Seruit Darah dan Daging Kurban Hari Raya Idul Adha Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Fajar belum sepenuhnya terbit ketika Oji bangun dari tempat tidurnya. Udara dingin pedalaman Way Kanan menusuk pori-pori, tapi tidak cukup untuk mengusir rasa hangat yang berkumpul di dadanya. Hari ini hari raya Idul Adha. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, ia mendapat tugas yang paling berat dalam hidupnya.
Ia harus menyembelih kerbau.
Bukan kerbau sembarangan. Kerbau ini adalah hewan kurban yang paling dihormati dalam adat Pepadun, masyarakat adat pedalaman yang tersebar di daerah Way Kanan, Abung, dan Way Putih. Dalam sistem Pepadun yang cenderung egaliter dan demokratis, kerbau melambangkan kekuatan, ketekunan, dan pengabdian. Bukan sekadar hewan, ia adalah simbol kebersamaan yang akan dinikmati oleh semua warga kampung.
“Oji, kau sudah siap?” suara ayahnya terdengar dari ruang depan.
“Belum, Pak. Masih gemetar,” jawab Oji jujur.
Ayahnya tertawa kecil. “Wajar, Nak. Tapi ingat, ini bukan sekadar sembelihan. Ini adalah Sakai Sambayan dalam wujudnya yang paling nyata.”

Dahulu kala, para leluhur kami mengajarkan bahwa menyembelih hewan kurban bukanlah sekadar mengalirkan darah. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, kitab rujukan utama falsafah hidup masyarakat Lampung yang ditulis pada era Majapahit, disebutkan bahwa setiap perbuatan memiliki karinah, sebab-akibat yang melekat padanya.
“Karinah berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan… hukum yang berhubungan dengan sebab akibat suatu perbuatan disebut jugul muda.”
Oji mengingat kutipan itu ketika ia memegang pisau di tangannya. Kerbau kurban itu diikat di halaman lamban adat (balai adat), matanya tenang seperti tahu ia akan pergi untuk sesuatu yang mulia. Oji mengusap kepalanya perlahan, berbisik doa dalam hati.
Ia ingat pelajaran dari Punyimbang (pemimpin adat) tua di kampungnya. “Niat itu segalanya, Oji. Jika kau niatkan karena Allah, setiap tetes darah yang jatuh akan menjadi saksi ketakwaanmu. Jika kau niatkan karena gengsi, darah itu hanya akan mengering sia-sia.”
Lalu Oji membaca bismillah dan menyembelih dengan satu tebasan yang tegas. Tubuh kerbau itu limbung dan jatuh. Darahnya mengalir deras membasahi tanah merah.
Warga yang menonton bersorak pelan. Bukan karena senang melihat kematian, tetapi karena mereka tahu, hari ini, tidak ada yang akan tidur dalam keadaan lapar.
Proses selanjutnya adalah nggulei, memasak gulai kambing dengan rempah-rempah khas Lampung. Daging kerbau dipotong menjadi berkilo-kilo, dibagi ke dalam kuali-kuali besar yang mendidih di atas tungku kayu.
Sementara itu, kaum ibu mempersiapkan sesuatu yang lebih istimewa: seruit.

Sebagai seorang pemuda yang ingin mengesankan, Oji sebenarnya berniat menyembelih kerbau sendirian. Namun, seorang gadis tiba-tiba menyingsingkan lengan bajunya dan mengambil posisi di dapur darurat.
“Biar saya bantu,” katanya.
Oji terperangah. Itu Kirana, seorang gadis dari Saibatin, masyarakat adat pesisir yang memiliki sistem hierarkis turun-temurun. Kirana merantau ke kampung Oji untuk bekerja sebagai guru. Di kampung Pepadun yang notabene lebih egaliter, kehadirannya sempat menimbulkan keanehan, tapi tidak ada yang berani bertanya.
“Kamu bisa masak seruit?” tanya Oji setengah tidak percaya.
Kirana tersenyum. “Di Saibatin, kami juga makan, Mas. Dan seruit adalah makanan semua orang Lampung.”
Seruit, yang namanya berasal dari kata nyeruit yang berarti “makan bersama-sama”, adalah hidangan khas yang memadukan ikan bakar, sambal terasi, dan tempoyak (durian fermentasi) yang diaduk dan dihancurkan bersama di atas cobek. Ritual mengaduk dan menghancurkan makanan bersama ini bukan sekadar cara makan, ia adalah metafora tentang bagaimana masyarakat Lampung harus saling berbaur, saling menghancurkan ego, untuk menciptakan sesuatu yang lebih nikmat.
Ada sentuhan khusus yang Kirana tambahkan ke dalam seruit yang ia buat. Ia tidak hanya menggunakan tempoyak, tetapi juga menambahkan irisan mangga muda dan perasan jeruk kunci. Rasanya menjadi lebih segar, lebih kompleks.
“Resep ibuku,” kata Kirana. “Di Saibatin, kami percaya bahwa memasak adalah bentuk Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi.”
Oji hanya mengangguk. Ia mulai melihat ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Bukan dari segi adat, tetapi dari segi hati.
Proses nggulei dan pembuatan seruit memakan waktu berjam-jam. Selama itu, Oji dan Kirana bekerja berdampingan. Mereka tidak banyak bicara, tetapi ada keakraban yang tumbuh di antara percikan api tungku dan kepulan asap daging.

Baca Juga :  Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur. Seri - 3. Rangkaian Ritual, Persiapan, Pelaksanaan, dan Doa Bersama. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sore hari, daging kurban telah siap dibagikan. Tapi sebelum itu, ada tradisi besan, makan bersama di lamban adat. Dalam masyarakat Lampung, besan adalah momen sakral di mana semua lapisan masyarakat duduk melingkar, makan dari wadah yang sama.
Lamban adat mulai dipenuhi warga. Oji duduk di antara ayahnya dan para tetua adat. Kirana duduk tidak jauh dari sana, bersama beberapa guru lain dari luar daerah.
Seruit yang mereka buat bersama diletakkan di tengah. Ada tiga cobek besar berisi seruit dengan tingkat kepedasan yang berbeda. Ikan bakar disusun rapi di piring-piring bambu.
Seorang Punyimbang berdiri dan memimpin doa. “Ya Allah, jadikanlah makanan ini sebagai berkah. Satukanlah hati kami, seperti daging dan sambal ini yang berpadu dalam cobek.”
Doa itu terdengar sederhana, tapi dalam.
Saat makanan mulai disantap, suasana menjadi hangat. Warga yang tadinya masih canggung karena ada “tamu” dari Saibatin mulai terbuka. Mereka bercerita, tertawa, bahkan saling mencicipi seruit buatan masing-masing.
Oji duduk di samping Kirana. “Jujur,” kata Oji pelan, “awalnya saya ragu apakah kamu bisa berbaur di kampung Pepadun yang serba sederhana ini.”
Kirana tersenyum. “Nengah Nyappur mengajarkan kita untuk mudah berbaur dalam masyarakat, Mas. Bukan soal sederhana atau mewahnya kampung, tapi soal apakah kita mau membuka hati.”
Kata-kata itu mengena. Oji teringat falsafah Piil Pesenggiri yang diajarkan leluhurnya. Bukan hanya Nengah Nyappur, tetapi juga Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Selama ini ia mengira bahwa menjadi orang Pepadun berarti mempertahankan kebanggaan akan sistemnya yang “lebih demokratis” dibanding Saibatin. Padahal, Pesenggiri yang sesungguhnya adalah harga diri yang tegak bukan karena merendahkan orang lain, tetapi karena mampu menghormati perbedaan.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Petuah Leluhur tentang Sabar dan Rendah Hati. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Malam mulai turun. Lamban adat masih terang dengan obor dan lampu minyak. Warga satu per satu pulang, membawa bungkusan daging kurban yang dibagikan secara nampah, di antar langsung ke rumah-rumah warga yang mungkin tidak bisa hadir.
Sebelum berpisah, Kirana menatap Oji. “Terima kasih, Mas. Hari ini saya belajar banyak. Ternyata seruit di kampung Pepadun rasanya tidak kalah enak dengan di kampung saya.”
Oji tertawa. “Itu karena kamu sendiri yang masak, Kirana.”
“Bukan,” Kirana geleng. “Itu karena kita masaknya bersama. Makanan akan selalu terasa lebih enak jika dimasak dengan hati, dan disantap dengan kebersamaan.”
Oji tidak bisa membantah.
Di sela-sela acara, Punyimbang tua sempat menyampaikan pesan yang membuat semua orang termenung.
“Hari ini kita menyembelih kerbau. Darahnya mengalir, dagingnya kita makan. Tapi ingatlah kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam QS. As-Saffat (37): 102-107.”
Ia lalu membacakan ayat itu dengan suara lirih namun tegas:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur) berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'”.
Punyimbang melanjutkan, “Kisah ini memiliki asbāb al-nuzūl yang dalam. Bukan sekadar tentang ujian ketaatan, tetapi tentang ketulusan dalam berkorban. Nabi Ibrahim rela mengorbankan putranya yang paling dicintai. Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya sendiri. Itulah Pesenggiri sejati, harga diri yang tidak takut kehilangan apa pun demi Allah.”
Ia menatap Oji. “Dan kisah itu juga mengajarkan kita tentang persaudaraan. Setelah Allah mengganti Ismail dengan seekor domba, Ibrahim dan Ismail justru semakin dekat. Mereka tidak bertengkar soal siapa yang lebih berjasa. Mereka hanya bersyukur.”
Punyimbang menunjuk cobek seruit yang hampir habis. “Seperti cobek ini. Semua bahan, ikan, sambal, tempoyak, mangga, hancur dan menyatu. Tidak ada yang lebih dominan. Yang ada hanya rasa baru yang lebih nikmat.”

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 10: Masyarakat Adat dan Masjid, Ruang Sosial dan Spiritual. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Seruit bukan sekadar makanan. Ia adalah kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai universal. Masyarakat Lampung, baik Saibatin maupun Pepadun, memiliki lima falsafah hidup yang selaras dengan Pancasila;
• Pesenggiri (harga diri) → Sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab.
• Juluk-Adok (gelar kehormatan) → Sila ke-4: Kerakyatan yang dipimpin hikmat kebijaksanaan.
• Nemui Nyimah (keramahan) → Sila ke-3: Persatuan Indonesia.
• Nengah Nyappur (keterbukaan) → Sila ke-5: Keadilan sosial.
• Sakai Sambayan (gotong royong) → Sila ke-3 dan ke-5.

Tradisi besan dengan seruit di lamban adat pada hari raya Idul Adha adalah bukti bahwa adat, agama, dan negara tidak perlu dipertentangkan. Ketiganya bisa berjalan beriringan, seperti aliran Way Umpu yang mengairi sawah-sawah warga Way Kanan.
Keesokan harinya, Oji bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menemukan sepiring kecil seruit di depan pintu rumahnya. Ada secarik kertas: “Untuk Oji, dari orang yang ikut masak kemarin. Jaga terus semangat Sakai Sambayan-nya, ya. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya., Kirana.”
Oji tersenyum. Ia menyantap seruit itu sendirian, tetapi rasanya tetap nikmat. Mungkin karena ia tahu, ada seseorang dari adat yang berbeda yang kini telah menjadi bagian dari keluarganya.
Matahari pagi di Way Kanan bersinar cerah. Di kejauhan, suara takbir masih terdengar sayup-sayup. Daging kurban sudah habis dibagikan, cobek-cobek sudah dicuci, tetapi persaudaraan yang lahir dari satu piring seruit, itu akan terus hidup selamanya.

Daftar Pustaka
1. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. “Kuntakha Khaja Niti.”
2. Padang Raya News. “Seruit: Harmoni Rasa dan Tradisi Kebersamaan Masyarakat Lampung.” 2026.
3. Tradisi Kuliner. “Seruit: Kuliner Khas Lampung Rasa Pedas, Asam, dan Gurih.” 2025.
4. Wikipedia. “Piil Pesenggiri.”
5. IDN Times Lampung. “Adat Lampung Pepadun, Anak Laki-laki Tertua Punya Kedudukan.” 2022.
6. Al-Qur’an, QS. As-Saffat (37): 102-107.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini