nataragung.id – Pemanggilan – Di era media sosial saat ini, setiap tulisan, gambar, video, atau informasi yang kita bagikan bukanlah sesuatu yang ringan. Setiap klik tombol “bagikan” akan meninggalkan jejak yang memiliki konsekuensi di sisi Allah Subḥanahu wata’ala
Jika yang kita bagikan adalah ilmu yang bermanfaat, nasihat yang baik, ayat Al-Qur’an, hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, atau informasi yang benar dan membawa kebaikan, maka insya Allah kita akan mendapatkan pahala. Bahkan pahala tersebut dapat terus mengalir selama orang lain mengambil manfaat darinya.
Sebaliknya, jika yang kita sebarkan adalah fitnah, hoaks, ghibah, adu domba, tuduhan tanpa bukti, atau informasi yang menyesatkan, maka kita juga akan menanggung dosa dari dampak yang ditimbulkannya.
Allah Subḥanahu wata’ala berfirman:
مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap ucapan dan tulisan yang keluar dari diri kita akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban.
Allah juga berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi landasan penting dalam bermedia sosial. Seorang muslim tidak boleh tergesa-gesa menyebarkan berita sebelum memastikan kebenarannya.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa menyebarkan semua informasi tanpa seleksi dan verifikasi merupakan perilaku yang dapat menyeret seseorang kepada dosa.
Sebaliknya, Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira bagi orang yang mengajak kepada kebaikan:
مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Dan beliau shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
“Barang siapa memulai suatu kebaikan dalam Islam, maka ia memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya.” (HR. Muslim)
Namun sebaliknya:
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ
“Barang siapa memulai suatu keburukan dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya setelah itu.” (HR. Muslim)
Karena itu, sebelum menekan tombol “share”, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:
– Apakah informasi ini benar?
– Apakah sumbernya dapat dipercaya?
– Apakah ada manfaat yang jelas?
– Apakah ini akan memperbaiki keadaan atau justru memperkeruh suasana?
– Apakah saya siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah?
Jika belum yakin akan kebenarannya, maka tabayyunlah. Jika belum jelas manfaatnya, maka tahanlah diri. Jika khawatir menimbulkan fitnah, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.
Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga Allah menjadikan lisan, jari-jari, tulisan, dan akun media sosial kita sebagai sarana menyebarkan ilmu, kebaikan, dan hidayah, bukan sarana menyebarkan fitnah dan keburukan. Aamiin.
✒️ Komiruddin, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

