nataragung.id – Kalianda – Di antara ratusan guru taman kanak-kanak yang memenuhi GOR Way Handak, Kalianda, Jumat (22/5/2026), perhatian mendadak tertuju pada satu sosok perempuan lanjut usia yang duduk tenang di antara para peserta.
Namanya Suhartiyem. Usianya 74 tahun. Di usia yang bagi banyak orang identik dengan masa istirahat, Suhartiyem justru masih memilih hadir di tengah perayaan Hari Ulang Tahun ke-76 Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI) – PGRI Lampung Selatan.
Bukan untuk mencari perhatian. Bukan pula untuk menerima penghargaan. Ia datang sebagai guru, seperti yang telah ia lakukan selama puluhan tahun.
Namun hari itu, semesta seolah memberi ruang khusus untuk menghormatinya. Di atas panggung, Bunda PAUD sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lampung Selatan, Zita Anjani, tiba-tiba memanggil namanya.
Zita mengaku terharu melihat semangat Suhartiyem yang tetap hadir mengikuti kegiatan meski usianya tak lagi muda.
“Ibu Suhartiyem usia 74 tahun. Hari ini jauh-jauh hadir di acara IGTKI. Karena ibu banyak jasanya, ibu dapat hadiah dari saya sejumlah Rp7.600.000,” ujar Zita.

Bukan sekadar nominal hadiah yang membuat momen itu terasa besar, melainkan makna di baliknya, sebuah penghormatan kepada dedikasi yang selama ini mungkin jarang terlihat.
Suhartiyem diketahui merupakan Kepala Sekolah TK Bakti Pemuda, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, yang telah mengabdi sejak 2001.
Selama lebih dari dua dekade, ia menjadi bagian dari perjalanan pendidikan anak usia dini di Kabupaten Lampung Selatan, mendampingi generasi kecil belajar membaca, bernyanyi, mengenal huruf, hingga membentuk karakter pertama mereka. Pekerjaan yang kerap dianggap sederhana, padahal justru menjadi fondasi masa depan.
Saat namanya disebut dan hadiah itu diberikan, wajah Suhartiyem tampak tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
Matanya berkaca-kaca. Dengan suara lirih, ia hanya mampu berkata singkat.
“Alhamdulillah senang sekali perasaannya. Nggak nyangka, alhamdulillah senang,” ujarnya.
Tak ada pidato panjang. Tak ada kata-kata berlebihan. Hanya rasa syukur seorang guru yang merasa jerih payahnya akhirnya dilihat. Meski menjadi pusat perhatian hari itu, Suhartiyem tetap menunjukkan jati dirinya sebagai pendidik.
Alih-alih berbicara tentang dirinya sendiri, ia justru menitipkan pesan untuk para guru yang lebih muda. “Harus maju, tetap semangat untuk para guru,” katanya.
Momentum penghormatan itu juga menjadi penegasan bahwa dedikasi guru, terutama guru PAUD dan TK tak boleh lagi dipandang sebelah mata.

Dalam kesempatan yang sama, Zita Anjani juga memberikan tambahan hadiah bagi para pemenang lomba guru TK dalam rangka HUT ke-76 IGTKI-PGRI. Juara pertama memperoleh tambahan Rp10 juta, sementara juara kedua mendapat Rp7,6 juta.
Tak hanya itu, seluruh konsumsi kegiatan juga dipastikan ditanggung oleh TP PKK Kabupaten Lampung Selatan, sebuah bentuk dukungan simbolik bahwa para guru layak dihargai lebih.
Namun dari seluruh rangkaian acara hari itu, nama Suhartiyem menjadi cerita yang paling membekas. Karena di balik hadiah Rp7,6 juta itu, ada pesan yang jauh lebih besar.
Bahwa pengabdian, seberapa pun sunyinya, pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk dihormati. Dan di usia 74 tahun, Suhartiyem membuktikan satu hal, dedikasi seorang guru memang tidak pernah mengenal kata pensiun. (mara-kmf)

