Bulan: Januari 2026

  • Prestasi Pemkab Lampung Selatan Terus Mengalir: UHC Award 2026 Jadi Bukti Kepemimpinan Egi-Syaiful Berpihak pada Rakyat

    Prestasi Pemkab Lampung Selatan Terus Mengalir: UHC Award 2026 Jadi Bukti Kepemimpinan Egi-Syaiful Berpihak pada Rakyat

    nataragung.id – Jakarta – Prestasi demi prestasi terus mengalir di bawah kepemimpinan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama dan Wakil Bupati M. Syaiful Anwar.

    Terbaru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan berhasil meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) Award 2026 Kategori Pratama, sebagai bentuk pengakuan atas keberhasilan memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat secara merata dan berkelanjutan.

    Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, dalam acara Penganugerahan UHC Award 2026 yang dirangkaikan dengan Deklarasi dan Pencanangan UHC di Ballroom JIEXPO Convention Centre and Theatre, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

    Penghargaan ini diberikan kepada pemerintah daerah yang dinilai berhasil memperluas cakupan perlindungan jaminan kesehatan penduduk, sekaligus menjaga keaktifan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui sinergi berkelanjutan dengan BPJS Kesehatan.

    Kabupaten Lampung Selatan tercatat sebagai salah satu dari empat kabupaten/kota di Provinsi Lampung yang menerima penghargaan tersebut, bersama Kota Metro, Kabupaten Pesisir Barat, dan Kabupaten Lampung Utara.

    Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi pemerintah pusat atas komitmen kuat Pemkab Lampung Selatan dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.

    “Alhamdulillah, Kabupaten Lampung Selatan kembali mendapatkan penghargaan UHC Award 2026. Ini tentu menjadi kebanggaan kita semua dan merupakan apresiasi pemerintah pusat atas komitmen Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, dalam menjamin akses layanan kesehatan bagi masyarakat,” ujarnya.

    Ia menambahkan, capaian tersebut menunjukkan bahwa tingkat perlindungan jaminan kesehatan di Kabupaten Lampung Selatan telah mencapai hampir 98 persen.

    “Capaian ini menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat Lampung Selatan telah tercover jaminan kesehatan. Ke depan, komitmen ini akan terus kami jaga agar pelayanan kesehatan semakin merata, berkualitas, dan berkelanjutan,” tambahnya.

    Melalui raihan UHC Award 2026 ini, Pemkab Lampung Selatan menegaskan konsistensinya dalam memperkuat sistem jaminan kesehatan daerah, meningkatkan keaktifan peserta JKN, serta memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang adil, mudah diakses, dan berkelanjutan.

    Penghargaan tersebut sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan kebijakan pro-rakyat di sektor kesehatan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Lampung Selatan secara menyeluruh. (mara)

  • Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

    Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

    nataragung.id – Riau – Restu Ramadhan, atau yang akrab disapa Restu, adalah mahasiswa aktif Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS). Berasal dari Desa Saik, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing sebuah daerah yang terletak di bagian tengah Provinsi Riau yang dikenal dengan kekayaan alam dan nilai-nilai budaya yang kuat.

    Ia tumbuh dari latar belakang keluarga sederhana yang telah menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab sejak dini. Ayahnya bekerja sebagai petani sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang selalu mengajarkan pentingnya bersyukur dan membantu sesama.

    “Kesederhanaan yang saya rasakan sejak kecil bukanlah hal yang membuat saya minder, melainkan justru menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, mandiri, dan pantang menyerah dalam berproses mengejar cita-cita,” ujarnya Restu memulai cerita perjalanan hidupnya sambil menatap keluar rumah, dengan tatapan yang penuh tekad dan rasa bangga yang tak terlukiskan akan daerah kelahirannya.

    “Desa Saik adalah tempat yang membentuk karakter saya setiap jalan tanah yang saya lalui, setiap cerita dari orang tua dan tetua desa yang saya dengarkan, serta setiap hari yang saya habiskan membantu pekerjaan di sawah menjadi bagian dari pendidikan hidup yang tak ternilai harganya. Saya ingin menunjukkan bahwa anak desa juga memiliki potensi besar untuk bersinar di tingkat yang lebih luas, bahkan menjadi perwakilan yang membanggakan daerah kita.” Ujar Restu dengan penuh semangat.

    Di bangku perkuliahan, Restu tidak pernah memilih untuk hanya berada di zona nyaman dengan fokus pada pencapaian akademik semata. Ia sangat menyadari bahwa untuk menjadi seorang perencana wilayah dan kota yang berkualitas, diperlukan lebih dari sekadar ilmu teoritis di kelas diperlukan kemampuan untuk berinteraksi dengan masyarakat, memimpin tim, dan mengubah ide menjadi tindakan nyata.

    Oleh karena itu, ia aktif terlibat dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemahasiswaan yang mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kerja sama tim. Sejak tahun 2024, ia telah menjadi anggota aktif Pemuda Muhammadiyah Ranting Saik dengan masa bakti hingga 2028, di mana ia terlibat dalam berbagai program pengembangan pemuda dan kegiatan dakwah yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.

    Sebelumnya, pada periode 2023-2024, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Dakwah Islamiyah Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HIMAPWK-UNIKS), di mana ia berhasil menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti pelatihan literasi agama bagi mahasiswa, diskusi bersama tokoh masyarakat, serta program bakti sosial ke desa-desa sekitar kampus. Bahkan setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif di HIMAPWK-UNIKS pada periode 2024-2025 sebagai Ketua Umum yang berkontribusi dalam berbagai kegiatan Kemahasiswaan.

    Tak hanya itu, saat masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas, ia telah mulai mengembangkan jiwa kepemimpinan dan kemampuan organisasinya melalui penggabungan diri dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai anggota divisi hubungan masyarakat, serta menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Sang Saka Merah Putih (PASKIBRA) yang mengajarkannya tentang disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air.

    Restu memiliki kepedulian yang mendalam terhadap pembangunan daerah, terutama daerah kelahirannya yang masih membutuhkan perhatian lebih dalam berbagai aspek seperti infrastruktur, akses pendidikan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Ia bercita-cita berkontribusi melalui perencanaan wilayah dan kota yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

    Sebagai bagian dari ajang Putra Putri Kampus, ia memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi contoh bagi teman-teman mahasiswa lainnya: “Saya berkomitmen menjadi mahasiswa yang inspiratif, berintegritas, dan membawa dampak positif,” ujarnya dengan keyakinan yang jelas terlihat saat berbicara tentang visi dirinya, “karena saya percaya bahwa kita jangan selalu menunggu hal besar untuk melakukan perubahan terkadang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dari hal kecil. Seperti menanam pohon di halaman rumah, mengajak teman-teman untuk belajar bersama, atau membantu tetangga yang membutuhkan.
    Jika setiap orang melakukan hal kecil dengan konsistensi, maka akan terbentuk perubahan besar yang berdampak luas di masa depan.”

    Namun, perjalanan Restu menuju kesuksesan yang kini ia raih tidak selalu berjalan mulus tanpa rintangan. Pada tahun 2023, saat baru menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, ia dengan penuh semangat mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di daerah Riau dan Sumatera Barat. Ia telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh selama hampir setahun mengikuti les tambahan, mempelajari materi ujian secara mendalam, dan bahkan melakukan kunjungan ke beberapa kampus untuk memahami lebih jauh tentang program studi yang ingin ditempuh.

    Sayangnya, hasil yang diharapkan tidak datang – ia belum berhasil meraih kesempatan untuk berkuliah di salah satu PTN impiannya tersebut. “Saat saya menerima pemberitahuan bahwa tidak lolos seleksi, rasanya memang seperti ada batu berat yang menekan dada saya,” cerita dia dengan kejujuran yang tulus, tidak menyembunyikan emosi yang dirasakan saat itu, “saya telah berusaha dengan sebaik mungkin, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, bahkan mengorbankan waktu istirahat dan berkumpul dengan teman-teman hanya untuk mempersiapkan diri. Pada awalnya, saya merasa sangat kecewa dan bahkan mulai meragukan diri sendiri apakah saya benar-benar pantas untuk meraih impian tersebut.”

    Namun, dukungan dari orang tua dan teman-teman dekat yang selalu memberikan semangat serta nasihat bijak dari tetua desa membuatnya mampu bangkit kembali. Dari kegagalan tersebut, Restu menemukan makna yang lebih dalam tentang arti perjuangan dan kesempatan: “Saya menyadari bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” lanjutnya dengan semangat yang membara dan penuh harapan, “setiap tantangan yang datang dalam hidup kita bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi pengingat bagi kita untuk terus kuat, tetap rendah hati, dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
    Kegagalan itu membuat saya lebih matang dan menyadari bahwa jalan menuju impian tidak selalu lurus Terkadang kita harus melalui jalan yang berliku-liku agar bisa lebih menghargai setiap hasil yang kita dapatkan.”

    Setelah melewati masa refleksi dan terus memperbaiki diri dengan belajar lebih giat serta mengembangkan berbagai kemampuan diri, perjuangan Restu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan dengan sejumlah pencapaian yang membuat namanya dikenal lebih luas, bahkan melampaui ekspektasi banyak orang. Pada tahun 2025/2026, ia berhasil terpilih sebagai Duta/Putra Kampus UNIKS setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat mulai dari tes tulis, wawancara, hingga presentasi tentang visi dan misi sebagai duta kampus. Sebagai Duta Kampus, ia menjadi wajah yang mewakili prestasi akademik, sikap yang baik, dan semangat kemahasiswaan yang positif dari UNIKS.

    Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2026 ia mengikuti ajang bergengsi Putera Putri Kampus Riau (PPKR) yang diikuti oleh ratusan calon terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Riau. Dalam ajang tersebut, ia berhasil melampaui prediksi dengan masuk sebagai salah satu perwakilan terbaik dalam kategori Top 6, sekaligus meraih atribut Photogenic yang diberikan berdasarkan penilaian dari juri dan dukungan publik. “Saat nama saya disebutkan sebagai salah satu Top 6 dan mendapatkan atribut Photogenic, rasanya tidak percaya dan penuh rasa syukur yang luar biasa,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi, namun tetap penuh kebanggaan, “setiap pencapaian yang saya raih bukan hanya untuk kebanggaan pribadi dan keluarga saya,saya melakukannya juga untuk menunjukkan bahwa mahasiswa UNIKS memiliki kemampuan yang bisa bersaing secara kompetitif di tingkat provinsi, dan saya ingin membuktikan bahwa berasal dari keluarga sederhana, berasal dari desa yang jauh dari kota besar, tidak menjadi penghalang untuk meraih impian dan menjadi orang yang bermanfaat.”

    Motivasi utama yang membuat Restu terus berjuang dan tidak pernah berhenti berkembang datang dari dalam diri sendiri dan keinginan yang kuat untuk memberikan manfaat bagi orang lain, terutama masyarakat di daerah kelahirannya. “Motivasi saya adalah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” ungkapnya dengan suara yang penuh semangat dan keyakinan yang tak tergoyahkan, “berasal dari keluarga sederhana, saya melihat betapa keras orang tua bekerja hanya untuk menyekolahkan saya dan saudara-saudara. Oleh karena itu, saya ingin terus berkembang, membanggakan orang tua yang telah berkorban banyak untuk saya, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui ilmu dan kontribusi yang saya miliki sebagai seorang perencana wilayah dan kota. Saya berharap nantinya bisa membantu merancang program pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat desa.”

    Sumber inspirasinya juga datang dari perjalanan hidup yang sederhana namun penuh makna yang telah ia lalui: “Saya terinspirasi oleh perjalanan hidup sederhana yang mengajarkan bahwa kesuksesan lahir dari proses, bukan instan,” katanya dengan nada yang penuh penghargaan terhadap semua pengalaman yang telah dilalui, “setiap langkah yang saya tempuh baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan adalah bagian dari proses pembelajaran yang membuat saya semakin matang, semakin menghargai setiap kesempatan, dan semakin tekun untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.”

    Untuk generasi muda Indonesia khususnya anak-anak daerah dan mahasiswa se-Indonesia, Restu memiliki harapan yang besar dan pesan yang mendalam untuk disampaikan. “Saya berharap setiap langkah perjuangan yang saya lakukan hari ini tidak hanya mengantarkan saya menjadi pribadi yang sukses secara materi atau jabatan,” ujarnya dengan sikap yang penuh tanggung jawab dan pemikiran yang matang, “tetapi juga membuat saya menjadi pribadi yang sukses tanpa melupakan asal-usul tetap rendah hati, tetap menyayangi daerah kelahiran, dan selalu siap membantu orang lain. Saya juga berharap dapat membantu orang lain meraih kesempatan yang sama seperti yang saya dapatkan, terutama anak-anak muda dari daerah terpencil yang seringkali kurang memiliki akses terhadap informasi dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Mari kita bersama-sama membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki semangat yang tak padam untuk berkembang dan membawa perubahan positif bagi bangsa.”

    “Jangan pernah merasa minder karena berasal dari daerah terpencil atau keluarga sederhana justru jadikan hal itu sebagai kekuatan untuk terus bersinar dan membuktikan bahwa kita punya bagian penting dalam membangun masa depan bangsa,” pungkasnya dengan semangat yang membara dan tatapan yang penuh harapan, menutup pesannya dengan pesona yang khas dari seorang pemuda yang bangga dengan akarnya.

    Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan Restu Ramadhan seorang anak desa yang dengan kerja keras dan ketekunan mampu melampaui semua prediksi dan meraih kesuksesan yang membanggakan. Semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa proses dan perjuangan yang dilakukan dengan penuh kesungguhan, integritas, dan rasa ingin membantu sesama akan selalu membawa hasil yang berharga. Mari kita dukung satu sama lain untuk terus berkembang, tetap rendah hati terhadap segala pencapaian yang diraih, dan menjadi bagian dari perubahan positif yang membawa kemajuan bagi masyarakat dan negara Indonesia yang kita cintai. <>>
    Kontributor : Riszuan – Riau

  • Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

    Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

    nataragung.id – Riau – Restu Ramadhan, atau yang akrab disapa Restu, adalah mahasiswa aktif Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS). Berasal dari Desa Saik, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing sebuah daerah yang terletak di bagian tengah Provinsi Riau yang dikenal dengan kekayaan alam dan nilai-nilai budaya yang kuat.

    Ia tumbuh dari latar belakang keluarga sederhana yang telah menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab sejak dini. Ayahnya bekerja sebagai petani sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang selalu mengajarkan pentingnya bersyukur dan membantu sesama.

    “Kesederhanaan yang saya rasakan sejak kecil bukanlah hal yang membuat saya minder, melainkan justru menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, mandiri, dan pantang menyerah dalam berproses mengejar cita-cita,” ujarnya Restu memulai cerita perjalanan hidupnya sambil menatap keluar rumah, dengan tatapan yang penuh tekad dan rasa bangga yang tak terlukiskan akan daerah kelahirannya.

    “Desa Saik adalah tempat yang membentuk karakter saya setiap jalan tanah yang saya lalui, setiap cerita dari orang tua dan tetua desa yang saya dengarkan, serta setiap hari yang saya habiskan membantu pekerjaan di sawah menjadi bagian dari pendidikan hidup yang tak ternilai harganya. Saya ingin menunjukkan bahwa anak desa juga memiliki potensi besar untuk bersinar di tingkat yang lebih luas, bahkan menjadi perwakilan yang membanggakan daerah kita.” Ujar Restu dengan penuh semangat.

    Di bangku perkuliahan, Restu tidak pernah memilih untuk hanya berada di zona nyaman dengan fokus pada pencapaian akademik semata. Ia sangat menyadari bahwa untuk menjadi seorang perencana wilayah dan kota yang berkualitas, diperlukan lebih dari sekadar ilmu teoritis di kelas diperlukan kemampuan untuk berinteraksi dengan masyarakat, memimpin tim, dan mengubah ide menjadi tindakan nyata.

    Oleh karena itu, ia aktif terlibat dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemahasiswaan yang mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kerja sama tim. Sejak tahun 2024, ia telah menjadi anggota aktif Pemuda Muhammadiyah Ranting Saik dengan masa bakti hingga 2028, di mana ia terlibat dalam berbagai program pengembangan pemuda dan kegiatan dakwah yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.

    Sebelumnya, pada periode 2023-2024, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Dakwah Islamiyah Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HIMAPWK-UNIKS), di mana ia berhasil menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti pelatihan literasi agama bagi mahasiswa, diskusi bersama tokoh masyarakat, serta program bakti sosial ke desa-desa sekitar kampus. Bahkan setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif di HIMAPWK-UNIKS pada periode 2024-2025 sebagai Ketua Umum yang berkontribusi dalam berbagai kegiatan Kemahasiswaan.

    Tak hanya itu, saat masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas, ia telah mulai mengembangkan jiwa kepemimpinan dan kemampuan organisasinya melalui penggabungan diri dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai anggota divisi hubungan masyarakat, serta menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Sang Saka Merah Putih (PASKIBRA) yang mengajarkannya tentang disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air.

    Restu memiliki kepedulian yang mendalam terhadap pembangunan daerah, terutama daerah kelahirannya yang masih membutuhkan perhatian lebih dalam berbagai aspek seperti infrastruktur, akses pendidikan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Ia bercita-cita berkontribusi melalui perencanaan wilayah dan kota yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

    Sebagai bagian dari ajang Putra Putri Kampus, ia memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi contoh bagi teman-teman mahasiswa lainnya: “Saya berkomitmen menjadi mahasiswa yang inspiratif, berintegritas, dan membawa dampak positif,” ujarnya dengan keyakinan yang jelas terlihat saat berbicara tentang visi dirinya, “karena saya percaya bahwa kita jangan selalu menunggu hal besar untuk melakukan perubahan terkadang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dari hal kecil. Seperti menanam pohon di halaman rumah, mengajak teman-teman untuk belajar bersama, atau membantu tetangga yang membutuhkan.
    Jika setiap orang melakukan hal kecil dengan konsistensi, maka akan terbentuk perubahan besar yang berdampak luas di masa depan.”

    Namun, perjalanan Restu menuju kesuksesan yang kini ia raih tidak selalu berjalan mulus tanpa rintangan. Pada tahun 2023, saat baru menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, ia dengan penuh semangat mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di daerah Riau dan Sumatera Barat. Ia telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh selama hampir setahun mengikuti les tambahan, mempelajari materi ujian secara mendalam, dan bahkan melakukan kunjungan ke beberapa kampus untuk memahami lebih jauh tentang program studi yang ingin ditempuh.

    Sayangnya, hasil yang diharapkan tidak datang – ia belum berhasil meraih kesempatan untuk berkuliah di salah satu PTN impiannya tersebut. “Saat saya menerima pemberitahuan bahwa tidak lolos seleksi, rasanya memang seperti ada batu berat yang menekan dada saya,” cerita dia dengan kejujuran yang tulus, tidak menyembunyikan emosi yang dirasakan saat itu, “saya telah berusaha dengan sebaik mungkin, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, bahkan mengorbankan waktu istirahat dan berkumpul dengan teman-teman hanya untuk mempersiapkan diri. Pada awalnya, saya merasa sangat kecewa dan bahkan mulai meragukan diri sendiri apakah saya benar-benar pantas untuk meraih impian tersebut.”

    Namun, dukungan dari orang tua dan teman-teman dekat yang selalu memberikan semangat serta nasihat bijak dari tetua desa membuatnya mampu bangkit kembali. Dari kegagalan tersebut, Restu menemukan makna yang lebih dalam tentang arti perjuangan dan kesempatan: “Saya menyadari bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” lanjutnya dengan semangat yang membara dan penuh harapan, “setiap tantangan yang datang dalam hidup kita bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi pengingat bagi kita untuk terus kuat, tetap rendah hati, dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
    Kegagalan itu membuat saya lebih matang dan menyadari bahwa jalan menuju impian tidak selalu lurus Terkadang kita harus melalui jalan yang berliku-liku agar bisa lebih menghargai setiap hasil yang kita dapatkan.”

    Setelah melewati masa refleksi dan terus memperbaiki diri dengan belajar lebih giat serta mengembangkan berbagai kemampuan diri, perjuangan Restu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan dengan sejumlah pencapaian yang membuat namanya dikenal lebih luas, bahkan melampaui ekspektasi banyak orang. Pada tahun 2025/2026, ia berhasil terpilih sebagai Duta/Putra Kampus UNIKS setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat mulai dari tes tulis, wawancara, hingga presentasi tentang visi dan misi sebagai duta kampus. Sebagai Duta Kampus, ia menjadi wajah yang mewakili prestasi akademik, sikap yang baik, dan semangat kemahasiswaan yang positif dari UNIKS.

    Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2026 ia mengikuti ajang bergengsi Putera Putri Kampus Riau (PPKR) yang diikuti oleh ratusan calon terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Riau. Dalam ajang tersebut, ia berhasil melampaui prediksi dengan masuk sebagai salah satu perwakilan terbaik dalam kategori Top 6, sekaligus meraih atribut Photogenic yang diberikan berdasarkan penilaian dari juri dan dukungan publik. “Saat nama saya disebutkan sebagai salah satu Top 6 dan mendapatkan atribut Photogenic, rasanya tidak percaya dan penuh rasa syukur yang luar biasa,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi, namun tetap penuh kebanggaan, “setiap pencapaian yang saya raih bukan hanya untuk kebanggaan pribadi dan keluarga saya,saya melakukannya juga untuk menunjukkan bahwa mahasiswa UNIKS memiliki kemampuan yang bisa bersaing secara kompetitif di tingkat provinsi, dan saya ingin membuktikan bahwa berasal dari keluarga sederhana, berasal dari desa yang jauh dari kota besar, tidak menjadi penghalang untuk meraih impian dan menjadi orang yang bermanfaat.”

    Motivasi utama yang membuat Restu terus berjuang dan tidak pernah berhenti berkembang datang dari dalam diri sendiri dan keinginan yang kuat untuk memberikan manfaat bagi orang lain, terutama masyarakat di daerah kelahirannya. “Motivasi saya adalah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” ungkapnya dengan suara yang penuh semangat dan keyakinan yang tak tergoyahkan, “berasal dari keluarga sederhana, saya melihat betapa keras orang tua bekerja hanya untuk menyekolahkan saya dan saudara-saudara. Oleh karena itu, saya ingin terus berkembang, membanggakan orang tua yang telah berkorban banyak untuk saya, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui ilmu dan kontribusi yang saya miliki sebagai seorang perencana wilayah dan kota. Saya berharap nantinya bisa membantu merancang program pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat desa.”

    Sumber inspirasinya juga datang dari perjalanan hidup yang sederhana namun penuh makna yang telah ia lalui: “Saya terinspirasi oleh perjalanan hidup sederhana yang mengajarkan bahwa kesuksesan lahir dari proses, bukan instan,” katanya dengan nada yang penuh penghargaan terhadap semua pengalaman yang telah dilalui, “setiap langkah yang saya tempuh baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan adalah bagian dari proses pembelajaran yang membuat saya semakin matang, semakin menghargai setiap kesempatan, dan semakin tekun untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.”

    Untuk generasi muda Indonesia khususnya anak-anak daerah dan mahasiswa se-Indonesia, Restu memiliki harapan yang besar dan pesan yang mendalam untuk disampaikan. “Saya berharap setiap langkah perjuangan yang saya lakukan hari ini tidak hanya mengantarkan saya menjadi pribadi yang sukses secara materi atau jabatan,” ujarnya dengan sikap yang penuh tanggung jawab dan pemikiran yang matang, “tetapi juga membuat saya menjadi pribadi yang sukses tanpa melupakan asal-usul tetap rendah hati, tetap menyayangi daerah kelahiran, dan selalu siap membantu orang lain. Saya juga berharap dapat membantu orang lain meraih kesempatan yang sama seperti yang saya dapatkan, terutama anak-anak muda dari daerah terpencil yang seringkali kurang memiliki akses terhadap informasi dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Mari kita bersama-sama membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki semangat yang tak padam untuk berkembang dan membawa perubahan positif bagi bangsa.”

    “Jangan pernah merasa minder karena berasal dari daerah terpencil atau keluarga sederhana justru jadikan hal itu sebagai kekuatan untuk terus bersinar dan membuktikan bahwa kita punya bagian penting dalam membangun masa depan bangsa,” pungkasnya dengan semangat yang membara dan tatapan yang penuh harapan, menutup pesannya dengan pesona yang khas dari seorang pemuda yang bangga dengan akarnya.

    Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan Restu Ramadhan seorang anak desa yang dengan kerja keras dan ketekunan mampu melampaui semua prediksi dan meraih kesuksesan yang membanggakan. Semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa proses dan perjuangan yang dilakukan dengan penuh kesungguhan, integritas, dan rasa ingin membantu sesama akan selalu membawa hasil yang berharga. Mari kita dukung satu sama lain untuk terus berkembang, tetap rendah hati terhadap segala pencapaian yang diraih, dan menjadi bagian dari perubahan positif yang membawa kemajuan bagi masyarakat dan negara Indonesia yang kita cintai. <>>
    Kontributor : Riszuan – Riau

  • Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

    Kisah Inspiratif Restu Ramadhan: Anak Desa Saik yang Melampaui Prediksi Masuk Top 6 dan Raih Atribut Photogenic PPKR 2026

    nataragung.id – Riau – Restu Ramadhan, atau yang akrab disapa Restu, adalah mahasiswa aktif Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Islam Kuantan Singingi (UNIKS). Berasal dari Desa Saik, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuansing sebuah daerah yang terletak di bagian tengah Provinsi Riau yang dikenal dengan kekayaan alam dan nilai-nilai budaya yang kuat.

    Ia tumbuh dari latar belakang keluarga sederhana yang telah menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab sejak dini. Ayahnya bekerja sebagai petani sementara ibunya adalah ibu rumah tangga yang selalu mengajarkan pentingnya bersyukur dan membantu sesama.

    “Kesederhanaan yang saya rasakan sejak kecil bukanlah hal yang membuat saya minder, melainkan justru menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, mandiri, dan pantang menyerah dalam berproses mengejar cita-cita,” ujarnya Restu memulai cerita perjalanan hidupnya sambil menatap keluar rumah, dengan tatapan yang penuh tekad dan rasa bangga yang tak terlukiskan akan daerah kelahirannya.

    “Desa Saik adalah tempat yang membentuk karakter saya setiap jalan tanah yang saya lalui, setiap cerita dari orang tua dan tetua desa yang saya dengarkan, serta setiap hari yang saya habiskan membantu pekerjaan di sawah menjadi bagian dari pendidikan hidup yang tak ternilai harganya. Saya ingin menunjukkan bahwa anak desa juga memiliki potensi besar untuk bersinar di tingkat yang lebih luas, bahkan menjadi perwakilan yang membanggakan daerah kita.” Ujar Restu dengan penuh semangat.

    Di bangku perkuliahan, Restu tidak pernah memilih untuk hanya berada di zona nyaman dengan fokus pada pencapaian akademik semata. Ia sangat menyadari bahwa untuk menjadi seorang perencana wilayah dan kota yang berkualitas, diperlukan lebih dari sekadar ilmu teoritis di kelas diperlukan kemampuan untuk berinteraksi dengan masyarakat, memimpin tim, dan mengubah ide menjadi tindakan nyata.

    Oleh karena itu, ia aktif terlibat dalam berbagai organisasi dan kegiatan kemahasiswaan yang mengasah kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kerja sama tim. Sejak tahun 2024, ia telah menjadi anggota aktif Pemuda Muhammadiyah Ranting Saik dengan masa bakti hingga 2028, di mana ia terlibat dalam berbagai program pengembangan pemuda dan kegiatan dakwah yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat desa.

    Sebelumnya, pada periode 2023-2024, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Dakwah Islamiyah Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (HIMAPWK-UNIKS), di mana ia berhasil menyelenggarakan sejumlah kegiatan seperti pelatihan literasi agama bagi mahasiswa, diskusi bersama tokoh masyarakat, serta program bakti sosial ke desa-desa sekitar kampus. Bahkan setelah masa jabatannya berakhir, ia tetap aktif di HIMAPWK-UNIKS pada periode 2024-2025 sebagai Ketua Umum yang berkontribusi dalam berbagai kegiatan Kemahasiswaan.

    Tak hanya itu, saat masih menempuh pendidikan di tingkat sekolah menengah atas, ia telah mulai mengembangkan jiwa kepemimpinan dan kemampuan organisasinya melalui penggabungan diri dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sebagai anggota divisi hubungan masyarakat, serta menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Sang Saka Merah Putih (PASKIBRA) yang mengajarkannya tentang disiplin, kerja keras, dan cinta tanah air.

    Restu memiliki kepedulian yang mendalam terhadap pembangunan daerah, terutama daerah kelahirannya yang masih membutuhkan perhatian lebih dalam berbagai aspek seperti infrastruktur, akses pendidikan, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan. Ia bercita-cita berkontribusi melalui perencanaan wilayah dan kota yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

    Sebagai bagian dari ajang Putra Putri Kampus, ia memiliki komitmen yang kuat untuk menjadi contoh bagi teman-teman mahasiswa lainnya: “Saya berkomitmen menjadi mahasiswa yang inspiratif, berintegritas, dan membawa dampak positif,” ujarnya dengan keyakinan yang jelas terlihat saat berbicara tentang visi dirinya, “karena saya percaya bahwa kita jangan selalu menunggu hal besar untuk melakukan perubahan terkadang yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dari hal kecil. Seperti menanam pohon di halaman rumah, mengajak teman-teman untuk belajar bersama, atau membantu tetangga yang membutuhkan.
    Jika setiap orang melakukan hal kecil dengan konsistensi, maka akan terbentuk perubahan besar yang berdampak luas di masa depan.”

    Namun, perjalanan Restu menuju kesuksesan yang kini ia raih tidak selalu berjalan mulus tanpa rintangan. Pada tahun 2023, saat baru menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, ia dengan penuh semangat mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) terbaik di daerah Riau dan Sumatera Barat. Ia telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh selama hampir setahun mengikuti les tambahan, mempelajari materi ujian secara mendalam, dan bahkan melakukan kunjungan ke beberapa kampus untuk memahami lebih jauh tentang program studi yang ingin ditempuh.

    Sayangnya, hasil yang diharapkan tidak datang – ia belum berhasil meraih kesempatan untuk berkuliah di salah satu PTN impiannya tersebut. “Saat saya menerima pemberitahuan bahwa tidak lolos seleksi, rasanya memang seperti ada batu berat yang menekan dada saya,” cerita dia dengan kejujuran yang tulus, tidak menyembunyikan emosi yang dirasakan saat itu, “saya telah berusaha dengan sebaik mungkin, menghabiskan banyak waktu dan tenaga, bahkan mengorbankan waktu istirahat dan berkumpul dengan teman-teman hanya untuk mempersiapkan diri. Pada awalnya, saya merasa sangat kecewa dan bahkan mulai meragukan diri sendiri apakah saya benar-benar pantas untuk meraih impian tersebut.”

    Namun, dukungan dari orang tua dan teman-teman dekat yang selalu memberikan semangat serta nasihat bijak dari tetua desa membuatnya mampu bangkit kembali. Dari kegagalan tersebut, Restu menemukan makna yang lebih dalam tentang arti perjuangan dan kesempatan: “Saya menyadari bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” lanjutnya dengan semangat yang membara dan penuh harapan, “setiap tantangan yang datang dalam hidup kita bukanlah penghalang, melainkan justru menjadi pengingat bagi kita untuk terus kuat, tetap rendah hati, dan selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
    Kegagalan itu membuat saya lebih matang dan menyadari bahwa jalan menuju impian tidak selalu lurus Terkadang kita harus melalui jalan yang berliku-liku agar bisa lebih menghargai setiap hasil yang kita dapatkan.”

    Setelah melewati masa refleksi dan terus memperbaiki diri dengan belajar lebih giat serta mengembangkan berbagai kemampuan diri, perjuangan Restu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan dengan sejumlah pencapaian yang membuat namanya dikenal lebih luas, bahkan melampaui ekspektasi banyak orang. Pada tahun 2025/2026, ia berhasil terpilih sebagai Duta/Putra Kampus UNIKS setelah melalui serangkaian seleksi yang ketat mulai dari tes tulis, wawancara, hingga presentasi tentang visi dan misi sebagai duta kampus. Sebagai Duta Kampus, ia menjadi wajah yang mewakili prestasi akademik, sikap yang baik, dan semangat kemahasiswaan yang positif dari UNIKS.

    Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 2026 ia mengikuti ajang bergengsi Putera Putri Kampus Riau (PPKR) yang diikuti oleh ratusan calon terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Riau. Dalam ajang tersebut, ia berhasil melampaui prediksi dengan masuk sebagai salah satu perwakilan terbaik dalam kategori Top 6, sekaligus meraih atribut Photogenic yang diberikan berdasarkan penilaian dari juri dan dukungan publik. “Saat nama saya disebutkan sebagai salah satu Top 6 dan mendapatkan atribut Photogenic, rasanya tidak percaya dan penuh rasa syukur yang luar biasa,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi, namun tetap penuh kebanggaan, “setiap pencapaian yang saya raih bukan hanya untuk kebanggaan pribadi dan keluarga saya,saya melakukannya juga untuk menunjukkan bahwa mahasiswa UNIKS memiliki kemampuan yang bisa bersaing secara kompetitif di tingkat provinsi, dan saya ingin membuktikan bahwa berasal dari keluarga sederhana, berasal dari desa yang jauh dari kota besar, tidak menjadi penghalang untuk meraih impian dan menjadi orang yang bermanfaat.”

    Motivasi utama yang membuat Restu terus berjuang dan tidak pernah berhenti berkembang datang dari dalam diri sendiri dan keinginan yang kuat untuk memberikan manfaat bagi orang lain, terutama masyarakat di daerah kelahirannya. “Motivasi saya adalah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi,” ungkapnya dengan suara yang penuh semangat dan keyakinan yang tak tergoyahkan, “berasal dari keluarga sederhana, saya melihat betapa keras orang tua bekerja hanya untuk menyekolahkan saya dan saudara-saudara. Oleh karena itu, saya ingin terus berkembang, membanggakan orang tua yang telah berkorban banyak untuk saya, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui ilmu dan kontribusi yang saya miliki sebagai seorang perencana wilayah dan kota. Saya berharap nantinya bisa membantu merancang program pembangunan yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat desa.”

    Sumber inspirasinya juga datang dari perjalanan hidup yang sederhana namun penuh makna yang telah ia lalui: “Saya terinspirasi oleh perjalanan hidup sederhana yang mengajarkan bahwa kesuksesan lahir dari proses, bukan instan,” katanya dengan nada yang penuh penghargaan terhadap semua pengalaman yang telah dilalui, “setiap langkah yang saya tempuh baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan adalah bagian dari proses pembelajaran yang membuat saya semakin matang, semakin menghargai setiap kesempatan, dan semakin tekun untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.”

    Untuk generasi muda Indonesia khususnya anak-anak daerah dan mahasiswa se-Indonesia, Restu memiliki harapan yang besar dan pesan yang mendalam untuk disampaikan. “Saya berharap setiap langkah perjuangan yang saya lakukan hari ini tidak hanya mengantarkan saya menjadi pribadi yang sukses secara materi atau jabatan,” ujarnya dengan sikap yang penuh tanggung jawab dan pemikiran yang matang, “tetapi juga membuat saya menjadi pribadi yang sukses tanpa melupakan asal-usul tetap rendah hati, tetap menyayangi daerah kelahiran, dan selalu siap membantu orang lain. Saya juga berharap dapat membantu orang lain meraih kesempatan yang sama seperti yang saya dapatkan, terutama anak-anak muda dari daerah terpencil yang seringkali kurang memiliki akses terhadap informasi dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Mari kita bersama-sama membuktikan bahwa generasi muda Indonesia memiliki semangat yang tak padam untuk berkembang dan membawa perubahan positif bagi bangsa.”

    “Jangan pernah merasa minder karena berasal dari daerah terpencil atau keluarga sederhana justru jadikan hal itu sebagai kekuatan untuk terus bersinar dan membuktikan bahwa kita punya bagian penting dalam membangun masa depan bangsa,” pungkasnya dengan semangat yang membara dan tatapan yang penuh harapan, menutup pesannya dengan pesona yang khas dari seorang pemuda yang bangga dengan akarnya.

    Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan Restu Ramadhan seorang anak desa yang dengan kerja keras dan ketekunan mampu melampaui semua prediksi dan meraih kesuksesan yang membanggakan. Semoga kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa proses dan perjuangan yang dilakukan dengan penuh kesungguhan, integritas, dan rasa ingin membantu sesama akan selalu membawa hasil yang berharga. Mari kita dukung satu sama lain untuk terus berkembang, tetap rendah hati terhadap segala pencapaian yang diraih, dan menjadi bagian dari perubahan positif yang membawa kemajuan bagi masyarakat dan negara Indonesia yang kita cintai. <>>
    Kontributor : Riszuan – Riau

  • Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 1 – Budaya Lampung, Akar Identitas Kita. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 1 – Budaya Lampung, Akar Identitas Kita. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman dahulu, ketika bukit dan sungai di Bumi Lampung masih menyimpan banyak kisah, hiduplah seorang pemuda bernama Ruwai. Ia adalah keturunan dari Marga Pemuka, salah satu garis keturunan tertua yang dihormati di tiap hamparan kampung. Suatu hari, Ruwai bertanya kepada kakeknya, seorang tetua adat yang bijak bernama Paksi Buana, “Kakek, mengapa kita harus memegang teguh adat? Bukankah hidup akan lebih mudah jika kita mengikuti cara orang lain saja?”
    Paksi Buana tidak langsung menjawab. Ia membawa Ruwai ke sebuah bendung (batu besar bertulis) di tepi Way Rarem. Di atas batu itu terukir simbol-simbol kuno, aksara Lampung yang sudah memudar. “Bacalah, Nak,” kata Paksi Buana. Ruwai menggeleng, ia tak mampu membaca tulisan leluhurnya sendiri. Paksi Buana kemudian menutup mata dan berkata dengan suara lirih, “Inilah awal dari kebutaan. Jika kita tak lagi mengenal tulisan nenek moyang, bagaimana kita bisa membaca petunjuk hidup mereka?”

    Kakek itu lalu bercerita tentang asal-usul Marga Pemuka. Konon, leluhur mereka, Sang Bumi Ruwai pertama, adalah seorang pahlawan yang menyatukan empat puluh pepadun (keluarga besar) dengan nilai Piil Pesenggiri. Sebuah naskah daun lontar kuno, Kitab Tuha Bepanggih, menyimpan pesan: “Saibatin di tanah Lampung, jema sai ngaku adat, nengah nyappur, sakai sambayan, piil pesenggiri gham bujughi” (Pemimpin di tanah Lampung, yang mengaku beradat, harus terbuka, bergotong royong, dan menjaga harga diri dengan benar).
    “Arti dari kutipan itu sangat dalam,” jelas Paksi Buana kepada Ruwai. “Bukan sekadar pemimpin, tetapi setiap orang yang mengaku sebagai bagian dari masyarakat Lampung, harus hidup dengan prinsip keterbukaan (nengah nyappur) dan saling menopang (sakai sambayan). Inilah yang membuat leluhur kita bisa bertahan melalui peperangan, bencana, dan perubahan zaman.”

    Ruwai mulai memahami. Nilai-nilai itu bukanlah aturan kaku, melainkan jiwa yang menghidupkan setiap tindakan. Dari cerita kakeknya, ia belajar bahwa Piil Pesenggiri bukan tentang kesombongan, melainkan tentang menjaga martabat diri dengan cara menghormati orang lain. “Orang yang berharga diri sejati,” kata Paksi Buana, “adalah orang yang tidak akan merendahkan orang lain, karena itu sama saja dengan merendahkan dirinya sendiri.”

    Bahasa Lampung, atau Cawa Lampung, bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah gudang kearifan. Setiap kata menyimpan filosofi. Misalnya, kata “nyimah” (ramah) dalam nemui nyimah bukan hanya berarti menyambut tamu, tetapi mengandung makna keterbukaan hati untuk menerima perbedaan. Dalam sebuah manuskrip kuno Kuntara Raja Niti disebutkan: “Nemui nyimah nengah, bejuluk beadek sai, mak ngadan di lampung” (Menerima dengan ramah dan terbuka, pemberian gelar yang patut, itulah penanda orang Lampung).

    Analisis dari kutipan ini menunjukkan bahwa identitas sebagai orang Lampung (mak ngadan di lampung) sangat dikaitkan dengan kemampuan untuk bersikap inklusif (nemui nyimah nengah) dan menghormati hierarki sosial yang berlandaskan kebajikan (bejuluk beadek sai). Gelar atau juluk adek tidak diberikan sembarangan. Ia mencerminkan prestasi, karakter, dan kontribusi seseorang kepada masyarakat.
    Hilangnya bahasa berarti hilangnya sistem nilai yang tersusun rapi dalam kosakatanya.

    Saat ini, banyak keluarga muda lebih memilih berbicara dalam bahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing di rumah. Mereka tidak menyadari bahwa ketika seorang anak tidak lagi diajarkan cawa Lampung, ia kehilangan kunci untuk memahami konsep seperti sakai sambayan (gotong royong) yang spiritnya tertanam kuat dalam peribahasa dan pantun daerah.
    Mari kita ambil contoh upacara Begawi atau Cakak Pepadun. Bagi yang hanya melihat dari luar, ini hanyalah pesta besar dengan pakaian adat warna-warni dan tari-tarian gemulai. Namun, di baliknya tersimpan struktur sosial dan spiritual yang sangat kompleks.

    Setiap rangkaian dalam Begawi memiliki makna. Pengangkatan seorang penyimbang (pemimpin adat) melalui prosesi duduk di pepadun (kursi adat) adalah simbol tanggung jawab, bukan simbol kekuasaan. Sebuah syair adat (pisaan) yang dilantunkan dalam bahasa Lampung tinggi berbunyi: “Duduk di pepadun, sai bejimat di tiyuh, piil gham luppa, pesenggiri sai lestari” (Duduk di kursi adat, yang berjaga di kampung, jangan lupa prinsip, harga diri harus lestari).

    Analisis filosofisnya mendalam. “Berjaga di kampung” berarti pemimpin adalah pelayan masyarakat, penjaga ketertiban dan kesejahteraan bersama. Pesan “jangan lupa prinsip” adalah pengingat bahwa kekuasaan bisa membuat seseorang lupa daratan. Oleh karena itu, ia harus selalu diikat oleh pesenggiri (harga diri) yang membuatnya tidak akan berbuat curang atau semena-mena.
    Ritual menyirih (nyeghibou) dalam upacara juga bukan formalitas. Menyuguhkan sirih pinang kepada tamu adalah lambang nemui nyimah. Proses mengunyah sirih yang membutuhkan kesabaran melambangkan bahwa hubungan sosial harus dibina perlahan, penuh hormat, dan menghasilkan ‘warna’ kehidupan yang harmonis (dari ludahan sirih yang kemerahan).
    Kelima nilai inti Piil Pesenggiri sebenarnya adalah pedoman praktis untuk hidup bermasyarakat yang damai. Nilai-nilai ini selaras dengan butir-butir Pancasila, terutama Persatuan Indonesia dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
    1. Nemui Nyimah (Keramahan) adalah perwujudan sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Menerima tamu dengan baik berarti mengakui hak orang lain untuk dihargai.
    2. Nengah Nyappur (Keterbukaan) mencerminkan semangat musyawarah dalam sila keempat. Sebelum mengambil keputusan penting bagi kampung, semua pihak didengar dalam forum perwatin.
    3. Sakai Sambayan (Gotong Royong) adalah jiwa dari sila kelima. Membangun rumah, menggarap ladang, atau menyelenggarakan pesta adat dilakukan bersama-sama. Prinsip ini memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.
    4. Juluk Adek (Gelar Kehormatan) mengajarkan bahwa penghargaan diberikan berdasarkan prestasi dan kebajikan, bukan karena kekayaan atau keturunan semata. Ini selaras dengan keadilan sosial.
    5. Pesenggiri (Harga Diri) adalah benteng individu untuk tidak melakukan hal-hal tercela seperti korupsi, berbohong, atau menipu. Orang yang pesenggiri-nya kuat akan malu jika mengecewakan kepercayaan masyarakat.
    Nilai-nilai ini, jika hidup dan dipahami, akan menjadi vaksin sosial terhadap penyakit individualisme, materialisme, dan ketidakpedulian yang menggerogoti masyarakat modern.

    Kisah Ruwai dan kakeknya adalah cermin dari kondisi kita sekarang. “Pemerintah Tutup Mata” dalam judul seri ini adalah metafora dari kelalaian kolektif, bukan hanya oleh pemangku kebijakan, tetapi juga oleh kita sebagai masyarakat. Kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing hingga melupakan untuk ‘membaca tulisan di batu’ warisan leluhur.
    Melestarikan budaya Lampung bukan berarti menolak modernitas. Justru, dengan berpegang pada identitas budaya yang kuat, kita bisa menyaring pengaruh global dengan lebih bijak. Seperti kata Paksi Buana kepada Ruwai di akhir cerita, “Modern itu alat, Nak. Adat itu kompas. Kita bisa naik perahu tercepat, tetapi jika tidak ada kompas, kita akan tersesat di lautan luas.”

    Buku seri ini mengajak kita semua, masyarakat Lampung, untuk membuka mata. Mulai dari hal sederhana: menggunakan bahasa Lampung di rumah, menanyakan makna gelar keluarga, atau sekadar menghadiri upacara adat dengan rasa ingin tahu yang tulus. Dengan demikian, akar identitas kita akan tetap kuat, menopang kita menjadi masyarakat Indonesia yang modern, tetapi tidak kehilangan jiwa. Menjadi warga Pancasila yang bangga akan kekayaan budaya daerahnya sendiri, karena itulah salah satu pilar utama Persatuan Indonesia.

    Sumber Referensi Terverifikasi:
    1. Kitab Tuha Bepanggih (Naskah daun lontar koleksi Museum Lampung, No. Inventaris ML. 78).
    2. Kuntara Raja Niti (Transkripsi dan terjemahan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, 2015).
    3. Bustami, Arifin. (2015). Piil Pesenggiri: Falsafah Hidup Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung.
    4. Rekaman Audio Visual Prosesi Cakak Pepadun di Liwa, Lampung Barat (Arsip Lembaga Adat Pepadun, 2018).

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Mengembaralah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    Mengembaralah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – Pemanggilan – Mengembaralah.
    Bukan semata untuk berpindah tempat, tetapi untuk memperluas makna hidup.

    Sebab di setiap perjalanan, ada pelajaran yang tak diajarkan oleh bangku sekolah, ada hikmah yang hanya bisa dipahami oleh kaki yang lelah dan hati yang terbuka.

    Engkau akan belajar tentang sabar saat rencana tak berjalan seperti harapan.

    Belajar tentang syukur saat menemukan kebaikan di tempat yang tak disangka.

    Dan belajar tentang diri sendiri, ketika jauh dari zona nyaman dan tak ada siapa pun selain Tuhan yang benar-benar menemani langkahmu.

    Dalam pengembaraan,
    engkau akan bertemu wajah-wajah asing yang mengajarkan arti kemanusiaan,
    cerita-cerita sederhana
    yang menguatkan iman, serta keheningan jalan yang mendewasakan pikiran.

    Maka mengembaralah.
    Jika bukan untuk mencari kebahagiaan,
    setidaknya untuk menemukan kebijaksanaan.

    Karena hidup tak selalu tentang tiba, melainkan tentang apa yang engkau pahami di sepanjang perjalanan. <>

    { قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِكُمۡ سُنَنٞ فَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ }

    Sungguh, telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah),karena itu berjalanlah kamu ke (segenap penjuru) bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). [Surat Ali ‘Imran: 137]
    (KIS/161).
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Polres Lampung Tengah Gelar Upacara Penyerahan Secara Simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian Anggota Polri

    Polres Lampung Tengah Gelar Upacara Penyerahan Secara Simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian Anggota Polri

    nataragung.id – Lampung Tengah – Kapolres Lampung Tengah, Polda Lampung, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, S.I.K., S.H., M.H., melalui Wakapolres, Kompol Heru Sulistyananto, S.H., M.H., memimpin Upacara penyerahan secara simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian kepada personel Polri di lapangan apel Mapolres Lampung Tengah, Selasa (27/1/26).

    Upacara ini diikuti oleh para Pejabat Utama (PJU), Kapolsek jajaran, perwira, serta seluruh personel Polres Lampung Tengah.

    Penganugerahan tanda kehormatan tersebut di berikan secara simbolis kepada masing masing :
    1. SL 32 tahun. Iptu Yudhi Chandra jabatan PS. Kapolsek Selagai Lingga.
    2. SL 24 Tahun. Iptu jufriyanto, S.IP jabatan PS. Kapolsek Rumbia.
    3. SL.16 Tahun. Bripka Romdhoni. jabatan BA Polsek Bangun Rejo.
    4. SL. 8 Tahun Brigpol Ni Komang Sinta Widiadari., SH, MH., jabatan BA. Polsek Seputih Mataram.

    Pemberian anugrah tersebut merupakan bentuk penghargaan dari negara kepada anggota Polri yang telah menunjukkan dedikasi, loyalitas dan pengabdian yang panjang serta tanpa pelanggaran dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

    Wakapolres Lampung Tengah dalam amanatnya menyampaikan bahwa tanda kehormatan pengabdian bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan wujud apresiasi negara atas komitmen, kedisiplinan, dan integritas personel Polri selama mengabdi.

    Lebih lanjut, Wakapolres menegaskan bahwa penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh personel anggota polri Polres Lampung Tengah untuk terus meningkatkan profesionalisme, kinerja dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    “Jadikan penghargaan ini sebagai teladan dan penyemangat bagi kita semua untuk terus bekerja dengan ikhlas, disiplin, serta menjaga nama baik institusi Polri di tengah masyarakat,” tegasnya.

    Selesai acara penyerahan penganugerahan di tutup dengan pemberian ucapan selamat oleh para peserta upacara.
    (Bustami/Hms)

  • Polres Lampung Tengah Gelar Upacara Penyerahan Secara Simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian Anggota Polri

    Polres Lampung Tengah Gelar Upacara Penyerahan Secara Simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian Anggota Polri

    nataragung.id – Lampung Tengah – Kapolres Lampung Tengah, Polda Lampung, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, S.I.K., S.H., M.H., melalui Wakapolres, Kompol Heru Sulistyananto, S.H., M.H., memimpin Upacara penyerahan secara simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian kepada personel Polri di lapangan apel Mapolres Lampung Tengah, Selasa (27/1/26).

    Upacara ini diikuti oleh para Pejabat Utama (PJU), Kapolsek jajaran, perwira, serta seluruh personel Polres Lampung Tengah.

    Penganugerahan tanda kehormatan tersebut di berikan secara simbolis kepada masing masing :
    1. SL 32 tahun. Iptu Yudhi Chandra jabatan PS. Kapolsek Selagai Lingga.
    2. SL 24 Tahun. Iptu jufriyanto, S.IP jabatan PS. Kapolsek Rumbia.
    3. SL.16 Tahun. Bripka Romdhoni. jabatan BA Polsek Bangun Rejo.
    4. SL. 8 Tahun Brigpol Ni Komang Sinta Widiadari., SH, MH., jabatan BA. Polsek Seputih Mataram.

    Pemberian anugrah tersebut merupakan bentuk penghargaan dari negara kepada anggota Polri yang telah menunjukkan dedikasi, loyalitas dan pengabdian yang panjang serta tanpa pelanggaran dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

    Wakapolres Lampung Tengah dalam amanatnya menyampaikan bahwa tanda kehormatan pengabdian bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan wujud apresiasi negara atas komitmen, kedisiplinan, dan integritas personel Polri selama mengabdi.

    Lebih lanjut, Wakapolres menegaskan bahwa penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh personel anggota polri Polres Lampung Tengah untuk terus meningkatkan profesionalisme, kinerja dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    “Jadikan penghargaan ini sebagai teladan dan penyemangat bagi kita semua untuk terus bekerja dengan ikhlas, disiplin, serta menjaga nama baik institusi Polri di tengah masyarakat,” tegasnya.

    Selesai acara penyerahan penganugerahan di tutup dengan pemberian ucapan selamat oleh para peserta upacara.
    (Bustami/Hms)

  • Polres Lampung Tengah Gelar Upacara Penyerahan Secara Simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian Anggota Polri

    Polres Lampung Tengah Gelar Upacara Penyerahan Secara Simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian Anggota Polri

    nataragung.id – Lampung Tengah – Kapolres Lampung Tengah, Polda Lampung, AKBP Charles Pandapotan Tampubolon, S.I.K., S.H., M.H., melalui Wakapolres, Kompol Heru Sulistyananto, S.H., M.H., memimpin Upacara penyerahan secara simbolis Penganugerahan Tanda Kehormatan Pengabdian kepada personel Polri di lapangan apel Mapolres Lampung Tengah, Selasa (27/1/26).

    Upacara ini diikuti oleh para Pejabat Utama (PJU), Kapolsek jajaran, perwira, serta seluruh personel Polres Lampung Tengah.

    Penganugerahan tanda kehormatan tersebut di berikan secara simbolis kepada masing masing :
    1. SL 32 tahun. Iptu Yudhi Chandra jabatan PS. Kapolsek Selagai Lingga.
    2. SL 24 Tahun. Iptu jufriyanto, S.IP jabatan PS. Kapolsek Rumbia.
    3. SL.16 Tahun. Bripka Romdhoni. jabatan BA Polsek Bangun Rejo.
    4. SL. 8 Tahun Brigpol Ni Komang Sinta Widiadari., SH, MH., jabatan BA. Polsek Seputih Mataram.

    Pemberian anugrah tersebut merupakan bentuk penghargaan dari negara kepada anggota Polri yang telah menunjukkan dedikasi, loyalitas dan pengabdian yang panjang serta tanpa pelanggaran dalam menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

    Wakapolres Lampung Tengah dalam amanatnya menyampaikan bahwa tanda kehormatan pengabdian bukan sekadar penghargaan simbolis, melainkan wujud apresiasi negara atas komitmen, kedisiplinan, dan integritas personel Polri selama mengabdi.

    Lebih lanjut, Wakapolres menegaskan bahwa penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh personel anggota polri Polres Lampung Tengah untuk terus meningkatkan profesionalisme, kinerja dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

    “Jadikan penghargaan ini sebagai teladan dan penyemangat bagi kita semua untuk terus bekerja dengan ikhlas, disiplin, serta menjaga nama baik institusi Polri di tengah masyarakat,” tegasnya.

    Selesai acara penyerahan penganugerahan di tutup dengan pemberian ucapan selamat oleh para peserta upacara.
    (Bustami/Hms)

  • Satu Abad NU Menjemput Fajar dengan Kemandirian. Oleh: Edi Sriyanto *)

    Satu Abad NU Menjemput Fajar dengan Kemandirian. Oleh: Edi Sriyanto *)

    nataragung.id – Sidomulyo – Sabtu malam Ahad, 24 Januari 2026. Halaman Masjid Safinatunnajah di Kalianda mulai menampung arus besar kerinduan. Sejak bakda Maghrib, rombongan Kader Penggerak dari berbagai kecamatan seperti Sragi dan Way Sulan mulai merapat.

    Di bawah bayang-bayang masjid yang menyerupai kapal itu, saya menyaksikan sebuah fragmen khidmah yang membanggakan, betapa militansi kader kita di Lampung Selatan telah tumbuh menjadi energi organik yang luar biasa.

    Kemandirian Kader Penggerak NU ini sungguh menggugah. Tanpa perlu banyak komando, mereka secara alamiah mengatur posisi di pelataran masjid.

    Pemandangan kader yang menyeduh kopi yang mereka bawa sendiri dari rumah adalah simbol “Kedaulatan Jamaah” yang sesungguhnya. Mereka datang tidak untuk dilayani, tapi untuk menyerahkan segenap dedikasi bagi Satu Abad Nahdlatul Ulama.

    Keheningan memuncak saat jarum jam menyentuh angka 00.00 WIB di tanggal 25 Januari. Kyai Abdul Aziz At-Tarmasi menyampaikan talqin dzikir dan ijazahan yang bersumber dari kitab Kifâyah al-Mustafîd.

    Momen ini menjadi krusial untuk meninjau kembali akurasi kita dalam mengikuti tuntunan Rasulullah Saw. Selama ini, kita sering terjebak pada kelatahan tradisi seperti saat memulai tahlil, jawaban makmum seringkali langsung dilakukan secara jahr (keras) dan masal.

    Namun, jika merujuk pada redaksi kitab karya Syekh Mahfudz Termas tersebut, Rasulullah Saw. memberikan instruksi yang sangat spesifik murid diperintahkan memejamkan mata dan mendengarkan secara mendalam (inshat) terlebih dahulu. Ini adalah peringatan agar kita tidak sekadar “latah” mengikuti kebiasaan yang beredar di buku-buku populer, melainkan kembali pada yang makhsus (khusus) dan asli dari Nabi Muhammad Saw.

    Fenomena ini mirip dengan kebiasaan kita mendoakan pengantin dengan “Sakinah Mawaddah Warahmah”, padahal doa yang diajarkan Rasulullah secara otentik adalah “Barakallahu laka wa baraka ‘alaika…”.

    Kembali ke sanad yang asli bukan berarti membuang tradisi. Tidak apa-apa kita tetap melakukan kebiasaan tersebut, namun hendaknya diawali terlebih dahulu dengan yang makhsus sesuai tuntunan. Inilah cara kita memurnikan peribadatan agar tetap presisi sesuai bimbingan para guru.

    Bagi Kader Penggerak NU yang berhalangan hadir, pelajaran dari Safinatunnajah malam itu sangat jelas kekuatan NU di abad kedua ini terletak pada kedisiplinan batin untuk mengikuti sanad yang benar.

    Menjemput fajar Satu Abad, kita telah membuktikan bahwa NU Lampung Selatan adalah barisan yang kokoh karena hati para kadernya telah tertaut dalam satu sanad perjuangan yang jernih, yang bergerak sunyi namun pasti demi kemaslahatan umat.

    “Khidmah di abad kedua bukan sekadar mengikuti kelatahan tradisi, melainkan kembali pada kemurnian sanad. Seperti talqin zikir yang menuntut ketajaman rungu sebelum lisan berpadu, begitulah organisasi harus bergerak: presisi sesuai tuntunan, bukan sekadar riuh rendah tanpa kedalaman.” <>

    *) Penulis adalah : Aktivitas PCNU Kabupaten Lampung Selatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Lampung Selatan.