Nemui Nyimah, Tangan Terbuka di Era Tertutup. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di masa ketika kabut pagi masih setia bergelayut di pucuk-pucuk bambu, dan sapa ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, hiduplah denyut masyarakat Lampung yang sesungguhnya. Udara tidak hanya membawa wangi tanah basah, tetapi juga getar-getar silaturahmi. Rumah-rumah panggung bukan sekadar tempat bernaung, melainkan panggung terbuka bagi cerita, tawa, dan duka. Di sinilah falsafah tertinggi orang Lampung, Piil Pesenggiri, harga diri sebagai pondasi kehidupan, bukan hanya dihafal, tetapi dijalani dengan sepenuh jiwa. Harga diri itu terletak bukan pada harta melimpah, melainkan pada seberapa hangat tangan terbuka menyambut tamu, seberapa ringan lidah menyapa tetangga, dan seberapa erat persaudaraan dijalin. Itulah Nemui Nyimah.

Nemui Nyimah bukanlah sekadar tradisi memberi salam atau suguhan kopi pahit di teras. Ia adalah sistem, sebuah tata krama warisan leluhur yang mengatur hubungan antar-manusia. Dalam sebuah naskah kuno yang ditulis di atas kertas kulit kayu, yang tersimpan rapi di Sesat (balai adat) sebuah marga di Saibatin, tersurat dengan tinta hitam pekat:
“Huma khik jukhu gham meghanai, lapah khik mulang gham mekhanai, nemui nyimah jadi pandai, mit bejuluk mit beadok.” (Di ladang dan di dapur kita bertemu, pergi dan pulang kita bersapa, keramahanlah yang mendewasakan, agar kita mendapat julukan dan gelar kehormatan.)
Kutipan ini, yang kerap dibacakan dalam upacara adat Cakak Pepadun di dataran tinggi dan Begawi di pesisir, menjelaskan bahwa Nemui Nyimah adalah proses pembelajaran seumur hidup. Interaksi di ladang, berbagi hasil panen, hingga obrolan ringan di dapur adalah ruang-ruang kelas tak bersekat. Semua itu adalah latihan untuk menjadi manusia seutuhnya, untuk pantas menyandang gelar adat Sutan atau Raja, bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai simbol kebijaksanaan yang lahir dari kehangatan pergaulan.
Maka, ketika seorang musafir dari dusun lain singgah, tuan rumah takkan bertanya “siapa kamu?” sebelum menyuguhkan sekubak (air minum dalam wadah bambu). Tangan yang terbuka adalah simbol hati yang menerima, bahwa setiap insan adalah saudara yang perlu dihargai. Inilah implementasi dari falsafah Nengah Nyappur, kemampuan untuk bersosialisasi dan berbaur dengan siapa pun. Di bumi yang dikenal sebagai Sang Bumi Ruwa Jurai (tempat dua adat, Saibatin dan Pepadun), Nemui Nyimah adalah simpul pengikat yang membuat perbedaan justru menjadi perekat.
Namun, waktu tak pernah berhenti. Globalisasi menyelinap masuk melalui kabel fiber optik, menawarkan dunia dalam genggaman.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 7: Merangkul Zaman, Piil Pesenggiri di Tengah Globalisasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Rumah-rumah panggung mulai berganti dengan tembok beton yang kokoh. Pagar-pagar tinggi menjulang, bukan untuk keamanan semata, tetapi juga simbol dinding sosial yang baru. Di era yang disebut “terbuka” ini, sebuah ironi terjadi: tangan yang dulu terbuka untuk bersalaman, kini sibuk menari di atas layar ponsel.
Interaksi “maya” menggantikan silaturahmi “nyata”. Ucapan selamat cukup dikirim lewat aplikasi pesan, tanpa perlu bertandang dan merasakan hangatnya jabat tangan. Berita duka cukup direspons dengan emoji, tanpa perlu hadir dan memikul keranda. Lambat laun, Sakay Sambayan, gotong royong yang dulu menjadi otot masyarakat, mulai melemah. Ikatan kekerabatan yang selama berabad-abad dibangun dengan susah payah, kini terancam tergerus arus digital.

Dari seorang Penyimbang (pemimpin adat) Pepadun di tepian Sungai Way Seputih, saya mendengar kegelisahan yang ia tuangkan dalam petikan Warahan (cerita lisan): “Kham sinji mawo gawei, kham sinji mawo gelar. Lupa Nemui Nyimah, lupa jama sai ditua, lapah ghik mulang cuma sekadar sinyal, mak ngupi lagi di halaman.” (Kita dulu sama-sama bekerja, sama-sama punya gelar kebanggaan. Lupa pada keramahan, lupa pada yang lebih tua, pergi dan pulang hanya sekadar sinyal, tak lagi ngopi di halaman.)
Petikan ini menyayat hati. “Pergi dan pulang hanya sekadar sinyal” adalah kritik tajam atas hubungan yang tergerus menjadi data di ponsel. Perjalanan fisik yang dulu diisi dengan sapa-menyapa dengan tetangga, kini hanya dihabiskan dengan menunduk pada layar. Tradisi lapah mulang (berpergian dan kembali) yang dulu kaya makna, kini kehilangan ruhnya. Padahal, dalam masyarakat Saibatin yang menganut sistem kemargaan, kehadiran fisik dalam setiap upacara adat adalah bukti pengakuan terhadap silsilah dan tali persaudaraan (kekerabatan). Jika hanya “sekadar sinyal”, bagaimana mungkin tali itu tetap terajut erat?
Di tengah kepungan era yang serba tertutup ini, masyarakat Lampung diajak untuk merenungkan kembali makna silaturahmi fisik. Bukan berarti menolak teknologi, tetapi mengembalikannya pada proporsi yang benar. Teknologi harusnya menjadi jembatan, bukan penghalang. Ia adalah alat untuk mempermudah koordinasi gotong royong, bukan pengganti gotong royong itu sendiri.

Baca Juga :  Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 3 – UPACARA ADAT, MAKNA DI BALIK SAKRALITAS. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Falsafah Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa harga diri seseorang diukur dari kontribusinya kepada masyarakat. Kontribusi itu tidak bisa diberikan melalui like atau komentar. Ia membutuhkan keringat, tenaga, dan kehadiran. Membantu tetangga yang sedang begawi (punya hajat), melayat ke rumah duka, atau sekadar duduk bersama di lelamban (beranda) sambil bercerita, di situlah Piil yang sejati ditempa.
Seorang tetua adat Saibatin di pesisir Krui pernah berkata kepada saya, sambil menunjuk kitab Kuntara Raja Niti (kitab undang-undang dan tata cara adat Lampung),
“Dekheti, Nemui Nyimah bukan sekadar adat. Ia napas. Sama seperti napas, dia harus mengalir dalam pertemuan langsung. Bukan dalam jaringan. Kalau kau hanya bernapas lewat pesan singkat, kau pasti mati.”
Ucapannya sederhana namun mengena. Kitab Kuntara Raja Niti memang tidak secara gamblang membahas internet, namun nilai dasarnya adalah tentang hubungan langsung antara manusia.

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun : SERI 1: Asal Usul dan Filosofi Gelar Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam salah satu pasalnya yang membahas tentang Saka (empat fondasi adat), disebutkan bahwa fondasi masyarakat akan kokoh jika warganya saling bertemu muka dan bermusyawarah secara langsung. Interaksi fisik adalah ruhnya, dan teknologi hanyalah alat untuk memanggil warga berkumpul, bukan ruang berkumpul itu sendiri.
Maka, di era yang membentengi diri dengan tembok maya ini, buku kecil ini adalah undangan untuk kembali ke beranda. Bukan beranda virtual, melainkan beranda rumah yang sesungguhnya. Kembali menyeduh kopi untuk tamu, kembali mendengar cerita tetangga, kembali bergandeng tangan dalam gotong royong.
Nemui Nyimah bukanlah tradisi usang yang layu dimakan zaman. Ia adalah api abadi yang harus terus dijaga. Di tengah dinginnya interaksi digital, kehangatan silaturahmi fisik adalah satu-satunya cara untuk menjaga agar kita tidak benar-benar kehilangan rasa kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, menjadi orang Lampung yang beradat, sama artinya dengan menjadi manusia Pancasila sejati: yang menghargai setiap perbedaan, yang mengedepankan musyawarah, dan yang terus menjaga tali persaudaraan dengan tangan terbuka, bukan hanya dengan jari yang menari di layar kaca.
Seperti falsafah yang selalu dijunjung, adat berlandaskan hukum Islam, hukum Islam berlandaskan Al-Qur’an, dan Al-Qur’an sendiri mengajarkan untuk saling mengenal dan menyambung tali silaturahmi. Inilah panggilan jiwa orang Lampung, untuk tetap hangat di dunia yang kian dingin.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini