nataragung.id Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subḥanahu wata’ala yang masih memberi kita kesempatan menikmati hari-hari terbaik di bulan Ramadhan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, yang mencontohkan kepada kita indahnya menyepi bersama Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah…
Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, ada satu ibadah yang sangat dianjurkan, yaitu i’tikaf atau berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.
I’tikaf bukan sekadar tinggal di masjid. Ia adalah latihan untuk melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia, agar hati kembali fokus kepada Allah.
Disebutkan dalam hadits:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Nabi ﷺ selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan betapa pentingnya i’tikaf, khususnya dalam rangka mencari Lailatul Qadar.
Jamaah sekalian,
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“…sedangkan kamu beri’tikaf di dalam masjid…” (QS. Al-Baqarah: 187)
I’tikaf adalah tentang menghadirkan hati. Tentang memperbanyak:
– Tilawah Al-Qur’an
– Dzikir dan istighfar
– Doa dan munajat
– Muhasabah diri
Di tengah dunia yang bising, i’tikaf adalah keheningan yang menyembuhkan.
Jamaah yang dimuliakan Allah..
Kadang kita lelah oleh urusan dunia. Pikiran penuh, hati penat. I’tikaf adalah momen “mengisi ulang” iman. Saat kita duduk sendiri di masjid, membaca Al-Qur’an dalam sunyi, hati terasa lebih jernih.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika memasuki sepuluh malam terakhir:
كَانَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini tanda kesungguhan luar biasa.
Jamaah sekalian…
Jika belum mampu i’tikaf penuh sepuluh hari, lakukan sesuai kemampuan:
– Beberapa jam setelah Tarawih
– Menghidupkan malam dengan ibadah di rumah
– Mengurangi interaksi yang tidak perlu
Karena hakikat i’tikaf adalah mengikat hati hanya kepada Allah.
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala memberi kita kesempatan meraih Lailatul Qadar. Semoga kesunyian kita di masjid menjadi saksi cinta kita kepada-Nya.
اللهم تقبل منا وبلغنا ليلة القدر
Ya Allah, terimalah amal kami dan pertemukanlah kami dengan Lailatul Qadar.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (KIS/195).
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

