Di Antara Mimbar dan Dapur. Oleh : Kgs Bambang Utoyo // Aktivis Sosial Kemasyarakatan, tinggal di Kecamatan Sidomulyo – Lampung Selatan

0

nataragung.id – Lampung Selatan – Setiap zaman selalu punya proyek kebanggaannya.
Yang dulu dinamai bendungan, jalan raya, pabrik baja—kini hadir dalam bentuk yang lebih sederhana, hampir intim: _sepiring nasi, sepotong telur, segelas susu._

Ia diberi nama yang nyaris tak mungkin ditolak: Makan Bergizi Gratis.

Nama itu _terdengar seperti do’a yang diucapkan lirih di dapur pada pagi hari_ . Seperti niat baik yang tak perlu dipertanyakan. Negara berdiri di atas mimbar, menyebut anak-anak, gizi, masa depan. Kata stunting diucapkan dengan nada perang. Anggaran disebut dengan angka yang membuat kepala menoleh, triliunan rupiah mengalir, rapi di tabel, deras dalam pidato.

Di atas kertas, _semuanya tampak seperti langkah peradaban._
Di layar presentasi , _masa depan terlihat bersih dan terang._

Namun _sejarah_ —yang ingatannya panjang dan tak mudah dibohongi—selalu mengajarkan satu hal: setiap proyek besar adalah panggung. Dan setiap panggung, betapapun megahnya, selalu menyembunyikan aktor-aktor yang tak disebut namanya.

Bukan hanya negara yang berdiri di sana.

Ada pengusaha yang membaca peluang lebih cepat dari teks pidato. Ada kontraktor, distributor, penyedia logistik, katering, dapur industri. Ada modal yang bergerak senyap, seperti angin laut yang dulu membawa kapal-kapal dagang ke pelabuhan Nusantara.

Baca Juga :  Korupsi dan Frustasi Massal (Renungan akhir Tahun 2025). Oleh : Gunawan Handoko *)

_Sebab di mana anggaran besar dibuka, pasar tak pernah terlambat datang._

Beras berhenti menjadi makanan. Ia berubah menjadi kontrak.
Telur tak lagi lauk. Ia menjadi angka tender.
Dapur tak lagi tungku. Ia menjadi proyek.

Di ruang-ruang berpendingin udara, kesepakatan dirumuskan dengan suara rendah. Angka-angka bergerak halus, persentase disepakati tanpa perlu diucapkan keras-keras. Semua tampak sah, legal, tercatat.

Keuntungan dihitung cepat. Panen datang tanpa lumpur.

Sementara itu, di dunia lain —yang jaraknya hanya beberapa kilometer, kadang hanya satu dinding tipis— api sudah menyala dari malam.

Di sanalah dapur bekerja.

Perempuan dan lelaki yang disebut relawan mulai bergerak dibawah batas malam. Beras ditanak dalam kuali besar. Sayur diiris sampai bau bawang melekat di tangan. Air mendidih, uap naik,aroma masakan berbaur keringat menempel di rambut dan pakaian.

Waktu berjalan lambat di dapur. Jam tujuh pagi —terasa panjang. Jam sembilan —terasa lebih panjang lagi. Panci dicuci, galon diangkat, ratusan porsi dibagikan tanpa jeda. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada laporan kinerja.

Upah datang belakangan—jika datang. Kadang disebut uang transport. Kadang uang lelah. Kadang jumlahnya tak lebih besar dari harga lauk yang mereka masak.

Baca Juga :  Ijazah dan "Pintu Darurat" SP3. ✍️ Pepih Nugraha //Owner and Founder Pepnews

Tetapi mereka jarang disebut pekerja.

Mereka disebut relawan.

Kata itu terdengar mulia. Bersih. _Seolah-olah cukup untuk menggantikan kontrak kerja, jaminan kesehatan, perlindungan hukum._ Dalam satu kata itu, kewajiban negara menguap pelan-pelan.

Jika lelah, itu pengabdian.
Jika mengeluh, itu kurang ikhlas.

Padahal _pekerjaan mereka nyata, rutin, terjadwal._ Dalam bahasa ekonomi, mereka adalah tenaga produksi. Hanya namanya diganti agar terdengar lebih suci.

Beginilah bahasa bekerja: ia tidak selalu berbohong, tapi sering menyamarkan.

Di negeri yang gemar berbicara tentang keadilan sosial, ironi itu tumbuh diam-diam. Yang satu mengaduk kuah sejak subuh. Yang lain mengaduk proposal dan angka. Yang satu pulang dengan bau asap di baju. Yang lain pulang dengan laporan laba.

Yang satu hidup seperti musim tanam —panjang, sabar, penuh peluh.
Yang lain menikmati musim panen —cepat, bersih, tanpa lumpur.

Dan tetap harus dikatakan dengan jujur: program ini membawa harapan. Anak-anak makan. Perut kenyang. Gizi membaik. Sekolah terasa lebih terang. Niat baiknya nyata, dan tak layak dihapus begitu saja.

Baca Juga :  Ledakan Usulan Pemekaran Daerah. Oleh : Djohermansyah Djohan *)

Namun niat baik tanpa tata kelola yang jernih selalu berisiko berubah menjadi ladang rente. Anggaran besar tanpa pengawasan mudah bocor, seperti atap rumbia di musim hujan.

Karena itu transparansi bukan ancaman, melainkan penjaga. Akuntabilitas bukan penghambat, melainkan pengaman.

Jika tidak, sejarah akan mencatatnya dengan nada datar tapi dingin: bahwa atas nama memberi makan rakyat kecil, justru rakyat kecil yang paling banyak membayar harganya.

Pada akhirnya, rahasia terbesar program sebesar ini bukan konspirasi gelap atau drama kekuasaan. Rahasia itu terlalu manusiawi, bahkan nyaris biasa.

Bahwa di balik setiap kebijakan besar, selalu ada dua dunia yang berjalan berdampingan tapi jarang saling menyapa:

dunia pidato,
dan dunia dapur.

Dan peradaban yang sungguh-sungguh besar tidak diukur dari berapa juta porsi dibagikan, melainkan dari satu pertanyaan tua yang tak pernah kehilangan maknanya:

apakah mereka yang menyalakan api itu sudah diperlakukan dengan adil?

Jika belum, maka sepiring nasi itu masih menyimpan utang— utang pada manusia,
dan utang pada sejarah. <>

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini