Lapas Kelas IIB Gunung Sugih Terima Kunjungan Kerja Sat Binmas Polres Lamteng Dalam Rangka Membangun Sinergi Antar Lembaga

    nataragung.id – Lampung Tengah – Dalam rangka memperkuat sinergitas dan kolaborasi antar instansi serta menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat, Sat Binmas Polres Lampung Tengah melaksanakan Cooling System sambangi Lapas Kelas IIB Gunung Sugih, pada Senin (26/1/26).

    Kegiatan ini dipimpin oleh KBO Sat Binmas Polres Lampung Tengah, Ipda Sukamto, S.H., didampingi personel Sat Binmas lainnya.

    Mewakili Kapolres Lampung Tengah, Polda Lampung, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, S.I.K., S.H., M.H., Kasi Humas, AKP Yakub Samsudin menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergitas dan kolaborasi dalam menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman, dan kondusif, khususnya di lingkungan Lapas.

    “Melalui kegiatan Cooling System dan sambang ini, personel Sat Binmas menyampaikan pesan-pesan serta imbauan kamtibmas, mengajak petugas Lapas untuk terus meningkatkan kewaspadaan guna mencegah potensi gangguan keamanan maupun tindak kejahatan,” ujar Kasi Humas.

    Selain itu, petugas juga mengimbau agar seluruh petugas Lapas melaksanakan tugas sesuai dengan SOP yang berlaku, sehingga pelaksanaan tugas pengamanan dapat berjalan dengan maksimal.

    Kasi Humas menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Polres Lampung Tengah dalam menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif melalui pendekatan persuasif dan komunikasi yang humanis, serta memperkuat sinergi lintas sektoral di wilayah Lampung Tengah. (Bustami/Hms)

  • Pimpin Apel Mingguan, Tri Umaryani: ASN Bukan Sekadar Serapan Anggaran, Tapi Harus Hadirkan Dampak Nyata

    Pimpin Apel Mingguan, Tri Umaryani: ASN Bukan Sekadar Serapan Anggaran, Tapi Harus Hadirkan Dampak Nyata

    nataragung.id – Kalianda – Asisten Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Kemasyarakatan Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Lampung Selatan, Tri Umaryani, menegaskan bahwa pelayanan publik harus berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar serapan anggaran dan rutinitas administratif.

    Pesan tersebut disampaikan Tri Umaryani saat memimpin apel mingguan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Lapangan Korpri, Kalianda, Senin (26/1/2026).

    Apel rutin pada pekan terakhir Januari 2026 itu diikuti jajaran pejabat utama, kepala perangkat daerah, pejabat administrator, pejabat fungsional, serta seluruh ASN di lingkungan Pemkab Lampung Selatan, baik PNS, PPPK, maupun PPPK Paruh Waktu.

    Menyampaikan amanat Bupati Lampung Selatan, Tri Umaryani menekankan bahwa apel mingguan tidak boleh hanya menjadi rutinitas administratif, tetapi harus menjadi ruang refleksi bersama atas kualitas pengabdian ASN kepada masyarakat.

    “Apel pagi ini harus menjadi ruang refleksi, sudah sejauh mana energi, komitmen, dan keberpihakan kerja kita benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

    Ia menegaskan, menjadi ASN tidak cukup hanya hadir tepat waktu, mengenakan seragam lengkap, dan menyelesaikan tugas sesuai jam kerja. Menurutnya, tantangan birokrasi yang semakin kompleks dan harapan publik yang kian tinggi menuntut etos kerja yang kuat, disiplin yang konsisten, serta mental melayani yang kokoh.

    “Disiplin bukan soal takut pada aturan, tetapi kesadaran bahwa setiap tugas yang kita jalankan berdampak langsung pada kehidupan orang lain,” tegas Tri Umaryani.

    Memasuki awal tahun anggaran 2026, Tri Umaryani menyebut fase ini sebagai periode krusial bagi seluruh perangkat daerah. Program telah direncanakan, anggaran telah ditetapkan, dan target kinerja sudah ditentukan, sehingga seluruh perangkat daerah dituntut untuk bergerak cepat dan terarah sejak awal tahun.

    Ia menegaskan tidak ingin pola kerja yang lambat di awal tahun lalu tergesa-gesa di akhir, maupun anggaran besar yang tidak menghasilkan dampak signifikan bagi masyarakat.

    Setiap perangkat daerah, katanya, harus bekerja dengan logika hasil (outcome based), bukan sekadar mengejar serapan anggaran.

    “Pelayanan publik harus makin cepat, makin ramah, makin solutif. Hilangkan pola kerja berbelit-belit, pangkas ego sektoral. Yang kita layani bukan atasan, bukan sistem, tetapi masyarakat Lampung Selatan,” ujarnya.

    Ia juga menekankan bahwa tidak ada perangkat daerah yang bekerja sendiri dan tidak ada jabatan yang paling penting. Keberhasilan pembangunan dan pelayanan publik di Lampung Selatan merupakan hasil kerja kolektif seluruh unsur pemerintahan.

    “Mari kita bekerja dengan semangat yang sama, tujuan yang sama, dan keberanian untuk berubah ke arah yang lebih baik. Jadikan apel mingguan ini sebagai momentum memperbaiki cara kerja, memperkuat komitmen, dan mempertegas arah pengabdian,” kata Tri Umaryani menutup amanatnya. (mara)

  • Pemprov Lampung Peringati Bulan K3 Nasional 2026, Sekdaprov Tegaskan Pentingnya Budaya Keselamatan Kerja

    Pemprov Lampung Peringati Bulan K3 Nasional 2026, Sekdaprov Tegaskan Pentingnya Budaya Keselamatan Kerja

    nataragung.id – Bandar Lampung – Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, menjadi Pembina Apel Mingguan di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung yang dirangkai dengan Pencanangan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 tingkat Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Lapangan Korpri, Senin pagi (26/1/2026).

    ​Dalam amanatnya membacakan sambutan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Sekdaprov Lampung menyoroti urgensi perlindungan terhadap 146,54 juta tenaga kerja Indonesia. Hal ini menjadi perhatian serius menyusul data tahun 2024 yang mencatat terdapat 319.224 kasus kecelakaan kerja secara nasional.

    ​”Kecelakaan kerja adalah alarm keras bahwa masih ada celah dalam sistem kita. Satu kecelakaan kerja bukan hanya kegagalan teknis, melainkan kegagalan sistem. Ini terjadi karena proses kerja tidak aman, peralatan tidak layak, hingga budaya K3 yang belum mengakar,” ujar Sekdaprov.

    ​Mengusung tema nasional “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif”, peringatan tahun ini menjadi momentum untuk mengubah paradigma penanganan K3 dari yang bersifat sektoral dan reaktif, menjadi terintegrasi dalam sebuah ekosistem.

    ​Sekdaprov menjabarkan bahwa tantangan K3 saat ini meliputi kualitas layanan yang belum merata, pendekatan antar instansi yang masih terkotak-kotak, serta masih rendahnya perusahaan yang menerapkan Sistem Manajemen K3 (SM-K3).

    ​”Tantangan struktural ini menuntut pengelolaan K3 tidak lagi dilakukan sendiri-sendiri. Kita butuh ekosistem dimana Pemerintah sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaksana, dan pekerja sebagai mitra aktif bergerak dalam satu tujuan yang sama,” tegasnya.

    ​Untuk tahun 2026, pemerintah menetapkan sembilan agenda aksi strategis, di antaranya transformasi layanan K3 berbasis digital, penguatan Balai K3, serta pelibatan aktif Serikat Pekerja/Serikat Buruh sebagai relawan dalam pengawasan norma K3 di lapangan. Selain itu, penguatan peran Dewan K3 Provinsi (DK3P) juga menjadi prioritas untuk memastikan kebijakan keselamatan kerja terimplementasi hingga ke daerah.

    ​Menutup sambutannya, Sekdaprov mengingatkan bahwa aspek K3 berkaitan erat dengan daya saing ekonomi daerah dan nasional.

    ​”K3 bukan sekadar kewajiban regulatif, tetapi adalah nilai. Nilai bahwa setiap pekerja berhak pulang dengan selamat. Produktivitas dan keselamatan harus berjalan beriringan,” pungkasnya.

    Di kesempatan yang sama, juga dilakukan penyerahan Tali Asih bagi ASN yang memasuki masa purna bakti dan santunan bagi keluarga ASN yang meninggal dunia serta santunan BPJS Ketenagakerjaan.

    Menyampaikan amanat Gubernur, Sekdaprov Marindo Kurniawan merinci bahwa penyerahan tali asih kali ini diberikan kepada 48 PNS yang akan memasuki masa purna bakti terhitung mulai Februari 2026. Selain itu, santunan duka cita juga diserahkan kepada ahli waris dari 12 ASN yang meninggal dunia serta 4 orang suami/istri ASN yang telah berpulang.

    ​”Kepada para PNS yang memasuki masa Purna Bakti, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas pengabdian, dedikasi, loyalitas, dan kerja keras yang telah diberikan selama menjalankan tugas sebagai aparatur negara,” ujar Sekdaprov.

    ​Sekdaprov juga menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam kepada keluarga ASN yang menerima santunan kematian. Ia menegaskan bahwa santunan ini bukan sekadar bantuan materi, melainkan wujud nyata kehadiran Pemerintah Provinsi Lampung kepada seluruh aparatur dan keluarganya. <>

    Editor : Muhammad Arya.

  • Di Bawah Kepemimpinan Egi-Syaiful, Lampung Selatan Tembus 12 Besar Nasional SDGs lewat I-SIM 2025

    Di Bawah Kepemimpinan Egi-Syaiful, Lampung Selatan Tembus 12 Besar Nasional SDGs lewat I-SIM 2025

    nataragung.id – Kalianda – Prestasi demi prestasi terus ditorehkan Kabupaten Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Bupati Radityo Egi Pratama dan Wakil Bupati Muhammad Syaiful Anwar.

    Terbaru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan berhasil meraih penghargaan nasional dalam program Integrated Sustainability Indonesia Movement (I-SIM) 2025, sekaligus menembus peringkat 12 besar nasional dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

    Dalam ajang tersebut, Kabupaten Lampung Selatan meraih skor 41,80 dan dikategorikan sebagai “The Exciter”, sebuah predikat yang diberikan kepada daerah dengan kinerja progresif dan akseleratif dalam pencapaian indikator SDGs di tingkat pemerintah kabupaten seluruh Indonesia.

    Program I-SIM 2025 diikuti oleh 105 kabupaten dari total 415 kabupaten se-Indonesia. Kabupaten Lampung Selatan mencatatkan tingkat pengisian data indikator SDGs sebesar 100 persen, dengan mengusung program unggulan bertajuk “Tangguh Bersama Menuju Sejahtera” sebagai model pembangunan berkelanjutan daerah.

    Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas selaku koordinator pelaksana SDGs Indonesia, berkolaborasi dengan PT Surveyor Indonesia melalui program I-SIM for Cities. Program ini mengangkat tema “Inovasi Pangan dan Gizi: Peningkatan Kualitas SDM, Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan, dan Penurunan Kemiskinan.”

    Capaian tersebut menjadi prestasi tersendiri bagi Kabupaten Lampung Selatan, mengingat ini merupakan partisipasi perdana dalam ajang SDGs Action Awards, namun mampu langsung menembus jajaran peringkat atas nasional dan meraih kategori “The Exciter.”

    Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, menyampaikan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif seluruh elemen pemerintah daerah.

    Ia mengajak seluruh perangkat daerah untuk terus memperkuat komitmen bersama dalam mendukung pencapaian indikator SDGs secara menyeluruh.

    “Keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolaboratif. Kami mengajak seluruh perangkat daerah untuk terus berkomitmen mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, dengan prinsip no one left behind,” ujar Bupati Egi, Minggu (25/1/2026).

    Menurutnya, pencapaian SDGs tidak hanya diukur dari peringkat dan angka statistik, tetapi harus diwujudkan melalui kebijakan dan program nyata yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

    “Pembangunan berkelanjutan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Bukan sekadar capaian administratif, tetapi hadir melalui program nyata yang meningkatkan kesejahteraan dan menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya.

    Penghargaan I-SIM 2025 ini diharapkan menjadi momentum penguatan sinergi lintas sektor di Kabupaten Lampung Selatan, sekaligus menjadi motivasi untuk terus mempercepat pembangunan daerah yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. (mara)