Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri – 7: Merangkul Zaman, Piil Pesenggiri di Tengah Globalisasi. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dikisahkan, suatu ketika Naga Besukih, penjaga perairan Way Rarem, kembali mengamuk. Namun, kali ini bukan dengan gelombang besar, melainkan dengan membawa arus perubahan asing yang deras, mengikis tepian dan mengaburkan kejernihan air. Masyarakat resah, melihat nilai-nilai leluhur mulai tergerus oleh budaya baru yang dibawa arus tersebut.

Puteri Senandung, cucu dari Ratu Darah Putih, tidak melawan arus tersebut. Dengan kebijaksanaannya, ia memahami bahwa Naga Besukih bukan hendak merusak, tetapi menguji ketahanan identitas mereka. Ia pun membangun sebuah perahu yang sangat khusus. Lambungnya terbuat dari kayu besi yang kuat, melambangkan keteguhan Piil (akhlak). Layarnya yang lebar terbuat dari kain Tapis bermotif pucuk rebung, simbol Pesenggiri dan pertumbuhan yang tidak kehilangan akar. Pada buritannya, terdapat kemudi yang sangat luwes, mencerminkan kemampuan Nengah Nyappur.

Puteri Senandung lalu membawa para pemuda-pemudi terbaiknya berlayar menantang arus Naga Besukih. Bukannya tenggelam, perahu itu justru menari dengan lincah di atas gelombang, mengambil energi dari arus itu sendiri untuk melaju lebih cepat. Mereka berlayar hingga ke muara, berinteraksi dengan para pedagang dari berbagai penjuru, memperkenalkan keindahan Tapis dan kebijaksanaan Piil Pesenggiri, lalu pulang dengan membawa pengetahuan dan perspektif baru tanpa kehilangan jati diri.

Legenda ini menjadi alegori sempurna untuk semangat adaptasi aktif: Piil Pesenggiri bukan perisai untuk menutup diri, melainkan kemudi untuk mengarungi zaman tanpa terseret arus.
Di tengah globalisasi, makna Pesenggiri (martabat) berevolusi dari sekadar menjaga gelar adat menjadi bagaimana seseorang menegaskan identitasnya di panggung global. Seorang profesional Lampung di Jakarta atau seorang mahasiswa di luar negeri memaknai Pesenggiri dengan cara baru: menjadi yang terbaik dalam bidangnya, berintegritas tinggi, dan dikenal sebagai orang yang dapat diandalkan. Ini adalah bentuk Pesenggiri kontemporer, prestasi yang membawa nama baik keluarga dan bangsanya, sebagaimana petuah Kuntara Raja Niti: “Bejuluk adek, niti memeren, nengah nuwowoh di zaman.” (Yang berjuluk bergelar, yang meniti pemerintahan, yang menengah (menyesuaikan) dan menumbuhkan di zaman).

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan sebagai Waktu Mempererat Ikatan Kekerabatan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Analisis mendalam terhadap kutipan ini menunjukkan keabadian nilainya. “Bejuluk adek” tidak lagi terbatas pada gelar turun-temurun, tetapi meluas pada “gelar” atau reputasi yang diraih melalui kompetensi dan kerja keras (nitinya dalam bidangnya masing-masing). Kata kuncinya adalah “di zaman”, yang menekankan imperatif untuk kontekstual. “Nengah nuwowoh” (menyesuaikan dan menumbuhkan) adalah perintah untuk aktif beradaptasi, merangkul tools baru (seperti digitalisasi), dan “menumbuhkan” nilai-nilai inti tersebut dalam konteks kekinian. Dengan demikian, Pesenggiri justru menjadi pembeda yang powerful di dunia yang seragam.
Dua pilar ini menemukan momentumnya di era global. Nemui Nyimah (keramahan) kini tidak hanya berarti menyambut tamu secara fisik, tetapi juga bagaimana masyarakat Lampung menyambut ide-ide baru, teknologi, dan kolaborasi dengan budaya lain tanpa rasa takut kehilangan identitas. Sebuah komunitas adat di Lampung bisa saja membuka homestay untuk turis mancanegara, mengajarkan mereka menenun Tapis, ini adalah Nemui Nyimah yang berkelas dunia.
Demikian pula, Nengah Nyappur (kemampuan bersosialisasi) berevolusi menjadi kecakapan berjejaring (networking) dan literasi digital. Para pemuda menggunakan media sosial tidak hanya untuk bersenang-senang, tetapi untuk mempromosikan budaya mereka, terhubung dengan komunitas adat lain di dunia, dan belajar dari mereka. Mereka nyappur (terjun) ke dalam global village dengan bekal identitas yang kuat, menjadi duta budaya yang piawai.

Nilai Sakai Sambayan (gotong royong) mengalami transformasi paling menarik. Semangatnya tetap sama: mengangkat bersama beban yang berat. Namun, medium dan skalanya berubah.
* Platform Dana Sosial: Ketika seorang anggota masyarakat sakit dan membutuhkan biaya pengobatan besar, keluarga tidak lagi hanya mengandalkan kotak amal yang diedarkan secara fisik. Mereka meluncurkan penggalangan dana digital, yang disebarluaskan melalui grup-grup WhatsApp marga dan media sosial. Responsnya seringkali lebih cepat dan jangkauannya lebih luas, melibatkan sanak famili yang tersebar di seluruh provinsi bahkan negara.
* Marketing Bersama: Para perajin Tapis dari berbagai marga dapat bersatu dalam sebuah platform e-commerce bersama untuk memasarkan produk mereka, saling mendukung dalam hal promosi dan logistik. Ini adalah Sakai Sambayan ekonomi kreatif.
* Pelestarian Bahasa dan Budaya Digital: Anak-anak muda membuat konten TikTok atau YouTube yang mengajarkan bahasa Lampung, menjelaskan makna motif Tapis, atau sekadar mendokumentasikan upacara adat. Mereka berSakai Sambayan untuk melestarikan warisan leluhur dengan cara yang paling efektif untuk menjangkau generasi mereka.

Baca Juga :  Tuping Bukan Milik Keluarga Tertentu (Klarifikasi Sejarah & Warisan Budaya Masyarakat Adat Lampung) Oleh : Doni Afandi, SE / Kakhiya Pukhba Makuta *)

Di sinilah pilar terpenting, Piil (akhlak, karakter), berperan sebagai kompas. Globalisasi dan dunia digital membawa serta tantangan etika baru: misinformasi, ujaran kebencian, dan individualisme ekstrem. Piil-lah yang menjadi filter. Seorang yang berPiil kuat akan menyaring informasi sebelum menyebarkannya, berkomunikasi dengan santun (andai) di media sosial, dan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang produktif, bukan destruktif. Ia menjaga martabatnya (Pesenggiri) bahkan di balik layer anonym sekalipun.
Generasi muda Lampung hari ini mungkin tidak lagi menghafal silsilah (turisan) mereka hingga 20 generasi ke atas. Namun, mereka menemukan cara baru untuk terhubung dengan sejarah. Mereka membuat grup Facebook atau WhatsApp berdasarkan marga, tempat mereka berbagi informasi, foto-foto lama, dan dokumen digitalisasi dari kitab kuno. Seorang anak muda dari marga Pubian di Bandung bisa terhubung dengan “saudara” marganya di Lampung melalui platform digital. Mereka tidak meninggalkan sejarah, tetapi merekamnya dalam format baru, memastikan api Piil Pesenggiri tetap menyala dan diteruskan.
Piil Pesenggiri terbukti bukan merupakan monumen kaku yang hanya bisa dikagumi. Ia adalah sebuah filsafat hidup yang bernafas, lentur, dan tangguh. Seperti perahu Puteri Senandung, kekuatannya justru terletak pada kemampuannya untuk menari di atas gelombang perubahan, mengambil energinya untuk maju, tanpa pernah kehilangan arah dan integritasnya.

Baca Juga :  Buku Seri Semangat Sehuyunan, Setawitan, Sebalakan, dan Mak Secadangan. Buku Seri 3 Sebalakan: Bahasa, Rasa, dan Hikmah dalam Simpul Adat Virtua. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di tengah globalisasi, nilai-nilai ini justru menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Mereka memberikan jawaban atas kegelisahan modern: bagaimana tetap menjadi diri sendiri di dunia yang semakin terhubung, bagaimana memiliki akar yang dalam sekaligus sayap yang luas. Piil Pesenggiri mengajarkan bahwa merangkul zaman bukanlah tentang menyerah pada arus, tetapi tentang memahami arus itu dengan bijak, lalu mengarahkannya untuk membawa kita pada tujuan yang lebih mulia: kehidupan bermartabat di mana pun kita berada.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Gunaawan, B. (2021). Adaptasi Nilai-Nilai Piil Pesenggiri dalam Media Digital pada Generasi Muda Lampung. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora. (Artikel Jurnal Digital Terverifikasi)
2. Hilman, D. (2018). Kuntara Raja Niti: Transkripsi dan Terjemahan. Bandar Lampung: Pustaka Ladang Khatulistiwa. (Buku Format Fisik/Digital)
3. Suryadi, dkk. (2017). Masyarakat Adat Lampung: Sejarah dan Dinamika Sosial Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak. (Buku Format Fisik).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini