nataragung.id – Natar – Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
((إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ، فَلَا تَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَسْعَوْنَ، وَأْتُوهَا وَأَنْتُمْ تَمْشُونَ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا)). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
“Apabila telah ditegakkan salat (iqamah telah dikumandangkan), maka janganlah kalian mendatanginya dengan tergesa-gesa. Datangilah dengan berjalan tenang, dan hendaklah kalian menjaga ketenangan. Apa yang kalian dapatkan dari salat, maka ikutlah salat itu, dan apa yang terlewat darimu, maka sempurnakanlah (setelah imam salam).”
(Hadis muttafaq ‘alaih – disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim).
Makna Hadis:
Hadis ini mengajarkan adab dan ketenangan ketika mendatangi salat berjamaah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang tergesa-gesa menuju masjid, meskipun khawatir akan tertinggal rakaat bersama imam. Karena tergesa-gesa menandakan ketidaksabaran dan kurangnya adab di hadapan Allah.
Makna “عَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ”Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *) – Hendaklah kalian menjaga ketenangan
السَّكِينَةُ
adalah sikap tenang, lembut, dan penuh wibawa — baik dalam langkah, pandangan, maupun gerakan tubuh.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa as-sakīnah berarti:
> “التأني في الحركات، واجتناب العبث، والوقار في الهيئة كغض البصر، وخفض الصوت، وعدم الالتفات.”
Tenang dalam bergerak, menjauhi perbuatan sia-sia, serta berwibawa dalam penampilan seperti menundukkan pandangan, merendahkan suara, dan tidak menoleh ke sana kemari.
Ketenangan ini bukan hanya dalam langkah menuju salat, tapi juga sikap hati yang khusyuk dan penuh rasa hormat kepada Allah Subḥanahu wata’ala.
Makna “فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا”
Artinya: “Apa yang kalian dapatkan dari salat, maka salatlah bersamanya; dan apa yang terlewat, maka sempurnakanlah (setelah imam salam).”
Maksudnya, jika seseorang datang dan imam sudah memulai salat, maka ia ikut bergabung dengan imam tanpa tergesa, dan tidak perlu mengulang dari awal setelah imam salam — cukup menyempurnakan rakaat yang tertinggal.
Tambahan Riwayat Muslim:
((فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ يَعْمِدُ إِلَى الصَّلَاةِ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ))
Artinya: “Sesungguhnya apabila salah seorang di antara kalian sedang menuju salat, maka ia sebenarnya sudah berada dalam keadaan salat.”
Artinya, langkahnya menuju masjid sudah dihitung sebagai ibadah dan dalam pahala salat, selama niatnya ikhlas dan langkahnya tenang.
Hikmah dan Pelajaran:
1. Islam mengajarkan ketenangan, bukan tergesa-gesa. Orang yang tenang dalam ibadah menunjukkan kedewasaan rohani dan penghormatan terhadap waktu-waktu suci.
2. Setiap langkah menuju masjid adalah ibadah. Bahkan sebelum takbiratul ihram, seseorang sudah berada dalam “keadaan salat” jika hatinya tertuju kepada Allah.
3. Jangan terburu-buru dalam mengejar dunia maupun ibadah. Karena nilai salat tidak diukur dari cepatnya kita sampai, tapi dari kualitas khusyuknya hati.
4. Ketenangan adalah tanda keimanan. Orang yang tergesa-gesa menunjukkan hati yang gelisah, sedangkan orang beriman berjalan dalam damai dan tawakal.
Pesan Renungan:
Berangkatlah menuju salat dengan hati yang lembut, bukan dengan napas tergesa.Sebab Allah tidak menilai siapa yang lebih dulu tiba, melainkan siapa yang lebih dalam tunduk dan tenang dalam sujudnya. <°°>
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

