MIMBAR JUM’AT : Takwa – Makna dan 7 Jalan Menuju Kepadanya. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Takwa bukan sekadar kata yang sering kita dengar dalam khutbah dan nasihat. Ia adalah ruh kehidupan seorang mukmin. Ia adalah perisai hati, cahaya dalam gelap, dan bekal terbaik menuju akhirat.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ}

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (QS. Al Imran: 102)

Dan Allah Subḥanahu wata’ala menjelaskan batas kemampuan manusia:

{فَاتَّقُوا الله مَا اسْتَطَعْتُمْ}

“Maka bertakwalah kepada Allah menurut kemampuan kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

Apa Itu Takwa?
Takwa adalah melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sesuai kemampuan, dengan hati yang takut, penuh harap, dan cinta kepada-Nya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ»

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Takwa bukan hanya di masjid. Ia hidup di rumah, di pasar, di tempat kerja, bahkan ketika kita sendirian.

7 Jalan Menuju Takwa

Pertama, Mu‘ahadah (Memperbaharui Janji kepada Allah)

Mu‘ahadah adalah mengikat kembali janji kita kepada Allah untuk taat dan istiqamah.

Baca Juga :  MIMBAR JUMAT - Ramadhan Telah Berlalu. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

{أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ}

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak Adam agar kamu tidak menyembah setan?” (QS. Yasin: 60)

Setiap hari kita memperbarui janji itu dalam shalat: “Iyyāka na‘budu wa iyyāka نستعين.”

Kedua, Muraqabah (Merasa Diawasi Allah)

Muraqabah adalah kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadits Jibril:

«الإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah ruh takwa. Saat tak ada manusia yang melihat, hati tetap takut bermaksiat karena yakin Allah Maha Melihat.

Ketiga, Muhasabah (Introspeksi Diri)

Muhasabah adalah menghitung diri sebelum dihisab.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ}

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.” (QS. Al-Hashr: 18)

Orang bertakwa tidak sibuk menilai orang lain. Ia sibuk menilai dirinya sendiri.

Baca Juga :  MIMBAR JUMAT - Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Keempat, Mujahadah (Bersungguh-sungguh Melawan Nafsu)

Takwa tidak lahir tanpa perjuangan.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا}

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Melawan amarah, menahan syahwat, menjaga lisan, itulah jihad menuju takwa.

Kelima, Mujalasah (Berkumpul dengan Orang Saleh)

Lingkungan membentuk hati.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang itu mengikuti agama sahabat dekatnya, maka hendaklah kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Hati yang dekat dengan orang saleh lebih mudah hidup dalam takwa.

Keenam, Muda wamah ‘ala Dzikir (Istiqamah dalam Dzikir dan Istighfar)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ أَكْثَرَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا»

“Barang siapa memperbanyak istighfar, Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesedihan dan kelapangan dari setiap kesempitan.”

Dzikir melembutkan hati. Istighfar membersihkan noda dosa. Dari hati yang bersih tumbuhlah takwa.

Baca Juga :  MIMBAR JUM'AT Belajar Dari Bilqis. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron

Ketujuh, Mengingat Akhirat

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ»

“Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramalOleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *) untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi)

Takwa tumbuh ketika seseorang sadar bahwa dunia ini sementara, dan akhirat adalah tujuan.

Takwa adalah cahaya. Ia membuat hati hidup. Ia melahirkan keberanian meninggalkan maksiat. Ia menghadirkan ketenangan saat badai kehidupan datang.

Allah Subḥanahu wata’ala berjanji:

{إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا}

“Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian pembeda (antara yang hak dan batil).” (QS. Al-Anfal: 29)

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berjalan di atas tujuh jalan takwa, hingga kelak dipanggil dengan panggilan mulia:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.” (KIS)

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini