Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 8 – Upacara dan Kehidupan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami meyakini bahwa bumi tidak hanya tempat berpijak, tetapi ibu yang memberi kehidupan. Di pesisir selatan Lampung, hiduplah masyarakat Saibatin, sebutan untuk mereka yang menganut sistem kekerabatan pesisir, dengan segala kearifan yang diwariskan turun-temurun.

Alkisah, sekitar tahun 1837, Desa Sumur Kumbang dilanda keresahan. Siapa pun yang menanam tanpa permisi di tanah itu akan jatuh sakit. Penduduk pun gelisah. Seorang tetua bijak bernama Uyut Sapid lalu mengumpulkan warga. “Bumi ini sedang murung,” katanya. “Ia ingin diajak berbicara.”
Dari situlah lahir ritual Ruwat Bumi, sebuah upacara sedekah bumi yang hingga kini masih berlangsung. Jangan bayangkan sesajen yang aneh-aneh. Ritual ini sarat dengan pembacaan syekh atau doa-doa tolak bala, dilaksanakan selama enam Kamis berturut-turut di bulan Muharam, dan berpuncak pada Jumat berkah.
Saya ingin meluruskan sedikit. Dahulu, mungkin ada yang menyertakan sesajen material. Namun, seiring masuknya Islam, Ruwat Bumi di sebagian besar pekon (kampung) kita bergeser menjadi kenduri atau doa bersama. “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah,” begitu filosofi kita.
Ritual ini tidak lagi menyembah selain Allah, tetapi menjadi media tanggap akan nikmat. Ini selaras dengan QS. Ibrahim ayat 7:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
wa idz ta’adzdzana rabbukum la’in syakartum la’azîdannakum wa la’ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd.
” (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

Tak jauh dari sana, di wilayah marga Pemuka, ada sebongkah batu besar bernama Batu Perahu atau Batu Khaghou. Legenda setempat mengisahkan rombongan leluhur dari Kerajaan Skala Brak. Mereka berlayar mengarungi Samudera Hindia. Perahu kayu raksasa itu, setelah sampai di pesisir, dikisahkan berubah wujud menjadi batu karena kekuatan gaib dan takdir.
Dalam naskah kuno Kuntara Raja Niti yang sering dibacakan Punyimbang (Penyimbang atau pemimpin adat), tercatat kutipan: “Disikhi lembaga, ditapai pusaka” (Di sini kita berlabuh, di sini pusaka ditegakkan).
Analisis sederhananya, ini bukan soal mistis. Batu Perahu adalah “Titik Nol” peradaban. Hingga kini, sebelum hajatan besar atau pengangkatan gelar (Bejuluk Beadok), marga Pemuka akan melakukan ritual Nyetukhukh (ziarah) ke batu itu. Mereka membersihkan area, menabur bunga, dan berdoa.
Saya sering berpikir, ini cermin dari Pancasila Sila ke-3, “Persatuan Indonesia”. Dengan mengenali batu ini, mereka sadar bahwa mereka satu asal-usul. Setiap orang Lampung, terutama generasi muda, perlu punya “Batu Perahu” dalam hatinya, sebuah memori kolektif bahwa kita bukan lahir dari kekosongan, tetapi dari peradaban besar.

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 1 — Dua Adat, Satu Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Beralih ke siklus perkawinan. Dalam masyarakat Pepadun (sistem adat pedalaman), ada tradisi yang terdengar asing bagi kita sekarang: Sebambangan atau larian. Dahulu, jika dua insan saling cinta namun belum direstui, pihak laki-laki “melarikan” sang gadis ke rumah kerabat.
Jangan salah paham. Ini bukan aib. Ini adalah proses adat untuk “memaksa” terjadinya musyawarah. Setelah Sebambangan, akan diadakan mediasi adat untuk menentukan hukuman adat (biasanya denda berupa suku atau uang emas) sebelum dilangsungkannya pernikahan resmi.
Sementara di masyarakat Saibatin pesisir barat, ada tradisi menyambut Kebayan (penghulu atau juru bicara pihak laki-laki) yang disebut Nyecoh Kebayan. Delegasi mempelai pria tidak boleh sembarangan masuk; mereka harus “disambut” dengan pantun dan prosesi sakral yang penuh makna.
Dari perspektif Islam, tradisi ini masuk dalam kategori ‘Urf Shaih (kebiasaan baik yang tidak bertentangan dengan syariat). Ia memperberat ikatan perkawinan, karena perkawinan tidak hanya sah secara agama di hadapan penghulu (KK), tetapi juga “sah” dan “malu” secara sosial di hadapan Punyimbang. Rasa malu (Pesenggiri) inilah yang membuat perkawinan adat Lampung sangat kuat dan jarang terjadi perceraian.

Baca Juga :  Tuping Bukan Milik Keluarga Tertentu (Klarifikasi Sejarah & Warisan Budaya Masyarakat Adat Lampung) Oleh : Doni Afandi, SE / Kakhiya Pukhba Makuta *)

Dalam falsafah Piil Pesenggiri, ada lima pilar utama: Pesenggiri (harga diri), Nemui Nyimah (ramah), Nengah Nyappur (suka bergaul), Sakai Sambayan (gotong royong), dan Juluk Adok (gelar penghormatan).

Upacara Juluk Adok (pemberian gelar) adalah puncak dari perjalanan hidup orang Lampung. Seorang anak tidak akan dianggap dewasa jika belum “dijuluk”. Dalam sebuah pepatah tua disebutkan: “Bejuluk ulah dilom tando, Beadok ulah dilom hatinya” (Bergelar itu dalam tanda, bertanggung jawab itu dalam hati).
Hidup tanpa gelar dalam adat Lampung ibarat pohon tanpa buah. Namun, penulis ingin menekankan: gelar bukan untuk menyombongkan diri. Gelar adalah amanah. QS. Al-Hujurat ayat 13 sudah mengingatkan: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian ialah yang paling bertakwa.” Gelar Sutan, Radin, Umpu, atau Khai hanyalah atribut dunia, sedangkan kedudukan di sisi Allah ditentukan oleh seberapa baik kita menjalankan Sakai Sambayan (Kerja bakti di masjid atau gotong royong di kampung).

Upacara adat di Bumi Lampung bukanlah ajang pamer harta atau ritual kuno yang usang. Ia adalah napas kehidupan. Mari kita tengok nilai Ruwat Bumi: ia mengajarkan kita untuk tidak serakah mengambil hasil alam. Mari kita lihat Batu Perahu: ia mengajarkan kita tentang sejarah. Mari kita renungkan Sebambangan: ia mengajarkan bahwa setiap masalah bisa diselesaikan dengan duduk bersama (Nengah Nyappur).
Sebagai masyarakat umum Lampung, kita diwarisi oleh akal budi yang luhur. Jika kita mengemas nasihat dalam upacara, kita tidak akan kehilangan identitas. Jika kita menguatkan nilai Pesenggiri dalam hati, kita tidak akan mudah dipecah belah. Itulah Islam, itulah Pancasila, dan itulah Cara Hidup Orang Lampung.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan dan Kebiasaan Menjaga Ucapan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Daftar Pustaka Formal
1. Bahagianda, Mohammad Medani. (2026). Buku Seri: Saibatin dan Pepadun, Keberagaman Sistem Adat Lampung. Seri 3 – Cara Memimpin Masyarakat. Portal Berita Natar Agung.
2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2026). Buku Seri: Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 1: Harga Diri dalam Laku Sehari-hari. Natar Agung.
3. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Batu Perahu di Pesisir. Hati Pena.
4. Sari, Aprina, dkk. (2025). Living Qur’an: Nilai Filosofis Piil Pesenggiri pada Tradisi Masyarakat Lampung. STAIM Lumajang.
5. Rio, Andeska. (2025). Tinjauan Hukum Islam Terhadap Tradisi Nyecoh Kebayan Pada Masyarakat Adat Lampung Saibatin. UIN Raden Intan Lampung.
6. Razak, Firdha. (2018). Tradisi Sebambangan Masyarakat Adat Lampung Pepadun dalam Perspektif Islam. UIN Raden Intan Lampung.
7. IDN Times Lampung. (2022). Upacara Adat Ruwat Bumi Desa Sumur Kumbang Lamsel, Tradisi Legenda dari 1837.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini